Ekspektasi dan Perbedaan Opini Film Pengabdi Setan

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Ekspektasi dan Perbedaan Opini Film Pengabdi Setan

Film "Pengabdi Setan" menjadi film layar lebar Indonesia yang saat ini cukup ramai diperbincangkan. Saat artikel ini ditulis, film arahan Joko Anwar ini telah mencatatkan 800 ribu lebih penonton dalam enam hari. Ini artinya, hanya butuh enam hari film ini menempati peringkat 50 film Indonesia terlaris sepanjang masa, dan diprediksi menyentuh peringkat 30-an hanya dalam satu pekan.

Sebelum "Pengabdi Setan" diputar serentak di bioskop-bioskop Indonesia pada 28 September lalu, film ini memang memiliki hype yang luar biasa. Hal ini dikarenakan film tersebut merupakan pembuatan ulang dari film di tahun 1980 arahan Sisworo Gautama Putra dengan judul yang sama. Saat itu, "Pengabdi Setan" versi lama menjadi salah satu film horor yang cukup "membekas" bagi para penontonnya seperti "Bayi Ajaib" (1982) dan "Malam Satu Suro" (1988).

Setelah film rilis, review-review akan film ini pun bertebaran. Dimulai dari blog, status facebook hingga kultwit menjadi pemandangan di media sosial setiap harinya. Mayoritas menyatakan kekagumannya terhadap film ini, yang memberikan sentuhan berbeda terhadap film horor Indonesia. Bahkan di beberapa resensi menyebutkan bahwa tak sedikit penonton yang melakukan aplaus berdiri alias standing ovation begitu film usai.

Dengan sejarah film "Pengabdi Setan" yang disertai resensi-resensi positif, saya pun akhirnya memutuskan untuk menonton film tersebut. Perlu diketahui, saya bukanlah penyuka film-film Indonesia, terlebih film horornya. Stigma film horor Indonesia dalam benak saya adalah film yang hanya mengaget-ngagetkan, apalagi sempat menjadikan perempuan seksi atau adegan panas sebagai objek penariknya. Karenanya besar ekspektasi saya untuk mendapatkan tontonan horor yang sesuai harapan saya saat memutuskan untuk menonton "Pengabdi Setan", setidaknya seperti ketika saya menonton "Munafik", film horor Malaysia yang tayang 2016 lalu.

Saya pun menonton "Pengabdi Setan" pukul 7 malam di salah satu bioskop Bandung. Awalnya saya agak pesimis bisa mendapatkan jam tayang sesuai harapan saya. Alasannya saat itu saya berangkat pukul setengah 7, sementara saya khawatir antrian panjang akan membuat saya harus menunggu untuk jam tayang berikutnya.

Tapi sesampainya di lokasi, ternyata tidak ada antrian panjang di bioskop yang terletak di sebuah pusat barang elektronik terbesar di Bandung ini. Saya sampai bioskop pukul 19.05. Bisa memilih tempat duduk dengan cukup bebas karena studio ternyata tidak penuh. Sampai di studio pukul 19.11, tepat ketika Tara Basro, pemeran Rini, ditampilkan untuk memulai film.

Adegan Tara Basro alias Rini di awal-awal film "Pengabdi Setan"

Singkat cerita, selesai sudah saya menyaksikan film berdurasi 107 menit tersebut. Namun ternyata, film ini tidak sesuai ekspektasi saya. Hanya di setengah berjalannya film yang sesuai harapan saya. Tapi secara keseluruhan, film yang lokasi syutingnya terletak di Pangalengan ini menurut saya tidak se-wah yang dikatakan orang-orang, atau resensi-resensi yang saya baca.

Tidak ada aplaus berdiri saat itu. Bukan hanya dari saya, tapi dari penonton lain pun demikian. Bahkan di akhir film, ketika menampilkan dansa Fahri Albar dan Asmara Abigail sebagai pintu untuk sekuel film ini, banyak penonton yang berharap ada after credit yang bisa menjawab sejumlah plot hole atau tidak terjawabnya sesuatu adegan, bahkan cerita, yang tentu tak seperti kita menantikan adegan after credit pada film-film Marvel. Bahkan tanpa beranjak dari bangku studio meski lampu sudah menyala, penonton di bawah saya sampai berkata, "udah gitu doang?", pertanyaan yang juga ada dalam benak saya.

