Obituari Sang Legenda Lamongan: Gagal Keluar dari Momen Terburuk Sampai Akhir Hayatnya

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Obituari Sang Legenda Lamongan: Gagal Keluar dari Momen Terburuk Sampai Akhir Hayatnya

Choirul Huda menghabiskan seluruh karier sepakbolanya di Lamongan. Dari 38 tahun masa hidupnya, 18 tahun ia berseragam Persela Lamongan. Bukan tanpa alasan ia menjadi one-club man, yang setia hanya pada Persela. Ia ingin membawa Persela juara liga. Hanya saja dari serangkaian lika-liku perjalanan kariernya, ia gagal memenuhi ambisinya, hingga ia menghembuskan nafas terakhir pada Minggu (15/10/2017).

***

Hubungan antara Choirul Huda dan sepakbola tampaknya memang tidak romantis sejak dulu. Ia bukan lah seorang pemain yang memulai kariernya di Sekolah Sepak Bola (SSB). Keluarganya yang bukan dari keluarga berada membuatnya menjalani masa muda seperti pemuda kebanyakan, yaitu bermain dan bersekolah.

Tapi Huda sangat mencintai sepakbola. Karena itu ketika SMA, tempat bermainnya adalah Stadion Surajaya. Di Surajaya tentu Huda bisa bermain sepakbola. Di Surajaya juga ia menemukan jalan untuk berkarier sebagai pesepakbola. Karena saat ia bermain dengan teman-temannya lah tawaran untuk berkarier di sepakbola terbuka.

"Dulu saya gak SSB. Waktu SMA tinggal main di Stadion [Surajaya], bisa. Semua orang bisa masuk, sekarang lain. Makanya kita selalu main, taruhan antar kelas. Pas SMA sama temen-temen bagus, dilihat sama pelatih divisi 2 regional pas pertandingan antar kelas. Saya sama temen-temen diajak latihan sama pelatih itu, kelihatan ada potensi," ujar Huda saat kami wawancara pada Juli silam.

Potensi Huda sebagai penjaga gawang sudah terlihat sejak SMA. Walau begitu, awalnya ia bukan seorang penjaga gawang, melainkan seorang penyerang. Temannya-lah yang menyarankannya untuk menjadi kiper karena postur Huda yang terbilang tinggi untuk ukuran anak SMA saat itu.

"Aslinya bukan GK (goalkeeper). Untuk pertama saya ini penyerang, ingin jadi penyerang. Kemudian temen saya bilang, `Kamu gak cocok jadi penyerang, kamu tinggi`. Dari situ saya disuruh jadi kiper."

Posisi kiper inilah yang membuatnya direkrut oleh seorang pelatih yang sedang mempersiapkan tim untuk turnamen antar kabupaten di Lamongan. Dari turnamen antar kabupaten di Lamongan itu, pemain kelahiran 2 Juni 1979 ini bisa bergabung ke Persela Lamongan junior, sampai akhirnya pada 1999 dipromosikan ke Persela senior.

Huda lantas menjadi bagian dari sejarah Persela yang berjuang dari divisi dua liga Indonesia sampai divisi utama bahkan sampai Persela tetap eksis hingga saat ini. Tidak mudah juga Huda bisa tetap eksis di Persela, apalagi di tiga tahun pertama ia hanya menjadi kiper ketiga, sampai akhirnya ia menjalani debut yang tak terduga pada 2002.

"Tahun 2000 saya masih kiper ketiga, saya masih muda banget (21 tahun). Tahun 2002 masuk divisi 1, mau ke divisi utama. Dulu kiper Persela ada tiga, Bambang H.S., Abdurahman, dan saya. Bambang kemasukan, diganti Abdurahman ini. Ternyata Abdurahman ini mainnya jelek, baru saya main. Jadi di pertandingan itu pelatih dua kali ganti kiper, itu divisi satu lawan Persitara," kenang Huda.

