Meromantisasi El Clasico Itu Tak Perlu

Editorial

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Penyunting dan penulis. Penanggung jawab rubrik Cerita, PanditSharing, dan Backpass.

Meromantisasi El Clasico Itu Tak Perlu

Jika Anda beranggapan bahwa El Clásico terbaru akan istimewa, ada baiknya Anda turunkan sedikit harapan Anda. Benar, El Clásico terbaru akan menjadi El Clásico pertama sejak Katalunya menggelar referendum kemerdekaan dari Spanyol; tapi kepentingan pertandingan ini, seperti yang sudah-sudah, hanya soal gengsi di lapangan.

El Clásico La Liga akan tetap sama: pemenang mendapat tiga poin, masing-masing tim mendapat satu poin jika pertandingan berhasil imbang, dan tim yang kalah mendapat malu.

Politik hanya bumbu penguat untuk menjual pertandingan besar antara Real Madrid dan Barcelona. Sedari dulu sudah demikian. Kali ini tidak berbeda.

Dalam bukunya yang berjudul Real Madrid and Barcelona: The Making of Rivalry, Elliot Turner mengungkap bahwa citra El Clásico sebagai pertandingan panas, keras, dan sengit adalah sesuatu yang dibentuk oleh media. Dengan mudah anggapan tersebut ditanamkan di dalam kepala jutaan manusia lewat televisi. Hal ini sedikit banyak menjelaskan mengapa El Clásico menjadi sesuatu yang istimewa bahkan bagi orang-orang yang tidak mendukung Barcelona ataupun Madrid.

Hasil riset Turner didukung oleh Franklin Foer dan Simon Kuper. Dalam bukunya, How Soccer Explains the World, Foer yang secara terang-terangan mengaku sebagai pendukung Barcelona mempertanyakan sikap (para pendukung) kesebelasannya sendiri.

Di masa lalu, kebencian orang-orang Katalunya terhadap mereka yang berasal dari Madrid dapat dimengerti. Jenderal Franco memang begitu kejam menindas orang-orang Katalunya. Tapi Franco sudah lama tiada. Begitu juga penindasannya. Foer merasa bahwa kebencian para pendukung Barcelona terhadap orang-orang Madrid adalah sesuatu yang abstrak.

Sementara itu lewat buku Football Against the Enemy, Kuper berkisah bagaimana El Clásico, oleh para pendukung Barcelona, dijadikan kendaraan untuk terus mengulang cerita kelam era Franco. Orang-orang Barcelona mencari alasan untuk terus merasa tertindas saat mereka sudah hidup bebas.

El Real sendiri tidak mempermasalahkan tindakan para pendukung Barcelona. Mereka malah mendukung hal-hal tersebut agar citra panas, keras, dan sengit El Clásico tetap terjaga. Semua demi keuntungan besar dari hak siar televisi. Madrid, Barcelona, dan media telah bekerja sama untuk mengontrol jalan pikiran umat manusia.

Meromantisasi perjuangan Katalunya lewat sepakbola itu tak perlulah. Toh, Gerard Pique yang paling emosional soal referendum Katalunya (di antara para pemain Barcelona; di luar itu, Pep Guardiola tak kalah vokal) saja tetap menjalankan pekerjaannya di hari referendum.

Setelah memberikan suaranya dalam pemungutan suara, Pique tetap tampil membela Barcelona dalam pertandingan melawan Las Palmas. Ia sempat dengan emosional berkata bersedia mundur dari tim nasional Spanyol, tapi toh Pique tetap membela La Roja dan hubungannya dengan pemain-pemain Madrid baik-baik saja.

Perjuangan kelas, perjuangan keadilan, dan perjuangan-perjuangan lain lewat sepakbola bukannya tidak ada. Yang seperti itu tetap harus kita hargai. Tapi El Clasico bukan yang seperti itu. Kita cukup menikmatinya sebagai pertandingan antara dua kesebelasan yang kualitasnya sangat, sangat baik. Itu saja cukup, tak perlu diromantisasi.

Komentar