Tolstoy Cup dan Sepakbola Antara Perang dan Damai

On This Day

by Abimanyu Bimantoro

Abimanyu Bimantoro

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Tolstoy Cup dan Sepakbola Antara Perang dan Damai

Tolstoy Cup adalah sebuah pertandingan sepakbola yang dilaksanakan setiap tahun mempertemukan antara Jurusan Perdamaian (Peace Studies) di Universitas Bradford melawan Departemen Peperangan (War Studies) di Universitas King`s College. Pertandingan tunggal bertajuk Tolstoy Cup ini mulai diselenggarakan pada 1995. Sempat vakum lebih dari satu dekade, laga ini mulai kembali digelar pada 2007 dan terus berlanjut setiap tahunnya. Tetap mempertemukan dua kesebelasan itu.

Nama Tolstoy Cup diambil dari nama sastrawan terkenal Russia, Leo Nikolayevich Tolstoy, atau yang masyhur dengan Leo Tolstoy. Sastrawan yang lahir pada 9 September 1828 (hari ini, 9 September 2014, berarti 186 tahun kelahirannya) bukan hanya dianggap sebagai salah satu sastrawan terbesar Russia, tapi juga dunia. Dia tipikal pengarang yang bukan sekadar suntuk menulis, melainkan juga aktif melakukan tindakan-tindakan politik yang berpengaruh.

Sebagai seorang aktivis, Tolstoy dikenal sebagai salah seorang tokoh anarkis (paham yang percaya bahwa lembaga bernama negara adalah akar dan penyebab persoalan sosial, ekonomi dan politik, sehingga agenda anarkisme adalah meniadakan negara) yang berwibawa. Kediamannya di Yasnaya Polnaya, sekitar 200 km dari Moskow, ia gunakan untuk memperkenalkan gaya hidup egalitarian, intim dengan kehidupan para petani (dan itu terlihat jejaknya dalam karya-karyanya), dan mendirikan sekolah anak yang mengajarkan prinsip-prinsip perdamaian, nilai-nilai anarkis, keseteraan dan kesamaan dalam hak milik. Karena cemas akan pengaruh ajaran-ajarannya, polisi Tsar Rusia terus-menerus memberikan gangguan.

Di Yasnaya Polnaya inilah Tolstoy menghasilkan karya-karya sastra agung, salah dua di antaranya adalah novel Anna Karenina dan novel War and Peace. Novel terakhir itu, yang terbit pertama kali pada 1869 dengan ketebalan mencapai 1225 halaman, mengisahkan dengan demikian hidup, rinci sekaligus menggugah sepanjang invasi pasukan Prancis di bawah kepemimpinan Napoleon yang agresif itu. Dia mengisahkan dan menguraikan bagaimana perang mengubah bukan hanya tatanan sosial, tapi juga mentalitas rakyat Russia.

Novel War and Peace inilah yang menjadi inspirasi dari Tolstoy Cup. Dua kesebelasan yang bertanding, Jurusan Perdamaian Universitas Bradford dan Jurusan Peperangan di University King`s College juga terkait dengan judul War and Peace itu.

Jurusan Perdamaian Universitas Bradford berdiri pada tahun 1973. Jurusan Perdamaian di Bradford merupakan jurusan perdamaian terbesar yang ada di dunia. Tidak kurang 400 mahasiswa dari 40 negara belajar di jurusan ini. Sedangkan Jurusan Peperangan Universitas King`s College terkenal dengan pengajaran dan penelitiannya tentang peperangan dan konflik. Beberapa penelitian soal hubungan internasional dan politik pun dilakukan di jurusan ini.

Seluruh mahasiswa dari kedua jurusan tersebut berhak untuk mengikuti kejuaraan ini. Dari mulai mahasiswa tingkat sarjana, pascasarjana, maupun program doktoral. Latar belakang pemain yang pernah mengikuti pertandingan ini pun sangat beragam. Bahkan, mantan pemain tim nasional Angola, Jose Da Silva, pernah mengikuti pertandingan ini. Pertandingan ini pertama kali diadakan tahun 1995 namun pertandingan kedua baru dilaksanakan tahun 2007. Rivalitas antar kedua jurusan ini dianggap sebagai salah satu rivalitas antar universitas yang paling hebat di dunia.