Saya tidak mengatakan "Pengabdi Setan" (2017) film yang jelek. Untuk film Indonesia, "Pengabdi Setan" terbaru ini film yang bagus karena tidak hanya sekadar kaget-kagetan yang intens seperti film horor Indonesia lain. Selain menyertakan sedikit komedi seperti film edisi 1980, kadar horor dan ngagetinnya dalam takaran yang cukup karena saya juga beberapa kali kaget di beberapa adegan.

Mengatakan "Pengabdi Setan" sebagai film horor Indonesia terbaik era modern ini mungkin tidak berlebihan. Tapi untuk film horor Indonesia yang paling membuat trauma sepanjang masa, yang membuatnya layak sebagai disebut film horor terbaik, saya rasa masih kalah dibanding "Malam Satu Suro" yang dibintangi Suzzanna.

Opini tentang ekspektasi "Pengabdi Setan" saya ini pun sempat membelah opini penulis di tim Panditfootball yang sudah menyaksikannya. Saya tidak sendirian yang mengatakan kalau film ini tidak sesuai ekspektasi, tapi penulis lain mengatakan film ini merupakan film horor terbaik Indonesia.

Sepertinya tidak hanya kami saja yang terbelah karena "Pengabdi Setan". Karena setelah saya telusuri di pencarian Twitter, tak sedikit juga yang punya opini tak jauh berbeda dengan apa yang saya rasakan. Bahkan ada juga yang pendapatnya serupa dengan saya, bahwa film "Munafik" (2016) lebih baik dari "Pengabdi Setan" ini.

Tapi dalam penelusuran saya itu, terdapat juga komentar-komentar sinis dari yang mengagungkan film "Pengabdi Setan" ini terhadap mereka yang kurang sreg terhadap ekspektasi pada film tersebut. Salah satunya adalah kicauan di bawah ini:

Saya juga mendapatkan "serangan" ketika berkicau tentang opini saya ini, yang mengatakan bahwa "Munafik" lebih bagus dari "Pengabdi Setan". Dengan gaya bahasa yang agak negatif, ia mempertanyakan di mana letak bagusnya film "Munafik" dan mengatakan bahwa film Joko Anwar jauh lebih berkelas.

Yang saya herankan dari opini-opini sinis itu, entah itu selera film saya yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, mereka lupa kalau sebenarnya selera film setiap orang pasti berbeda-beda. Maka tidak perlu juga memaksakan pendapat kita harus disetujui orang lain. (Setelah dicek timeline-nya ternyata dia menyerang dan mengomentari orang-orang yang kurang puas dengan film "Pengabdi Setan")

Situasi ini mengingatkan saya pada laga Liverpool vs Manchester United musim 2016/2017 pekan ke-8. Sebelum pertandingan digelar, laga ini digadang-gadang akan menjadi pertandingan seru. Selain karena kedua kesebelasan punya sejarah rivalitas antara Scousers vs Mancunian, saat itu pun akan menjadi pertemuan antara dua pelatih top ternama, Juergen Klopp vs Jose Mourinho.

Ditambah lagi ketika itu dalam tujuh laga The Reds sudah mencetak 18 gol, terbanyak hingga pekan ketujuh. Kedua kesebelasan pun terpaut tiga angka saja di tabel klasemen. Apalagi pada pekan sebelumnya United baru ditahan imbang Stoke City, sehingga diprediksi akan tampil habis-habisan agar tidak tergusur ke papan tengah.

Namun ternyata ekspektasi akan terjadinya jual beli serangan pada laga ini berakhir dengan kekecewaan. Tidak ada gol yang tercipta selama 90 menit. Bahkan hanya ada sembilan tembakan pada laga ini, lima untuk Liverpool dan empat untuk United. Artinya dalam 90 menit, jika dirata-ratakan, butuh 10 menit untuk menyaksikan terjadinya sebuah peluang.

Tak sedikit yang mengatakan bahwa laga ini membosankan, tidak seperti bayangan mereka sebelum laga dimulai. Salah satu penyebabnya adalah Mourinho yang memainkan strategi lebih defensif. Anthony Martial yang mencetak gol di laga melawan Stoke baru masuk pada babak kedua. Mou lebih memilih Ashley Young (dan Marcus Rashford) untuk menopang Zlatan Ibrahimovic. Wayne Rooney dan Juan Mata pun baru masuk pada babak kedua.

