Tony Adams: Profesor Pertahanan Kehidupan

On This Day

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Tony Adams: Profesor Pertahanan Kehidupan

"Siapa namanu, Nak?" tanya Tommy Coleman, asisten pelatih kesebelasan muda Arsenal kepada seorang anak yang menghampirinya di markas latihan. "Saya Tony Adams," jawab sang bocah mantap. "Saya diminta datang ke sini oleh Steve Rowley." Bukan sambutan yang diterima Adams sebagai balasan, melainkan tatapan kebingungan yang diiringi pertanyaan "Siapa Steve Rowley?"

Adams meminta diri dan berbalik hendak pulang. Coleman mencegahnya dan mengizinkan Adams ikut berlatih, walau ia tidak tahu siapa Steve Rowley dan apakah bocah yang ada di hadapannya mengada-ada atau tidak. Keputusan Coleman terbukti tepat. Andai Adams dibiarkan pulang saat itu, mungkin tidak akan ada patung Mr. Arsenal di Emirates Stadium.

"Saya sedikit naif saat itu karena dialah bocah pertama saya," ujar Rowley berkisah sebagaimana dikutip dari situs resmi Arsenal.

"Anyway, saya mendekatinya di lapangan latihan West Ham, sesuatu yang tidak dapat kita lakukan sekarang – sekarang ini saya bahkan tidak akan diizinkan melewati pintu depan – dan saya bertanya kepada ayahnya, Alex, apakah ia tertarik untuk membawanya (ke Arsenal)."

Rowley, yang pada akhirnya menjabat posisi kepala pemandu bakat Arsenal, belum menjadi siapa-siapa ketika ia menemukan Adams. Kariernya di Arsenal bermula ketika ia menemukan John Moncur. Karena Moncur, Terry Burton (pelatih kesebelasan muda Arsenal) mengajak Rowley bergabung sebagai pemandu bakat.

Burton semakin yakin kepada Rowley setelah Rowley menemukan Stewart Robson. Penemuan terbaik Rowley, bagaimanapun, adalah Tony Adams yang pertama kali dilihatnya ketika sang pemain masih berusia 11 tahun; lebih muda, namun lebih memikat dari pemain mana pun yang pernah ia temukan.

"Anyway, Tommy berkata kepada Tony ‘siapa namamu, Nak?’ dan ia menjawab ‘Tony Adams, saya diminta datang ke sini oleh Steve Rowley.’ Kemudian Tommy berkata kepadanya ‘siapa Steve Rowley?’ karena seperti Tommy, saya belum lama bekerja di sana dan ia tidak mengenal saya," ujar Rowley melanjutkan ceritanya.

"Tony Adams berpaling dan hendak pulang hingga Tommy berkata kepadanya ia boleh bergabung di latihan. Kemudian Terry Burton membawanya ke latihan dan (setelah melihat kemampuan Tony Adams) ia yakin kepadanya."

Adams menjalani debutnya di usia muda, empat pekan setelah ulang tahunnya yang ke-17. Arsenal kalah kandang 1-2 dari Sunderland saat itu. Walau demikian, sepanjang kariernya yang ia habiskan bersama Arsenal dan tim nasional Inggris saja, Adams bergelimang prestasi, penghargaan, dan pengakuan walau rintangan berkali-kali menghadangnya sepanjang perjalanan.

Di usia yang masih sangat muda – 21 tahun 82 hari – Adams dipercaya menjadi kapten Arsenal. Hal ini mungkin mengejutkan pada awalnya. Namun jika dilihat sekarang, dengan fakta bahwa Adams bermain sebanyak 669 kali untuk Arsenal dan hanya menjadi pemain cadangan dalam enam di antaranya, hal itu dapat dipahami dan diterima.

Adams memiliki beberapa kualitas yang membuatnya langsung menjadi andalan di usia muda: perhitungan tackle yang tepat, kemampuan membaca permainan, dan kemampuan dalam duel udara. Ditambah jiwa petarungnya, ketahanan mental dan fisik, hasrat menang, dan kepemimpinan, pantas Adams menjadi kapten termuda Arsenal.

Walau demikian, Adams tidak sempurna. Kecanduan alkohol membuat Adams sempat mendekam di penjara. Kedatangan Arsène Wenger ke Arsenal menyelamatkan Adams dan kariernya.

Penerapan diet ketat Wenger membantu Adams dalam proses penyembuhan kecanduan alkohol. Peran besar dalam keberhasilan Adams, bagaimanapun, adalah kemauan besar yang ia miliki. Walau demikian, Wenger memainkan peran yang tak kalah penting. Karena selain membantu Adams meninggalkan kebiasaan minum-minum, Wenger membuatnya menjadi pemain yang lebih lengkap.

Wenger menjadikan Adams – yang sudah sangat fasih memainkan seni bertahan sehingga Wenger memberinya julukan professor of defence (dijuluki profesor oleh orang berjuluk le professeur; bayangkan!) – pemain yang mahir menguasai dan memainkan bola. Di bawah Wenger, peran Adams bukan hanya meredam serangan lawan, melainkan juga membangun serangan kesebelasannya dari lini belakang.

Sembuhnya Adams dari kecanduan alkohol adalah bagian penting dari kariernya. Tanpa keberhasilan mengalahkan diri sendiri, Adams tidak mungkin terus menjadi andalan Arsenal dan tim nasional Inggris, hingga akhirnya benar-benar tidak dapat lagi bermain untuk kedua kesebelasa tersebut karena pensiun.

Keberhasilan Adams langsung berada di tingkat tertinggi sejak awal kariernya, serta keberhasilan Adams mempertahankan tingkat permainannya hingga pensiun, menjadikannya sebagai salah satu bek tengah terbaik yang pernah dimiliki Arsenal dan timnas Inggris. Hingga sekarang belum ada yang memecahkan rekor Adams: bermain dalam 60 pertandingan resmi di Wembley.

Belum ada pula, hingga saat ini, pemain yang menjuarai Liga Inggris di tiga dekade berbeda sebagai kapten. Dan belum ada pula pemain Inggris yang bermain membela tim nasional di kejuaraan antarnegara di tiga dekade berbeda. Dalam keduanya, Adams adalah yang pertama dan masih satu-satunya.

Mencapai puncak di usia muda dan bertahan di sana hingga gantung sepatu jelas dua perkara berbeda. Bertahan saja sulit. Bertahan sembari mengatasi semua permasalahan dan melewati semua rintangan yang datang menghadang, jelas lebih sulit lagi. Adams berhasil melewati semuanya, dan untuk itu ia pantas mendapat ucapan selamat ulang tahun dari kita semua.

Selamat ulang tahun, Tony Alexander Adams!

Komentar