Membayangkan Indonesia ke Piala Dunia Lewat Jalur Oseania

Editorial

by Dex Glenniza 31887 Pilihan

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Membayangkan Indonesia ke Piala Dunia Lewat Jalur Oseania

Bermimpi itu sah-sah saja, termasuk Indonesia bermimpi ke Piala Dunia. Sejak PSSI berdiri pada 1930, kita adalah bagian dari Asia (AFC) tapi tidak pernah satu kali pun lolos ke Piala Dunia selain pada 1938 ketika nama kita masih Hindia Belanda. Itu pun kita lolos langsung, tanpa kualifikasi, langsung kalah dan tersingkir, serta saya juga masih tidak terlalu yakin untuk menyejajarkan penyebutan “kita” sebagai “Hindia Belanda”.

Ada banyak cara menuju Piala Dunia. Qatar yang belum pernah ke Piala Dunia saja (dipastikan tidak lolos ke Piala Dunia 2018) akan lolos pertama kalinya ke Piala Dunia 2022 karena mereka adalah tuan rumahnya. Lalu, apakah Indonesia bisa/mau menjadi tuan rumah Piala Dunia?

Jika menjadi tuan rumah tidak semudah itu, baik dari finansial dan politik, maka kita bisa mencari jalan lain: pindah konfederasi.

Langkah ini tidak semudah membaca judul tulisan ini untuk kemudian menjawabnya. Tapi jika kita mau realistis, akan sulit mengejar ketertinggalan kita dari negara-negara besar di Asia. Di Asia Tenggara saja kita masih cupu, kok. Meski kita bisa mengejarnya di waktu secepat-cepatnya, saingan kita juga pastinya akan lebih banyak lagi.

Wakil Asia yang bisa lolos ke Piala Dunia hanya empat atau lima pada Piala Dunia dengan format 32 negara. Sedangkan pada Piala Dunia 48 negara, wakil Asia diperkirakan akan bertambah menjadi delapan atau sembilan.

Namun melihat persaingan yang, dan kondisi sepakbola Indonesia saat ini, itu tetap saja sulit, sehingga kita bisa mempertimbangkan opsi untuk pindah konfederasi ke Oseania.

Indonesia akan turun level atau Oseania yang akan naik level?

Pindah ke Oseania bisa jadi langkah mundur atau langkah maju. Tapi langkah itu adalah salah satu cara demi mencapai “tujuan mulia” kita: mengumandangkan Indonesia Raya di Piala Dunia.

Sama seperti bermain sepakbola, ini adalah semata strategi, bukan melulu harga diri. Jangan salahkan Indonesia yang menerapkan strategi "parkir bus" jika menghadapi Brasil. Hal yang sama berlaku pada kasus ini. Pindah konfederasi adalah sebuah strategi.

Melihat Tahiti bisa lolos ke Piala Konfederasi 2013 atau Fiji ke Olimpiade 2016, seharusnya membuat kita iri dengan dua negara di Lautan Pasifik itu. Fiji baru kita tahan imbang kemarin, padahal beberapa pemain mereka adalah pekerja paruh waktu.

OFC (Oseania) adalah konfederasi yang “dianaktirikan” oleh FIFA. Tidak ada satupun jatah otomatis yang mereka raih untuk lolos ke Piala Dunia. Tapi di Piala Dunia dengan 48 negara mungkin akan ada satu jatah otomatis. Mungkin.

Banyak anggota negara OFC yang bukan merupakan negara kuat di dunia. Jika kita lupakan pertandingan persahabatan melawan Fiji, secara banal, pindah ke Oseania akan membuat (meski tidak otomatis) Indonesia sering meraih kemenangan. Ini akan baik untuk mentalitas kita, termasuk perbaikan peringkat FIFA.

Banyak negara di Oseania juga kesulitan mencari lawan tanding, seperti Fiji yang bersusah payah untuk menjadwalkan pertandingan persahabatan dengan Indonesia dan juga Persija Jakarta. Pada akhirnya mereka menghadapi Cilegon United, bukan Persija. Karena pertandingan melawan klub, hasilnya juga tidak bisa dibuat perhitungan peringkat FIFA. Kira-kira itu cerminan sulitnya negara Oseania mencari lawan.

Jangan samakan kita dengan Australia. Mereka meninggalkan OFC menuju AFC pada 2006 karena mereka sudah memiliki fondasi yang kuat. Mereka merasa terlalu kuat di Oseania, bahkan pernah membantai sebuah negara dengan skor 31-0, tapi tidak cukup kuat untuk selalu menang di play-off inter-konfederasi melawan wakil Amerika Selatan, sehingga memilih untuk menghadapi negara-negara besar Asia demi lolos otomatis.

Australia akhirnya lolos ke Piala Dunia 2010 untuk pertama kalinya sebagai salah satu peserta dari benua Asia. Mereka bahkan menjadi tuan rumah Piala Asia 2015 serta membuat tidak ada wakil Asia (secara teknis) di Piala Konfederasi 2017 lalu.

Namun yang harus kita camkan, pindah ke AFC bukan merupakan penyelesaian instan untuk Australia. Mereka juga memiliki masalah sendiri seperti korupsi dan mismanajemen yang terlebih dahulu berhasil mereka selesaikan.

Jangan heran juga jika langkah Australia ini akan diikuti oleh Selandia Baru. “Selandia Baru butuh tantangan. Para pemain baru mendapatkan ujian jika pindah ke konfederasi yang bermain di sepuluh pertandingan internasional kompetitif. Semoga kami bisa mendapatkan beberapa tahun ke depan,” ungkap Rick Herbert, pelatih mereka pada 2013, dikutip dari Gulf Times.

