Pertandingan yang Mengawali Takdir Besar Cristiano Ronaldo

On This Day

by Dex Glenniza Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Pertandingan yang Mengawali Takdir Besar Cristiano Ronaldo

Kadang ada satu atau dua kejadian yang paling berpengaruh dalam hidup seseorang. Bagi Cristiano Ronaldo dan Manchester United, satu kejadian tersebut terjadi pada 6 Agustus 2003. Tepat hari ini 14 tahun yang lalu, Manchester United kalah 3-1 dari Sporting Lisbon pada pertandingan yang The Guardian sempat sebut sebagai “pertandingan persahabatan yang sia-sia”.

Pada saat itu, mungkin The Guardian tidak sadar jika pertandingan persahabatan tersebut adalah pertandingan yang mengubah takdir seorang bocah berusia 18 tahun asal Portugal bernama lengkap Cristiano Ronaldo dos Santos Aveiro.

“Aku adalah pelatih saat ia (Ronaldo) bermain melawan Manchester United,” kata Fernando Santos, dikutip dari Mirror.

“Aku memainkannya dan aku menyesal. Satu pekan sebelumnya, aku kehilangan [Ricardo] Quaresma ke Barcelona, dua hari kemudian malah dia yang pindah ke Manchester United!” canda pelatih yang membawa Portugal menjuarai Piala Eropa 2016 tersebut.

Menyebut sebuah pertandingan persahabatan di pra-musim dengan sebutan “pertandingan yang sia-sia” mungkin sangat wajar. Apalagi sebelumnya United baru saja pulang dari tur mereka ke Amerika Serikat dan terlihat kelelahan sehingga banyak pemain utama yang diistirahatkan oleh Sir Alex Ferguson.

Kenyataan lain berbicara jika pertandingan tersebut memang pertandingan undangan dari Sporting untuk membuka stadion baru mereka, Estádio José Alvalade. Saking spesialnya pertandingan tersebut, Sporting sampai memakai dua seragam pada pertandingan itu: seragam kandang (garis-garis horizontal putih-hijau) di babak pertama dan seragam tandang (kuning emas) di babak kedua.

Tidak heran juga, “Setan Merah” yang kelelahan bisa kalah 3-1 melalui gol-gol dari Luís Felipe (menit ke-26) dan João Pinto (menit 62 dan 81). Mereka bahkan secara teknis tidak berhasil mencetak gol karena satu gol United dicetak melalui gol bunuh diri Hugo menjelang akhir pertandingan.

Para saksi kehebatan pemain Sporting bernomor punggung 28

Setelah pulang dari tur pra-musim di Amerika Serikat yang melibatkan empat pertandingan, Manchester United harus melakoni satu pertandingan persahabatan lagi di Lisbon, Portugal. Saat itu, banyak dari para pendukung United yang mengkritisi pertandingan tersebut karena menilai para pemain masih kelelahan.

Para pendukung yang protes tersebut pasti akan berubah pikiran jika mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sir Alex sendiri memang mengistirahatkan beberapa pemain utamanya meskipun ia masih menurunkan pemain-pemain seperti Paul Scholes, Ole Gunnar Solskjaer, John O`Shea, Rio Ferdinand, dan Nicky Butt (menjadi kapten) sebagai starter.

Fabien Barthez dan Mikael Silvestre yang sebelumnya tidak dibawa tur ke Amerika Serikat, juga dimainkan sebagai starter karena keduanya baru kembali dari Piala Konfederasi. Selain itu, Eric Djemba-Djemba juga diberikan pertandingan debut pada saat itu setelah ia pindah dari Nantes.

Pemain lain yang diturunkan sebagai starter adalah Kieran Richardson, Quinton Fortune, dan David Bellion. Sementara Ruud van Nistelrooy, Darren Fletcher, Danny Pugh, dan Mark Lynch diturunkan sebagai pemain pengganti di babak kedua.

Pemain-pemain yang disebutkan di atas adalah mereka yang menjadi saksi kehebatan bocah bernomor punggung 28.

Kesan pertama yang begitu menggoda

“Saat itu adalah di babak pertama ketika ia menggiring bola di sisi dalam John O’Shea,” kata Gary Neville yang saat itu hanya menonton dari rumahnya. “Aku pikir ‘buset’. Ketika kamu melihat seorang pemain yang biasanya menjadi lawan, kamu akan melihatnya baik-baik dan sangat jarang melihat pergerakan dan kecepatan [seperti Ronaldo].”

“Hanya sedikit orang yang bisa mengambil timing lari seperti itu, di sisi dalam full-back dan bek tengah – cepat sekali,” kata Neville seperti yang kami kutip dari Independent.

