Ketika Maradona Menjadi Tuhan

On This Day

by Zen RS Pilihan

Zen RS

Board of director | Panditfootball.com

Ketika Maradona Menjadi Tuhan

Pada 22 Juni 1986, Maradona memukau sekaligus mempecundangi dunia dengan keindahan yang tiada tara dan kelicikan yang tiada banding.

Pada laga perempatfinal Piala Dunia 1986, kala Argentina menghadapi Inggris, Maradona membuat Inggris tak akan pernah melupakan namanya. Hanya dalam tempo kurang dari lima menit, tepanya pada menit 51 dan menit 55, Maradona membuat dua gol dengan cara yang menakjubkan: gol pertama dengan tangannya, gol kedua dengan kakinya melalui solo-run yang indah, cepat sekaligus mematikan.

Dua gol itu membuat Argentina melaju ke semifinal. Di babak semifinal, Argentina menghempaskan juara Eropa 1984, Prancis, lagi-lagi berkat Maradona yang mencetk dua gol sekaligus. Di final, Maradona kembali mematikan: umpan briliannya pada menit 83 berhasil menjangkau Burruchaga yang lantas meneruskannya menjadi gol. Itu gol yang mengunci kemenangan Argentina dengan skor 3-2.

Tapi agaknya orang lebih ingat apa yang dilakukan Maradona di babak perempatfinal ketimbang di final. Gol dengan tangan di menit 51 dan gol solo-run di menit 55, ditambah itu terjadi ke gawang Inggris yang belum lama berselang menjadi seteru Argentina dalam konflik Pulau Malvinas, membuat Maradona terangkat maqam-nya menjadi pemain terbaik sepanjang masa.

Maradona menolak anggapan gol di menit ke gawang Peter Shilton dilakukan oleh tangannya. Itu bukan tangan saya, kata Maradona, tapi itu tangan Tuhan.

Di Argentina ada sekelompok orang yang menuhankan Diego Armando Maradona. Mereka mendirikan The Iglesia Maradoniana atau Gereja Maradona.


Kalimat yang jenial dan retorika yang brilian, yang diucapkannya secara post-factum, membuat Maradona akhirnya ditabalkan (setidaknya oleh para penggemarnya) sebagai "Tuhan". Para umat Maradona itu bahkan membuat gereja tersendiri yang disebut Gereja Maradona. Mereka membagi waktu bukan dengan Sebelum (Isa) Masehi atau Sesudah Masehi, tapi dengan Before Diego dan After Diego.

Beberapa tahun lalu saya pernah mengulas gol solo-run Maradona pada menit 55 itu dengan menggunakan perspektif seni pertunjukan, tepatnya menganalisisnya dengan pendekatan tarian balet. Analisis itu merupakan hasil kolaborasi dengan pasangan saya, yang kini sudah menjadi istri saya, Galuh Pangestri Larashati. Anda bisa membaca analisis itu di bawah ini.

=================================

Grand-Jete ala Maradona

Apa yang membuat gol kedua Maradona ke gawang Peter Shilton di Piala Dunia 1986 dinobatkan sebagai "gol terbaik abad 20?? Salah satu alasannya adalah karena selama proses terjadinya gol, Maradona setidaknya dua kali melakukan sebuah gerakan sulit yang dalam tarian balet biasa disebut grand jete".

Cukup jelas: gol itu luar biasa karena dilakukan dengan melewati lima pemain (atau 7 pemain karena Maradona dua kali melewati Terry Butcher dan dua kali pula melewati Peter Beardsley), sendirian ia membawa bola sepanjang 60 meter, dan semuanya berlangung dalam 10-12 detik. Gol semacam itu biasa disebut solo-run.

Sebenarnya bukan cuma Maradona yang pernah bikin gol solo run dengan melewati beberapa pemain.

