Semua Gara-gara Torres

Backpass

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Semua Gara-gara Torres

Hari tenggat waktu (deadline day) jendela transfer adalah waktu untuk panik. Di jendela transfer musim dingin Inggris misalnya, semua transaksi harus sudah selesai pada 31 Januari pukul 23:00 waktu setempat.

Pada 31 Januari 2011, terjadi transaksi yang melibatkan 107,7 juta paun (sekitar 1,5 triliun rupiah dengan konversi saat itu) hanya untuk tiga pemain. Sampai saat ini masih banyak yang merujuk tanggal tersebut sebagai deadline day terbaik sepanjang masa. Semuanya terjadi gara-gara Fernando Torres.

Menjelang akhir Januari, Torres – saat itu berusia 26 tahun – berhasil mencetak 9 gol dari 23 pertandingan Liga Primer Inggris 2010/11 untuk Liverpool. Jika ditarik lagi jauh ke belakang, penyerang asal Spanyol ini sedang subur-suburnya karena telah mengumpulkan 81 gol dari 142 pertandingan The Reds di segala ajang.

Aroma optimisme di Liverpool memang tidak terlalu sengit tercium karena kesebelasan mereka sedang berada di posisi ketujuh. Namun, Fenway Sports Group (FSG) baru saja mengambil alih kesebelasan dari tangan Tom Hicks dan George Gillett. Legenda kesebelasan, Kenny Dalglish, juga baru ditunjuk sebagai manajer setelah setengah musim yang tidak menggembirakan. Jadi, ada secercah harapan untuk Liverpool.

Sayangnya, harapan tersebut menguap pada 28 Januari 2011 saat penyerang tersubur mereka meminta untuk dijual (transfer request). Hal yang membuat Torres ingin pindah adalah ketertarikan juara bertahan Liga Primer saat itu, Chelsea.

Chelsea ingin menghidupkan peluang mempertahankan gelar juara karena saat itu mereka sedang duduk di peringkat keempat, ketinggalan 10 poin dari Manchester United di puncak klasemen sementara.

Pihak Liverpool memang langsung menolak transfer request Torres. Namun, penolakan ini bukan akhir dari cerita, karena tiga hari setelahnya, atau pada hari tenggat waktu, Liverpool menyetujui biaya transfer dari Chelsea pada pukul 19:30 setempat.

Saling Tunggu Antara Transfer Torres dan Carroll

Ada alasan kenapa butuh waktu tiga hari dari penolakan transfer request sampai penyetujuan biaya transfer, dua kejadian yang berbeda 180 derajat. Alasan tersebut karena Liverpool sibuk mencari pengganti Torres yang sudah jelas-jelas ingin pergi ke London untuk berganti warna kesebelasan.

Sebenarnya, sebelumnya Liverpool sudah sangat dekat untuk mendapatkan Luis Suárez yang saat itu masih berseragam Ajax Amsterdam.

Penyerang asal Uruguay ini sudah mengumpulkan 126 gol sejak 2006 di Eredivisie Belanda (satu musim pertama bersama Groningen), dengan 12 gol di antaranya ia cetak sepanjang paruh pertama musim 2010/11. Usianya yang baru 24 tahun membuatnya dicap sebagai penyerang yang menjanjikan.

Liverpool sebenarnya bisa saja menunggu lebih lama lagi untuk membeli penyerang kelahiran Salto, Uruguay, tersebut. Akan tetapi, pembelian Suárez disinyalir dipercepat lantaran Torres meminta untuk dijual.

Namun, mereka ragu Suárez bisa langsung nyetel, sehingga melakukan pendekatan juga dengan penyerang yang mereka nilai sudah terbukti ketajamannya di Liga Primer: Andrew Carroll.

Baca juga: Alasan Kenapa Inggris Lebih Sibuk di Bursa Transfer Musim Dingin

Meski usia Andy Carroll saat itu masih 22 tahun, sepanjang paruh pertama musim ia sudah bermain dalam 19 pertandingan Liga Primer bersama Newcastle United dengan mencetak 11 gol, dua gol lebih banyak daripada Torres meski bermain lebih sedikit.

Sementara jika kita melihat sepanjang kariernya bersama Newcastle sejak 2006, Carroll sudah berhasil mencetak 33 gol dari 91 pertandingan di segala kompetisi. Melihat usia (22), penampilan, dan kondisinya yang sudah cocok di Liga Primer, wajar jika Liverpool lebih berharap pada Carroll alih-alih Suárez. Harga juga membuktikannya.

Dua Menggantikan Satu

Di saat transfer Torres dan Carroll saling tunggu, Suárez sudah terlebih dahulu diresmikan sebagai pemain Liverpool dengan harga 22,7 juta paun mendekati pukul 21:00, dua jam menjelang tenggat waktu.