“Kamu lihat Ronaldo mendapatkan bola, dan kamu lihat ia mengerjai John O’Shea, dan kamu jadi tertawa sendiri,” kata Ryan Giggs, dikutip dari Metro. “Ia menghidupkan permainan, semua pemain [United] membicarakannya setelah pertandingan.”

Bukan hanya Neville dan Giggs yang terkesima dengan Ronaldo pada malam itu. Ferdinand dan Butt juga terpana. Bahkan Ferdinand langsung berkata kepada Ferguson di ruang ganti setelah itu, “Apakah kita akan membelinya atau tidak?”

“United tidak akan pernah membeli pemain hanya karena 90 menit di pertandingan persahabatan pra-musim. Tapi mereka mungkin bisa merampungkannya lebih cepat setelah itu,” kata Neville.

“Aku ingat kami semua menunggu pelatih dan semua orang bertanya-tanya apa lagi yang kami tunggu,” kata Giggs. “Kemudian kami dapat bocoran jika kesepakatan sudah dilakukan dengan harga 13 juta paun.”

Setidaknya Ferguson tidak selugu Neville, Ferdinand, atau Giggs, karena ia sudah mengetahui Ronaldo sebelumnya, meskipun hanya sedikit.

Ferguson yang cekatan

Pergerakan cepat Ferguson untuk membeli Ronaldo ternyata tidak terjadi hanya karena 90 menit melawan Sporting tersebut. Ferguson berkata jika ia sudah mengawasi Ronaldo sebelumnya meskipun ia juga mengaku saat itu Ronaldo bukan incaran utamanya, melainkan Ronaldinho.

“Aku pikir kami sudah mendapatkan [Ronaldinho], tapi ketika aku terbang ke Paris untuk berbicara dengannya, semuanya sudah berubah,” kata Ferguson, dikutip dari Telegraph. “Hal berikutnya yang aku tahu, ia sudah di Barcelona esok harinya.”

“Itu adalah kekecewaan besar pada saat itu, tapi kami jadi mendapatkan Cristiano Ronaldo di musim panas yang sama. Mungkin kami tidak akan membeli Ronaldo jika kami mendapatkan Ronaldinho.”

“Kami memang mungkin tetap mengawasi Ronaldo karena kami memiliki persetujuan pra-kontrak dengan Sporting. Tapi, mungkin kami tidak akan mempercepat pembelian Ronaldo seperti yang kami lakukan [jika kami mendapatkan Ronaldinho],” ujar Ferguson.

United memang sempat memastikan keinginan mereka untuk membeli Ronaldo dalam sebuah pertemuan di pantai Cascais pada malam sebelum pertandingan tersebut. Ronaldo sendiri sudah memikirkan hari itu sebagai “Hari-M” atau “M-Day” (M untuk Manchester).

“Teman-temanku berkata kepadaku, `Cristiano, jika kamu bermain baik melawan Manchester United, kamu bisa bermain untuk mereka’,” katanya. “Aku balas berkata, `Apa kamu bercanda? Tidak, itu terlalu cepat. Aku baru berusia 17`”

Ia terbangun pada tanggal 6 Agustus 2003 yang menjadi hari di mana ia mengais takdirnya untuk mempecundangi pemain-pemain United seperti O’Shea, Ferdinand, dan Djemba-Djemba. “Kemudian pada malam itu, aku bermain luar biasa! Aku bermain sangat baik!”

Maka dari itu, tidak mengejutkan ketika Ronaldo, Ferguson, dan agen Jorge Mendes bertemu sebentar setelah pertandingan. Dua hari kemudian bocah berusia 18 tahun itu tiba di Manchester dengan banderol sebesar 12,8 juta paun (angka ini sangat besar pada masa itu untuk ukuran pemain muda yang belum membuktikan apa-apa), tanpa koper atau bahkan pakaian cadangan karena dia yakin United akan meminjamkannya kembali ke Sporting untuk satu tahun lagi.

“Tidak masalah,” kata Ferguson saat menjelaskan bahwa dia menginginkan Ronaldo di Manchester langsung untuk musim tersebut. “Besok kamu akan berlatih di sini dan kemudian kamu akan pergi ke Portugal untuk merapikan dan membawa barang-barangmu,” kata Ferguson dengan percaya diri.

Delapan hari kemudian, ia bermain melawan Bolton Wanderers di depan 67.000 penonton di Old Trafford dengan memakai nomor punggung 7 yang paling ikonik di Manchester United. Semuanya terjadi begitu cepat berkat sebuah “pertandingan persabahatan yang sia-sia” pada 6 Agustus 2013. Sebuah pertandingan yang mengawali takdir besar Cristiano Ronaldo.

Berikutnya: Pertandingan yang Memperkenalkan Cristiano Ronaldo kepada Dunia

Komentar