Anthony Vanden Borre: Wonderkid yang Terdampar di Kongo

Backpass

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Kontributor

Anthony Vanden Borre: Wonderkid yang Terdampar di Kongo

Bagi para penggemar sepakbola, khususnya para pecandu gim Football Manager (FM) tampaknya tidak asing dengan sosok Anthony Henri Vanden Borre. Ada yang ingat dengan pemain Belgia yang satu ini?

Saat gim simulasi itu muncul pada tahun 2005 silam, Anthony masuk dalam daftar pemain muda berbakat atau jamak disebut wonderkid. Di gim tersebut, Vanden Borre memang memiliki prospek yang bagus. Selain itu, satu hal lain yang membuatnya menjadi primadona adalah kemampuannya bermain di lebih dari satu posisi (versatile).

Sebenarnya tidak salah bila database FM menjadikan Vanden Borre sebagai pemain muda potensial. Dalam kehidupan nyata, ia memang dikenal sebagai pemain muda yang awalnya diramalkan memiliki prospek cerah dalam dunia si kulit bundar.

Sejak berusia delapan tahun, pria kelahiran 24 Oktober 1987 ini sudah memikat perhatian tim pelatih Anderlecht karena kemampuannya yang lebih menonjol ketimbang anak lainnya. Pamornya bahkan lebih baik ketimbang Vincent Kompanny pada saat itu.

Jenjang karier Vanden Borre pun melesat dengan cepat. Pada usia 16 tahun ia sudah promosi ke tim senior. Debutnya dimulai pada Maret 2004, saat itu ia bermain sebagai seorang gelandang serang. Setelahnya, ia kemudian terus dipercaya tampil bersama Anderlecht, baru lima pertandingan dijalaninya di level klub, panggilan untuk membela timnas Belgia pun didapatkan.

"Dia (Vanden Borre) adalah bakat terhebat yang pernah saya lihat sema karier saya,” kata mantan striker Belgia, Paul van Himst, memuji bakat Vanden Borre, seperti dilansir The Guardian.

Musim 2004/2005, Vanden Borre terus dipercaya tampil secara kompetitif, tidak hanya di kompetisi domestik, ia juga menorehkan penampilan di Liga Champions. Selain itu, bakatnya yang bisa bermain di lebih satu posisi pun kerap membuatnya ditempatkan sebagai bek sayap kanan atau bahkan winger kanan. Modal yang dimilikinya adalah kecepatan, sehingga itu yang menjadi pertimbangan ia kerap dimainkan di sisi lapangan.

Kariernya benar-benar bersinar terang saat usianya belum genap 20 tahun. Namun segala pujian dan popularitas yang berhasil didapatkannya di usia muda malah menjadi bumerang untuk mematikan kariernya. Pada dasarnya, Vanden Borre adalah pemain dengan sikap yang baik, namun sikapnya dalam mengeluarkan komentar sering kali membuatnya bermasalah.

Pada tahun 2005, saat tampil menghadapi Zulte Warregem, Vanden Borre memamerkan gaya rambut baru yang sedikit nyeleneh. Potongan rambut tersebut membentuk huruf AVB, sebagai singkatan dari namanya.

Namun gaya rambut baru yang dipamerkan dalam pertandingan tersebut tak sedikit pun membuat Manajer Anderlecht kala itu, Franky Vercauteren tertarik. Penampilan inferiornya di lapangan membuat Vercauteren menariknya keluar lapangan. Selain penampilan Vanden Borre, Vercaueren juga mengritik potongan rambutnya. Terang saja hal tersebut membuat Vanden Borre berang. Dalam sebuah wawancara ia mengaku tersinggung dengan kritikan yang disampaikan oleh pelatihnya itu.

β€œIni benar-benar mengganggu saya untuk mendengar kritikan pelatih tentang potongan rambut saya. Anda lihat betapa salahnya itu. Orang memiliki citra palsu tentang saya. Saya adalah manusia seperti orang lain, dengan hati seperti orang lain. Tidak akan pernah dikatakan bahwa saya adalah anak yang sensitif, bukan? " terangnya pada saat itu.

