Tak Ada Anak Emas, Semua Klub Liga 1 Adalah Korban

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi 29213

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Tak Ada Anak Emas, Semua Klub Liga 1 Adalah Korban

Halaman ketiga

Tidak hanya Dado, Indra Kahfi pun demikian. Ia dijatuhi hukuman dua kali bertanding (sesuai NLB, meski dalam laman resmi tidak disebutkan dua kali). Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, Indra Kahfi sah di laga melawan Madura United karena dalam putusan Komdis ia harus absen pada laga melawan Mitra Kukar dan Persija. Tapi sebelum lawan Persija, Bhayangkara terlebih dahulu menghadapi Madura.

Mungkinkah hukuman larangan bertanding Dado di laga melawan Borneo dan Indra di laga melawan Madura tidak berlaku karena laga tersebut merupakan laga tunda? Padahal menurut Kode Disiplin Pasal 15 ayat 4, di situ tertulis, "Sanksi larangan pertandingan tersebut harus ditetapkan secara tegas dan pasti dalam bentuk jumlah larangan mengikuti pertandingan, hari maupun jumlah bulan. Kecuali hal–hal khusus lainnya, sanksi larangan ikut serta dalam suatu pertandingan tidak boleh melebihi 24 Pertandingan atau 24 bulan". Tak disebut hal khusus seperti apa yang dimaksud PSSI.

Ketiga, tidak hanya Dado dan Sissoko, Dandi Maulana Abdulhak pemain Barito juga sebenarnya berstatus pemain tidak sah di laga melawan PSM Makassar. Pada laga Barito vs PSM Makassar yang digelar 29 Oktober (skor akhir 2-2), Dandi bermain selama 90 menit. Padahal dikatakan sumber kami, Dandi harusnya absen di laga melawan PSM, Madura dan Barito. Dandi hanya absen di laga vs Madura dan Barito. Kenapa laga melawan PSM, Dandi bermain 90 menit?

Jika hukuman yang didapat Mitra Kukar karena memainkan Sissoko diberikan juga pada Barito yang memainkan Dandi vs PSM, maka seharusnya PSM juga mendapatkan tiga poin dari Komdis. Dan jika ini diberlakukan, mungkin PSM tidak akan menyerang habis-habisan (dan `dibunuh` oleh gol Stefano Lilipaly di menit akhir) saat melawan Bali United (laga PSM setelah melawan Barito) karena hasil imbang sudah cukup menguntungkan PSM ketika itu.

Kami sempat menanyakan hal ini pada pihak PSM, mereka tak mengetahui hal ini. Meskipun begitu, mereka tidak akan memperpanjang masalah yang ada dan lebih memilih move on, berharap musim berikutnya PT Liga lebih baik. "Pak Appi [manajer PSM] sudah tanya (ke Komdis). Tapi beliau sudah tidak mau lagi mikir ke belakang. Beliau cuma berharap liga memperbaiki diri dan tidak ada lagi kesalahan-kesalahan seperti ini di musim depan," kata media officer PSM, Andi Widya Syadzwina.

Wina sendiri sebenarnya berbagi cerita keanehan lain, khususnya di laga PSM Makassar vs Bali United. Dalam Daftar Susunan Pemain (DSP), di situ tertera wasit utama adalah Murzabekov Eldos. Namun saat pertandingan berlangsung, yang memimpin pertandingan justru Piriev Kiemuddin, yang di DSP tertulis sebagai asisten wasit 2. Hal ini juga diungkapkan Wina pada media Makassar.

Pihak PSM baru menyadari hal ini seusai pertandingan. Awalnya mereka hendak mempertanyakan perkelahian dua pemain Bali United, Sylvano Comvalius dan Stefano Lilipaly, yang tidak diberi kartu merah (di Inggris, dua pemain Newcastle pada 2005, Lee Bowyer dan Kieron Dyer, langsung dikartu merah karena berkelahi meski rekan setim). Dari situlah PSM menemukan kejanggalan bahwa ada perubahan wasit yang tidak diketahui oleh mereka dan sudah mengajukan surat protes.