Said Oweiran pernah melakukannya di partai terakhir babak penyisihan Piala Dunia 1994 ke gawang Belgia yang dijaga Michael Preudhomme [kiper ini kelak menjadi kiper terbaik Piala Dunia 1994]. Lionel Messi pernah pula melakukannya saat menghadapi Getafe di semifinal Copa del Rey 2008. Detail solo run Messi bahkan nyaris sama dengan Maradona. George Weah juga pernah melakukannya dengan jarak yang bahkan lebih jauh, nyaris 80 meter, saat memperkuat Milan menghadapi Verona pada musim 1995/1996.

Tapi toh gol Maradona yang terpilih. Biar bagaimana pun, gol yang dibikin dalam laga sekelas perempat final Piala Dunia berbeda maknanya dengan gol yang dibuat dalam kompetisi reguler. Lagi pula, gol itu dibuat dengan lawan sekelas Inggris. Lebih-lebih, gol itu terjadi hanya selang 4 menit setelah Maradona mencetak gol dengan tangan [gol tangan Tuhan menit 51, gol solo run dibuat menit 56]. Semua makin sempurna karena saat itu sedang terjadi konflik politik yang hebat antara Inggris dan Argentina dalam sengketa Pulau Malvinas.

Beberapa waktu lalu, saya mendiskusikan gol ini dengan Diajeng Galuh Pangestri Larashati. Sembari memutar ulang klip rekaman gol itu melalui youtube, kami memperhatikan dengan detail, berulang-ulang, menyimak setiap gerak, langkah dan ayunan kaki Maradona. Saat itulah saya menyadari ada satu gerakan kecil Maradona yang buat saya tampak indah.

"Seperti penari, bukan?" kata saya.

Dia sontak berseru: "Itu seperti grand jete!"

Dia lantas menjelaskan sedikit ihwal grand jete, sekaligus sempat memperagakannya langgung [puji Tuhan, untunglah kau penari!].

Grand jete secara harafiah berarti "lompatan besar". Ia merujuk gerak dalam tarian balet yang dicirikan oleh lompatan di udara yang dimulai dengan salah satu kaki dan lantas mendarat dengan kaki yang satunya lagi. Saat melayang di udara, dua kaki penari biasanya merentang di depan dan belakang, kadang antara kaki yang di depan dan belakang bisa membentuk satu garis yang vertikal. Ini gerakan yang terhitung sulit dan biasanya hanya dilakukan oleh para penari yang sudah terlatih. Lompatan grand jete ke arah depan biasa disebut en avant.

Maradona melakukan ini setidaknya dua kali dalam proses gol kedua ke gawang Inggris. Pertama saat menghindari kejaran Peter Reid [eks pelatih timnas Thailand] dan kedua saat melewati hadangan Terry Fenwick tepat sebelum ia memasuki kotak penalti.

Untuk diketahui, Maradona menerima umpan dari Hector Enrique di area permainan Argentina sendiri, sekitar 10 meter menjelang garis tengah. Ia dengan cepat melewati Peter Beardsley melalui gerakan keeping bola dengan punggung kaki kanannya. Bola lantas meluncur ke arah Pater Reid. Maradona lantas melakukan gerakan step-overdengan cara menarik bola ke belakang dengan telapak kaki kirinya, bola kembali bergulir ke belakang, Maradona dengan cepat memutar badan, di situ Beardsley sudah menghadang lagi, tapi dengan mudah Maradona meloloskan bola kembali.

Tepat saat bola menyentuh garis tengah, Maradona menyentuh lagi bola dengan punggung kaki kirinya. Kali ini laju bola meluncur dengan cepat. Maradona saat itu dibayang-bayangi dengan rapat oleh Peter Reid. Luncuran bola dari sentuhan Maradona di garis tengah itu melaju hingga sekitar 15 meter tanpa sekali pun disentuh Maradona yang setia mengikutinya dari belakang. Tepat ketika bola mulai memasuki seperempat area terakhir pertahanan Inggris terjadilah grand jete ala pemain bola itu.