Saat itu Persela dilatih oleh Mustaqim. Setelah tampil melawan Persitara, Huda mulai banyak mendapatkan kesempatan bermain dari Mustaqim. Apalagi Bambang H.S. seringkali tampil kurang maksimal jika Persela bermain malam hari. Maka saat itu, untuk pertandingan malam hari Persela sering mengandalkan Huda.

"Bambang H.S., mentor Choirul Huda," ujar salah satu akun Persela di Facebook, Persela Gress News. "Bambang H.S. kalau main malam selalu diganti Huda karena matanya bermasalah. Tapi kalau main sore, penampilan Bambang bak Singa Gunung."

Meski Mustaqim menjadi pelatih yang memberikan kesempatan bermain yang banyak di awal kariernya, Huda sendiri lebih menaruh respek besar pada Miroslav Janu dan Herman Kadiaman. Menurutnya, dua pelatih itulah yang paling berpengaruh besar pada kariernya sehingga ia bisa bertahan lama di Persela.

"Pelatih yang paling memberikan pengaruh terbaik itu dulu ada pelatih asing, Miroslav Janu. Itu bagus. Miroslav Janu punya disiplin tinggi, selalu bisa bikin pemain kerja keras, dia gak mau lihat pemain males," ujar Huda. "Kalau pelatih kiper, Herman Kadiaman. Pelatih kiper mungkin banyak yang bagus. Tapi Kadiaman itu yang bikin saya bisa masuk timnas."

Saat bersama Janu, Persela memang menjadi salah satu kesebelasan yang diperhitungkan pada Indonesia Super League 2011/2012. Di akhir klasemen, yang dijuarai oleh Sriwijaya FC, kesebelasan berjuluk "Laskar Joko Tingkir" tersebut menempati posisi keempat, di bawah Persipura Jayapura dan Persiwa Wamena. Persela pun bisa dibilang salah satu tim dengan pertahanan terbaik, di mana mereka hanya kebobolan 43 gol, tersedikit kelima.

Miroslav Janu saat melatih Persela (sumber: sidomi.com)

Pada saat itu juga Huda mengalami momen terbaik dalam kariernya. Dari lebih 500 pertandingan yang sudah ia jalani dalam 18 tahun kariernya, pertandingan melawan Persisam Samarinda pada musim tersebut menjadi pertandingan yang paling ia ingat. Ketika itu Persela digempur habis-habisan, tapi berkat penyelamatan-penyelamatan gemilang yang ia lakukan, Persela bisa menang 1-0.

"Momen terbaik saya bawa Persela juara Piala Jatim sampai enam kali. Tapi selain itu waktu main di Borneo, itu banyak sekali saya saves. Itu waktu zamannya Janu, lawan Persisam Samarinda, masih ada "El Loco" Gonzalez di sana. Persela masih ada Gustavo Lopes... Mario Costas.... Kita menang 1-0 tapi itu kita diserang ibaratnya dari sore sampai malam. Tapi saya banyak sekali saves, alhamdulillah menang."

"Itu Persela lagi bagus-bagusnya. Persela punya bek yang menurut saya terbaik, Fabiano Beltrame. Kelebihan dia sliding tackle, heading juga bagus, postur juga bagus," sambungnya.

Fabiano sendiri memiliki hubungan yang baik dengan Huda. Bahkan menurutnya, seperti yang ia ungkapkan pada Goal, kariernya bisa berjalan baik di Indonesia sampai saat ini tak lepas dari bantuan Huda. Fabiano memang lima musim bekerja sama dengan Huda di lini pertahanan Persela walau dalam rentan waktu yang berbeda.

"Dia teman baik saya. Kami bekerja sama hampir lima tahun. Dia membantu saya untuk bisa meraih sukses saat berada di Persela," kata Fabiano Beltrame yang kini membela Madura United. "Huda juga yang memilih saya sebagai kapten tim Persela waktu itu. Dia contoh yang baik sebagai pemain profesional, hanya Huda yang punya loyalitas untuk bermain bersama satu tim saja, Persela."

Mengenai loyalitasnya pada Persela memang tak perlu diragukan lagi. Padahal tawaran untuk pindah selalu berdatangan. Tapi Huda selalu memilih bertahan dan ingin terus menjadi bagian dari Persela, hingga akhirnya pemerintah Lamongan memberikan penghargaan atas jasanya.

