Theo Walcott, Loyalis Arsenal yang Mendukung Liverpool

Backpass

by Ardy Nurhadi Shufi 44466

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Theo Walcott, Loyalis Arsenal yang Mendukung Liverpool

Theo Walcott lahir di London, 16 Maret 1989. Sebagai orang London, ia lama berseragam Arsenal, salah satu kesebelasan London. Kecintaannya terhadap Arsenal ia buktikan di mana hingga saat ini sudah lebih dari satu dekade ia membela kesebelasan berjuluk The Gunners tersebut. Namun siapa yang menyangka jika sebenarnya ia adalah pendukung Liverpool FC?

Walcott mengakuinya secara langsung bahwa ia merupakan pendukung Liverpool lewat autobiografinya pada 2011 yang berjudul Theo: The Growing Up Fast. Pada buku yang mengundang kontroversi karena ia mengkritik Fabio Capello, mantan pelatih timnas Inggris, secara gamblang ia menyebutkan bahwa dirinya merupakan pendukung Liverpool sejak kecil.

"Saat itu saya bermain di sebuah turnamen untuk Swindon ketika Southampton dan Chelsea tertarik pada saya," tulis Walcott pada bab 8 bukunya. "Chelsea mengundang saya untuk menjadi anak gawang pada pertandingan mereka melawan Liverpool. Bagi saya saat itu sangat fantastis karena saya bisa bertemu dengan pahlawan-pahlawan saya, Michael Owen dan Robbie Fowler."

"Saya merupakan pendukung Liverpool karena ayah saya mengikuti perkembangan mereka. Sayangnya saya belum lahir ketika mereka sedang dalam masa emas, tapi saya sangat menikmati melihat Michael Owen, Robbie Fowler, dan Steve McManaman ketika saya tumbuh besar. Ketika Liverpool juara Liga Champions [2005], saya seperti orang gila; saya berteriak sangat kencang, mungkin saya membangunkan satu daerah tempat saya tinggal!" tambah Walcott.

Walcott mengawali kariernya di akademi Newbury, Swindon Town, dan kemudian pindah ke Southampton. Saat menimba ilmu di akademi The Saints, Chelsea tak henti-hentinya berusaha mendapatkan Walcott. Saat di Swindon, Chelsea juga menawarinya untuk bergabung, namun Walcott lebih memilih bergabung dengan Southampton.

Empat tahun kemudian, seperti yang ditulis Jeremy Wilson, kolumnis Guardian, Chelsea kembali berusaha menggoda Walcott kembali dan menawarkan dua juta paun untuknya agar ia bersedia pindah, namun Walcott masih menolak. Selain tolakan dari Walcott, manajer Southampton saat itu, George Burley, adalah orang yang paling tidak rela jika Walcott dijual.

"Kamu tidak akan pernah bisa berbicara [pada Walcott] dan saya tidak bisa memberikan jaminan apapun. Saat ini, Theo [Walcott] sedang berkembang dan bermain sepakbola yang benar, itu sangat penting untuknya," ujar Burley pada Guardian pada 2006.

Saat itu, Walcott memang menjadi prospek yang paling menjanjikan. Ia memiliki kecepatan di atas rata-rata pemain seusianya. David Gent, pelatih yang menemukan bakat Walcott, mengatakan ia langsung mencetak 100 gol dari 35 pertandingan di sekolahnya. Gent sendiri mengatakan jika sebenarnya Walcott baru bermain sepakbola dengan benar pada usia 10 tahun.

"Dia tidak mengerti aturan sepakbola karena ia datang dari sekolah kecil di mana ia tidak terlalu sering bermain sepakbola," kata Gent seperti yang dilansir Mirror. "Dengan kecepatan yang dimilikinya, saya selalu memasukkannya pada babak kedua. Tapi begitu masuk, ia selalu terperangkap offside. Jadi saya harus sering memperingatinya di pinggir lapangan khususnya tentang aturan sepakbola."

Berkat Gent, Walcott tumbuh menjadi pemain yang memiliki kemampuan luar biasa, sampai akhirnya ia bergabung ke Southampton dan diincar banyak kesebelasan. Tak hanya Chelsea saja, Arsenal, Tottenham, dan Liverpool juga disebut-sebut ingin merekrut Walcott yang sudah bermain di tim utama Southampton padahal masih berusia 16 tahun.

Apalagi saat itu Walcott baru saja mendapatkan gelar atlet muda terbaik Inggris dari BBC yang sangat prestisius, yang hingga saat ini hanya dia dan Wayne Rooney saja yang mampu meraih gelar tersebut dari cabang sepakbola.

Namun ternyata Walcott justru berlabuh ke Arsenal ketimbang Liverpool yang ia idolai. Hal ini dikarenakan Southampton menolak tawaran Liverpool yang hanya bersedia membayar tiga juta paun saja. Sementara itu tawaran Arsenal jauh lebih tinggi dari kesebelasan manapun yang tertarik padanya, yakni lima juta paun yang jika dihitung dengan bonus bisa mencapai 12 juta paun. Inilah yang membuat Southampton lebih menerima tawaran Arsenal ketimbang Liverpool dan tim lainnya.

Bersambung ke halaman berikutnya, kekecewaan Benitez gagal mendaratkan Walcott

Komentar