Maradona melompat kecil -sepertinya- untuk mengubah arah bola lebih ke tengah untuk langsung menusuk area pertahanan Inggris. Tapi, saat Maradona baru saja memulai lompatan kecilnya, bola seperti meluncur lebih cepat sehingga jarak antara bola dengan Maradona pun menjadi sedikit menjauh. Biasanya, [jelek-jelek gini dulu saya sering main bola juga] jika jarak bola masih jauh, pemain akan melangkah seperti biasanya sekali lagi alias mendaratkan kakinya sekali lagi, sebelum kemudian menyentuh bola lagi.

Tapi yang dilakukan Maradona tidak. Saat kaki kirinya terangkat dan bola melaju lebih cepat dan sedikit menjauh, yang dilakukan Maradona justru berbeda: ia melompat, merentangkan kaki kirinya ke depan dengan kaki kanan terayun di belakang, dan kaki kiri itu bisa mengejar bola yang bergulir sehingga saat mendarat di tanah punggung kaki kiri Maradona bisa langsung menyentuh sisi kanan luar bola dan membelokkanya lebih ke tengah. Persoalan menjadi sedikit rumit karena sepersekian detik sebelum punggung kaki kiri Maradona menyentuh bola, bola tampak sedikit memantul.

image

Jika ditotal, dalam perhitungan saya, lompatan Maradona ini mencapai sekitar 2 meter. Saat Maradona melompat sejauh itulah ia seperti melakukan gerakan grand jete. Tapi gerakan itu terasa indah sekali karena dilakukan di lapangan hijau dengan bola di kaki.

Keberadaan bola itu yang memang membuat gerakan ini berbahaya. Jarang sekali orang menyentuh bola untuk mengubah arah gerak bola sembari melompat jauh. Biasanya, dribbling dilakukan dengan langkah-langkah yang relatif kecil/pendek.

Lompatan jauh macam Maradona itu, dengan kaki yang langsung mengubah gerak bola saat kaki itu mendarat, mensyaratkan ada ketepatan yang presisi: saat kaki kiri mendarat, saat itu pula punggung kaki menyentuh sisi bola. Jika salah perhitungan dan koordinasi buruk, salah-salah kaki Maradona bisa menginjak bola, dan cedera engkel menjadi taruhannya.

Diajeng Galuh Pangestri Larashati memberi catatan kecil begini tentang gerakan Maradona itu:

"Sebenarnya ada banyak jete dalam tarian, khususnya tarian balet. Paling tidak ada 48 jenis jete yang dijabarkan dalam "Technical Manual and Dictionary of Classical Ballet" oleh Gail Grant [1982]. Ada petit jete, jete-battement dessous, dan lain-lain.

Yang dilakukan Maradona bisa disebut petit jete en avant atau jete kecilyang melangkah maju ke depan dengan membentuk sudut 45 derajat. Jete kecil a la Maradona ini adalah gerak dasar atau gerak kecil yang bila dikembangkan dapat menjadi grand jete. Grand jete sendiriadalah gerakan tingkat advance dalam balet.

Menurut teori, jete besar terjadi apabila kaki dilempar ke depan membentuk sudut 90 derajat. Namun karena jete kali ini dilakukan oleh pemain sepakbola, saya tidak ragu mengatakan itu adalah grand jete, apalagi melihat hasil dan tingkat kesulitan yang dihadapi Maradona, termasuk rumput yang licin dan laju bola yang berubah."


Kembali ke proses gol kedua itu. Setelah melakukan grand jete, bola yang tadinya ada di sisi kiri pertahanan Inggris lantas bergerak lebih ke tengah dan kini meluncur menuju kotak penalti Inggris.

Terry Butcher, tukang jagal dari klub Ipswich Town yang keganasannya mungkin seperti Vierchwood dari Italia atau Kohler dari Jerman, mencoba menghadang Maradona. Tapi Maradona dengan mudah saja melewatinya melalui gerakan keeping bola dengan -lagi-lagi- punggung kaki kirinya.

