Evan Dimas Akhirnya Berkarier di Luar Negeri

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Evan Dimas Akhirnya Berkarier di Luar Negeri

Evan Dimas Darmono merupakan salah satu gelandang terbaik di Indonesia saat ini. Bahkan, kemampuan Evan mengatur serangan di lini tengah tak hanya dikenal di negeri sendiri, melainkan hingga ke negeri orang. Pada 2016 lalu Evan pernah diundang seleksi di dua kesebelasan Spanyol. Sekarang ia tengah menjajal sengitnya persaingan di Liga Malaysia bersama Selangor FA.

Boleh jadi, saat ini Evan tengah menikmati periode emasnya sebagai pesepakbola. Selain berkesempatan menjajal karier di kompetisi luar negeri, sosoknya pun kerap kali nampang dalam daftar pemain Tim Nasional Indonesia di berbagai ajang Internasional. Namanya pun dikenal luas publik sepakbola Indonesia sebagai salah satu pesepakbola bertalenta di negeri ini.

Kesuksesan tak diraih Evan dalam sekejap mata, ia meraihnya melalui perjuangan keras. Sejak kecil, pemain kelahiran 13 Maret 1995 ini telah menghadapi berbagai macam perjuangan untuk mencapai kesuksesan di dunia sepakbola.

***

Bermula dari seringnya Evan diajak sang paman berlatih di sebuah SSB di Surabaya, tekadnya untuk menggeluti dunia sepakbola perlahan muncul, hingga akhirnya menjadi hasrat yang tak lagi bisa dibendung.

Evan berupaya keras membujuk kedua orang tuanya agar memasukkan dirinya ke Sekolah Sepak Bola (SSB). Kedua orang tuanya menyadari bahwa keinginan putaranya menjadi pesepakbola itu sangatlah besar. Meski menghadapi kondisi ekonomi yang sulit, kedua orang tuanya tetap berupaya keras mewujudkan mimpi Evan berlatih serius di SSB.

Rupiah demi rupiah dikumpulkan oleh ayah Evan dari hasil berjualan sayuran. Dari hasil tersebut, Evan akhirnya bisa berlatih di SSB Sasana Bakti. Tak hanya itu, uang yang terkumpul pun cukup untuk membeli peralatan penunjang latihan Evan, seperti sepatu bola.

"Sepatu sepakbola pertama saya mereknya Diadora, harganya Rp 20.000. Saya ingat dulu sepatu saya terlalu besar sehingga harus saya masukkan kain agar bisa pas. Umur sepatu itu tidak lama, kira-kira 3 minggu karena sepatunya sangat murah sehingga cepat rusak,” kenang Evan, dilansir dari Liputan 6.

Evan menyadari perjuangan keras kedua orang tuanya dalam mendukung keinginannya menjadi pesepakbola. Maka, ia pun tak pernah berleha-leha dan selalu berlatih keras untuk menunjang kemampuannya mengolah si kulit bundar. Selama kurang lebih dua tahun Evan berlatih di SSB Sasana Bakti, hingga pada 2007 ia pindah ke SSB Mitra Surabaya. Selain karena lokasi latihan SSB Mitra Surabaya lebih dekat dengan kediamannya, status sebagai klub binaan Persebaya Surabaya tak dimungkiri menjadi salah satu alasannya pindah ke Mitra Surabaya.

Bersama Mitra Surabaya, bakat olah bolanya semakin berkembang. Tak ayal pada pertengahan 2012 lalu Evan berkesempatan berlatih di Akademi Barcelona, La Masia. Melalui program Nike The Chance, Evan, bersama 96 anak di seluruh dunia, berkesempatan mendapat ilmu sepakbola di La Masia. Bahkan, ia juga mendapat pelatihan dari Josep Guardiola.

"Kemudian saya fokus bermain bola sampai akhirnya saya bisa masuk ke Persebaya, Tim PON Jatim, sampai Timnas dan ikut ke turnamen di Hong Kong (HKFA International Youth Invitation di Hong Kong). Itu semua pencapaian yang sebelumnya tidak pernah kebayang,” tutur Evan, dilansir dari Detik.com.

