Alasan Berlangganan TV Satelit: Sepakbola!

Backpass

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

Alasan Berlangganan TV Satelit: Sepakbola!

“All You Need is Love” menjadi lantunan penutup yang dinyanyikan grup musik The Beatles dalam acara televisi “Our World”. Program siaran 25 Juni 1967 tersebut menjadi spesial karena merupakan acara televisi satelit pertama yang disiarkan langsung ke 31 negara di dunia.

“Our World” diinisasi oleh produser stasiun televisi Inggris BBC, Aubrey Singer. Butuh waktu 10 bulan bagi Aubrey untuk merancang segala hal terutama hal teknis. Terdapat 10 ribu teknisi, produser, dan interpreter yang terlibat dari 14 negara partisipan. Semua partisipan melakukan liputan langsung sesuai dengan konsep “Our World” itu sendiri yakni menyatukan dunia lewat perkembangan media dan teknologi.

“Selamat malam. Ini semestinya menjadi momen dalam sejarah pertelevisian. Karena acara ini menghadirkan wajah dunia,” tutur Cliff Michelmore yang ditunjuk sebagai pembawa acara, “Semua gambar diambil dari Inggris yang disiarkan dalam waktu bersamaan yang mencapai jutaan khalayak di 24 negara.”


"Our World" Acara televisi pertama yang disiarkan langsung ke-31 negara di dunia.

“Our World” menjadi momentum penerapan teknologi siaran yang menggunakan satelit. Saat itu, teknologi satelit memang tengah dikembangkan. Eksplorasi ruang angkasa tengah marak-maraknya salah satunya dipicu lewat perang dingin Amerika Serikat dan Uni Soviet yang berlomba-lomba mengembangkan teknologi.

Dalam ucapan pembukanya, Cliff menjelaskan kalau dunia sama sekali belum terhubung sebelum 1967. Eropa dan Amerika baru terhubung pada 1962; satelit di atas Samudera Pasifik baru ada pada 1966. Satelit-satelit itu yang kemudian menghubungkan Eropa dengan Amerika, Afrika, Asia, dan Australia, yang dikemas lewat acara “Our World” sebagai siaran langsung pertama.

“Our World” tak lebih seperti program berita yang disiarkan dari ke-14 negara partisipan. Namun, semangat pemanfaatan teknologi membuatnya menjadi spesial, karena secara simbolis, itulah untuk pertama kali sebuah siaran langsung disiarkan langsung ke seluruh dunia.

Teknologi ini pula yang di kemudian hari menjadi ladang uang bagi pengelola kompetisi sepakbola baik itu federasi maupun operator liga. Siapa yang menyangka 50 tahun kemudian teknologi satelit bukan hanya mengantarkan informasi dari tempat ke tempat lain, tetapi juga mampu memberikan kedekatan emosional?

Gara-gara Liga Inggris


(Sumber gambar: 3news.co.nz)

Jika televisi satelit booming di Amerika Serikat sejak 1980-an, di Indonesia gaungnya baru terasa pada 2009-an. Uniknya, salah satu yang membuat televisi satelit digemari tak lain karena tidak disiarkannya pertandingan Liga Inggris di televisi terestrial yang sifatnya gratis atau free to air.

Konsep persaingan siaran di Amerika belum bisa diterapkan di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Informatika punya aturan soal monopoli siaran maupun persaingan antar perusahaan telekomunikasi.

Pada 2007, Kemenkominfo meminta Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk menyelidiki pelanggaran monopoli siaran Liga Inggris oleh Astro. Pasalnya, tidak ada televisi terestrial di Indonesia yang kala itu menyiarkan pertandingan Liga Inggris. Akibatnya, sejumlah besar penggemar Liga Inggris tak bisa menikmati tayangan pertandingan kecuali berlanggan. Padahal, masyarakat Indonesia kala itu belum memiliki budaya untuk menonton siaran secara berbayar.

Penggemar sepakbola di Indonesia pun protes. Mereka mendemo Menkominfo, M. Nuh, untuk mengakhiri monopoli stasiun televisi Malaysia tersebut. Mereka meminta pemerintah untuk mengambil langkah karena sepakbola merupakan salah satu hiburan rakyat yang semestinya “dijual” secara murah.

