Si Musuh Besar Italia

On This Day

by Randy Prasatya

Randy Prasatya

Everything you can imagine is real.

Si Musuh Besar Italia

Penggemar sepakbola Italia di awal 2000an pasti semua mengenal sosok yang bernama Ahn Jung-Hwan. Ia adalah pahlawan Korea Selatan di Piala Dunia 2002. Mantan pemain Perugia ini lahir di Paju, 27 Januari 1976.

Ia memulai karier profesionalnya di tahun 1998 dengan membela Pusan Daewoo Royals, kemudian pindah ke Italia di tahun 2000 untuk bermain bersama Perugia dengan status pemain pinjaman. Di sana ia membuat total 33 penampilan di dua musim dan mencetak lima gol.

Dia pernah dideskripsikan sebagai "orang yang merusak sepakbola Italia" dan dicap sebagai musuh oleh rakyat Italia. Kejadian itu bermula saat ia mencetak gol emas untuk Korea Selatan yang memaksa Italia angkat kaki di babak 16 besar Piala Dunia Korea Selatan-Jepang 2002. Ahn, yang gagal mengeksekusi penalti di awal pertandingan, berbalik menjadi pahlawan Korea Selatan ketika ia mencetak gol di menit ke-116.

Baca kisah lengkap tentang Ahn Jung-Hwan dan Golden Goal di sini.

Sehari setelah pertandingan, pemilik Perugia, Luciano Gaucci membatalkan kontrak Ahn. "Saya tidak punya niat untuk membayar gaji kepada seseorang yang telah merusak sepakbola Italia. Pria itu tidak akan pernah menginjakkan kaki di Perugia lagi," ujar Gaucci dikutip dari La Gazzetta dello Sport.

Komentar Gaucci pun disambut dengan balasan yang pedas dari Gus Hiddink yang ketika itu menjadi pelatih Korea Selatan. Hiddink menganggap jika Gaucci bereaksi seperti anak kecil dengan memecat Ahn karena membobol gawang Italia.

Gaucci kemudian mengubah keputusannya, tapi Ahn begitu tersinggung dengan komentar Gaucci. Ia pun menolak untuk kembali ke Perugia. Pernyataan Gaucci seolah-olah tidak menghormati negaranya dan dirinya yang harus membela negaranya sendiri melalui sebuah permainan yang bernama sepakbola.

Sebenarnya, Tim Negeri Pizza itu pernah marah dan memprotes Badan Sepakbola Dunia (FIFA) atas mutu official pertandingan Piala Dunia 2002. Tim Italia menggugat lima gol mereka yang dianulir dalam empat pertandingan. Trapattoni menyebut tindakan wasit Moreno dengan mengusir Francesco Totti serta membatalkan gol Damiano Tommasi saat melawan tuan rumah Korea Selatan sebagai kesalahan.

"Kita tak bisa mengandalkan diri pada hakim garis yang tidak kompeten," kata Mr. Trap, sapaan pelatih Giovanni Trapattoni. "Namun Keith Cooper (saat itu menjabat sebagai juru bicara FIFA) membela mutu wasit Piala Dunia dan berbalik menyerang pihak Italia sebagai tim yang tidak sportif."

Hasil akhir tentu tak bisa diubah, begitu juga dengan sitgma Ahn di mata masyarakat Italia. Karena lewat golnya, ia dibenci oleh masyarakat Italia, bahkan bisa dibilang ia telah menjadi musuh besar Italia.



Komentar