“Sebuah mimpi bisa datang dan bermain di sini,” kata Suárez, dikutip dari Sky Sports. “Ambisiku untuk masa depan adalah memberi yang terbaik bagi Liverpool, belajar lebih banyak tentang sepakbola Inggris, dan menjadi juara.”

Kemudian soal Torres dan Carroll, saat itu dilaporkan jika Liverpool menginginkan Torres untuk dijual dengan harga 15 juta paun lebih mahal daripada harga mereka membeli Carroll, sehingga mereka harus merampungkan transfer Carroll terlebih dahulu.

Tak perlu menunggu lama, karena sudah mendekati deadline juga, penyerang jangkung kelahiran Gateshead itu langsung diterbangkan menggunakan helikopter ke Liverpool. Di saat yang bersamaan, Torres melakukan perjalanan ke Kota London.

Hanya beberapa menit sebelum tenggat waktu, kepindahan Carroll ke Merseyside dikonfirmasi pihak kesebelasan dengan harga 35 juta paun, sebuah rekor pembelian kesebelasan pada saat itu.

“Gol demi gol selalu ada di permainanku,” kata Carroll, dikutip dari situs resmi Liverpool. “Jadi, aku sangat percaya diri jika aku bisa mencetak gol untuk Liverpool. Aku akan memberikan sebisaku untuk tim, aku akan mencetak gol, membuat peluang, menahan bola, dan melakukan yang terbaik.”

Rasa percaya diri Carroll juga diamini oleh Dalglish: “Ia adalah pemain besar tapi sangat baik di lapangan juga, ia memiliki [kemampuan] kaki yang bagus, ia sangat kuat di udara, dan ia akan memberikan kita presensi di lini depan. Ia sedikit berbeda dengan [permainan] kami yang biasanya, tapi itu tidak akan mengubah prinsip dan filosofi permainan kami.”

Torres pergi, Carroll dan Suárez datang. Melihat komentar-komentar di atas pada saat itu, pendukung Liverpool kembali merasa optimis. Segalanya terlihat cerah.

Rp 1,5 T untuk Tiga Penyerang dalam Satu Deadline Day

Di Kota London, deadline sudah berlalu, tapi belum ada kabar apa-apa mengenai Torres. Ternyata Chelsea bukan hanya merampungkan transfer Torres, tapi juga transfer David Luiz dari Benfica. Pantas mereka sibuk.

20 menit setelah deadline, Chelsea mengumumkan dua transfer terbaru mereka: Luiz dengan harga 26,5 juta paun dan Torres dengan harga 50 juta paun, persis seperti keinginan Liverpool, yaitu 15 juta paun lebih besar daripada harga kepindahan Carroll.

“Ini adalah target setiap pesepakbola, bermain untuk salah satu kesebelasan top dunia,” kata Torres, seolah Liverpool bukan kesebelasan top dunia. Dengan harga 50 juta paun, transaksi tersebut juga menjadi yang termahal di Britania Raya pada saat itu.

Baca juga: Memahami Mental Deadliner di Tenggat Waktu Transfer

Harga-harga di atas terhitung fantastis. Dengan total transaksi mencapai 107,7 juta paun untuk tiga penyerang pada satu deadline day, kemudian bagaimana hasilnya? Suárez mencetak gol pada debut melawan Stoke City, Carroll langsung cedera, sementara Torres mandul.

Sampai akhir musim 2010/11, Torres hanya mencetak satu gol, Carroll dua, sementara Suárez empat. Suárez dan Carroll boleh mencetak lebih banyak gol daripada Torres, tapi Liverpool hanya duduk di peringkat enam (tidak lolos ke kejuaraan Eropa saat itu), sedangkan Chelsea lolos ke Liga Champions UEFA meski gagal mengejar Man United di puncak klasemen karena hanya menjadi runner-up Liga Primer.

Sementara itu di jangka waktu yang lebih panjang, Torres meninggalkan Chelsea pada 2015 dengan harga 2,7 juta paun (rugi menjadi seperduapuluhnya) ke AC Milan dan dengan peninggalan 45 gol di segala kompetisi; satu tahun lebih lama daripada Suárez yang meninggalkan Liverpool menuju Barcelona dengan harga 75 juta paun (untung tiga kali lipat lebih) pada 2014 dan peninggalan 82 gol.

Di antara tiga penyerang di atas, Carroll adalah yang terburuk meski ia dicap sebagai yang paling menjanjikan pada deadline day musim dingin 2011. Ia hanya berhasil mencetak 11 gol untuk The Reds di segala kompetisi sepanjang kariernya, kemudian meninggalkan Liverpool pada 2013 menuju West Ham United dengan harga 15,75 juta paun (rugi menjadi kurang dari setengahnya). Semua gara-gara Torres.

(pik)

Komentar