Kerendahan Hati Alfie Mawson

Backpass

by Randy Aprialdi

Randy Aprialdi

Pemerhati kultur dan subkultur tribun sepakbola. Italian football enthusiast. Punk and madness from @Panditfootball. Wanna mad with me? please contact Randynteng@gmail.com or follow @Randynteng !

Kerendahan Hati Alfie Mawson

Tidak bisa dimungkiri bahwa Romelu Lukaku adalah penyerang yang produktif pada Liga Primer Inggris 2016/2017. Sebanyak 25 gol ia cetak bersama Everton yang membuatnya menjadi pencetak gol terbanyak kedua setelah Harry Kane.

Tapi ada satu pemain yang tidak terduga mampu membuat Lukaku tidak berkutik pada satu pertandingan musim lalu tersebut. Pemain yang berhasil menghentikan laju Lukaku adalah Alfie Mawson yang merupakan bek tengah Swansea City. Mawson mengawal Lukaku dengan ketat ketika menjamu Everton pada pertandingan Liga Primer Inggris musim lalu saat 6 Mei 2017.

Mawson berhasil memenangkan satu duel udara dan berhasil mencatatkan satu tekel bersih pada Lukaku. Pengawalan Mawson dan rekan-rekannya berhasil membuat Lukaku tidak mencetak gol sehingga Swansea berhasil mengalahkan Everton dengan skor 1-0 pada waktu itu.

Pemain yang memulai kariernya di Akademi Reading itu juga merupakan pemain Inggris U-21. Di balik bakat dan masa depannya yang cerah, Mawson memiliki kesukarelaan yang besar untuk aksi sosial. Salah satu buktinya adalah tidak ada rasa malu untuk membantu orang tuanya berjualan sayur dan buah di kios mobil jalanan.

"Teman lain datang dan berkata: `Anda bermain untuk Swansea.` Saya berkata: `Apakah itu benar saya?` Dia berkata: `Ya, itu Anda.` Dia berkata: `Saya belum pernah melihat pesepakbola Liga Primer seperti ini sebelumnya`. Saya ingat satu laki-laki berkata: `Anda tidak membutuhkan uang lebih banyak (lagi)`. Saya menjelaskan bahwa saya tidak berada di sana (berjualan) untuk alasan itu," celoteh Mawson seperti dikutip dari The Guardian.

Itu adalah salah satu cerita hebat dari Mawson yang mengatakannya sambil tersenyum. Memang melalui sepakbola ia bisa membelikan rumah untuk orang tuanya. Tapi bagi Mawson, hal terbaik adalah bisa menyanyikan lagu kebangsaan Inggris di lapangan sepakbola.

"Saya berdiri di sana dan tidak pernah sebangga itu dalam hidup saya. Itu adalah perasaan yang hebat dan saya ingat berpikir setelah pertandingan: `Ini tidak dapat direplikasi," tutur bek tengah 23 tahun tersebut.

Pemain Pertama yang Membantu Juan Mata

Pada suatu hari, Juan Mata memikirkan segala sesuatu yang diberikan sepakbola kepada kehidupannya. Di sisi lain, ia juga memikirkan apa yang harus diwariskannya dari sepakbola. Bisa dibayangkan memang betapa beruntungnya kesempatan yang dimiliki Mata sejauh ini di sepakbola.

Tentunya tidak semua orang bisa memiliki karir sepakbola sepertinya: bermain di Manchester United dan mepersembahkan gelar Piala Dunia dan Piala Eropa untuk Spanyol. Maka dari itu Mata ingin melakukan sesuatu yang lebih kontributif meskipun pernah terlibat dengan kegiatan amal sebelumnya.

Terutama keinginannya untuk memastikan anak-anak lain bisa berkesempatan mendapatkan yang dimiliki Mata. Kontribusi itu dengan cara menyisihkan gajinya sebanyak 1% kepada Common Goal yang dikelola NGO Streetfootballworld yang berbasis di Berlin. Common Goal sendiri berinvestasi lebih dari 120 badan amal di 80 negara.

Mata menganggap bahwa cara itu adalah isyarat kecil bahwa berbagi bisa mengubah dunia. Ia percaya bahwa sepakbola memiliki kekuatan untuk melakukan itu. Namun Mata mengaku usahanya itu tidak bisa dilakukannya sendirian. Maka dari itu diperlukan dana kolektif untuk membantu banyak masyarakat agar lebih efektif dan bekerlanjutan.

Agar sepakbola bisa memberikan dampak sosial jangka panjang dalam skala global. "Fokusnya sekarang adalah kontribusi dari pemain, tapi tujuan jangka panjangnya adalah membuka 1% dari keseluruhan pendapatanindustrik sepakbla untuk amal yang memperkuat komunitas melalui olahraga," kata Mata seperti dikutip dari The Players Tribune.

Mengapa anak-anak? Mata menganggap bahwa merekalah yang telah memberikan kehidupan kepadanya. Apalagi sepakbola merupakan permainan yang dilakukannya sejak masih anak-anak dan hidup dengan bermimpi. Mata pun berharap para pemain sepakbola profesional bersatu dan bisa membantu anak-anak agar bisa merasakan cahaya serta kegembiraan yang sama.

Melalui hal itu ia bisa menunjukkan industri sepakbola yang lebih luas melalui Common Goal. Kemudian Mawson menjadi pemain Liga Primer Inggris pertama yang berkomitmen bersama Common Goal bersama Charlie Daniels, full-back kiri AFC Bournemouth. Keputusan Mawson dan Daniels itu pun disusul pesepakbola lain seperti Alex Morgan, Giorgio Chiellini dan Mats Hummel.

"Dan bahwa Charlie dan Alfie adalah pemain pertama yang membuat komitmen itu. Mereka adalah pemain top di Liga Primer dan komitmen mereka adalah langkah besar dalam evolusi Common Goal," terang Mata seperti dikutip dari Independent.

Mawson sendiri berkontribusi karena pernah merasakan menjadi pemain non-profesional ketika dipinjamkan Brentford ke Maidenhead United, Welling United dan Wycombe Wanderers. Belum lagi ia harus membantu kios dagangan ayahnya pada akhir pekan jika sedang libur.

Sekarang Mawson punya karier yang jauh lebih baik. Tapi ia juga ingin selalu dermawan untuk mereka yang membutuhkannya. Hanya saja ia merasa ini tak bisa dilakukan olehnya secara langsung. Karena alasan itulah ia memilih bergabung dengan Common Goal agar ia bisa tetap fokus di sepakbola tanpa mengurangi kedermawanannya.

"Bergabung dengan Common Goal memungkinkan saya untuk fokus kepada karier saya saat membentuk bagian dari sesuatu yang benar-benar dapat membantu mengubah kehidupan orang-orang yang kurang beruntung. Ini hal yang baik untuk sepakbola," ucap Mawson.

Mawson masih berusia cukup muda namun pikirannya membumi dan mendunia atas pengalaman hidupnya yang sederhana. Tapi dari catatan kesederhanaan itulah yang memberikannya keberanian untuk melangkah lebih awal dalam bersosial dibanding pemain-pemain Liga Inggris yang lebih berpengalaman darinya.

Komentar