Kesebelasan Glamor Pertama Amerika Serikat

Backpass

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Kesebelasan Glamor Pertama Amerika Serikat

Ada yang menggugah semangat Pele, yang sudah sekitar satu tahun pensiun sebagai pesepakbola. Pada 1975, Pele memutuskan turun gunung. Kembali berkarier. Kembali menghibur banyak orang dari lapangan hijau.

Alasannya: tawaran dari New York Cosmos, yang berkiprah di Liga Sepakbola Amerika Utara (NASL). Cosmos adalah kesebelasan Amerika Serikat yang mewakili Kota New York pada waktu itu. Usianya masih muda, mulai dibentuk pada Desember 1970 dan diresmikan pada 4 Februari 1971 setelah mendapat nama yang pas.

Nama Cosmos dipilih karena merupakan kependekan dari cosmopolitans, yang merupakan citra New York itu sendiri. Sementara alasan didirikannya kesebelasan itu sendiri karena ingin ada kesuksesan cabang olahraga lain di New York, selain klub bisbol bernama New York Mets.

Cosmos sendiri didirikan para eksekutif perusahaan program acara televisi bernama Warner Communications, yaitu Steve Ross selaku presiden, yang didukung Ahmet Ertegun dan Nesuhi Ertegun. Merekalah yang membuat Cosmos menjadi kesebelasan yang baik secara kompetitif maupun finansial.

Buktinya, mereka berperan besar dalam pemanggilan kembali Pele yang satu tahun sebelumnya sudah memutuskan pensiun. Pele diiming-imingi gaji sekitar 1,4 juta dolar AS, yang merupakan upah besar bagi seorang pesepakbola saat itu. Di sisi lain, kedatangan Pele tentu menghadirkan keuntungan komersial yang besar – belum lagi sorotan dari sana-sini.

Cosmos menjadi sorotan media, meningkatkan rating siaran televisi dan tentu saja stadion selalu disesaki penonton. Kedatangan Pele dibilang membuat Cosmos menjadi kesebelasan sepakbola Amerika Serikat pertama yang dikenal secara internasional. Ini sekaligus memberi kredibilitas kepada Cosmos, NASL, dan sepakbola di Amerika Serikat secara umum.

Kesebelasan-kesebelasan Amerika Serikat lainnya pada waktu itu pun terpancing mengikuti langkah Cosmos. Boston Minutemen merekrut Eusebio pada tahun yang sama dengan kedatangan Pele. Satu tahun kemudian, Los Angeles Aztecs mendaratkan George Best. Tampa Bay Rowdies tak mau kalah; mendatangkan Rodney Mars.

Tapi Pele memutuskan pensiun dari sepakbola di Cosmos pada 1977. Pensiunnya Pele mengurangi minat dari berbagai kalangan dan sorotan media terhadap Cosmos dan NASL. Cosmos pun tidak menyerah dengan mendatangkan Carlos Alberto dan Franz Beckenbauer setelah Pele pensiun.

Aztecs pun tidak mau kalah dengan mengontrak Johan Cruyff. Setelah Beckenbauer memutuskan pulang ke Jerman dengan memperkuat Hamburger SV, Cosmos mendatangkan Johan Neeskens. Fort Lauderdale Strikers pun tidak ingin ketinggalan dengan merekrut Gerd Muller.

Adanya pesepakbola-pesepakbola tenar itu mengundang minat dari komunitas-komunitas orang Amerika Selatan dan Eropa di Amerika Serikat. Tapi Cosmos tetaplah dikenang sebagai paling glamor dari Amerika Serikat atas inisiatifnya mendatangkan Pele dan bintang-bintang pesepakbola lainnya.

Lagipula, Cosmos pun memiliki pemain-pemain asli Amerika Serikat berlabel bintang pada waktu itu. Salah satunya Shep Messing, penjaga gawang yang sering menjadi model majalah di Amerika Serikat. Maka dari itu Cosmos berhasil mengubah sepakbola di seluruh Amerika Serikat. Sepakbola yang sebelumnya terabaikan di negara itu, mendadak menjadi alternatif olahraga masyarakat selain basket, bisbol, football, dan lainnya.

Bumerang Bintang

Di sisi lain, gila-gilaannya perekrutan pemain bintang Amerika Selatan dan Eropa bergaji mahal membuat kesebelasan-kesebelasan NASL perlahan memiliki masalah keuangan. Hal itu membuat beberapa pemain bintang memutuskan untuk kembali berkiprah di Amerika Selatan atau Eropa.