"Dari dulu itu saya banyak tawaran (pindah), banyak sekali. Pas awal-awal di divisi utama, laku-lakunya saya-lah. Dulu itu Persik Kediri-nya Iwan Budianto yang paling nomor 1 pengen saya, Persebaya juga. Tapi tetep saya pengen di Lamongan," tutur Choirul.

"Dulu itu ada pikiran untuk keluar. Tapi mungkin momennya selalu gak bagus. Saya sebenarnya gak harus di sini terus (di Persela), tapi di sini bagus, ngasih pekerjaan (PNS). Di situ saya tambah yakin dan tambah yakin buat bertahan di Persela. Di sini juga kebersamaan dan kekeluargaannya bagus, yang bikin saya bisa betah."

Alasan Huda untuk hengkang, jika ia ingin, sebenarnya banyak. Selain karena ia diminati kesebelasan lain, ia juga kerap kali mendapatkan cacian dari suporter Persela sendiri. Tapi itu tak pernah melemahkannya dan ingin pindah dari Persela. Ia memahami sikap seorang suporter terhadap kesebelasan yang dicintainya. Maka sebaliknya, justru setiap cacian ia jadikan motivasi.

"Dulu itu pas divisi utama (kalah lima kosong), terus di kandang sampai dimarahi penonton. Tapi yang gitu itu lika-liku kehidupan-lah. Setiap kekalahan sebenarnya momen terburuk saya. Makanya saya harus bisa memotivasi diri saya sendiri, evaluasi, supaya tampil lebih baik di laga berikutnya."

"Suporter yang mencaci-maki itu banyak, bahkan saya pernah dicaci-maki satu stadion. Tapi dalam hati saya selalu bilang, `Ini profesi saya, saya harus terus bangkit`. Ya itulah, dulu itu saya dijelek-jelekin sama suporter sendiri. Itu bisa bikin jatuh, tapi saya harus bangkit. Karena itulah suporter; mereka datang bayar, masa kita main jelek? Sekarang bagus, selalu memberikan support pada saya."

***

Huda terbukti selalu bisa menjadi pilihan nomor satu di Persela, bahkan hingga menjadi kapten tim. Kekalahan demi kekalahan, cacian demi cacian ia alami, tapi itu tak membuat cintanya pada Persela luntur. Justru ia semakin termotivasi untuk membawa Persela juara, walau ia sadar, Persela bukan lah kesebelasan besar.

Itu juga yang menjadi alasannya terus berkarier hingga saat ini hanya bersama Persela. Bahkan sebelumnya ia berencana pensiun pada 2019 mendatang, di usianya yang menginjak 40 tahun. Ia masih penasaran dengan trofi liga yang sangat ingin ia persembahkan untuk Persela, yang masih belum bisa ia berikan.

"Kekalahan terbesar, kalah lima itu, yang buat saya momen terburuk. Tapi momen terburuk sepanjang karier saya sebenarnya gak dapet trofi. Piala saya dapet, piala-piala Jatim. Tapi saya pengennya piala liga yang sesungguhnya. Tapi ya itu, Lamongan memang kota kecil, lain sama tim-tim dari kota besar," ujarnya.

Sayangnya, nasib berkata lain. Huda pensiun lebih dini. Bukan karena ia berubah pikiran, namun ajal sudah kadung menjemputnya. Benturan dengan bek Persela, Ramon Rodrigues, membuatnya pensiun dari sepakbola, bahkan pensiun dalam menjalani kehidupan. Huda akhirnya harus menerima kenyataan bahwa di hembusan nafas terakhirnya, ia masih gagal membawa Persela juara.

Selamat jalan, legenda! Persela memensiunkan nomor punggung 1 untukmu! Itu bukti bahwa meski gagal membawa Persela juara, kamu telah menjadi juara lewat dedikasi dan loyalitas untuk kesebelasan tercintamu! Terima kasih, kapten! Tempat terbaik untukmu di sana.....

Komentar