Nama Evan Dimas kemudian melambung, dikenal publik sepakbola Indonesia kala memperkuat timnas di Piala AFF U-19 pada 2013 lalu. Saat itu, Evan menjadi salah satu sosok sentral yang membawa Indonesia meraih gelar juara di ajang tersebut untuk kali pertama dalam sejarah. Evan yang juga menjabat sebagai kapten kesebelasan, tercatat pula sebagai pencetak gol terbanyak Indonesia di ajang tersebut.

Kegemilangan Evan bersama timnas U-19 berlanjut di Kualifikasi Piala Asia U-19 2014. Berhadapan dengan Korea Selatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 12 Oktober 2013, Evan menjadi pahlawan kemenangan 3-2 Indonesia atas Korea Selatan. Hasil tersebut, mengantar Indonesia lolos ke Piala Asia U-19 di Myanmar.

Sayangnya kiprah Indonesia di Piala Asia U-19 tak begitu menggembirakan. Tergabung di di Grup B bersama Uzbekistan, Uni Emirat Arab, dan Australia, Indonesia kepayahan. Jangankan lolos dari fase grup, meraih satu pun kemenangan di ajang tersebut pun Indonesia tak mampu.

Namun Evan tetap memiliki daya tarik. Setelah penampilan impresifnya bersama timnas U-19, pelatih Timnas Indonesia Senior, Alfred Riedl, memasukkan nama Evan dalam daftar pemain di Piala AFF 2014. Evan menjadi satu-satunya alumnus timnas U-19 yang ditarik ke timnas senior kala itu.

Status Evan di timnas senior di Piala AFF 2014 tak lebih dari pemain pelengkap. Wajar, karena saat itu ia harus bersaing dengan beberapa nama tenar lainnya seperti Firman Utina, Hariono, Raphael Maitimo, hingga Ramdani Lestaluhu. Meski begitu, bukan berarti Evan tak diberi kesempatan tampil di ajang tersebut. Kesempatan diberikan Riedl kepada Evan menunjukkan kemampuannya saat Indonesia menghadapi Laos di pertandingan terakhir fase grup. Indonesia yang tak lagi memiliki peluang lolos ke semifinal menang lima gol tanpa balas.

Potensi Evan ternyata tercium hingga Negeri Spanyol. Di pertengahan tahun 2015, Evan dipanggil mengikuti seleksi bersama Llagostera. Selama sepekan menjalani seleksi, Evan dinyatakan gagal. Kabarnya saat itu Evan mengalami cedera yang membuatnya tak bisa menampilkan kemampuan terbaiknya. Masalah cedera juga menjadi pertimbangan lain Llagostera tak jadi memboyong Evan.

Tapi, hal tersebut tak lantas membuat Evan menyerah. Ia kembali ke Indonesia dan memperkuat Surabaya United (kelak berganti nama menjadi Bhayangkara FC).

Setahun setelah gagal menjalani trial di Llagostera, kesempatan merumput di Eropa kembali didapatkan Evan. Tim asal Spanyol lainnya, RCD Espanyol B, memanggilnya untuk menjalani trial pada awal 2016. Sayangnya, upaya Evan mendapat kontrak di Espanyol tak kesampaian.

Evan kemudian pulang ke Indonesia dan memperkuat Bhayangkara FC di Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016. Di ISC 2016, ia gagal membawa Bhayangkara FC juara. Namun di akhir turnamen pengganti kompetisi itu, ia mendapat penghargaan sebagai pemain muda terbaik.

Kegemilangan Evan bersama Bhayangkara FC berlanjut di Liga 1 Indonesia 2017. Saat itu ia berhasil membawa The Guardian juara di kompetisi utama Indonesia itu. Pada musim 2018, kesempatan bagi Evan berkarier di luar negeri akhirnya tercapai setelah klub asal Malaysia, Selangor FA, meminangnya. Saat itu Selangor juga meminang Ilham Udin Armayin, rekan Evan di Timnas U-19 dan Bhayangkara FC.

Kepindahan Evan ke Selangor FA sempat menemui hambatan. Saat itu, Ketua Umum PSSI, Edy Rachmayadi ‘melarangnya’ bermain di Malaysia dengan dalih bakal mengganggu konsentrasinya dalam persiapan timnas di Asian Games. Namun melalui berbagai upaya, akhirnya Evan diizinkan bermain di Selangor dengan catatan, ia dan Ilham diperbolehkan pulang saat timnas memanggil keduanya.

Komentar