Merunut Sejarah Penyelenggaraan Piala Konfederasi

Klasik

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball | plus Supporter

Merunut Sejarah Penyelenggaraan Piala Konfederasi

Piala Konfederasi 2017 tak lama lagi akan bergulir. Turnamen sepakbola antar negara yang menjadi ajang pemanasan Piala Dunia itu akan berlangsung dari 17 Juni hingga 2 Juli. Piala Konfederasi sesuai dengan namanya, merupakan kejuaraan yang digagas untuk mempertemukan para juara dari berbagai konfederasi yang antara lain UEFA (Eropa), CONMEBOL (Amerika Selatan), CONCACAF (Amerika Utara, tengah, dan Kepulauan Karibia), CAF (Afrika), AFC (Asia), OFC (Oseania).

Konsep Piala Konfederasi sebenarnya sangat prestisius, karena para juara dari berbagai penjuru dunia saling bertarung di dalamnya. Namun hal tersebut ternyata tak menjadikan pamor kejuaraan yang kali pertama digelar pada tahun 1992 itu lebih baik dari Piala Dunia. Selain hanya sekadar pemanasan, beberapa kesebelasan tak menurunkan skuat terbaik seperti Jerman saat ini, turnamen empat tahunan ini juga dimaksudkan untuk melihat sejauh mana kesiapan tuan rumah Piala Dunia.

Pada tahun 2017, Piala Konfederasi memasuki edisi ke-10 dan bertempat di Rusia. Delapan tim ikut ambil bagian yang di antaranya adalah Rusia sebagai tuan rumah, Jerman selaku juara Piala Dunia 2014, Portugal juara Piala Eropa 2016, Cile juara Copa America 2015, Meksiko juara Piala Emas CONCACAF 2015, Australia juara Piala Asia 2015, Selandia Baru Juara Piala Oseania 2016, dan Kamerun Juara Piala Afrika 2017.

Merunut sejarahnya, meski baru bergulir pada tahun 1992 silam, namun inisiasi bergulirnya Piala Konfederasi sebenarnya sudah ada sejak tahun 1980. Kejuaraan Mundialito di Uruguay menjadi inspirasi utama terselenggaranya Piala Konfederasi.

Hal tersebut dikarenakan Kejuaraan Mundialito memiliki konsep yang tak jauh berbeda dengan Piala Konfederasi, yaitu sama-sama mempertemukan para juara dalam satu turnamen. Bedanya Piala Konfederasi mempertemukan juara dari seluruh turnamen di berbagai benua, sementara Mundialito 1980 mempertemukan enam juara Piala Dunia dalam satu turnamen.

Pada tahun 1992, embrio kelahiran Piala Konfederasi pun muncul dengan Piala Raja Fahd di Arab Saudi sebagai tonggak awalnya. Kejuaraan tersebut kali pertama digagas oleh putra mahkota Arab Saudi, Sultan bin Fahd Abdulaziz Al Saud, yang ingin mendedikasikan kejuaraan itu untuk sang Ayah Raja Fahd, oleh karena itu kejuaraan diberi tajuk Piala Raja Fahd.

Argentina keluar sebagai juara usai menundukkan tuan rumah Arab Saudi 3-1. Untuk kali kedua kejuaraan kembali digelar pada tahun 1995, atau tepat tiga tahun setelah penyelenggaraan pertama. Dalam edisi kedua itu, Denmark keluar sebagai juara setelah mengalahkan Argentina 2-0 di partai final.

Saat turnamen akan memasuki edisi ke-3, secara resmi FIFA menjadi pengelola turnamen tersebut. Piala Raja Fahd kemudian diganti menjadi Piala Konfederasi. Meski sudah berpindah operator, Arab Saudi masih dipercaya untuk untuk menjadi tuan rumah gelaran yang kala itu masih rutin digelar dua tahun sekali. Dalam penyelenggaraan pertama dengan nama Piala Konfederasi, Brasil keluar sebagai juara setelah menundukkan Australia enam gol tanpa balas.

Pada tahun 1999, Piala Konfederasi kemudian beralih ke Meksiko. Tuan rumah berhasil menjadi juara setelah mengalahkan Brasil dengan skor 4-3. Kabarnya laga tersebut dikenal sebagai partai final yang dramatis. Pada tahun 2001, FIFA kemudian menjadikan Piala Konfederasi sebagai ajang melihat kesiapan tuan rumah Piala Dunia, yang akan digelar setahun kemudian.