Pada April 2008, Kemenkominfo sempat menghentikan siaran Astro. Namun, alasannya bukan karena faktor monopoli melainkan karena ada kewajiban admininstratif yang belum diselesaikan Astro, di antaranya membayar kewajiban biaya hak penggunaan frekuensi dan kewajiban penyedia jaringan siaran dengan penyedia konten siaran.

Pada Juli 2008, KPPU menemukan fakta bahwa ada kejanggalan dalam penjualan hak siar Liga Inggris antara Astro dengan Direct Vision. Ini yang membuat penggemar yang telah berlangganan televisi berbayar lain seperti Indovision, IM2 Pay TV, dan Telkomvision, tetap tak bisa menyaksikan pertandingan yang kala itu disiarkan ESPN. Para penggemar pun dipaksa untuk beralih langganan ke Astro.


Pemberitahuan dari Astro (Sumber gambar: gaptek28.files.wordpress.com)

Pada akhirnya, Astro tak terbukti melakukan monopoli. Keputusan KPPU pada 29 Agustus 2008 menunjuk All Asia Multimedia Networks dan ESPN Star Sports sebagai pihak yang bermasalah. Seperti dikutip Hukum Online, AAMN dan ESPN terbukti melanggar Pasal 16 Undang-Undang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, karena ada klausul dalam perjanjian AAMN dan ESPN yang memuat distribusi Liga Inggris.

Uniknya, majelis komisi berpendapat bahwa Liga Inggris merupakan konten penting untuk industri televisi berbayar, sehingga monopoli hak siar Liga Inggris bisa merugikan perusahaan televisi berbayar lain.

Masa Depan Televisi Satelit

Televisi berbayar biasanya terbagi ke dalam dua jenis: kabel dan satelit. TV kabel lebih stabil dalam kondisi cuaca buruk sekalipun, tapi infrastruktur belum menunjang karena harus memasang kabel. Lain halnya dengan televisi satelit yang menggunakan perantara parabola, menyajikan gambar yang lebih tajam dan jernih, meski seringkali terganggu karena cuaca buruk.

Keuntungannya adalah televisi satelit mampu menjangkau wilayah yang terpencil sekalipun. Di pedalaman Banten misalnya, siaran televisi terestrial amat sulit ditangkap oleh antena. Ini yang membuat sejumlah warga berlangganan televisi satelit, karena infrastruktur untuk televisi berbasis kabel memang belum tersedia.

Televisi satelit sejatinya akan memegang peranan penting dalam perkembangan teknologi media setidaknya untuk lebih dari dua dekade mendatang. Ditambah dengan makin menggeliatnya penjualan jenis televisi digital yang memberikan pengalaman menonton televisi yang kian menyenangkan karena disiarkan dalam format 16:9 dengan resolusi gambar yang lebih tinggi.

Selain itu, televisi satelit pun membuka peluang untuk hadirnya media baru. Hal ini sulit diwujudkan dengan sistem televisi terestrial yang menggunakan jaringan radio yang merupakan sumber daya terbatas, yang penggunaannya diatur dan diawasi pemerintah.

Jumlah stasiun televisi terestrial tidak akan bertambah secara drastis karena keterbatasan-keterbatasan tersebut, kecuali transisi dari tv analog ke tv digital sudah dilakukan secara penuh.

Artinya, televisi satelit memberikan Anda banyak sekali pilihan saluran televisi. Sejumlah perusahaan televisi berbayar umumnya menyajikan lebih dari 50 saluran televisi dengan banyaknya pilihan sesuai kategori, seperti anak-anak, berita, film, musik, dan olahraga. Banyaknya saluran tersebut membuat khalayak bisa memilih informasi apa yang ingin ia terima, karena besarnya perbedaan isi materi program siaran pada tiap saluran.

Namun, kekurangan dari televisi satelit adalah kita harus terbiasa untuk membayar apa yang kita tonton. Ini yang memang belum membudaya di Indonesia; jangan heran saat ramainya pemberitaan transisi dari tv analog ke tv digital, komentar yang terdengar justru yang berbunyi seperti ini, “Asalkan menonton televisi masih gratis, ya tidak masalah.”

 Sumber gambar: hautesecure.com

Komentar