Dia yang Pernah Menguasai Eropa, Asia, dan Dunia

Backpass

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Dia yang Pernah Menguasai Eropa, Asia, dan Dunia

Pada 12 April 1948, Marcelo Lippi lahir di Viareggio, Italia. Setelah karir yang panjang dan tidak populer sebagai pemain di Serie A, ia membuat kejutan dengan menjadi salah satu pelatih tersukses di dunia.

Selama menjadi pemain sepakbola, Lippi bermain sebagai pemain bertahan dan menghabiskan sebagian besar karirnya bersama Sampdoria di tahun 1969 hingga 1980. Pada waktu itu, ia tampil dalam 274 pertandingan liga untuk Blucerchiati.

Di level Internasional, selama menjadi pemain sepakbola, Lippi terhitung bukanlah seorang pemain hebat. Tak pernah sedikitpun mencicipi masa-masa kebanggaan sebagai pemain untuk mengenakan kostum kebangsaan  di level senior (timnas Italia). Satu-satu kebanggaan yang mungkin dapat ia rasakan hanyalah sekedar bermain untuk timnas Italia U-23, dan itu pun relatif singkat.

Tahun 1980, ia pindah ke Pistoiese, yang berada di Serie A saat itu, tapi terdegradasi pada akhir musim 1980-1981. Dia pun akhirnya menghabiskan satu tahun dengan Pistoiese di Serie B sebelum pensiun pada tahun 1982.

Setelah menyatakan gantung sepatu, Lippi tidaklah langsung menghilang dari aktivitas sepakbola. Ia kembali ke Sampdoria di tahun itu untuk melatih tim muda Il Samp. Dari kesebelasan asal kota Genoa tersebutlah kisah barunya kembali di mulai. Sebagai pelatih, tentu saja.

Tiga tahun menangani kesebelasan primavera, Lippi akhirnya memutuskan untuk berkelanan ke berbagai kesebelasan dengan menghabiskan satu dekade melatih delapan kesebelasan yang berbeda. Hingga akhirnya mendarat di kota Turin tahun 1994 untuk melatih Juventus. Di musim pertamanya bersama Juventus, karir Lippi terhitung sangat mengesankan.

Pria yang identik dengan cerutu ini sukses menyabet gelar Scudetto, Coppa Italia dan Super Coppa Italia. Sebagai catatan, Juventus masih kesulitan mengejar gelar ke-10 Coppa Italia hingga kini, setelah terakhir kalinya dipersembahkan oleh Lippi. Lippi kemudian memberikan serangkaian piala tambahan, termasuk Liga Champions 1996 dan dua scudetto secara beruntun di tahun 1997 dan 1998.

Setelah mengukir serangkaian cerita manis di Juventus,  Lippi pun menyebrang ke kota Milan di tahun 1999 untuk mencoba mengukir cerita manis bersama Inter. Tapi semua tidak berjalan  sesuai harapan. Lippi dinilai gagal di musim pertamanya, 1999-2000, dan dipecat setelah menjalani satu pertandingan di musim 2000-2001.Pemecatan itu pun membuat Juventus kembali merekrut Lippi setelah musim 2000-2001 berakhir. Setelah kembali ke Juventus, Lippi kembali menjadi juara Italia; dan ia melakukannya sebanyak dua kali.

Pada 2004, Federasi Sepak Bola Italia menunjuk Lippi sebagai manajer tim nasional, menggantikan Giovanni Trapattoni. Dia membantu Azzurri  memenangkan gelar juara bergengsin, Piala Dunia 2006 di Jerman. Namun kisah manisnya bersama Azzurri harus berakhir memilukan setelah Italia gagal lolos dari putaran grup Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan.

1414952525_lippi

Petualangan ke Negeri Cina

Gagal bersama timnas Italia tak lantas memudarkan pesonanya sebagai pelatih kelas dunia. Setelah sempat menganggur selama dua tahun, akhirnya Lippi memutuskan berpetualang ke negeri Cina di tahun 2012 bersama kesebelasan Guangzhou Evergrande.

Catatan manis di Asia bersama Guangzhou pun kembali ia ukir dengan meraih piala Chinese Super League tiga kali secara beruntun, satu gelar Chinese FA Cup, dan AFC Champions League di tahun 2013. Catatan tersebut ia ukir hanya dalam kurun waktu 2012 hingga 2014.

Tentu saja hal itu membuat Lippi menjadi seorang pahlawan bagi Guangzhou. Ia pun dengan rasa percaya dirinya menuliskan sebuah status di akun twitter dengan kalimat Il Mister ha Vinto Ancora (Mister kembali menang). Kalimat tersebut jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia akan mengandung makna rasa percaya diri tinggi yang menegaskan jika ia pernah menguasai Eropa dan dunia, serta mampu berjaya di tengah keterbatasan negara dunia ketiga. Lippi, Anda luar biasa.

lippi-20art_20131110025118344492-620x349

Setelah begitu lama berkecimpung di dunia kepelatihan, Lippi merasa cukup. Lippi mengatakan bahwa dirinya tidak akan menjadi pelatih Guangzhou Evergrande lagi pada musim depan. Pria asal Italia itu merasa sudah terlalu tua dan kondisi fisiknya tak bisa lagi mengimbangi pekerjaan berat seorang pelatih. Piala AFC Champions League pun menjadi persembahan terakhirnya bagi Guangzhou dan piala terakhirnya selama menjadi pelatih.

"Dalam waktu dekat saya akan berusia 67 tahun, dan saya tidak ingin menjadi pelatih lagi. Saya akan menjadi direktur teknik," ujar Lippi ketika mengumumkan pensiunnya di dunia kepelatihan.

Selamat ulang tahun, Mister. Tepat hari ini usiamu telah sampai di angka 67 tahun.

Komentar