Legenda Seorang Suporter yang Sangat Cerewet

Klasik

by Ammar Mildandaru Pratama 58823 Pilihan

Ammar Mildandaru Pratama

mildandaru@gmail.com

Legenda Seorang Suporter yang Sangat Cerewet

Ada berbagai macam suporter yang datang ke stadion, dari sekadar piknik, hingga yang rela melakukan apapun agar timnya menang. Ada yang mendukung total selama 90 menit dengan nyanyian tiada henti, ada juga yang tak segan mencaci maki jika kesebelasannya bermain buruk.

Pada 1994, ada cerita menarik dari Inggris tentang suporter yang disuruh main oleh manajer dari tepi lapangan. Apa pasal? Sang manajer kesal karena suporter tersebut terus mencaci maki sepanjang pertandingan. Cerita tersebut bukan dari klub amatir atau divisi terbawah Liga Inggris, tetapi dari West Ham dan manajernya saat itu, Harry Redknapp.

Jangan menyangka suporter tadi tak bisa berbuat banyak di atas lapangan, karena Steve Davies, nama suporter tersebut, mencetak gol! Cerita suporter yang disuruh main dan mencetak gol tersebut akhirnya menjadi buah bibir di Inggris, sayang tidak ada video yang mendokumentasikannya.

Majalah Howler pernah mengulasnya secara lengkap termasuk wawancara dengan Steve Davies. Tulisan tersebut kemudian dipublikasikan ulang oleh The Guardian pada September 2013. Berikut ringkasan ceritanya:

Steve Davies bukan suporter West Ham biasa, karena ia sejak kecil tinggal di Rushden yang berjarak 150 KM dari Upton Park markas The Hammers. Sejak usia lima tahun, Davies sudah berbeda dengan teman masa kecilnya yang lebih banyak menyukai kesebelasan lokal daerah tersebut. Alasannya menyukai West Ham tentu bukan karena menonton film Green Street Holigans yang belum rilis saat itu. Ia terpikat dengan permainannya saat menonton Final Piala FA antara West Ham vs Fulham pada 1975.

Seperti halnya bocah lain, Steve Davies juga bermimpi untuk membela West Ham jika dewasa kelak. Berbagai laga ia tonton langsung ke stadion setiap ada kesempatan. Salah satunya adalah partai Final Piala FA 1980. Ketika itu, West Ham berhasil menjadi juara dengan mengalahkan Arsenal lewat gol tunggal Trevor Brooking, pemain idolanya.

Menariknya lagi empat bulan setelahnya ia mengalami momen yang sebenarnya biasa di Inggris, tetapi menjadi istimewa baginya. Davies menumpang kereta ke London, tentu saja untuk menonton West Ham. Setibanya di stadion dan duduk di tribun utara, bola mengarah kepadanya dan langsung menangkap bola tersebut.

Trevor Brooking kemudian memberi tanda agar ia melemparkan bola karena akan melakukan tendangan sudut. Bukannya dilempar, Davies malah mencengkeram bolanya berharap sang idola mendekat. Benar saja, Trevor mendekat tapi tak ada perbincangan di sana. Meski begitu ia masih mengingatnya menjadi momen yang luar biasa.

Petualangan demi petualangan menjadi suporter West Ham ia lalui hingga beranjak dewasa. Termasuk mendukung partai tandang, tidur di stasiun, hingga hooliganism. Sedangkan mimpinya untuk bermain di West Ham tak pernah putus, meski perlahan menguap. Ia memang bermain sepakbola secara rutin, tetapi hanya di level Sunday League (liga amatir)

Mimpinya untuk bermain di West Ham semakin terlupakan ketika ia sudah memiliki 2 anak, yang salah satunya diberi nama Samuel Brooking mengadopsi pemain idolanya. Untuk menghidupi keluarganya, Steve bekerja sebagai kurir, memanfaatkan pengetahuannya tentang berbagai wilayah Inggris selama menjadi suporter.

Sampai kemudian, sahabatnya mengajak Steve untuk menonton laga pra-musim West Ham menghadapi Oxford. Bersama istri masing-masing, mereka berempat pergi menonton pertandingan dengan mengendarai mobil.

Redknapp Davies2 Redknapp mengeluarkan instruksi kepada Davies. Sumber foto: Steve Bacon / TheGuardian


Halaman selanjutnya: Mimpi Steve Davies menjadi kenyataan

Komentar