Meskipun begitu, Piriev yang merupakan wasit di laga Mitra Kukar vs Bhayangkara FC ini memang berstatus wasit utama di Liga 1, dan Murzabekov berstatus asisten wasit (belum pernah menjadi wasit utama di Liga 1). Hanya saja rekam jejak Piriev (dan juga wasit asal Kirgistan lainnya) perlu dipertanyakan mengingat tidak ada wasit yang berlisensi FIFA atas nama mereka. Bahkan ketika rekam jejak Shaun Evans bisa dideteksi dengan mudah di transfermarkt atau soccerway, tidak dengan wasit asal Kirgistan; tidak ada di transfermarkt dan di soccerway tercatat sebagai warga negara Indonesia.

Data wasit di laman resmi FIFA, tidak ada satu pun wasit berlisensi FIFA dari Kirgistan

Profil Piriev di Soccerway, baru memimpin tiga pertandingan dimulai laga Mitra Kukar vs Bhayangkara dan berkewarganegaraan Indonesia

Oh iya, entah ada kaitannya atau tidak, pertandingan antara Mitra Kukar vs Bhayangkara yang dipimpin Piriev, yang berakhir 1-1 tapi menjadi 0-3 untuk Bhayangkara lewat putusan Komdis, sudah dihapus dari laman resmi Liga 1.

***

Sangat banyak keanehan yang terjadi di Liga 1 ini. Tapi saya juga yakin, para pemain dan pelatih di lapangan yang didukung oleh para suporter mereka, berjuang sebenar-benarnya, selayak-layaknya sebuah permainan sepakbola yang melibatkan harga diri di setiap tetes keringatnya. Soal keanehan, itu merupakan kesalahan-kesalahan dan miss komunikasi di luar lapangan.

Oleh karenanya, para suporter baiknya tidak saling menyalahkan. Apa yang saya ungkapkan di atas mungkin hanya sedikit contoh keanehan, yang terjadi di akhir musim; belum menelusuri masalah-masalah di Liga 2 atau setiap SK Komdis, yang tidak dapat dipublikasikan itu, yang sudah beredar sepanjang musim ini, yang bisa jadi masih banyak kejanggalan lain dan bisa saja setiap klub Liga 1 mendapatkan keuntungan (sekaligus kerugian) dari keanehan tersebut.

Para suporter jangan mau termakan provokasi sehingga saling menjatuhkan suporter atau klub lain. Karena seperti yang dituliskan di atas, adanya masalah-masalah tersebut buah dari keputusan-keputusan Komdis PSSI dan PT Liga yang memiliki celah kesalahan, tidak jelas dan tidak adil.

Keanehan di Liga 1 ini tidak hanya dirasakan oleh kita sebagai penikmat sepakbola Indonesia saja. Para pelaku di lapangan pun merasakannya, khususnya mereka yang merasa jadi korban. Manajer Madura United, Haruna Soemitro, sempat menyebut Liga 1 ini sebagai "Liga Gojekan" yang dalam bahasa Jawa berarti liga guyonan/bercandaan (sebelum akhirnya "berdamai" dengan pihak Bhayangkara).

Di tempat lain, kapten PSM Makassar, Hamka Hamzah, juga merasakan bahwa ada yang tidak beres di akhir musim. Pihak Persipura pun meminta ke depannya aturan-aturan bisa lebih jelas agar tak ada lagi klub yang jadi korban.

Simak juga penuturan penyerang Bali United, Sylvano Comvalius, lewat akun Instagramnya. Bahkan jika memerhatikan IG Story penyerang asal Belanda ini selama pertandingan Madura United vs Bhayangkara FF yang dihujani kartu merah untuk Madura United, saking kesalnya, ia sempat menulis "One more red card i swim in the sea". Puncaknya tentu dengan unggahannya usai laga berakhir 3-1 untuk kemenangan Bhayangkara FC.

Maka tak ada "Anak Emas" di Liga 1 ini. Sekali lagi saya tekankan, semua klub adalah korban, tak terkecuali. Persib = Anak Emas? Selain golnya di laga melawan Persija Jakarta yang seharusnya sah, di pertandingan lain, Persib cukup sering dirugikan wasit. Silakan hitung juga poin Persib saat dipimpin oleh wasit asing. Juga, kalau Persib adalah "Anak Emas", kenapa mereka berada di papan bawah Liga 1?

Bhayangkara FC, meski juara, juga menjadi korban. Buktinya, permainan impresif mereka, yang sebenarnya mereka cukup layak juara, menjadi terasa hambar karena keanehan-keanehan yang terjadi di pengujung Liga 1 2017 ini. Sekarang kita hanya bisa berharap, secepatnya, tak ada lagi keanehan yang memakan korban klub-klub Liga 1 di masa yang akan datang...

Komentar