Hal-hal itu tentu saja mengurangi minat media dan masyarakat Amerika Serikat. Tidak terkecuali dengan Cosmos yang sumber keuangannya berasal di Warner Communication. Di balik kedatangan para pemain bintang, Warner harus menjual beberapa asetnya di bidang olahraga seperti Atari dan Global Soccer.

Pada akhirnya Cosmos harus menjual para pemain andalannya dan mengorbitkan para pemain muda yang dibina dari camp musim panas. Tapi lagi-lagi sepakbola Amerika Serikat pada saat itu adalah kepentingan komersil yang lebih tertarik kepada bintang-bintang dunia. Cosmos pun mendapatkan gelar terakhirnya pada 1982, dan 1983 mulai menjadi akhir bagi NASL.

Sementara kisah Cosmos itu diangkat menjadi film berjudul berjudul Once in a Lifetime: The Extraordinary Story of the New York Cosmos (2006). Kompetisi NASL pun runtuh pada akhir 1984, dan Cosmos resmi berhenti pada 1985. Kompetisi itu tidak digantikan oleh liga sepakbola profesional mana pun meskipun ada turnamen Major Indoor Soccer yang daya minatnya masih kalah jauh dari NASL.

Major League Soccer (MLS) mulai berdiri pada 1994. Sejak itu banyak upaya untuk menghidupkan kembali Cosmos. MLS membutuhkan entitas sepakbola yang mewakili New York sebagai kota besar di Amerika Serikat. Salah satu yang paling ngebet membeli untuk dijadikan waralaba adalah Metrostars.

Namun Peppe Pinton yang merupakan mantan manajer umum Cosmos menolak menjual merek kesebelasan tersebut untuk dijadikan kesebelasan waralaba di MLS. Metrostars justru mendirikan kesebelasan sendiri berbasis di New York sampai pada akhirnya diakusisi Red Bulls pada 2006.

MLS terus mencari jalan dengan menghidupkan kembali kesebelasan jebolan NASL. San Jose Earthquakes, Seattle Sounders, Portland Timbers, dan Vancouver Whiteaps pun dihidupkan kembali sebagai waralaba MLS. Setelah itu, barulah Pinton tergoda menjual nama dan merek Cosmos ke pihak lain di Amerika Serikat.

Awalnya, Cosmos diperkirakan menjadi waralaba saja atas ekspansi MLS. Tapi Cosmos justru dijual kepada Paul Kemsley yang merupakan mantan Wakil Ketua Umum Tottenham Hotspur pada 2006. Kemudian Cosmos dengan gaya baru diumumkan pada Agustus 2010. "Dan saat itu saya tidak meminta uang. Saya tidak tertarik. Saya tidak berpikir saat itu tepat, tapi saat inilah yang tepat," ujar Pinton setelah menjual merek Cosmos kepada Kemsley seperti dikutip dari Archive Today.

Pele pun ditunjuk menjadi presiden kehormatan kesebelasan tersebut dan memberikan sambutan ketika peresmiannya. Cosmos malah bergabung dengan NASL yang baru dibentuk kembali pada 2012 dan digelar satu tahun berikutnya. Pinton sendiri menilai adanya keberadaan MLS seperti melupakan sejarah sepakbola Amerika Serikat yang dibesarkan NASL.

Apalagi dengan sistem waralaba di MLS kepada kesebelasan-kesebelasan jebolan NASL. "Diperdebatkan lagi bahwa MLS dalam usahanya untuk belajar dari sejarah, mereka telah menghindari NASL. Menghindari bekas waralaba dan pemain dari liga yang tidak berfungsi," tegas Pinton.

Saat ini NASL diisi enam kesebelasan. Rinciannya yaitu lima kesebelasan dari Amerika Serikat dan satu lagi dari Puerto Rico. Tidak ada degradasi maupun promosi di NASL. Padahal dulu NASL merupakan satu-satunya liga pro di Amerika Serikat selama 17 musim sebelum dibubarkan.

Agar lebih mudah dipahami: saat ini NASL statusnya sama dengan kompetisi kelas dua sepakbola Amerika Serikat, dibandingkan MLS yang merupakan kompetisi utama. Tapi NASL tidak masuk ke dalam piramida kompetisi sepakbola Amerika Serikat. Walau demikian, di NASL-lah Cosmos bisa mendapatkan kejayaannya kembali.

Komentar