Puyol, Bentuk Nyata dari "The Persistence of Memory" Salvador Dali

Backpass

by Billi Pasha

Billi Pasha

Selalu menganggap sepakbola dan musik adalah dua hal paling indah di dunia

Puyol, Bentuk Nyata dari "The Persistence of Memory" Salvador Dali

Lebih dari satu abad yang lalu, Catalan melahirkan Salvador Dali yang merupakan seniman terkenal beraliran surealisme. Surealisme adalah sebuah aliran dalam seni sastra yang mementingkan sisi irasional, di luar realitas atau kenyataan. Jadi tak ayal bahwa hasil karya Dali selalu mengundang kejutan, dengan gambaran yang tak masuk akal dan tak akan terjadi pada realita di dunia nyata.

Salah satu karya agungnya adalah lukisan The Persistence of Memory atau La persistència de la memòria dalam bahasa Spanyol. Lukisan yang dibuat pada 1931 itu menggambarkan jam yang meleleh. Para sejarawan beranggapan bahawa lukisan itu adalah representasi dari teori relativitas Albert Einstein bahwa waktu itu relatif dan tidak tetap. Meski argumen tersebut belum tentu benar, karena Dali sendiri tidak pernah membahasnya dengan serius makna dari lukisan tersebut.

Lupakan sejenak tentang arti dari lukisan The Persistence of Memory. Pada 13 April, 47 tahun setelah lukisan itu dibuat, lahirlah seseorang yang mewakili The Persistence of Memory di daerah yang sama seperti tempat lahir Dali. Ia adalah Carles Puyol.

Puyol adalah seorang kapten sekaligus jenderal di lini belakang Barcelona. Ia merupakan pemain kelahiran Catalan dan hanya bermain di satu klub sepanjang kariernya, yakni FC Barcelona. Hampir seluruh hidupnya didedikasikan kepada Blaugrana. Ia bergabung dengan Akademi Barca saat umurnya 17 tahun. Dua tahun berselang ia bermain di Barcelona B dan akhirnya meraih kesempatan untuk bermain di tim senior pada 1999. Kala itu, Louis van Gaal yang menjabat sebagai pelatih Barca memberikan debutnya dalam pertandingan menghadapi Real Valladolid yang dimenangi Barca 2-0.

Loyalitasnya bukan tanpa godaan.Pada 2003, Puyol pernah ditawar oleh Manchester United. Saat itu Barca sedang dalam keadaan krisis dan membutuhkan suntikan dana segar. Namun bukannya menerima pinangan klub Inggris tersebut ia justru memperpanjang kontraknya di Barca.

Kesetiaannya akhirnya berbuah manis. Puyol diangkat menjadi kapten tim setelah pemegang ban kapten sebelumnya, Luis Enrique, memutuskan untuk pensiun. Satu demi satu gelar diraihnya bersama Barca. Gelar tersebut dimulai pada musim 2004/2005 ketika membawa klub yang bermarkas di Camp Nou itu meraih titel La Liga pertama dalam enam musim terakhir. Kesuksesannya berlanjut saat Barca sukses mendominasi Liga Spanyol dengan merengkuh lima trofi tersebut hingga ia memutuskan untuk gantung sepatu pada akhir musim 2013/2014.

Total, Puyol berhasil mengumpulkan 21 gelar bersama Barca termasuk enam titel La Liga dan tiga trofi Liga Champions. Ia telah melakoni 593 laga bersama Barca di semua ajang dan 392 diantaranya di La Liga. Jumlah tersebut adalah kedua terbanyak dalam sejarah klub di bawah jumlah penampilan Xavi Hernandez, rekan seangkatannya. Ia juga mencatatkan dirinya sebagai kapten terlama bagi Barca setelah memimpin rekan-rekannya di lapangan selama kurun waktu sepuluh tahun.

Meski hanya bertinggi badan 178 cm, yang bukan merupakan postur ideal sebagai seorang bek tengah, namun ia mempunyai keahlian dalam duel udara. Kecepatan, kekuatan, dan determinasi tinggi, merupakan keunggulannya. Selain itu ia juga mempunyai jiwa kepemimpinan yang kuat dan tergolong pemain yang fairplay dan tetap menunjung tinggi sportifitas.

Dengan berbagai kelebihan yang ia miliki tersebut maka tak heran jika ia mampu bertahan lama di skuad Barca yang notabene berisikan pemain-pemain bintang. Ia telah merasakan berjuang bersama Rivaldo, Ronaldinho, hingga Lionel Messi, dan sudah dilatih oleh delapan pelatih berbeda semasa kariernya di Barca.

Seperti halnya Monalisa buatan Leonardo Da Vinci, The Persistence of Memory dapat memiliki banyak interpretasi. Jika lukisan itu merupakan salah satu masterpiece dari Dali, maka Puyol adalah masterpiece dari Barca, yang juga merupakan pemain kelahiran Catalan.

Seorang berjuluk "El Capitan" yang telah menunjukan kegigihan waktu seperti dari judul lukisan Dali. Loyalitasnya yang tak terkikis waktu, hingga akhirnya meraih kesuksesan bersama klub yang dicintainya. Satu hal yang berbeda, jika The Persistence of Memory merupakan sebuah surealisme, Puyol adalah realita.

Jam yang meleleh menggambarkan Puyol yang berjuang melawan usia untuk mengabdi di Barca. Meski tak mudah, namun akhirnya ia berhasil menunjukkan kontribusinya saat dipercaya untuk memakai ban kapten selama 10 tahun.

Jika surealisme mengundang banyak interpretasi berbeda, jadi tak ada salahnya bukan ?

Foto: Mirror

ed: fva

Komentar