Baca selengkapnya: Taktik Mourinho Bertujuan Sekadar Tidak Kalah

Tapi di sisi lain, tak sedikit juga yang mengakui kejelian strategi yang diterapkan Mourinho. Man United yang saat itu baru meraih empat menang, dua imbang dan satu kalah, bermain defensif karena Liverpool sedang dalam performa menanjak usai meraih lima menang satu seri dan satu kalah. Apalagi saat itu Roberto Firmino, Philippe Coutinho, dan Sadio Mane menjadi ancaman nyata bagi setiap lini pertahanan lawan.

Maka usai pertandingan ini, penonton sepakbola terbelah menjadi dua; satu yang menilai laga ini membosankan karena tidak sesuai ekspektasi, satu lagi yang melihat sisi taktikal di mana Mourinho menginstruksikan Young dan Rashford untuk bermain lebih defensif agar Mane dan Coutinho tak leluasa di lebar lapangan. Saling serang opini pun dilemparkan, termasuk komentar-komentar sinis.

***

Tanpa sadar, banyak dari kita yang repot-repot berdebat, dengan suasana panas, akan topik-topik tertentu untuk menegakkan opininya. Dari apa yang saya kisahkan di atas, saya hanya ingin mengatakan bahwa perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah karena setiap orang punya persepsinya masing-masing atas suatu objek.

Persepsi sendiri, dalam ilmu psikologi, mempunyai sifat subjektif, karena bergantung pada kemampuan dan keadaan dari masing-masing individu, sehingga akan ditafsirkan berbeda oleh individu yang satu dengan yang lain. Maka dari itu persepsi merupakan proses perlakuan individu yaitu pemberian tanggapan, arti, gambaran, atau penginterprestasian terhadap apa yang dilihat, didengar, atau dirasakan oleh inderanya dalam bentuk sikap, pendapat, dan tingkah laku. Apalagi jika adanya ekspektasi di balik persepsi tersebut.

Perbedaan pendapat baiknya menghasilkan sebuah diskusi tanpa tensi tinggi. Seperti saya dan penulis Panditfootball lain misalnya, perbedaan pendapat mengenai "Pengabdi Setan" justru melahirkan pengetahuan-pengetahuan baru seperti Joko Anwar yang lebih mengedepankan kualitas film untuk konsumsi festival, scene yang mirip dengan film "Anabelle", sampai konklusi bahwa Joko Anwar yang selalu "mematikan" tokoh agama. Tak ada agresi untuk mengubah pendapat orang lain, seperti ketika seseorang keukeuh meyakini semua orang bahwa sepakbola indah lebih penting dibanding sekadar menang.

Perbedaan opini sebenarnya bisa menjadi pintu bagi pengetahuan-pengetahuan baru. Misalnya karena perbedaan pendapat saya dengan banyak orang mengenai film ini, saya jadi melakukan penelusuran-penelusuran mengenai film "Pengabdi Setan". Saya jadi tahu jika film ini ternyata diketik Joko Anwar hanya dalam satu minggu. Proses pengambilan adegannya pun hanya memakan sekitar dua minggu dengan lokasi di Jakarta dan Pangalengan. Saya juga jadi tahu perjuangan Joko Anwar selama 10 tahun untuk mendapatkan kesempatan me-remake film ini setelah berkali-kali mendapatkan penolakan dari produser film tersebut, Sunil Kamtani dan Gope Kamtani. Saya juga jadi tahu bahwa Joko Anwar merombak detail-detail penting dari film "Pengabdi Setan" tahun 1980 untuk mengikuti perkembangan zaman.

Tapi yang lebih penting, kita harus menyadari bahwa perbedaan persepsi adalah sebuah hal yang wajar dan perlu disikapi dengan kepala dingin. Dengan mewajarkan hal tersebut, kita akan mengurangi terjadinya perselisihan, gontok-gontokan, sampai debat kusir yang tak perlu terjadi, seperti yang sering kita lihat di Indonesia sekarang ini.

Oiya, soal "Pengabdi Setan", tampaknya, satu-satunya kritik yang bisa disepakati oleh para penonton "Pengabdi Setan" adalah rambut palsu yang dikenakan Dimas Aditya pemeran Hendra, yang agak "mengganggu". Sepakat?

Komentar