Terpelesetnya Robinson, Terpelesetnya Inggris

On This Day

by Sandy Firdaus

Sandy Firdaus

Penulis merangkap pewarta. Yang kita tahu sebenarnya adalah kita tidak tahu apa-apa (Noel Gallagher)

Terpelesetnya Robinson, Terpelesetnya Inggris

Kadang, sebuah tindakan kecil yang kita lakukan bisa berdampak terhadap jalannya roda kehidupan dari dunia secara keseluruhan. Itu pula yang terjadi kepada Paul Robinson, mantan penjaga gawang timnas Inggris.

Sebuah teori kekacauan bernama The Butterfly Effect, yang pertama kali digagas oleh Edward Norton Lorenz, menyebut bahwa sebuah kejadian kecil di suatu tempat dapat mengakibatkan sebuah kejadian besar di tempat yang lain. Penyebutan istilah Butterfly Effect ini merujuk kepada perumpamaan yang disebut Lorenz, bahwa sebuah kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil, dapat mengakibatkan sebuah tornado di Texas.

The Butterfly Effect ini pun pernah menjadi sebuah judul film yang rilis pada 2004 silam di Amerika Serikat. Menganut konsep yang serupa dengan teori dari The Butterfly Effect itu sendiri, film ini menggambarkan dengan jelas bahwa sebuah kejadian kecil di masa lalu, ternyata mengakibatkan perubahan yang cukup drastis di masa depan. Hal ini dialami oleh Evan Treborn, yang kerap bolak-balik dari masa lalu ke masa depan, dengan tujuan untuk mengubah sebuah kejadian di masa lalu sehingga memberikan efek lain di masa depan.

Bukan hanya di film saja, kejadian dan aplikasi dari teori Butterfly Effect ini juga terjadi di masa kini. Salah satu dari wujud nyata teori Butterfly Effect terjadi pada Oktober 2008 silam, melibatkan Paul Robinson dan timnas Inggris.

Terpelesetnya Robinson, awal mula petaka

Pada sebuah malam yang dingin di Zagreb, 11 Oktober 20078, Kroasia menjamu Inggris dalam lanjutan kualifikasi Piala Eropa 2008 di Stadion Maksimir. Pertandingan ini merupakan pertandingan yang cukup menentukan bagi Inggris, Kemenangan atas Kroasia dapat menaikkan moral para pemain timnas, yang baru saja ditahan imbang oleh Makedonia di Old Trafford.

Namun alih-alih menampilkan permainan yang baik, The Three Lions justru kewalahan menghadapi permainan Kroasia yang kala itu masih ditangani oleh Slaven Bilic. Pada menit ke-61, Inggris sudah tertinggal lewat gol yang dicetak oleh Eduardo da Silva melalui sundulan kepalanya. Setelah tertinggal, situasi pun bukannya menjadi membaik, malah menjadi semakin memburuk bagi Inggris.

Sekira tujuh menit berselang, bola sedang berada dalam kuasa Inggris. Gary Neville, yang kala itu masih menjadi pemain, sedang memegang bola. Ditekan oleh pemain depan Kroasia, Gary pun memutuskan untuk memberikan sebuah backpass kepada Robinson (atas instruksi dari Rio Ferdinand juga), dengan tujuan untuk mengamankan situasi.

Tapi situasi sama sekali tidak menjadi aman. Bola hasil umpan dari Gary Neville ini ternyata malah menjadi petaka ketika Robinson justru melakukan hal yang tidak disangka-sangka. Ia gagal menendang bola hasil umpan dari Neville, yang mengakibatkan bola meluncur dengan mulus ke arah gawang Inggris. The Three Lions tertinggal 2-0, dan skor ini bertahan sampai akhir pertandingan.

Sontak apa yang terjadi kepada dan dialami oleh Paul Robinson ini menjadi buah bibir. Memang secara statistik, tercatat bahwa gol kedua ini adalah hasil bunuh diri Gary Neville. Namun bagi yang melihat pertandingan secara langsung atau menyaksikan tayangan ulang gol-gol Kroasia, tampak bahwa Robinson-lah yang menjadi pesakitan di sini. Ia pun dihujat, dan dianggap sebagai biang keladi kekalahan Inggris atas Kroasia.

Namun ternyata efek dari Robinson ini lebih dari sekadar kekalahan di Zagreb semata.

Perjalanan timnas Inggris yang sulit

Selayak sebuah efek kepak sayap kupu-kupu, apa yang terjadi di Zagreb ternyata malah menimbulkan sebuah tragedi yang lebih besar bagi timnas Inggris. Perjalanan mereka dalam babak kualifikasi Piala Eropa 2008 Grup E menjadi serba sulit. Selain harus bersaing dengan Kroasia, Inggris juga harus bersaing dengan Rusia, negara yang menjadi batu sandungan lain bagi The Three Lions. Namun, tak jarang juga Inggris tergelincir oleh Makedonia maupun Israel, dan hal ini membikin perjalanan Inggris makin sulit.

Saling kejar poin pun terjadi bahkan sampai akhir babak kualifikasi. Ketika itu Inggris menjamu Kroasia, dan Rusia bertanding melawan Andorra. Seolah kesulitan itu tak mau pergi, serta tidak ada usaha dari Inggris untuk memperbaiki diri, Inggris pun kalah dramatis dari Kroasia dengan skor 2-3. Kekalahan Inggris ini diiringi oleh kemenangan Rusia atas Andorra dengan skor 0-1. Hasilnya? Inggris pun gagal melaju ke putaran final Piala Eropa 2008.

Hasil minor di pertandingan terakhir ini mencerminkan sulitnya perjalanan yang dilalui Inggris dalam babak kualifikasi Piala Eropa 2008, yang kerap dihiasi oleh momen-momen tergelincir. Seri melawan Makedonia dan Israel, partai yang seharusnya bisa mereka menangkan, kekalahan dari Rusia di Luzhniki, serta dua kali kalah dari Kroasia, menjadi cermin dari sulitnya Inggris menjalani kualifikasi Piala Eropa 2008.

Dari sebuah kejadian kecil bernama blunder Robinson, siapa sangka ternyata hal itu menimbulkan efek yang sedemikian besar. Butterfly Effect kadang memang bisa sekejam itu.

Komentar