Menengok Nasib Timnas Indonesia Pada Asian Games 1962

Klasik

by Agung Putranto Wibowo

Agung Putranto Wibowo

a freelance journo. full-time researcher. bachelor of law

Menengok Nasib Timnas Indonesia Pada Asian Games 1962

Pelaksanaan Asian Games 2018 sudah di depan mata. Pada 18 Agustus nanti, Indonesia akan menggelar pesta olahraga terbesar se-Asia. Berdasarkan rilis resmi Indonesia Asian Games Organizing Committee (INASGOC), terdapat 45 negara yang akan berpartisipasi dan sebanyak 47 cabang olahraga akan dipertandingkan.

Dari sekian banyak cabang olahraga, sepakbola menjadi magnet bagi setiap gelaran Asian Games. Meski tidak masuk kalender FIFA, PSSI pun tetap memasang target tinggi pada ajang empat tahunan ini. Saat berkongres di ICE BSD, Tangerang, pada 13 Januari lalu, PSSI menargetkan skuat asuhan Luis Milla tersebut melaju hingga babak semifinal.

Hal itu mengundang ragam reaksi dari berbagai pihak. Ada yang optmistis karena Indonesia tampil di hadapan publik sendiri, tapi tak sedikit pula yang pesimistis karena lawan yang dihadapi Indonesia di level Asia adalah tim-tim kuat seperti Jepang, Korea Selatan, dan Arab Saudi.

Fakta bahwa Indonesia bertindak sebagai tuan rumah memang jadi faktor yang menguntungkan. Namun jika berkaca pada Asian Games 1962 lalu yang juga digelar di Indonesia, timnas Indonesia hanya berada di peringkat tiga klasemen babak penyisihan grup, sehingga gagal lolos sekaligus gagal memenuhi target yang dicanangkan pemerintahan Soekarno.

Ketika Motivasi Mengalahkan Situasi Politik dan Ekonomi

Jauh sebelum tahun 2018, Indonesia sudah pernah menjadi tuan rumah Asian Games pada tahun 1962. Kala itu usia Indonesia masih 17 tahun. Meski masih minim pengalaman, akan tetapi tekad untuk segera tampil pada gelanggang internasional selalu menggebu-gebu.

Pada tahun 1951, ketika Asian Games pertama kalinya diadakan di New Delhi, Indonesia sudah mengajukan diri sebagai tuan rumah untuk edisi kedua. Namun rencana itu ditolak dengan pertimbangan belum adanya stabilitas politik di Indonesia.

Alasan tersebut masuk akal, mengingat pasca Konferensi Meja Bundar (KMB) situasi politik dan keamanan Indonesia masih sering diwarnai pemberontakan oleh mereka yang tidak puas terhadap hasil KMB di Den Haag.

Pada 23 Januari 1950, di bawah komando Kapten Raymond Westerling, Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang beranggotakan bekas serdadu KNIL menyerang Bandung. Kemudian pada 5 April 1950, Andi Azis memimpin pemberontakan di wilayah Makassar, Sulawesi Selatan. Di wilayah lain, tepatnya bagian selatan Pulau Maluku, Dr. Soumokil memproklamirkan berdirinya Republik Maluku Selatan (RMS). Belum lagi ditambah pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) pimpinan Kartosuwiryo.

Kesimpulannya, menggelar pesta olahraga sekaligus menjamu tamu-tamu asing di tengah situasi genting, bukanlah keputusan bijak.

Pada 1955, Indonesia sukses menggelar Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Fakta itu cukup meningkatkan rasa percaya diri pemerintah untuk menyelenggarakan kegiatan internasional lain, termasuk Asian Games. Bahkan keseriusan dan komitmen Indonesia untuk dapat menjadi tuan rumah Asian Games diutarakan langsung oleh Bung Karno.

Saat diwawancarai George Karusz dari Neues Deutschland, beliau berkata: “Tidak boleh ada kesempatan dibiarkan lewat untuk menambah eratnya kerja sama internasional, baik bilateral maupun regional di segala lapangan (termasuk olahraga).”

Mimpi Bung Karno untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games baru tercapai pada 23 Mei 1958, tepatnya pada sidang Asian Games Federation (AGF). Kala itu, Jakarta unggul tipis dengan jumlah 22 suara dari ibukota Pakistan, Karachi, yang memperoleh 20 suara. Keunggulan tipis itu memperlihatkan bahwa masih ada keraguan yang menyelimuti para peserta AGF terhadap kesiapan Indonesia menjadi tuan rumah.

Maklum, pada saat itu Jakarta hanya memiliki stadion Ikada (Ikatan Atletik Djakarta) yang berkapasitas 15.000 penonton. Bahkan delegasi Indonesia yang dipimpin R. Maladi selaku Menteri Olahraga RI merasa tak yakin Jakarta bakal dipercaya AGF menjadi tuan rumah. Pasalnya, ibukota Jakarta belum memiliki fasilitas olahraga dan fasilitas umum yang memadai.

Anggaran Belanja Negara Indonesia pada dekade 1950-an masih mengalami defisit. Pasca perang kemerdekaan juga terjadi pertumbuhan jumlah penduduk yang melonjak tajam. Semakin banyak warga, tentu semakin banyak pula komoditas pangan yang harus tersedia agar mereka tidak kelaparan. Itulah mengapa Wakil Presiden, Mohammad Hatta, mengkritik ide Soekarno menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962.

