Kegaduhan dalam Debut Kanu

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball

Kegaduhan dalam Debut Kanu

Hengkangnya Ian Wright ke West Ham United di jendela transfer musim panas 1998 menjadi kehilangan besar bagi Arsenal. Kepergian Wright membuat Arsenal kepayahan mengarungi paruh pertama kompetisi musim 1998/99.

Sepeninggal Wright, produktivitas Arsenal menurun drastis. Pada paruh pertama Liga Primer Inggris musim 1998/99 Arsenal hanya mencetak 21 gol dari 19 pertandingan yang dilakoni; musim sebelumnya, 35 gol mampu dicetak para penggawa The Gunners dalam 19 pertandingan pertama.

Sejatinya, keputusan Arsenal melepas Wright ke West Ham United adalah logis. Wright sudah tidak lagi muda. Usianya saat itu sudah menginjak 35 tahun. Menuanya Wright berimbas pada performa yang cenderung menurun. Di tahun terakhirnya berseragam Arsenal (1997/98), dari 22 pertandingan di kompetisi domestik, Wright hanya menceploskan 10 gol. Menurun drastis bila dibanding dengan musim sebelumnya yang mencetak 23 gol dari 35 penampilan.

Meski begitu, kepergian Wright tak diantisipasi Arsenal dengan kedatangan penyerang baru. Akibatnya, kepergian Wright menciptakan kekosongan di sektor depan. Sejatinya, The Gunners memiliki empat penyerang seperti Nicolas Anelka, Dennis Bergkamp, Christopher Wreh, dan Kaba Diawara yang diharapkan bisa menjadi suksesor Wright. Kenyataan berbicara lain. Keempatnya seolah tak mampu menutup lubang yang ditinggalkan Wright.

Arsene Wenger menyadari ketidakberesan lini depan timnya setelah kepergian Wright. Pelatih berkebangsaan Prancis itu memanfaatkan jendela transfer musim dingin untuk mendatangkan penyerang baru. Nwankwo Kanu menjadi sosok pilihan Wenger. Kanu didatangkan dari Inter Milan dengan mahar 4,5 juta paun pada 15 Januari 1999.

Kehadiran Kanu seolah menjadi angin segar bagi Arsenal. Selain berpotensi menjadi suksesor Wright, penyerang asal Nigeria itu pun dianggap sebagai prospek jangka panjang Arsenal kala itu, mengingat Kanu didatangkan ke Highbury pada usia 22 tahun.

Meski begitu, kedatangan Kanu bukan tanpa polemik. Permasalahan izin kerja yang tak kunjung rampung membuat Kanu baru bisa menjalani debut bersama Arsenal selang satu bulan sejak kepindahannya dari Inter Milan. Debut Kanu bersama Arsenal terjadi pada 13 Februari 1999 di ajang Piala FA, dalam laga melawan Sheffield United.

Pertandingan antara Arsenal melawan Sheffield United berlangsung ketat sejak awal. Arsenal unggul lebih dulu melalui sundulan Patrick Vieira pada menit 28. Selang tiga menit kemudian, Sheffield membalas melalui sepakan penyerang asal Brasil, Marcelo. Skor imbang 1-1 bertahan hingga pertandingan berjalan selama 60 menit. Kondisi yang kurang menguntungkan bagi Arsenal kala itu, yang membutuhkan kemenangan untuk meraih tiket lolos ke fase selanjutnya.

Wenger pun menunjuk Kanu agar bersiap masuk ke lapangan. Tentu saja, Kanu menyambut pemintaan Wenger dengan sangat antusias. Ia begitu bersemangat melakoni debut bersama Arsenal. Ia memijakkan kakinya di rumput Highbury dengan penuh kepercayaan diri. Harapannya, bisa memberikan sesuatu yang akan membuat fans Arsenal keluar stadion dengan wajah sumringah.

Kehadiran Kanu di lapangan sebenarnya membuat agresivitas Arsenal meningkat. Gelombang serangan Arsenal semakin deras mencecar jantung pertahanan Sheffield. Namun yang terjadi kemudian justru di luar ekspektasi Kanu. Alih-alih menjalani debut dengan manis, aksi Kanu justru menimbulkan kegaduhan dalam pertandingan tersebut.

Hingga pada menit 76, mimpi buruk debut Kanu di Arsenal pun terjadi. Saat itu, salah seorang pemain Sheffield United tergolek di area pertahanan Arsenal setelah berduel dengan Dennis Bergkamp. Wasit tidak menganggap duel tersebut sebagai sebuah pelanggaran. Permainan terus berlanjut. Hingga akhirnya, penjaga gawang Sheffield, Alan Kelly, membuang bola agar rekannya itu mendapat perawatan medis.

Gelandang Arsenal, Ray Parlour, bergegas mengambil lemparan ke dalam. Sejatinya, Parlour berniat melemparkan bola kepada Kelly, sebagai bentuk fair play. Namun, belum sampai bola berada di tangan Kelly, Kanu menyerobotnya. Tanpa sadar bahwa sebenarnya itu adalah bola fair play, Kanu beraksi dengan melakukan penetrasi di area kanan pertahanan Sheffield. Penetrasi tersebut diakhiri dengan umpan silang yang disambut Marc Overmars hingga mengoyak gawang lawan.

