Melihat Felix Sebagai Felix

Backpass

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Melihat Felix Sebagai Felix

Pada 12 Maret 1991, Felix Kroos lahir di Greifswald, sebuah kota kecil di timur laut Jerman. Jarak Greifswald ke Laut Baltik lebih dekat ketimbang ke Berlin dan Hamburg, dua kota besar terdekat. Sebelum reunifikasi Jerman, Greifswald yang terletak di negara bagian Mecklenburg-Vorpommern adalah bagian dari Jerman Timur.

Prestasi sepakbola Jerman Timur tidak sementereng Jerman Barat. Kualitas pemain antara kedua negara juga timpang. Ketimpangan ini terus berlanjut bahkan setelah Timur dan Jerman bersatu.

Felix adalah pengecualian. Atau, barangkali, lebih tepatnya begini: Felix beruntung karena Roland Kroos, ayahnya, adalah pelatih sepakbola. Sejak usia muda, Felix mendapat latihan khusus dari Roland. Yang lebih membantu lagi, Felix selalu punya rekan berlatih yang bisa diandalkan: Toni, kakak laki-lakinya, yang berusia 14 bulan lebih tua.

Felix muda menyimpan bakat besar. Tidak mengherankan karena selain mendapat latihan bermutu, darah atlet memang mengalir di keluarganya. Birgit Kroos, sang ibu, adalah juara bulutangkis Jerman Timur tahun 1986 untuk kategori tunggal putri dan ganda putri.

Sejak usia muda, Felix sudah meraih berbagai prestasi. Beberapa di antaranya adalah penghargaan Bakat Terbaik Mecklenburg-Vorpommern Tahun 2007 dan medali perunggu Fritz Walter Medal tahun 2009 -- penghargaan untuk pemain terbaik ketiga tingkat nasional di kelompok usia U18.

Prestasinya memang sudah sampai di tingkat nasional pada saat itu. Felix, saat itu masih berposisi sebagai penyerang, selalu menjadi bagian tim nasional usia muda baik di kelompok usia U16, U17, U18, maupun U19.

Felix memulai pendidikan sepakbolanya di klub lokal, Greifswalder SC, pada 1997. Klub yang lebih besar, FC Hansa Rostock, membawanya bergabung ke tim muda pada musim panas 2002. Ia naik kelas ke Hansa Rostock U17 pada 2006 dan U19 pada 2007.

Sejak September 2008, Felix membela Hansa Rostock II. Di Inggris, tim II setara dengan tim reserve. Bedanya, tim II diikutsertakan di liga bersama dengan klub-klub lain, bukan hanya di kejuaraan antar tim reserve. Per Januari 2009, Felix “ditransfer” dari Hansa Rostock II ke tim utama Hansa Rostock.

Kurang dari sebulan, tepatnya pada 28 Januari 2009, Felix dipercaya menjalani debutnya sebagai pemain profesional. Dieter Eilts, pelatih kepala Hansa Rostock saat itu, memasukkan Felix sebagai pengganti Sebastian Svard di menit ke-69 pertandingan putaran ketiga DFB-Pokal 2008/09. Dalam pertandingan yang digelar di kandang VfL Wolfsburg tersebut, Rostock kalah 1-5. Usia Felix saat itu 17 tahun, 10 bulan, dan 16 hari.

Hanya 29 pertandingan berselang, klub yang lebih besar memanggil. Felix meninggalkan klub favoritnya untuk bergabung dengan klub favorit kakaknya, Werder Bremen, pada musim panas 2010.

Di Bremen, Felix menjalani tugas ganda sebagai pemain Bremen II (saat itu berkompetisi di Liga 3, divisi ketiga Liga Jerman) dan sebagai pemain tim utama. Pada 11 September 2010, Felix menjalani debutnya sebagai pemain Bremen II di pertandingan Liga 3 melawan VfB Stuttgart; pada 24 November 2010, ia menjalani debutnya sebagai pemain tim utama Bremen di pertandingan Liga Champions melawan Tottenham Hotspur; empat hari berselang, masih sebagai pemain Bremen, ia menjalani pertandingan pertamanya di Bundesliga 1, divisi tertinggi sepakbola Jerman, di pertandingan melawan FC St. Pauli.

Saat bergabung dengan Bremen, Felix menandatangani kontrak berdurasi tiga tahun saja. Kontrak tersebut pada akhirnya diperpanjang hingga 2017. Namun perpanjangan kontrak tinggal perpanjangan kontrak. Kariernya di Bremen tak bisa dibilang cemerlang. Laga melawan Tottenham adalah satu-satunya penampilan Felix di Liga Champions. Walau bermain dalam 67 pertandingan untuk Bremen II dan 70 pertandingan untuk Bremen, Felix pada akhirnya dipinjamkan ke FC Union Berlin, klub Bundesliga 2, per 28 Januari 2016.

Kesepakatan awalnya, Felix dipinjamkan setengah musim saja. Namun pada akhirnya Felix menetap di ibu kota. Begitu masa pinjamannya berakhir, Bremen sepakat untuk melepas sang pemain secara permanen ke Union Berlin.

Dilepas ke klub yang lebih kecil tampak seperti kemunduran karier, terlebih mengingat Toni bermain di level yang jauh lebih tinggi. Namun Felix tidak melihat keadaan seperti itu. Kepada Kreiszeitung, pemain yang sekarang mengemban jabatan kapten klub tersebut berkata bahwa bergabung dengan Union Berlin adalah langkah yang perlu ia ambil. Mundur, memang, namun targetnya adalah kembali bermain di Bundesliga 1 bersama Union Berlin.

Dan Toni adalah Toni, Felix adalah Felix. Keduanya tidak terlibat persaingan. Keberhasilan Toni adalah keberhasilan Toni, bukan pembanding untuknya. Ketika diminta menjadi komentator untuk pertandingan El Clasico, Felix dengan cukup santai berkata “Aku tidak pernah terlibat langsung di El Clasico, karena jalannya tidak demikian; namun aku sekarang menjadi komentator pertandingan [itu] dan aku cukup dekat [dengan El Clasico].” Ia menutup kalimatnya dengan tawa.

Komentar