Kebijakan itu sungguh tidak populer menurut Hatta, karena di tengah terpuruknya situasi ekonomi, pemerintah justru tetap bertekad menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah yang mana membutuhkan dana besar.

Adapun kritik itu tidak serta merta membuat Soekarno mengurungkan niatnya. Sedari merdeka, Bapak Proklamator itu sangat ingin Indonesia segera dikenal di kancah dunia. Menurut beliau, media yang tepat adalah melalui ajang olahraga. Asian Games akan jadi corong yang mengangkat harkat dan martabat bangsa. Tidak hanya di level Asia, tetapi juga di level internasional.

Konflik Internal, Timnas Terjungkal

Prestasi timnas Indonesia sebelum Asian Games 1962 sangat menjanjikan. Di bawah asuhan Tony Pogacnik, timnas berhasil melaju hingga babak semifinal Asian Games 1954 di Manila. Pelatih berkebangsaan Yugoslavia itu juga mengulang prestasi yang sama di Tokyo ketika Asian Games edisi ketiga tahun 1958.

Selain sukses di dua kejuaraan Asia, Indonesia juga tampil cemerlang pada Olimpiade 1956 di Melbourne. Maulwi Saelan dan kolega mengejutkan dunia dengan menahan imbang Uni Soviet dengan skor 0-0.

Bahkan pada 1960, dua tahun sebelum Asian Games edisi keempat digelar, timnas Indonesia berhasil menjuarai turnamen Merdeka Games di Kuala Lumpur, Malaysia. Hasil-hasil itu membuat pemerintah yakin dan memasang target emas dari cabang olahraga sepakbola.

Namun apa daya, target emas hanyalah mimpi. Timnas Indonesia gagal memaksimalkan keuntungan tampil di hadapan pendukung sendiri. Indonesia hanya mampu duduk di peringkat tiga dengan dua kali menang melawan Vietnam dan Fillipina dan sekali kalah oleh Malaysia.

Uniknya, timnas Vietnam maupun Malaysia lolos ke babak selanjutnya dengan total poin yang sama dengan Indonesia. Ketiga negara sama-sama meraih empat poin dari dua kali menang (dulu kemenangan masih diganjar dengan dua poin). Hanya, tuan rumah kalah selisih gol oleh Vietnam dan Malaysia yang lebih produktif dalam mencetak gol.

Banyak yang mengira pasukan Tony Pogacnik gagal memenuhi target karena konflik internal di tubuh PSSI. Dalam rangka Asian Games 1962, PSSI membentuk dua tim yang dilatih oleh Tony Pogacknik, yakni PSSI Banteng dan PSSI Garuda. PSSI Banteng terdiri dari pemain senior saat itu, seperti M. Zaelan, Djamiat Dalhar, dan Tan Liong Houw. Sedangkan tim Garuda diperkuat Omo, Anjik Ali Nurdin, dan Ipong Silalahi.

PSSI merencanakan berbagai uji tanding, di antaranya melawan Tim Nasional Yugoslavia. Timnas Yugoslavia saat itu cukup disegani karena prestasinya sebagai perempat finalis Piala Dunia dan peraih medali emas Olimpiade. Melawan tim dari daratan Eropa Timur itu, Indonesia berhasil menahan imbang 3-3. Namun setelah pertandingan, terdapat skandal yang mencoreng persepakbolaan nasional.

Ditemukan banyak uang di dalam asrama yang dicurigai sebagai hasil suap bandar judi kepada para pemain. Salah seorang pemain Indonesia mengaku, seperti yang tertulis dalam tulisan Amin Rahayu dalam buku Asian Games IV 1962, alasan mereka melakukan hal itu karena tidak cukupnya intensif yang diberikan PSSI untuk kebutuhan sehari-hari. Ketika itu, PSSI hanya memberikan Rp 25 per hari. Namun bersama bandar, para pemain menerima uang hingga Rp 25.000.

Selain melawan Yugoslavia, PSSI juga mengagendakan melawan kesebelasan Vietnam Selatan. Saat itu Indonesia ditundukkan tim tamu Vietnam dengan skor 1-2. Menurut laporan wartawan Majalah Merdeka edisi 1962, kekalahan itu sudah dapat diprediksi. PSSI bahkan saat itu digambarkan sedang dalam situasi kritis alias darurat.

Majalah Merdeka melaporkan bahwa pemain-pemain unggulan tidak dipasang bahkan tidak terlihat di bangku pemain cadangan. Selain itu, pelatihan dilakukan tertutup oleh PSSI. Keputusan sepihak PSSI itu membuat para jurnalis tidak dapat meliput agenda mereka dan memantau perkembangan para pemain.

56 tahun sudah berlalu. Sialnya, apa yang terjadi dengan timnas Indonesia angkatan ‘62 juga mungkin terjadi dengan anak-anak asuh Luis Milla pada Asian Games 2018 nanti. Cutinya Ketua Umum PSSI jelang Asian Games, prestasi SEA Games 2017 lalu yang tidak sesuai target, dan penyelenggaraan liga yang masih belum jelas, adalah faktor-faktor yang dapat menghambat prestasi.

Kendati demikian, sukses menembus semifinal bukanlah satu-satunya prestasi Indonesia yang harus jadi patokan. Kompaknya para suporter, tidak merusak sarana dan prasarana, menunjukkan rasa hormat ketika lagu kebangsaan negara lain dikumandangkan, dan tertib selama ajang Asian Games 2018 nanti mungkin akan jadi pencapaian yang saat ini paling mungkin untuk diraih.

foto: asiangames2018.id

Komentar