Perkataannya itu bisa dibilang sebagai tanda-tanda bakal segera meredupnya karier Vanden Borre, meski pada kenyataannya ia memang masih terus dipercaya tampil. Selama dua tahun setelah kejadian tersebut, ulah demi ulah selalu dilakukan Anthony.

Hingga suatu hari dalam sebuah sesi latihan, Anderlecht mendatangkan seorang psikolog bagi para pemain. Itu merupakan hal yang cukup langka. Salah seorang jurnalis HLN, Kristof Terreur, meminta pendapat Vanden Borre terkait kehadiran psikolog itu di dalam tim.

Tak disangka, kritikan pedas meluncur dari mulut Vanden Borre yang intinya menyebut bahwa kehadiran psikolog itu tidaklah berguna bagi tim. "Itu sangat tidak biasa pada saat itu jadi saya ingat bertanya pada Vanden Borre apa pendapatnya tentang dia. Dia berkata: `Mereka seharusnya melemparnya ke air. Dia tidak berguna,” tegas Anthony.

Komentar tersebut kemudian dimuat keesokan harinya, dan menjadi tajuk utama di beberapa surat kabar Belgia. Melihat hal itu, pelatih Anderlecht pun kesal, yang akhirnya membuat perjalanan karier Vanden Borre muda sedikit tersendat, karena kesempatan bermain yang diberikan mulai berkurang. Bahkan dalam 11 pertandingan terakhir Anderlecht di kompetisi domestik musim 2006/2007 ia bahkan tidak ada dalam daftar susunan pemain.

Roda nasib berputar

Bisa dibilang jasanya di Anderlecht sudah tidak lagi dibutuhkan kala itu, tidak ada pilihan lain bagi Vanden Borre selain pindah dan mencari pengalaman baru di klub lain. Konon ketika kontraknya habis di Anderlecht beberapa kesebelasan besar Eropa seperti Ajax, Inter Milan, Tottenham Hotspur, hingga Juventus sangat menginginkan jasanya. Namun keputusan telah dibuat, Vanden Borre lebih memilih Fiorentina sebagai pelabuhan barunya.

Pilihan yang buruk, karena kesempatan bermain yang didapatkannya sangatlah minim. Total hanya 11 penampilan saja yang dilakoni selama musim 20072008 membela Fiorentina. Kabarnya penurunan performa yang dialami Vanden Borre disebabkan faktor non teknis. Ketika pindah ke Fiorentina, ia dihadapkan pada kondisi berduka saat ibunya menderita sakit keras yang akhirnya berujung pada kematian. Dari sana ia jadi sulit untuk berkonsentrasi, karena ia sangat dekat dengan ibunya. Hal yang kemudian membuat penampilannya selalu jauh dari kata mengesankan.

Semusim berselang, ia dijual ke Genoa. Penampilannya sempat membaik karena setidaknya ia bisa melakoni 27 pertandingan. Namun penampilannya belum cukup untuk menggaet minat klub-klub besar kepadanya.

Semusim berikutnya ia dipinjamkan ke Portsmouth. Dalam peminjaman selama semusim itu, Vanden Borre tak lebih dari sekadar pemain lapis dua. Tahun 2011 ia kembali ke Genoa dan akhirnya dijual ke KRC Genk.

Kembali menemukan penampilan terbaik di Anderlecht hingga akhirnya terperosok Lagi

Hanya satu musim ia bertahan di Genk, kemudian kariernya hampir menemui akhir karena tidak ada kesebelasan manapun yang mau menggunakan jasanya. Kemudian Anderlecht datang untuk menyelamatkan karier pemain didikannya itu.

