(On this Day 16 Februari) Sepakbola Korea Utara dan Telepon Tak Terlihat

On This Day

by Frasetya Vady Aditya

Frasetya Vady Aditya

Penyunting. Jangan terkekang; sepakbola cuma cangkang. Kontak: vady.aditya@gmail.com

(On this Day 16 Februari) Sepakbola Korea Utara dan Telepon Tak Terlihat

Tepat pada hari ini, 73 tahun silam, “Bintang yang Bersinar” lahir di Gunung Baekdu, Korea Utara. Enam tahun kemudian, atau  pada 1948, sang ayah, Kim Il-Sung mendeklarasikan pendirian “Republik Demokratik” Korea Utara.

“Bintang yang Bersinar” itu diberi nama Kim Jong-Il. Sejak lama, publik sudah mengetahui kalau Kim Jong-Il akan menjadi seseorang yang penting di Korea Utara. Sebagai anak paling tua, Jong-Il menyaksikan benar bagaimana cara ayahnya membangun sebuah kedaulatan di utara semenanjung Korea.

Pada usia 24 tahun, Jong-Il menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat kesebelasan Korea Utara mewakili Asia dalam ajang Piala Dunia 1966 yang diselenggarakan di Inggris. Pujian mengalir dari seluruh dunia karena negara “antah berantah” berhasil melaju hingga babak perempat final.

Setelah penyelenggaraan tersebut, sepakbola di Korea Utara seperti mati suri. Di ajang internasional, mereka hanya tampil sekali pada ajang Olimpiade 1976, dan mampu mencapai babak perempat final. Setelah itu, 20 tahun lebih lamanya, sepakbola Korea Utara tidak terdengar.

Baru pada kualifikasi Piala Dunia 2006, nama Korea Utara mulai terdengar lagi. Sayangnya, bukan berita kesuksesan yang terdengar, melainkan perilaku negatif pemain dan penggemar Korea Utara. Kala itu, Maret 2005, Korea Utara menghadapi Iran di Pyongyang. Jelang akhir pertandingan, pemain Korut protes karena wasit tidak memberi mereka penalti.

Penonton tidak terima dan mulai melemparkan, botol, batu, dan kursi ke arah lapangan. Bahkan, mereka tidak membiarkan kesebelasan Iran keluar dari stadion. Atas kekacauan ini, Korut dihukum tidak boleh menyelenggarakan pertandingan kandang hingga akhir babak kualifikasi.

Empat tahun kemudian, Kim Jong-Il boleh lah berbangga. Desas desus kehebatan kesebelasan baru Korut, benar adanya. Untuk kedua kalinya, Korut menjadi wakil Asia di Piala Dunia 2010 yang diselenggarakan di Afrika Selatan.

Pencapaian Korut di Piala Dunia 2010 terbilang buruk. Meskipun berhasil membuat Brasil frustasi pada pertandingan pertama, yang berakhir 1-2 untuk kemenangan Brasil, tapi kalah tetaplah kalah. Korut bahkan mencatatkan kekalahan terbesar mereka yakni 0-7 dari Portugal. Pada pertandingan terakhir menghadapi Pantai Gading pun mereka tak bisa berbuat banyak. Yaya Toure dan kolega menjebol gawang Korut tiga kali.

Kegagalan tersebut membawa kenangan buruk bagi seluruh skuat Korut. Setiba di Pyongyang, mereka digiring ke plasa Pusat Kebudayaan Korea Utara. Di sana, mereka dipermalukan dengan cara dikritisi oleh Menteri Olahraga, Pak Myong-Chol, yang juga dihadiri oleh anggota pemerintah, siswa, serta jurnalis. Mereka dikritik karena gagal menampilkan “ketangguhan ideologi” yang saat ini dipegang oleh Korut.

Hal yang paling parah menimpa sang pelatih, Kim Jong-hun. Ia dituduh sebagai “pengkhinat” dan dikeluarkan dari keanggotaan Partai Buruh.

Tidak ada kabar lanjutan mengenai nasib skuat Korut, yang jelas, jelang keberangkatan ke Afrika Selatan, Kim Jong-Il sempat memberi “semangat” kepada penggawa Korut. Jika berhasil mengharumkan bangsa, setiap pemain akan diberi apartemen, sedangkan jika gagal, mereka akan dipekerjakan di tambang batu bara.

Namun, apa yang terdengar ini bisa saja jauh lebih buruk, jika menilik ucapan intel Korea Selatan. “Dulu, atlet Korut dan pelatihnya yang tampil buruk, akan dikirim ke penjara,” tuturnya seperti dikutip Telegraph.



Ingatkah Anda dengan Jong Tae-se? Pesepakbola yang menangis saat mendengarkan lagu kebangsaan Korut di Piala Dunia. Tidak, dia tidak bekerja di tambang batu bara, karena setelah Piala Dunia, ia langsung pulang ke Jepang, negeri tempatnya dilahirkan, dan melanjutkan karir sepakbola di Jerman. Ia melanjutkan hidup dengan tenang, dan sempat beberapa kali tampil dalam variety show di Korea Selatan. Bahkan, ia yang menjebol dua kali gawang "Indonesia Selection" kala tampil dalam ajang Asian Dreams Cup 2014, di Gelora Bung Karno, Jakarta.

Sebenarnya, bukan di situ saja “keunikan” Korea Utara. Sebagai seseorang yang dikultuskan, Jong-Il dianggap sebagai ahli taktik dalam segala hal termasuk sepakbola.

Jong-Il mengaku menemukan teknologi khusus bernama “telepon tak kasatmata”. Dengan teknologi tersebut, ia memberikan arahan dari Pyongyang kepada para penggawa timnas dan pelatih yang berada di Afrika Selatan. Dikutip dari ESPN, usai kekalahan tersebut, sekjen Federasi Sepakbola Korut, Kim Jong-su, mengatakan Jong-Il telah memberi arahan berupa bagaimana caranya mengembangkan permainan. Jong-su bahkan mengklaim kalau Jong-il selau memberi nasehat taktikal setiap pertandingan.

Bagaimana caranya? Tentu saja lewat “telepon tak kasatmata” tadi. Hebat bukan?



Sumber gambar: theguardian.com

Komentar