Turunnya Sang Ayah Piala Dunia Sepakbola ke Bumi

Backpass

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Turunnya Sang Ayah Piala Dunia Sepakbola ke Bumi

Jika harus menujuk siapa salah satu orang paling berpengaruh di dunia sepakbola, bolehlah saya menunjuk Jules Rimet. Pria Perancis yang namanya diabadikan menjadi trofi pertama kompetisi antar negara dalam tajuk Piala Dunia ini memiliki andil yang sangat besar dalam perkara olahraga yang menjadi favorit para manusia di kolong langit ini.

Ia bukanlah pemain sepakbola profesional, bahkan ia hanya diketahui sebagai pelari dan pemain anggar di masanya. Namun, kecintaannya pada sepakbola menjadikan sebagian hidupnya didedikasikan untuk olahraga ini.

Terlahir dari orang tua yang hanya seorang pedagang toko kecil di kawasan timur Perancis tepat pada hari ini, 14 Oktober tahun 1873.  Jules Rimet kecil ikut orang tuanya berimigrasi ke ibukota Perancis, Paris, pada umur 11 tahun. Ia melanjutkan pendidikannya di sana termasuk mengikuti sekolah hukum sampai akhirnya menjadi seorang pengacara muda yang sukses di umur 24 tahun.

Selain menjadi seorang pengacara yang sukses, Jules yang gemar berolahraga mendirikan klub olaharaga kecil di pinggiran Kota Paris yang ia beri nama Red Star. Ia juga tak lupa menyisipkan olahraga sepakbola sebagai salah satu kegiatan klub olahraga tersebut karena sudah cukup menuai kepopuleran di seantero Eropa. Dalam hal ini, sepakbola dan liga yang dimulai oleh para warga dan mahasiswa Inggris menjadi acuan Jules memainkan sepakbola di Paris.

Keaktifannya dalam mengelola dan mengembangkan klub tersebut membuat dirinya berkecimpung dalam lingkup organisasi yang lebih besar. Badan sepakbola Internasional, yaitu FIFA, yang berdiri pada tahun 1904 juga ada andil dari dirinya.

Jules bercita-cita untuk mengadakan kompetisi sepakbola antar negara di dunia lewat FIFA yang juga merupakan bentukannya tersebut. Meski pagelaran Olimpiade yang sudah terlebih dahulu hadir menyertakan sepakbola amatir dalam bagain olahraga yang dipertandingkan, Jules menganggap perlu adanya turnamen terpisah dari Olimpiade. Namun sayang, cita-citanya tertunda akibat meletusnya Perang Dunia pertama pada 1914 hingga 1919.

Cucu dari Jules Rimet, yaitu Yves Rimet, berujar bahwa perjuangan kakeknya dulu adalah murni untuk mempersatukan dunia dengan sepakbola. Yves berujar bahwa, “Kakekku adalah seorang yang humanis dan idealis, yang percaya bahwa olahraga mampu menyatukan negara-negara yang berseteru di dunia.” seperti yang dinukil dari harian The Independent.

“Mungkin saja, jika kakekku mengetahui bahawa sepakbola saat ini didominasi oleh bisnis dan uang, ia akan sangat kecewa karena itu bukanlah visinya dalam menjalankan olahraga ini. Karena kakekku percaya bahwa olahraga akan menumbuhkan sikap kebanggaan dari kerja keras, kejujuran dan fair play,” sambung sang cucu Jules Rimet tersebut.

Baca juga kisah lainnya tentang Piala Dunia:


Kompetisi sepakbola dunia dambaannya sempat menemui hambatan karena Baron Pierre de Coubertin (salah satu penggagas Olimpiade) dan federasi sepakbola Inggris (FA) menolak gagasan dari Jules Rimet. Bagi rakyat Inggris, mereka emoh bertanding dengan negara lain yang bisa jadi musuh mereka di peperangan dunia pertama dan mereka juga menganggap bahwa permainan sepakbola negara lain tak lebih baik dari Inggris yang dianggap pencetus sepakbola.

Sikap arogan Inggris ini tak membuat Jules Rimet mundur. Ia tetap mengadakan turnamen dambaannya tersebut pada tahun 1930 ketika pemerintah Uruguay menawarkan biaya perjalanan seluruh partisipan saat itu. Meski dibiayai, masih tetap saja ada yang tak setuju dari beberapa negara Eropa karena dianggap membuang-buang waktu. Perlu diketahuai juga, pernyataan membuang-buang waktu itu muncul karena perjalanan antara benua masih menggunakan kapal laut dan mampu menghabiskan puluhan hari dari Benua Eropa menuju Amerika Selatan saat itu.

Meski hanya Perancis, Belgia, Rumania, dan Yugoslavia yang menjadi perwakilan benua biru dalam menyongsong Piala Dunia 1930, Jules Rimet tak surut semangatnya. Dengan tambahan sembilan negara lainnya dari Benua Amerika, Piala Dunia untuk pertama kalinya tersebut terlaksanan dan melahirkan tuan rumah Uruguay sebagai juara perdana dari kompetisi yang Jules Rimet cita-citakan dahulu.

Sebagai ornag yang paling berpengaruh dalam sepakbola, sosok Jules Rimet sempat dinominasikan sebagai peraih penghargaan Nobel pada 1956 lalu, namun ia ditolak oleh salah satu juri dari Norwegia yang menganggap bahwa Jules Rimet selaku presiden FIFA dan pencetus pagelaran Piala Dunia telah gagal menghilangkan aroma politik seperti fasisme yang jelas-jelas terjadi pada pagelaran kedua Piala Dunia 1934  di Italia.

Kini, cita-cita besar Jules Rimet untuk mempersatukan dunia dengan olahraga khususnya sepakbola telah terjalin dengan sangat-amat sukses. Jutaan pesepakbola hijrah dari negaranya ke negara lain untuk bermain sepakbola. Para penggemar kesebelasan dari negara tertentu dengan lantang menyanyikan dan memuja-muja pemain idolanya yang mungkin berasal dari negara lain. Begitulah sepakbola saat ini. Terimakasih atas semua jasa-jasamu, Jules Rimet!

Sumber gambar: 123rf.com & sebagian tulisan disadur dari The Independent dengan melakukan perubahan secukupnya.

Komentar