Bola pun kian mendekat ke arah kotak penalti Inggris. Di situ, sekitar dua meter sebelum garis kotak penalti, Terry Fenwick sudah menunggu Maradona. Fenwick yang sebelumnya sudah menerima kartu kuning pada menit ke-9 itu tak kuasa menghadang Maradona. Bola yang tadinya tepat menuju Fenwick oleh Maradona diubah sedikit arahnya dengan kaki kiri bagian dalam.

Tapi Fenwick masih mencoba menghadang untuk mempraktikkan doktrin banal para bek: "bola boleh lewat, tapi pemain jangan." Kaki kirinya diangkat sedikit sehingga tingginya nyaris mencapai tinggi paha Maradona. Maradona yang sudah meloloskan bola lebih dulu pun terancam terjengkang.

Tapi Tuhan memang sedang berada di kaki Maradona, setelah lima menit sebelumnya Tuhan bersamayam di tangan Maradona. Maradona menolakkan kaki kanannya, lalu..... hufffff! Dengan lincah Maradona melewati kaki dan paha Fenwick melalui lompatan ala grand jete lagi.

Jika pada grand jete pertama lompatan Maradona tidak terlalu tinggi tapi jaraknya jauh, kali ini lompatannya lebih tinggi tapi dengan jarak yang lebih pendek. Mungkin hanya sekitar 1,5 meter saja.

Setelah itu, bola meluncur ke arah gawang Inggris. Kiper Peter Shilton, yang rekornya memperkuat tim nasional baru terpecahkan oleh David Beckham, maju mencoba menghadang. Dengan sekali sentuh, Maradona bisa melewatinya. Gawang kini sudah melompong, sementara bola meluncur mendekati garis di sisi kiri gawang. Saat itulah Terry Butcher yang sudah dilewati sebelumnya memberikan perlawanan terakhir dengan mencoba melakukan tackle.

Tapi takdir sudah menentukan bahwa saat itu harus terjadi sebuah gol dahsyat. Tepat saat Butcher meluncurkan kakinya, saat itulah Maradona menendang bola ke arah gawang yang sudah kosong dengan satu sontekan yang tak terlalu keras. Butcher sukses menjatuhkan Maradona, tapi bola sudah kadung menggetarkan jaring.

Sebuah gol tercipta. Sebuah sejarah lahir hanya dalam waktu 10-12 detik melalui dua kali gerakan mirip grande jete para penari balet. 21 tahun kemudian, Maradona bilang: "I made the play to give it to Valdano, but when I got to the area they surrounded me and I had no space. Therefore, I had to continue the play and finish it myself."

Dennis Bergkamp, pemain Belanda yang pernah bikin gol ajaib dengan tingkat kerumitan yang sangat unik ke gawang Newcastle pada November 2002, pernah berkata: "...behind every kick of the ball there has to be a thought."

Dalam hal gol Maradona satu itu, kata-kata Bergkamp tadi mungkin perlu diubah sedikit menjadi: "..behind every dribble of the ball there has to be a dancer."

Baca juga:

Ricardo Bochini, Legenda yang Dihormati Maradona

Maradona dan Dua Musuh yang Dipopulerkan Dirinya

Kisah Di Balik Foto Maradona yang Mendunia

Beginilah Jika Maradona Main Futsal

***

Post-script:

Untuk bisa melihat Maradona melakukan dua kali grand jete, Anda perlu melihat rekaman video dalam format slow-motion, cobalah buka rekamannya. Jangan lupa perhatikan detik 30-31 [grand jete pertama] dan detik 48-49 [grand jete kedua].



Untuk melihat betapa cepatnya gol itu terjadi dan sungguh gesitnya Maradona serta kerumitan prosesnya, gunakanlah rekaman video dengan kecepatan seperti aslinya.

Pada hari dan pertandingan yang sama Maradona juga membuat gol yang masih diperbincangkan hingga sekarang. Gol menggunakan tangan dengan sengaja yang kemudian dikenal sebagai gol tangan Tuhan.
Selengkapnya baca di Sepakbola sebagai Sebuah Kisah


Diunggah ulang dari kurangpiknik.tumblr.com

Komentar