Leighton Baines: Khawatiran, Tidak Percaya Diri, Salah Satu yang Terbaik

Backpass

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penanggung jawab rubrik PanditSharing dan Backpass. Penyunting naskah Cerita.

Leighton Baines: Khawatiran, Tidak Percaya Diri, Salah Satu yang Terbaik

Malam sebelum latihan pertamanya bersama Everton, Leighton Baines susah tidur. Satu pertanyaan membuatnya terjaga: “Bagaimana pendapat mereka (para pemain Everton) mengenaiku?” Padahal ia sendiri pemain Everton.

“Aku sangat ingin bergabung dengan Everton, tapi begitu semuanya selesai, aku malah khawatir,” ujar Baines sebagaimana dikutip dari Guardian. “Aku merasa khawatir aku akan kesulitan membaur, aku khawatir wajahku tidak pas. Dan aku juga mengkhawatirkan apa pendapat para pemain berpengalaman mengenaiku. Aku pikir mereka akan melihatku dan bertanya-tanya mengapa ada bocah Wigan Atlhetic di sana.”

Khawatiran dan tidak percaya diri memang sifat Baines. Semasa masih menjadi pemain Wigan Athletic pun begitulah sifatnya.

“Paul Jewell (manajer Wigan) biasanya memanggilku ke kantor dan mengatakan betapa bagusnya aku menurutnya,” ujar Baines berkisah. “Aku akan merasa tenang selama beberapa lama lalu ketenangan itu akan memudar dan aku mulai berpikir, ‘aku menipunya, kemampuanku bahkan tak sampai setengah dari apa yang ia pikirkan.’ Aku tahu ini konyol, tapi beginilah aku.”

“Orang-orang bilang aku pemain yang bagus, jadi aku pikir pasti aku bermain baik, namun hati kecilku berkata, ‘Hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka menyadari kau tidak sebaik itu.’ Selama aku bermain untuk Wigan di Championship aku memasuki pertandingan sambil berpikir, ‘Dalam waktu dekat aku akan ketahuan, apakah sekarang saatnya aku ketahuan?’ Aku menunggu dicadangkan walau aku berstatus langganan tim utama. Yang aku pikirkan adalah, ‘Tidak akan lama sampai manajer merekrut pemain baru untuk menggantikanku.’”

Semua kekhawatiran tersebut nyatanya berlebihan. Tempat utama tetap milik Baines, dan ia tetap tampil impresif. Namun dasar Baines, ada saja hal yang membuatnya pesimis.

“Kami meraih promosi ke Premier League dan, langsung, aku berpikir, ‘Aku harus ke mana ya sekarang?’ Aku harusnya merayakan keberhasilan ini tapi aku menghabiskan sebagian besar musim panas mengkhawatirkan seperti apa rasanya menjalani tahun depan di bangku cadangan dan di tim reserves.”

Nyatanya Premier League tidak semengerikan yang ia kira. Itu, atau Baines memang cukup cakap saja untuk divisi tertinggi liga sepakbola Inggris.

Konsistensi yang selalu Baines tunjukkan kembali ia tampilkan. Baik di Second Division, First Division, Championship, maupun Premier League, Baines selalu tampil sama baiknya. Begitu baik sampai Wigan tak lagi cukup baik untuknya. Setelah dua musim membantu Wigan di Premier League, Baines memutuskan untuk mencari tantangan baru.

“Aku menjalani masa-masa yang hebat di Wigan, aku senang menjadi bagian cerita sukses dan aku akan selalu mengenang masa itu dengan mesra,” ujar Baines sebagaimana dikutip dari Guardian. “Namun aku sampai pada satu titik di mana aku merasa terlalu nyaman. Tidak ada yang mengancam posisiku. Aku bosan dan aku tak menikmati pekerjaanku sebagaimana harusnya. Menyenangkan rasanya membantu mereka bertahan hingga hari terakhir (musim 2006/07) namun di akhir pertandingan itu aku langsung tahu aku ingin pindah.”

Baines nyaris bergabung dengan Sunderland AFC. Ia bahkan sudah dibawa berkeliling stadion dan markas latihan Sunderland, serta sudah bertemu dengan Roy Keane, manajer klub saat itu. Namun Baines belum sepenuhnya yakin dan Keane meyarankan untuk tidak mengambil kesempatan tersebut jika Baines merasa belum mantap.

Pada akhirnya Baines memutuskan untuk tidak bergabung dengan Sunderland, namun bertahan di Wigan pun ia tidak. Baines bergabung dengan Everton per musim 2007/08.

Di Everton, Baines baru mulai menjadi langganan tim utama pada musim kedua. Posisinya semakin mantap di musim ketiga. Musim keempat, 2010/11, Baines tidak melewatkan satu menit pun pertandingan Premier League. Penghargaan akhirnya berdatangan. Baines masuk ke dalam daftar Premier League Team of the Year versi PFA dua tahun berturut-turut, 2012 dan 2013.

Musim 2012/13 secara khusus istimewa. Sepanjang musim, Baines menciptakan lebih banyak peluang di antara semua pemain di lima liga besar Eropa. Untuk seorang bek sayap kiri, itu jelas luar biasa. Tawaran-tawaran pun berdatangan di akhir musim. Yang paling besar adalah dari Bayern Munchen dan Manchester United.

Baines tidak mengambil tawaran-tawaran yang datang. Serangkaian cedera memastikan tawaran-tawaran serupa tak pernah lagi datang.

“Cedera membawaku ke tempat baru,” ujar Baines dalam sebuah sesi wawancara dengan Telegraph pada 2015. “Aneh memang. Awalnya aku merasa, ‘Apa yang kulakukan?’ Setelah beberapa lama aku pikir mungkin begini jalannya. Aku tak pernah memiliki lebih dari sepuluh haru istirahat dan tidak melakukan apa pun.”

“Tiga atau empat tahun lalu mungkin hal seperti ini akan menjadi masalah. Aku sudah berkembang sebagai pemain dan sebagai seorang pribadi. Aku bisa melakukan hal-hal seperti ini (kunjungan ke rumah sakit sebagai bagian dari agenda sosial Everton), pada akhirnya, sepakbola hanya olahraga. Kita gila sepakbola. Semua orang gila sepakbola, dan itu bagus, tapi hidup tidak selalu mulus.”

Terlepas dari serangkaian cedera yang menghambat kariernya, terlepas dari usianya yang tak lagi muda (Baines merayakan ulang tahunnya yang ke-33 hari ini), Baines tetap pilihan utama di Everton, siapa pun manajernya. Kontrak Baines selesai pada 2019. Jika semua tetap seperti ini, Baines – seorang pendukung Liverpool – akan mengakhiri kariernya di, dan sebagai legenda, Everton.

Komentar