Awet Muda di Senjakala Karier

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Awet Muda di Senjakala Karier

Seorang pesepakbola hanya memiliki waktu terbatas untuk berkarier. Tidak banyak pesepakbola yang bisa mempertahankan permainan terbaiknya sampai usia senja. Meski demikian, ada beberapa pengecualian seperti Kazuyoshi Miura yang sekarang – di usia 51 tahun – masih aktif bermain bersama Yokohama FC.

Namun jauh sebelum Miura, Neil McBain pernah mencatatkan rekor pemain tertua yang bermain di Football League (kompetisi Liga Inggris). Rekor tersebut belum bisa terpecahkan sampai sekarang.

Pada 15 Maret 1947, McBain menjadi pemain tertua yang bermain di Inggris pada usia 51 tahun 120 hari. Saat itu, pemain asal Skotlandia ini bermain bersama New Brighton.

Sekilas Karier si Pemecah Rekor

Neil McBain (15 November 1895–13 Mei 1974) memulai kariernya pada 1914 sebagai wing-half di Ayr United. Pada 16 musim berikutnya, ia sempat bermain bagi beberapa kesebelasan seperti Manchester United, Everton, St. Johnstone, Liverpool, dan Watford.

Ketika di Watford, ia dipromosikan sebagai player-manager pada 1929. Ia kemudian pensiun sebagai pemain pada 1931, tapi masih melanjutkan kariernya sebagai manajer sampai 1937 di kesebelasan asal Hertfordshire tersebut.

Setelah itu, ia menjadi manajer Ayr United dan Luton Town. Pada 1939 ia berhenti berkarier sebagai manajer, tapi ia kemudian kembali ke sepakbola sebagai manajer New Brighton pada 1946.

Satu hal yang membuatnya bisa kembali bermain adalah karena saat itu New Brighton sedang mengalami krisis cedera pemain, salah satunya di posisi penjaga gawang. Itu yang membuatnya kembali bermain pada 15 Maret 1947 sebagai penjaga gawang pada pertandingan New Brighton melawan Hartlepool United.

Pertandingan itu adalah yang pertama sejak 16 tahun ia pensiun dari sepakbola. Ia kebobolan tiga gol.

McBain selanjutnya menangani New Brighton sampai akhir musim meski ia tak pernah bermain di pertandingan lainnya lagi. Ia kemudian dipecat pada Februari 1948. Setelah dipecat, ia terus berkarier sebagai manajer sampai 1963.

Meski hanya dadakan, bermainnya McBain sebagai penjaga gawang pada 1947 masih menjadi rekor yang belum bisa dipecahkan.

Mereka yang Awet Muda di Senjakala

Kita sebenarnya bisa melihat perbedaan besar dari kasus Miura dan McBain. Miura terus bermain sampai usia 51 tahun, sementara McBain sudah lama tak bermain, tapi kemudian tiba-tiba bermain di usia 51 tahun.

Wajar kemudian McBain tak pernah bermain lagi, karena ia tak senantiasa menyiapkan tubuhnya untuk tampil sebagai pemain di atas lapangan.

“Beberapa orang bisa berlatih terus yang membuatmu bisa menjaga tingkat [permainan] untuk waktu yang lama,” kata Peter Shilton, yang juga termasuk salah satu pemain yang bisa terus bermain sampai usia senja. Shilton bermain sampai usia 47 tahun.

Baca juga: Menjadi Pesepakbola dan Momok Bernama "Dewasa"

Kevin Phillips juga salah satu pemain yang bisa bermain sampai usia senja, yaitu 40 tahun. “Jelas saja ketika kamu bertambah tua, kamu bisa melihat banyak hal menjadi lebih sulit,” kata Phillips, dikutip dari FIFA.com.

“Kamu harus berlatih dua kali lebih berat daripada pemain lainnya [yang lebih muda] supaya kamu bisa menjaga tingkat permainan dengan mereka,” lanjutnya.

Aku tak pernah mencoba yoga, tapi aku dengar Ryan [Giggs] berkata [ia melakukan yoga]. Itu mirip dengan yoga tapi aku percaya pada peregangan yang sangat banyak. Peregangan setiap hari, setiap saat aku bisa, misalnya ketika menonton televisi atau sedang ngapain aja.”

Sementara itu Miura, meski terus bermain sampai 51 tahun, selalu merasa lututnya sakit setiap kali bermain. Ada tantangan besar bagi pesepakbola untuk bisa terus bermain sampai usia tua.

