On This Day 2002, Indonesia Bantai Filipina 13-1 di GBK

On This Day

by Ammar Mildandaru Pratama

Ammar Mildandaru Pratama

mildandaru@panditfootball.com

On This Day 2002, Indonesia Bantai Filipina 13-1 di GBK

Indonesia membutuhkan kemenangan dengan minimal margin tiga gol agar lolos ke babak berikutnya di Piala Tiger 2002 (sekarang Piala AFF). Meski sempat terseok-seok pada awal turnamen tetapi itu bukan hal yang sulit, karena lawan yang mereka hadapi hanyalah Filipina.

Merujuk pada sejarah, Filipina memang seharusnya ketakutan ketika bertemu Indonesia. Bagaimana tidak, sejak 1958 yakni ketika pertama bertemu tim berjuluk Anjing Jalanan tersebut tak pernah menang lawan Indonesia.  Dari 17 pertemuan yang ada, Filipina hanya mampu menahan imbang sekali pada November 1977. Selebihnya tim Garuda selalu memenangkan laga atas Anjing Jalanan.

Bambang Pamungkas dan Zaenal Arif berpesta pada hari itu, masing-masing mencetak empat gol ke gawang Filipina. Kemudian Bejo Sugiantoro turut menyumbang dua gol, serta Budi Sudarsono, Imran, dan satu gol bunuh diri Salomon Licuanan melengkapi total 13 gol yang diciptakan Indonesia. Sementara Filipina hanya mampu mempertipis ketertinggalan melalui  satu gol Ali Go.

Indonesia akhirnya melaju hingga fase final dan kalah dari Thailand lewat adu penalti.

Selepas itu Indonesia dan Filipina baru bertemu kembali delapan tahun kemudian. Tepatnya pada semifinal Piala AFF 2010 dengan sistem home-away. Namun karena pada saat itu Filipina tak punya stadion layak untuk laga internasional, AFF memutuskan keduanya diselenggarakan di Jakarta.

Laga berlangsung ketat karena permainan Filipina sudah jauh meningkat berkat program naturalisasi yang dijalankan. Indonesia akhirnya berhasil menang dengan skor tipis masing-masing 1-0 pada dua pertandingan tersebut.

Pertemuan terakhir keduanya tentu saja masih terekam di ingatan kita, pada Piala AFF 2014. Garuda dilumat Anjing Jalanan dengan skor 4-0 pada laga kedua fase grup. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia harus kalah dari Filipina.

Terlepas dari program naturalisasi yang mereka jalankan, Filipina memang meningkat jauh dari segi permainan. Toh, cara yang sama juga sudah dilakukan oleh Indonesia sejak 2010. Naturalisasi yang dilakukan Filipina terbilang wajar karena sepakbola bukan olahraga yang populer di sana, sepakbola adalah anak tiri masyarakat. Kondisi yang mengilhami julukan The Azkals atau Anjing Jalanan.

Filipina kini tak perlu menundukan kepala kala bersua dengan Indonesia, karena mereka sudah melupakan sejarah. Filipina yang sekarang adalah tim yang menjelma sebagai kekuatan baru sepakbola Asia Tenggara.

Komentar