Jadi, apakah kemudian Indonesia harus melakukan yang sebaliknya dari yang dilakukan oleh Australia dan (yang kemungkinan akan dilakukan juga oleh) Selandia Baru?

Skenario terbaik jika kita pindah ke Oseania

Sebenarnya ada banyak cara lain untuk lolos ke Piala Dunia. Jika kita mau mengambil cara yang baik dan benar, maka caranya adalah begini: pembenahan pembinaan pemain muda, kualitas pelatih, wasit, manajemen, sampai infrastruktur.

Akan tetapi, melihat mentalitas Indonesia yang senang terhadap hal-hal instan, maka pindah ke Oseania bisa menjadi solusi instan.

Berikut adalah kemungkinan terbaiknya: Jika pindah, kita bisa berharap Indonesia akan sering menang. Jika sering menang, para pemain, penonton, dan pengurus akan semakin bagus mentalnya dan semakin semangat membenahi sepakbola Indonesia.

Meski tetap sulit, Indonesia memiliki peluang yang lebih besar untuk bermain di Piala Konfederasi, Piala Dunia, atau bahkan Olimpiade (jika kita meninggalkan Asian Games untuk mengikuti Pacific Games; kalau SEA Games masih bisa "diatur" untuk ikut, lah) andai kita berada di Oseania.

Melihat hanya kesebelasan-kesebelasan dari Selandia Baru (dan Australia sebelum mereka pindah ke AFC) yang pernah menjuarai Liga Champions OFC, kecuali Hekari United dari Papua Nugini yang pernah sekali juara, maka kesebelasan-kesebelasan Indonesia berpeluang menjuarai Liga Champions OFC untuk kemudian lolos ke Piala Dunia Antarklub.

Jangan khawatir tidak mendapatkan persaingan atau kompetisi yang ketat, Indonesia juga masih bisa memainkan pertandingan persahabatan melawan negara-negara lainnya, misalnya di Asia Tenggara, untuk menjaga tingkat permainan.

Secara geografis, geologis, dan kultural, Indonesia cocok-cocok saja untuk pindah ke Oseania, bersama dengan Timor-Leste, Filipina, bahkan Malaysia (tapi markas AFC ada di Kuala Lumpur).

Tabel kemungkinan negara-negara yang bisa bergabung ke Oseania untuk sama-sama meningkatkan kualitas OFC, mencapai 20 sampai 30 negara.

Memangnya mungkin? Memangnya bisa?

Pindah ke Oseania mungkin bukan langkah yang sembarangan. Secara strategis, kita masih harus melihat kemungkinan seperti apa yang akan terjadi dari Piala Dunia dengan format 48 negara. Jika kita tidak cukup sabar untuk melihat, menunggu, merasakan, dan mengevaluasi, maka kita bisa pindah saja ke Oseania secepatnya.

Tapi sebelum pindah, kita harus tahu alasannya kenapa. Kalau kita pindah hanya karena tidak bisa bersaing dengan negara-negara kuat di Asia sehingga kita ingin melawan negara-negara yang relatif lebih lemah di Oseania, sejujurnya itu alasan yang masuk akal. Pemain sepakbola banyak yang melakukan hal tersebut.

Misalnya Tom Heaton tidak bisa bersaing di Manchester United selama tujuh tahun sejak 2003. Kemudian ia pindah ke Cardiff City, Bristol City, dan Burnley. Bukannya semakin menurun, sekarang ia justru menjadi kiper papan atas Liga Primer Inggris dan berhasil masuk ke tim nasional Inggris.

Heaton adalah kasus kita jika kita pindah dari AFC ke OFC. Sementara Australia yang pindah dari OFC ke AFC mungkin seperti Gianluigi Buffon. Ia menjadi jagoan utama Parma sampai 2001. Ia menjuarai Coppa Italia, Supercoppa Italiana, dan Piala UEFA. Tapi ia terlalu besar untuk Parma (yang sejujurnya kesebelasan relatif biasa saja), sehingga ia pindah ke Juventus (kesebelasan besar). Sampai hari ini Buffon menjadi legenda di Juventus.

Jelas, Heaton tidak bisa dibandingkan dengan Buffon. Begitu juga Indonesia dengan Australia. Kita harus menyetel perspektif kita dengan tepat. Seperti saat memandang Asia Tenggara atau AFF yang jauh lebih kecil daripada Oseania atau OFC meskipun OFC sepertinya lebih "mudah" daripada AFF. Bagaimanapun AFF itu selevel sub-konfederasi atau regional, sementara OFC itu selevel konfederasi atau benua.

Kalau alasan sudah didapat, kemudian apakah mungkin, dan apakah bisa kita pindah ke Oseania?

Mantan Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, sempat mengatakan pada 2013: “Pihak Komite Eksekutif belum membicarakan masalah perpindahan zona. Memang bisa dilakukan dan itu sudah diimplementasikan oleh Australia. Tapi, saat ini Indonesia tetap berada di zona Asia,” jelas Djohar dikutip dari VIVA.

Jadi, pindah ke Oseania adalah sesuatu yang sangat mungkin. Saya juga berpendapat jika langkah ini sesuai dengan cerminan mentalitas bangsa kita: karena ini bisa menjadi solusi instan. Banyak yang berkata hal-hal yang instan itu belum tentu sesuatu yang jelek, kok.

*finger crossed*

Silakan dipertimbangkan, ya, PSSI. Selagi menimbang-nimbang, bisa sambil minum kopi instan dan makan mie instan...

Komentar