Penurunan Kemampuan Fisik adalah Takdir

Sepakbola terus berkembang dari tahun ke tahun. Pada 1970-an misalnya, seorang gelandang tengah biasanya berlari sepanjang 4 km dalam satu pertandingan. Namun saat ini, seorang gelandang bisa mencakup lebih dari 10 km dalam satu laga. Itu yang membuat atlet dahulu dan sekarang berada pada level yang berbeda.

Pada beberapa olahraga, kita mengenal ketika umur disebut sebagai “sweet spot”, di mana tingkat fisik, teknik, dan taktik mencapai puncaknya. Usia ini biasanya dicapai pada pertengahan 20-an tahun sampai awal 30-an tahun, termasuk di sepakbola.

Sementara selain sepakbola, kita masih bisa melihat beberapa atlet bermain dan bahkan mendapatkan medali pada usia di atas 50. Biasanya yang seperti ini adalah jenis olahraga uang membutuhkan kemampuan khusus yang kurang aerobik atau anaerobik seperti menembak, berlayar, berkuda, dan fencing.

Kemudian, untuk olahraga yang mengedepankan daya tahan, batas atas untuk mereka yang bisa menampilkan level tertinggi ada di umur 40-an tahun.

Salah satu alasan kita melihat banyak atlet yang performanya menurun ketika mereka semakin tua adalah karena tubuh mereka tak dapat menggunakan oksigen secara efektif. Kemampuan ini kita kenal dengan VO2maks, yang berfungsi untuk memprediksi performa daya tahan tubuh seseorang.

Sebuah angka pada VO2maks bisa kita baca sebagai seberapa banyak oksigen yang tubuh kita bisa gunakan untuk setiap satu kilogram berat tubuh kita. Angka ini dipengaruhi dengan seberapa baik tubuh kita bisa membawa oksigen ke paru-paru, seberapa baik kemudian terbawa di dalam darah kita ke otot-otot kita, dan otot-otot kita kemudian pakai untuk bahan bakar kontraksi.

Train Smarter, Not Harder

Pola latihan bisa meningkatkan ini semua. Namun secara umum bagi kita yang non-atlet, VO2maks biasanya akan turun sebanyak 10% setiap dekade setelah seseorang berusia 30 tahun. Sementara bagi atlet yang selalu berlatih dan bertanding, penurunan ini bisa berkurang menjadi 5% setiap dekadenya setelah usia 30 tahun.

Baca juga: Tidak Ada Kata Terlambat untuk Bermain Sepakbola

Ada alasan kenapa ini pasti terjadi, yaitu karena daya detak jantung (heart rate) kita terus menurun semakin kita tua. Ketika kita berolahraga, detak jantung maksimal per menit yang bisa kita peroleh adalah menggunakan rumus “220 – umur saat ini”.

Jadi, misalnya umur kita adalah 25 tahun, secara umum, jantung kita akan berdenyut 195 kali setiap satu menit ketika kita beraktivitas fisik secara maksimal.

Jika denyut jantung kita semakin rendah, maka oksigen yang sampai ke otot juga akan semakin sedikit, artinya daya tahan tubuh kita akan semakin lemah.

Semakin tua seseorang, termasuk atlet, kemampuan mereka akan semakin menurun. Namun dengan terus latihan dan memerhatikan pemulihan, mereka bisa mempertahankan kemampuan mereka meski mereka bertambah tua.

Atlet tua biasanya akan berlatih dengan “lebih pintar, bukan lebih keras”, di mana mereka juga jadi tak gampang cedera. Salah satu caranya, yaitu dengan memanfaatkan yoga, seperti yang Ryan Giggs pernah lakukan.

Namun bagi atlet, penurunan performa bukan hanya terjadi karena penurunan kemampuan fisik, melainkan juga karena penurunan motivasi, insting, dan mental. Hal itu yang kadang lebih dibutuhkan oleh atlet, termasuk pesepakbola, untuk terus awet muda.

“Untukku, umur bukan batasan untuk melakukan segalanya di hidup,” kata Shilton. “Jika kamu memiliki sikap mental, maka secara fisikal kamu bisa melakukannya. Banyak orang sampai pada titik di mana mereka pikir mereka seharusnya bertambah tua. Padahal itu tergantung masing-masing individu. Banyak orang [tua] yang jiwanya sangat muda.”

Komentar