Dari Aksi Boikot Hingga Terciptanya Final Paling Getir

Penyelenggaraan Piala Konfederasi bukan tanpa cela, banyak yang memprotes penyelenggaraan tersebut karena waktunya tidak sesuai dengan waktu pemulihan kondisi fisik pemain setelah menjalani musim yang panjang di kompetisi. Belum lagi selama dua tahun sekali, kesebelasan asal Eropa dipadatkan dengan jadwal Piala Dunia dan Piala Eropa, ditambah dengan Piala Konfederasi maka waktu istirahat mereka sangatlah minim.

Akibat hal tersebut Jerman bahkan pernah dua kali menolak berpartisipasi di Piala Konfederasi tahun 1997 dan 2003. Prancis juga pernah memboikot di penyelenggaraan tahun 1999 karena alasan yang sama. FIFA kemudian mengalah dan sejak tahun 2005 hingga saat ini, FIFA menggelar Piala Konfederasi dalam kurun waktu empat tahun sekali.

Selain aksi boikot yang pernah dilakukan Jerman dan Prancis, beberapa kejadian pun pernah mengiringi penyelenggaraan Piala Konfederasi. Paling diingat tentunya di perhelatan tahun 2003. Saat itu gelandang Kamerun Marc-Vivien Foe kolaps di lapangan saat partai semifinal melawan Kolombia berlangsung. Pemain Manchester City itu sebenarnya sudah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan lebih lanjut, sayang nyawanya tak tertolong.

Kamerun yang saat itu berhasil menembus babak final kemudian sulit berkonsentrasi, begitu pula dengan para penggawa Prancis yang juga merasakan getir yang sama dengan para pemain Kamerun. Bisa dibilang itu adalah final paling ironis yang pernah terjadi di Piala Konfederasi, lebih dramatis dari kemenangan Meksiko atas Brasil di final tahun 1999.

Sebab saat Prancis berhasil menangkan pertandingan dan memastikan diri sebagai juara, mereka juga turut mengajak para pemain Kamerun untuk tampil bersama di atas podium. Hal tersebut dilakukan sebagai rasa simpati mereka kepada para pemain Kamerun yang baru saja kehilangan teman satu timnya.

Kutukan Juara Piala Konfederasi di Piala Dunia

Sama seperti kejuaraan atau kompetisi pada umumnya, gelaran Piala Konfederasi juga diselimuti oleh mitos-mitos yang berkembang. Sebagai ajang pemanasan sebelum Piala Dunia, mitos yang ada di Piala Konfederasi berhubungan dengan apa yang akan terjadi nanti di pesta sepakbola terbesar dunia itu.

Paling mutakhir adalah mitos yang menyebutkan bahwa juara Piala Konfederasi tidak akan juara di Piala Dunia. Nyatanya itu bukan sekadar isapan jempol semata. Sejak tahun 1997, atau saat turnamen tersebut sudah menggunakan nama ‘Piala Konfederasi’. para juara di Piala Konfederasi selalu gagal mengangkat trofi Jules Rimet di Piala Dunia.

Brasil menjadi korban pertama kutukan tersebut saat mereka berhasil meraih gelar Piala Konfederasi pada tahun 1997, mereka justru gagal meraih gelar juara di Piala Dunia 1998. Saat itu, Brasil takluk dari Prancis dengan skor 3-0 di partai puncak.

Kutukan tersebut kemudian berlanjut empat tahun kemudian, Prancis yang menjadi juara Piala Konfederasi tahun 2001, harus menerima kenyataan pahit saat mereka berlaga di Piala Dunia 2002. Jangankan melaju ke babak final, menembus fase gugur saja mereka tak mampu. Piala Dunia yang diselenggarakan di Korea dan Jepang itu kemudian dimenangkan oleh Brasil yang mengalahkan Jerman di partai final.

Hal yang sama terjadi saat Piala Konfederasi digelar di Jerman (2005) dan Afrika Selatan (2009). Dalam dua gelaran tersebut Brasil menjadi juara secara berturut-turut. Namun ketika Piala Dunia 2006 di Jerman dan 2010 di Afrika Selatan, Brasil justru babak belur. Gelar juara dimenangkan oleh Italia (2006) dan Spanyol (2010).

Pada tahun 2014, lagi-lagi Brasil tersungkur di Piala Dunia. Ironis, karena saat itu mereka berstatus sebagai tuan rumah. Langkah Neymar Jr. dan kawan-kawan terhenti di babak semifinal. Saat itu Jerman yang menjadi juara Piala Dunia 2014 membantai mereka dengan skor 7-1. Satu tahun sebelumnya, Brasil menjadi juara Piala Konfederasi setelah mengalahkan Spanyol 3-0.

Tentunya fakta tersebut menjadi sangat tidak mengenakkan bagi para juara di Piala Konfederasi. Pertanyaannya, apakah kutukan tersebut akan kembali berlanjut, atau justru terhenti di Rusia?

Komentar