Penolakan Tanah Kelahiran dan Akhir Karier yang Mengenaskan

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball

Penolakan Tanah Kelahiran dan Akhir Karier yang Mengenaskan

Sejak kecil Piotr Artur Trochowski telah menunjukkan minat yang besar untuk menggeluti bidang sepakbola. Saat usianya belum genap 10 tahun, ia sudah berlatih serius di akademi SpVgg Billstedt-Horn. Walau berlatih di klub Jerman, impian besar Trochowski muda adalah tampil memperkuat tim nasional Polandia di ajang internasional.

Takdir berkata lain. Beranjak dewasa, Trochowski malah menjadi andalan tim nasional Jerman. Federasi sepakbola Polandia (PZPN), bukan tidak mungkin, menyesal mengenai hal ini. Namun pihak yang bisa mereka salahkan atas keputusan Trochowski hanya mereka sendiri.

Trochowski lahir di Polandia, tepatnya di Tczew, pada 22 Maret 1984. Keluarganya pindah ke Jerman saat usia Trochowski baru lima tahun. Keluarga Trochowski menetap di Hamburg, sebuah kota pelabuhan; Tczew sendiri bukan kota pelabuhan, namun jaraknya dari Gdansk cukup dekat — kurang lebih setengah jam naik mobil. Trochowski muda berpindah-pindah dari satu akademi ke akademi lain, walau masih dalam wilayah Hamburg. Selain SpVgg Billstedt Horn, pernah pula Trochowski menimba ilmu di Concordia von 1907 dan St. Pauli.

Adalah saat bersama St. Pauli kemampuan Trochowski meningkat pesat. Melihat perkembangan tersebut, ibu Trochowski berinisiatif mengirim surat kepada PZPN. Alicja Trochowski menginformasikan tentang anak laki-lakinya yang berbakat dan bersedia bermain untuk timnas Polandia. Surat pertama Alicja tidak mendapat respon, namun ia tak menyerah dan terus mengirim surat kepada PZPN. Surat-surat berikutnya tetap tal terjawab.

PZPN seolah tak peduli dengan informasi tersebut. Jangankan mengirim salah satu pemandu bakatnya untuk melihat langsung kemampuan Trochowski di Jerman, setiap surat yang dikirim oleh Alicja pun tak pernah mendapat balasan. Sikap yang ditunjukkan PZPN membuat Trochowski kecewa berat. Ia merasa diacuhkan dan sakit hati.

Tapi Trochowski menyadari bahwa kariernya masih terbentang panjang. Kala itu usianya masih 15 tahun. Dirinya tak bisa terus meratapi kekecewaan walau tanah kelahirannya mengabaikan bakat besar yang ia punya. Trochowski terus meningkatkan kemampuan olah bolanya. Pinangan Akademi Bayern Muenchen pada 1999 pun menjadi buah dari hasil kerja keras dan ketekunannya.

Tak sampai di situ, federasi sepakbola Jerman pun menghampiri Trochowski untuk menawarinya bermain di tim nasional — walau hanya level junior. Tak jadi soal. Dari U-16, Trochowski terus dan terus naik kelas.

Perkembangan signifikan terus ditunjukkan Trochowski. Setelah tiga tahun menimba ilmu di Akademi Bayern Muenchen, ia promosi ke tim Bayern II pada 2002. Tak hanya itu, kariernya di level timnas pun terus melejit. Trochowski menjadi langganan timnas Jerman di berbagai jenjang usia. Beberapa ajang bergengsi pun dilakoninya bersama Die Mannschaft, salah satunya Piala Dunia U-20 pada 2003.

Di Piala Dunia U-20, Trochowski menjadi sosok tak tergantikan di lini tengah Jerman. Meski gagal membawa Jerman juara, namun bakatnya sebagai pesepakbola potensial dikenal luas publik sepakbola Jerman. Apalagi, setelah tampil di Piala Dunia U-20, Trochowski langsung mendapat kontrak profesional bersama Muenchen. Banyak media Jerman kala itu memprediksi kariernya bakal bersinar di kesebelasan berjuluk Bintang Selatan tersebut.

Namun apa yang bisa diandalkan dari sebuah prediksi? Pada kenyataannya, karier Trochowski di Muenchen tak seindah yang dibayangkan. Trochowski tak berdaya menghadapi persaingan keras dengan gelandang Muenchen lainnya seperti Michael Ballack, Bastian Schweinsteiger, hingga Mehmet Scholl. Dari tahun 2003 hingga 2005, hanya 15 pertandingan yang dilakoni Trochowski di semua ajang, dengan torehan satu gol.

Di paruh musim 2004/05, Trochowski memutuskan pindah ke Hamburger SV. Musim pertamanya berkostum Die Rothosen tak berlangsung mulus, hanya tampil dalam tiga pertandingan di Bundesliga, itu pun dengan status pemain pengganti.

