[On This Day 2006] Mengenang Keabadian Juliano Belletti

Backpass

by Zakky BM

Zakky BM

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

[On This Day 2006] Mengenang Keabadian Juliano Belletti

Tepat hari ini, sembilan  tahun yang lalu, Stade de France di Saint-Denis, Prancis, melangsungkan final kompetisi tertinggi antar kesebelasan elit eropa. Ya, tentu saja, final liga Champions musim 2005-06 yang mempertemukan FC Barcelona di bawah asuhaan Frank Rijkaard dan Arsenal di bawah asuhan Arsene Wenger menjadi tujuan jutaan pasang mata malam itu.

Tak ada kejutan dari susunan pemain dan formasi, kedua juru taktik sama-sama menurunkan pemain terbaiknya. Namun, Jens Lehmann merusak suasana intensitas malam itu.  Pelanggarannya terhadap Samuel Eto’o menyebabkan ia harus diusir oleh Tom Ovrebo, sang pengadil pertandingan. Arsenal harus rela bermain dengan 10 pemain mulai dari menit 18.

Namun ternyata bermain dengan 10 orang tidak membuat nyali para pasukan meriam London menjadi ciut. Eboue yang merangsek dari sisi kanan Arsenal mampu merepotkan Carles Puyol sampai harus melanggarnya – meski dari tayangan ulang tak ada gangguan berarti sebenarnya. Thierry Henry yang mengambil tendangan bebas tersebut berhasil mengirimkan umpan manis menuju kepala Sol Campbell. Gol, FC Barcelona 0- 1 Arsenal.

Perlu waktu lama untuk membongkar pertahanan Arsenal yang tertutup rapat sejak gol sundulan Sol Campbell tercipta. Hampir 40 menit diselingi turun minum, Ronaldinho cs harus menyiasati penyerangan Barca agar lebih efektif dan mampu menyamakan skor.

Rijkaard malam itu, tak punya banyak pilihan pemain bintang di bangku cadangannnya. Tercatat hanya ada Xavi muda, Iniesta muda, Thiago Motta muda, sang veteran Henrik Larsson, Juliano Belletti, Sylvinho dan satu kiper cadangan, yaitu Albert Jorquera. Ketika babak kedua dimulai, Rijkaard bertaruh dengan memasukkan Iniesta dan menarik Edmilson agar lebih memperkaya opsi penyerangan.

Sisa 30 menit pertandingan dan masih sulit mencetak gol, pemain bertipe menyerang Henrik Larsson akhirnya masuk menggantikan Van Bommel, dan sisa satu pergantian dimanfaatkan oleh Rijkaard untuk menarik Oleguer dan mengganti dengan Juliano Belletti yang sama-sama berposisi di bek kanan pada menit 71. Hasilnya, Rijkaard akan selalu berterimakasih dengan ketiga pemain super sub-nya tersebut.

Seluruh pemain pengganti tersebut menjawab kepercayan Rijkaard dengan performa yang mengesankan. Di kubu lawan, Arsenal praktis menyisakan dua pergantian saja karena satu sebelumnya sudah dipakai untuk mengganti Lehmann yang diusir keluar. Mathieu Flamini dan Reyes menjadi opsi Wenger untuk mempertahankan keunggulan saat itu.

Memasuki menit 76, Iniesta membangun serangan bersama Gio Van Bronckhost di sisi kanan pertahanan Arsenal. Inietsta yang melepaskan umpan terukur ke kotak penalti akhirnya disambut dengan satu sentuhan umpan Henrik Larsson kepada Samuel Eto'o. Tanpa ampun, Samuel Eto'o kemudian berhasil menjebol gawang Arsenal yang dikawal oleh Almunia.

Ketika gol pertama Barcelona ada dua pemain penganti yang turut andil, Iniesta dan Larrson. Sedangkan gol kemenangan malam itu akan selalu abadi untuk Barcelonistas di seluruh dunia. Ya, satu lagi pemain pengganti mencetak gol pertamanya sepanjang karir di Barcelona dan ia lakukan saat menentukan gelar liga Champions ke-dua untuk tim Katalan. Juliano Belletti orangnya.

Takdirnya dimulai dari ia menggiring bola pada menit 80. Henrik Larsson yang berupaya menciptakan ruang kosong di pertahanan Arsenal akhirnya mulai bergerak melebar ke sisi kanan penyerangan Barcelona dan memulai kerjasama dengan Belletti. Henrik Larsson yang melihat pergerakan Belletti di kotak penalti lawan kemudian melepaskan umpan terukur dan akhirnya Belletti mampu mencetak satu-satunya gol sepanjang karirnya bersama Barcelona.

Menjadi abadi untuk para Barcelonistas mungkin tak pernah terpikir sama sekali di benak Belletti. Bahkan ia yang hanya menjadi pemain cadangan bek kanan saat formasi awal di partai final ditentukan oleh Rijkaard, ia juga mungkin tak bermimpi terlalu jauh untuk mencetak gol kemenangan untuk kesebelasan sebesar Barcelona. Namun, sekali takdir tetaplah takdir, ia seperti digariskan oleh Tuhan untuk menjadi sang penyelamat yang diutus dari bangku cadangan.

Ia sendiri mengungkapkan bahwa “Hal tersebut tidak pernah saya mimpikan, apalagi di partai sebesar liga champion yang mana disaksikan seluruh penjuru dunia, tak terkecuali ayah saya yang langsung datang ke stadion malam itu” ujar Belletti seperti yang dikutip dari laman Bleacher Report.

Pasca final tersebut, pihak klub menghadiahinya replika trofi liga Champions untuk ia pajang di rumahnya, sebagai tanda penghormatan dari klub. Ia gembira, fans gembira, klub gembira, namun untuk Manuel Almunia dan Arsenal, mungkin akan terluka jika mengingat momen keabadian Belletti yang jatuh tepat sembilan tahun lalu.




Sumber gambar dan tulisan

  • http://bleacherreport.com/articles/2434574-br-interview-juliano-belletti-talks-champions-league-john-terry-and-neymar

  • http://www.totalbarca.com/2014/interviews/belletti-at-barca-you-only-have-to-worry-about-playing/


Komentar