Pada musim 2012/2013, Vanden Borre resmi kembali ke klub masa kecilnya itu. Perjalanannya dimulai lagi dari nol, memainkan peran di tim muda, hingga akhirnya menunjukkan perkembangan yang signifikan, ia akhirnya kembali ke tim utama.

Vanden Borre kemudian menunjukkan kembali permainan terbaiknya. Panggilan dari timnas Belgia kembali didapatkannya. Mimpi besar dari seluruh pesepakbola dunia untuk tampil di ajang Piala Dunia pun didapatkannya pada 2014 di Brasil. Satu pertandingan melawan Korea Selatan pada fase grup dilakoninya, namun ia terpaksa menepi karena cedera dan absen di pertandingan 16 besar dan perempat-final.

Setelah tampil di Piala Dunia, Vanden Borre kembali dihadapkan pada situasi minimnya menit bermain di Anderlecht. Cedera yang dialaminya saat tampil di Piala Dunia memang menjadi salah satu faktor yang membuat penampilannya kembali menurun. Pada musim 2015/2016, ia hanya tampil dalam dua pertandingan saja di kompetisi domestik.

Semusim kemudian ia dijual ke Montpellier, namun itu pun tak banyak membantu untuk menunjang kariernya. Vanden Borre yang kesal dengan perjalanan kariernya itu pun hampir saja pensiun dini dari dunia sepakbola saat usianya masih 29 tahun.

Namun pada akhirnya Vanden Borre memilih untuk keluar dari sepakbola Eropa dengan memilih menjutkan karier di Republik Demokratik Kongo, negara kelahirannya. Vanden Borre lahir di Kota Likasi, yang saat itu masih masuk ke dalam Negara Zaire (RD Kongo sekarang). TP Mazembe merupakan kesebelasan yang dibelanya.

Kesebelasan ini terletak di Kota Lubumbashi, dekat dengan kota kelahiran Vanden Borre di Likasi. Ia mengaku bahagia dan bangga bisa bergabung bersama Mazembe yang merupakan salah satu kesebelasan tersukses di RD Kongo, yang pernah menjadi runner-up Piala Dunia Antarklub FIFA 2010.

"Saya selalu bermimpi bermain untuk Mazembe. Ini adalah tanah ibu saya. Ini adalah pilihan hati. Siapa pun yang mengenal saya, tahu arti klub ini bagi saya. Semua teman saya sangat senang, termasuk Vincent Kompany. Dia mengucapkan selamat kepada saya melalui telepon," terangnya.

"Jika Witsel bisa melakukannya di Tiongkok, maka saya bisa melakukannya di Kongo. Mazembe lebih besar dari beberapa klub Tiongkok. Saya telah meninggalkan uang. Mana yang lebih penting: uang atau hati? Saya tahu dari mana saya berasal dan saya memiliki nilai sendiri. Saya pergi ke Kongo untuk dekat dengan orang-orang. Ini adalah cara hidup lain yang cocok untuk saya,” sambungnya.

***

Dari kisah Anthony Vanden Borre di atas, ada pelajaran yang bisa kita petik. Vanden Borre terlalu cepat bersinar, bahkan ketika usianya masih 15 tahun. Sorotan dunia kepadanya juga semakin besar karena ia masuk ke dalam jajaran wonderkid, meski hanya berdasarkan gim Football Manager.

Pada kenyataannya, kariernya sudah terlihat meredup bahkan ketika ia menginjak usia 20 tahun. Walau demikian, ia bisa bangkit beberapa kali dengan bermain Italia dan Piala Dunia bersama negaranya, Belgia. Meski pada akhirnya, di saat usianya 30 tahun sekarang, ia "hanya" bermain di RD Kongo, tapi negara ini merupakan negara kelahirannya.

Hasilnya pun cukup positif. Saat ini TP Mazembe berhasil lolos ke final Piala Konfederasi CAF (setara dengan Liga Europa di Eropa) menghdapi SuperSport United asal Afrika Selatan.

Foto: ESPNFC, Balls.ie

Komentar