Legenda Plontos dengan Sorot Mata Mengerikan

Backpass

by Dex Glenniza 75035

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Legenda Plontos dengan Sorot Mata Mengerikan

Tidak banyak pekerjaan yang berhubungan dengan olahraga yang lebih tanpa pamrih daripada menjadi seorang wasit. Bayangkan, jika wasit melakukan pekerjaan dengan baik, tidak ada yang berterimakasih. Tetapi jika wasit melakukan kesalahan, wasit bisa dicacimaki.

Satu pertandingan, (lebih dari) 90 menit, wasit rata-rata berlari 12 kilo meter, lebih dari 2.000 keputusan yang dibuat, lebih dari 30.000 penonton dan jutaan pemirsa televisi juga mengawasi setiap gerakan wasit.

Kemudian, bisakah Anda mungkin mengenali seorang wasit jika Anda bertemu dengannya di tengah jalan, dengan ia yang tidak sedang memakai seragam wasit? Salah satu wasit terkenal di Liga Primer saja mungkin tidak Anda kenali, mungkin juga dengan wasit di Indonesia. Tapi, jika membicarakan wasit, satu sosok ini tentunya kita tidak akan pernah lupa.

Pierluigi Collina. Ia adalah maestro sepakbola terkenal dari Kota Bologna yang lahir pada 13 Februari 1960. Sudah satu dekade sejak ia pensiun dari dunia perwasitan sepakbola.

Korban dari penyakit yang dikenal sebagai Alopecia, Collina benar-benar mengalami kebotakan. Kepalanya yang botak ditekankan lagi oleh dua bola matanya yang melotot menyorot seperti lampu. Begitulah fisiknya menjadi mudah dikenali.

Namun, bukan fisiknya yang membuat kita juga selalu mengingat-ingat Collina. Salah satu pernyataan paling obyektif di sepakbola yang mungkin bisa kita semua terima adalah: Pierluigi Collina adalah wasit terbaik di dunia. Itu juga tidak pernah berubah sampai sekarang.

Sepakbola adalah permainan yang tidak sempurna

Dalam beberapa tahun terakhir ini, ia masih saja dekat dengan dunia sepakbola dengan menjabat sebagai Kepala Wasit UEFA dan juga di federasi sepakbola Ukraina. Pada dua pekerjaan barunya tersebut juga yang membuatnya lelah dengan gagasan bahwa wasit adalah satu-satunya orang yang membuat kesalahan dalam sepakbola.

"Sepakbola adalah permainan yang tidak sempurna dimana setiap orang mencoba untuk melakukan yang terbaik, tapi kadang-kadang mereka tidak bisa melakukan yang terbaik. Saya ingat pidato singkat yang diberikan oleh [Giovanni] Trapattoni saat ia melatih Fiorentina, setelah kesalahan besar yang dibuat oleh kiper, dia mengatakan, `Jika seorang pemain tidak bisa melakukan kesalahan di lapangan, kita dapat menghentikan permainan dan pergi.` Dan saya pikir itu harus sama untuk wasit juga. Dia mengatakan kesalahannya sendiri membuatnya sedih, tapi kalau saya yakin bahwa saya sudah melakukan semuanya untuk mempersiapkan pertandingan sebaik mungkin, saya harus menerimanya."

Dia menganggap televisi sebagai "instrumen yang tidak sama" ketika memahami sebuah kesalahan. "Ini terlalu mudah untuk menemukan sudut penglihatan yang berbeda dari sudut pandang saya yang bisa menunjukkan dengan jelas bahwa sesuatu terjadi dengan cara yang berbeda dari cara yang saya nilai. Hal ini terlalu mudah untuk televisi dan ini adalah alasan mengapa tampaknya dalam sepakbola saat ini ada banyak kesalahan daripada yang ada pada 15 tahun yang lalu. Hanya ada tiga kamera di tengah lapangan yang meliputi area bermain secara keseluruhan. Sekarang ada 16. Mungkin berikutnya akan ada 20 atau lebih."

Baca juga:

Kenihilan Peraturan Offside

Ketika Wasit pun Ikut-ikutan Melakukan Scouting Pemain

FIFA Kaji Perpanjangan Masa Tugas Wasit

Saya Meniup Peluit, Maka Saya Ada


"Dalam situasi lain, meskipun sepakbola adalah permainan yang tidak sempurna, saya tidak mengerti mengapa kita mencoba untuk membuatnya sempurna hanya dalam perwasitan. Saya suka sepakbola seperti yang sekarang. Keputusan wasit harus diterima, itu harus dipertahankan."

Collina juga mengatakan bahwa ia sudah berhasil berkomunikasi dengan pemain selama ia menjadi wasit. Dia memberikan contoh insiden yang melibatkan Pierluigi Casiraghi ketika mantan striker Chelsea itu bermain untuk Lazio.

"Selama pertandingan, kami memiliki beberapa diskusi di atas lapangan. Tiga atau empat hari kemudian, dia mengirimkan foto saya dan dia ketika di atas lapangan: sangat dekat [jarak antara kedua wajah mereka] dan terlihat sedang marah. Pada bagian belakang foto itu tertulis, `Gambar ini tidak berarti apa-apa, perasaan saya untuk Anda selalu sangat tinggi`. Saya rasa ini adalah contoh yang baik. Hal-hal terjadi di lapangan, seperti diskusi, argumen, tetapi pada akhir pertandingan semuanya berakhir."

Halaman berikutnya, Sentuhan manuasiawi dan Pelajaran hidup dari Collina.

Komentar