Pada tahun 2007, pertandingan ini diadakan dua kali, di Bradford dan di London. Namun kemudian, sejak tahun 2008 hingga 2014 pertandingan hanya diadakan satu kali. Tempat penyelenggaraan pertandingan dilakukan bergantian setiap tahunnya antara di Bradford dan London.

Pertandingan pertama pada tahun 1995 berjalan tidak seimbang dengan kemenangan telak 15-0 bagi tim perdamaian. Namun pada tahun 2007 hingga kini, tim jurusan peperangan mulai bisa mengimbangi. Meski hanya bisa meraih kemenangan satu kali dari 7 pertandingan yang diadakan dari 2007 hingga 2014, pertandingan berlangsung ketat antara kedua jurusan ini.

Pertandingan di tahun 2007 dan 2008 bahkan harus dilaksanakan hingga babak adu tendangan penalti. Jurusan perdamaian berhasil memenangkan kedua adu penalti ini. Pertandingan terakhir yang diadakan pada bulan Mei lalu pun dimenangkan oleh tim dari jurusan perdamaian dengan skor 3-0.

Adam Baird, mahasiswa Phd jurusan perdamaian Universitas Bradford yang juga merupakan pemain sekaligus manajer tim di tahun 2007 mengatakan, "Semua orang gembira pada hari ini, kami membangun tradisi pertandingan antara perang dan perdamaian."

Pertandingan Tolstoy Cup ini jelas ingin menggemakan kembali pesan-pesan perdamaian yang menjadi gagasan inti dari novel War and Peace. Perang, bagi Tolstoy, adalah pengalaman yang mengerikan dan penting baginya, melalui War and Peace, memberi peringatan pada umat manusia tentang bahaya dari peperangan. Apalagi, demikian Tolstoy merasa, saat itu perang telah menjadi tak ubahnya hobi dan kesenangan.

Pada salah satu bagian novel War and Peace, Tolstoy kira-kira menulis begini: "Perang bukanlah sebuah kesantunan melainkan hal paling mengerikan dalam kehidupan dan kita mesti memahami hal itu, agar kita tidak bermain-main dengan peperangan. Kita harus bisa menerima bahwa peperangan sebagai kebutuhan yang tegas dan serius. ... (men)singkirkan kepalsuan (tentang perang) dan membiarkan perang biarlah menjadi perang, dan (jangan dianggap sebagai) permainan. Seperti sekarang, perang telah menjadi hobi favorit para pengangguran yang sembrono."

Bagian itu menjelaskan kecemasan Tolstoy terhadap perang yang sia-sia, perang yang percuma, perang yang digelar bukan karena alasan serius dan genting, melainkan diperlakukan sebagai keisengan seolah hobi dari para pemimpin yang sembrono. Mungkin seperti perang di Irak saat era Bush Jr., yang dilabeli perang melawan ancaman nuklir padahal tak terbukti Saddam Hussein mengembangkan senjata nuklir. Atau juga seperti kelakuan ISIS yang dengan seenaknya menghancurkan tempat ibadah berbagai agama.

Pertandingan Tolstoy Cup mengingatkan kembali akan pesan perdamaian yang melambari novel War and Peace. Tapi Tolstoy Cup juga bisa diperlakukan sebagai upaya untuk tidak terlalu menganggap kelewat serius sepakbola, semata agar sepakbola tak menjadi ajang peperangan yang lain, ajang yang bisa mematikan dan membunuh. Karena tak ada yang lebih berharga selain hidup dan kehidupan. Sebab hanya dengan itulah kita masih bisa menikmati indahnya permainan sepakbola.

Selamat ulang tahun, Leo!

Komentar