Namun cerita berubah di musim 2005/06 yang merupakan musim keduanya bersama Hamburger SV. Performanya melesat, statusnya bukan lagi sebagai pemain pelapis. Di akhir musim tersebut, 51 pertandingan dilakoni di semua ajang dengan torehan tujuh gol dan delapan asis.

Melesatnya karier Trochowski bersama Hamburger SV terbilang tepat, momentumnya kala itu Jerman baru selesai menggelar Piala Dunia 2006 dan tengah bersiap menghadapi Piala Eropa 2008. Joachim Loew, pelatih Jerman, memanggilnya ke timnas senior.

Trochowski memulai debutnya pada 7 Oktober 2006, dalam pertandingan persahabatan melawan Georgia di Ostseestadion, Rostock. Dalam pertandingan yang berkesudahan 2-0 untuk kemenangan Jerman itu, ia memulai permainan sebagai starter; digantikan oleh Torsten Frings di menit 70.

Seiring dengan terus menanjaknya performa Trochowski di Hamburger SV, tempat di timnas Jerman pun selalu ia dapatkan. Di ajang Kualifikasi Piala Eropa 2008, enam pertandingan dilakoninya. Hingga akhirnya, Trochowski pun masuk dalam 23 pemain timnas Jerman di Piala Eropa 2008. Sayangnya, di turnamen antarnegara Eropa itu, Loew tidak sekali pun memberi kesempatan tampil kepada Trowchoski.

Meski begitu, Trowchoski terus menjadi langganan timnas, hingga dimulainya Piala Dunia 2010. Kondisinya berbeda kala itu, Loew banyak memberikan kesempatan tampil kepadanya. Dari tujuh laga yang dimainkan Jerman di Piala Dunia 2010, Trochowski mendapat empat kesempatan tampil, meski kebanyakan dimulai dari bangku cadangan. Setidaknya, melalui catatan tersebut ia punya kontribusi membawa Jerman menempati posisi tiga di Piala Dunia 2010.

Sayangnya, setelah itu nama Trochowski menghilang dari peredaran. Di level timnas, ia tak pernah lagi mendapat panggilan. Kariernya bersama timnas Jerman bisa dipastikan berakhir sejak 2010. Keseluruhan, Trochowski tampil dalam 35 pertandingan dan mencetak 2 gol.

Sementara di level klub, performanya bersama Hamburger SV menukik. Di musim 2010/11 yang merupakan musim terakhirnya bersama Hamburger SV, hanya 22 penampilan yang dibuatnya di semua ajang, dengan catatan dua gol dan satu asis. Selepas itu, kontraknya pun tak diperpanjang.

Sevilla kemudian datang meminangnya. Musim pertamanya bersama Sevilla berjalan sesuai harapan. Ia tampil dalam 40 pertandingan di semua ajang dengan catatan satu gol dan dua asis. Namun semua berubah di musim keduanya bersama Sevilla. Setelah mencetak satu gol ke gawang Barcelona pada 29 September 2012, Trochowski mengalami cedera lutut yang memaksanya absen hingga akhir kompetisi 2012/13.

"Tak lama setelah gol saya melawan Barca, saya harus meninggalkan lapangan dengan rasa sakit di lutut. Dokter di Sevilla tidak dapat menemukan penyebabnya. Jadi saya mengunjungi Dr. Muller-Wolfarth di Munchen dan dia mendiagnosis kerusakan tulang rawan,” katanya, kepada Suddeutsche Zeitung.

Beruntung, setelah menjalani pemulihan selama kurang lebih satu tahun, dia kembali dan memainkan 27 pertandingan selama musim 2013/14. Nahas, di sesi latihan pertama menghadapi musim 2014/15, lututnya kembali bereaksi. Sevilla yang putus asa dengan kondisi pemainnya itu langsung memutus kontrak Trochowski, yang masih tersisa satu musim lagi.

"Pada 31 Agustus 2014, hari terakhir dari jendela transfer, saya menerima surat pemecatan oleh klub. Klub tersebut mengatakan kepada saya bahwa saya memerlukan izin tambahan untuk tetap menjadi pemain di FC Sevilla dan saya tidak akan mendapatkannya."

Trochowski tak terima dengan pemutusan kontraknya dengan Sevilla. Ditambah, kondisinya kala itu sedang berjuang menyembuhkan cederanya. Lebih parah, dalam kondisi cedera, mana mungkin ada klub yang mau meminangnya. Trochowski yang kecewa sampai mengajukan tuntutan hukum kepada Sevilla. Pengadilan Spanyol pun mengambil alih kasus tersebut.

Setelah permasalahannya dengan Sevilla tuntas, Trochowski kembali ke Jerman, bermain bersama FC Augsburg pada musim 2015/16. Tapi karena cedera lutunya sering kambuh, Augsburg pun hanya mempertahankannya selama semusim. Karier Trochowski praktis selesai di usia 32.

Komentar