Wasit menunjuk titik tengah lapangan, menandakan bahwa sebuah gol telah tercipta. Highbury bersorak, para pemain Arsenal merayakan gol kemenangan mereka. Para pemain Sheffield berang. Mereka melancarkan protes keras kepada wasit yang mengesahkan gol tersebut. Pertandingan sempat terhenti selama kurang lebih delapan menit. Namun wasit bergeming dengan keputusannya, dan tetap mengesahkan gol tersebut.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan keputusan wasit. Dilansir dari Independent, dalam regulasi tidak ada aturan tertulis yang mengatakan bahwa sebuah tim harus memberikan penguasaan bola kepada lawan, setelah bola tersebut ditendang keluar lapangan saat ada pemain yang cedera. Namun, protes keras pemain Sheffield bukan soal aturan yang tak tertulis itu. Lebih dari pada itu, menyangkut soal sportivitas seorang pemain di lapangan.

Wenger Bersikap

Kanu kemudian berada dalam tekanan besar karena dianggap sebagai dalang dari terciptanya gol kontroversial itu. Aksinya memicu kemarahan dari seluruh pemain Sheffield, plus enam ribu pendukungnya yang memadati Highbury. Para pendukung Sheffield mencemooh pemain Arsenal yang mereka anggap memenangkan pertandingan dengan menanggalkan nilai-nilai sportivitas dalam sepakbola.

Seusai pertandingan, Wenger tak menampik bahwa gol kedua Arsenal yang diciptakan Overmars tercipta melalui proses yang kontroversial. Wenger mengakui bahwa itu tidak bisa dibenarkan. Ia meminta agar pertandingan diulang.

“Gol kedua kami adalah gol kontroversial dan kami merasa itu tidak benar. Kami merasa bahwa kami tidak bisa memenangkan pertandingan dengan cara seperti ini. Kami ingin memenangkan pertandingan dengan cara yang benar,” terang Wenger, dilansir dari Independent.

Meski mengakui bahwa gol keduanya berbau kontroversial, namun Wenger enggan melempar kesalahan atas terjadinya insiden tersebut kepada Kanu. Ia mengungkapkan bahwa telah terjadi kesalahpahaman dari Kanu yang tidak menyadari bahwa Parlour sebenarnya bermaksud mengembalikan bola kepada Kelly.

"Kanu benar-benar sedih atas kejadian ini. Dia tidak tahu mengapa lemparan tersebut di arahkan ke belakang. Dia tidak melihat adanya pemain lawan mengalami cedera, dan tidak tahu kiper telah menendang bola dengan sengaja ke luar lapangan. Saya pikir, itu adalah kesalahan yang tak disengaja,” ujarnya.

Keinginan Wenger meminta agar pertandingan tersebut diulang langsung direspons Steve Bruce (manajer Sheffield United) dan FA. Bruce mengungkapkan bahwa dirinya bersepakat dengan Wenger yang sebelumnya mendatanginya dan menawarkan pengajuan agar pertandingan tersebut diulang. Tak hanya itu, Bruce pun enggan terlalu menyalahkan Kanu atas insiden tersebut. Menurutnya, seperti apa yang telah dijelaskan Wenger kepadanya, Kanu tidak tahu apa-apa.

“Dia (Kanu) tidak tahu apa yang terjadi saat itu. Tapi sayangnya, wasit seharusnya mengingatkan pemain ketika ada kejadian seperti itu. Saya memang meminta tim untuk keluar dari lapangan sehingga saya dapat berbicara. Itu adalah sebuah demonstrasi tapi juga sebuah upaya untuk menyelesaikan situasi ini,” kata Bruce.

Sementara FA, melalui juru bicaranya, Steve Double, memuji sikap Wenger yang meminta agar pertandingan tersebut diulang. "Ini adalah situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya Semua orang menyambut baik isyarat sportivitas yang dilakukan Arsene Wenger. Dia akan diberi apresiasi atas sikapnya ini," kata Double.

Pertandingan ulang Arsenal melawan Sheffield United digelar 10 hari kemudian di Highbury. Pertandingan tetap berakhir dengan skor 2-1 untuk kemenangan Arsenal.

***

Steve Double tak berlebihan dalam memuji sikap Wenger. Sikap yang ditunjukkan Wenger dengan meminta agar pertandingan diulang memang layak mendapat apresiasi. Biar bagaimanapun Wenger telah menunjukkan bahwa kemenangan dalam pertandingan sepakbola bukanlah hal yang utama. Lebih dari pada itu, menjunjung tinggi nilai sportivitas merupakan tujuan utama dalam permainan sebelas lawan sebelas.

Sikap Wenger yang peduli dengan nilai-nilai sportivitas dalam sepakbola terus dijunjujungnya. Sebelas tahun setelah permintaan Wenger untuk mengulang pertandingan Arsenal melawan Sheffield United, ia kembali menyuarakan sikap yang sama ketika melihat gol kontroversial yang dicetak Thierry Henry saat Prancis mengalahkan Republik Irlandia, dalam pertandingan play-off menuju Piala Dunia 2010.

Saat itu, sebelum menceploskan bola ke gawang lawan, Henry tertangkap kamera menyentuh bola dengan tangannya. Namun, kejadian tersebut luput dari pandangan wasit sehingga gol yang diciptakan mantan pemain Arsenal itu dianggap sah. Wenger yang melihat kejadian itu mendesak agar Federasi Sepakbola Prancis (FFF) mengajukan banding, meminta pertandingan tersebut diulang.

Tapi FFF tidak mengindahkan permintaan Wenger. Pun begitu dengan FIFA, yang tak mengambil tindakan. Irlandia melayangkan protes; Prancis tetap lolos.

Komentar