Kita Dibuat Pusing oleh PSSI

Editorial

by Dex Glenniza 73112

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Kita Dibuat Pusing oleh PSSI

Bukannya mau mencari gara-gara, tapi saya memang penasaran, apa yang membuat adanya beberapa peraturan yang janggal dari PSSI dan pihak liga untuk penyelenggaraan Liga 1 Indonesia?

Mulai dari regulasi pemain U23, marquee player, sampai lima pergantian pemain, PSSI dan pihak liga seolah ingin mendapatkan banyak hal: “pembinaan” pemain muda, kemajuan bisnis, dan menjaga agar pertandingan tetap menarik, terutama pada babak kedua saat sudah tidak ada lagi pemain U23.

Jangan salah menilai dulu, saya pro dengan pemain muda. Tapi memang tidak dipaksakan. Mereka akan bermain jika mereka benar-benar sudah siap.

Saya juga setuju jika Liga Indonesia memiliki nilai pasar dan bisnis yang tinggi. Dengan begitu, maka kita akan punya uang yang lebih banyak dan lebih pasti lagi untuk membangun infrastruktur, mendidik pelatih dan wasit berlisensi, dan pada akhirnya mempercepat kemajuan sepakbola nasional.

Namun, jika kita ingin mencari tahu apa penyebabnya, dari yang saya tangkap dengan pembicaraan bersama Hanif Thamrin selaku Direktur Media dan Hubungan Internasional PSSI, maka target emas di SEA Games adalah penyebabnya.

“Sebenarnya kita lihat kacamata untuk mengejar [emas] SEA Games, [penggunaan regulasi U23] itu betul,” kata Hanif. (Selengkapnya: Kompetisi untuk Kelompok Usia atau Semua Usia dalam Satu Kompetisi?)

Semua gara-gara ingin emas di SEA Games

“Saya kira harus diputuskan di pekan-pekan ini agar timnas U23 dengan target emas di SEA Games ini segera terbentuk dan fokus di pelatnas," ucap Imam Nahrawi, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Indonesia, seperti yang dikutip dari CNN Indonesia (21/12/2016).

Jadi, semuanya gara-gara Pak Menpora? Eits, jangan terburu-buru dulu. Kalau kita telaah baik-baik, target emas di SEA Games itu sebenarnya tidak berlebihan, lho. Indonesia memang kelasnya masih di SEA Games atau AFF (Asia Tenggara), sehingga target ini sejujurnya tidak muluk-muluk. Bagus malah.

Jika ini bukan salah Menpora, lantas siapa yang salah? Ya tentunya yang menyikapi target tersebut dengan membuat peraturan-peraturan, yaitu PSSI dan pihak liga. Apalagi jika kita melihat fakta bahwa Presiden Joko Widodo saja mendukung percepatan kemajuan sepakbola ini. (Selengkapnya: Keinginan Jokowi, Keinginan Kita Semua)

Bukan bermaksud menyudutkan PSSI dan pihak liga, saya juga terus berusaha memandang masalah ini dari sudut pandang mereka. Karena pada kenyataannya, membuat regulasi itu memang sulit.

Jadi saya bisa simpulkan, regulasi-regulasi yang hadir sekarang adalah efek domino dari ucapan Imam Nahrawi pada akhir tahun lalu tersebut.

Apakah PSSI melibatkan kesebelasan sebelum mengambil keputusan?

Peraturan Liga 1 sejujurnya aneh, bahkan dari awal sebelum diresmikan sekalipun, sudah terlihat jika PSSI dan pihak liga sudah kurang tepat mengambil langkah. (Selengkapnya: Soal Regulasi Anyar Kompetisi Indonesia, Semoga Saya Salah....)

Tapi, dari mana asalnya peraturan-peraturan itu datang? Kita sebagai penonton mungkin tidak tahu, tapi PSSI dan pihak Liga melakukan rapat evaluasi setelah Piala Presiden 2017 untuk menentukan regulasi yang pada akhirnya dipakai di Liga 1.

“Di akhir Piala Presiden, akan ada meeting evaluasi, untuk terkait seluruh kebijakan. Kita akan undang semua dari klub, dimintai bagaimana feedback-nya terhadap aturan ini,” kata Hanif pada bulan lalu.

“Terus dari sisi PSSI, melihat bagaimana aturan ini bisa mendorong pemain-pemain, munculnya pemain-pemain dan impact-nya terhadap timnas. Kita akan kasih dua argumen yang seimbang, nanti tentu yang memutuskan adalah baik itu dari sisi Pak Ketum, operator, maupun klub.”

“Karena, kan, sebelum liga dimulai mereka harus sign agreement participation. Kita mencoba dengar feedback-nya seperti apa. Kalau ternyata banyak pemain mudanya bisa naik dan bisa berkualitas, harusnya klub juga senang,” lanjut Hanif. (Lanjutannya bisa dibaca di: Regulasi Pemain U23: Pembinaan atau Pemaksaan?)

Berarti, pihak kesebelasan tentunya sudah setuju bukan? Karena PSSI menyatakan bahwa mereka merapatkan dan membahasnya, artinya bukan sekadar menentukan, mengumumkan, kemudian memaksakannya kepada kesebelasan-kesebelasan.

Jika hal itu yang terjadi pada kenyataannya, kita sebenarnya tidak perlu berisik, tidak perlu mengkritik, karena toh kesebelasan (mulai dari pemain, pelatih, ofisial, dan lain-lain) juga menyanggupi.

Ternyata kesebelasan tidak dilibatkan secara langsung mengambil keputusan soal regulasi

Akan tetapi, benarkah regulasi-regulasi “aneh” tersebut memang datang dari pihak kesebelasan? Sulit dimengerti dan sulit dipahami jika itu semua datang langsung dari kesebelasan, artinya, bukan hanya PSSI dan pihak liga yang memutuskan.

Ketika kami bertanya kepada kesebelasan, kebanyakan dari mereka, terutama pelatih, justru kaget dengan regulasi-regulasi tersebut, seolah mereka tidak dilibatkan.

Andi Widya Syadzwina, media officer PSM Makassar, menyatakan jika PSSI tidak mengundang pelatih, melainkan hanya manajemen kesebelasan. Padahal kita tahu, hal-hal teknis itu lebih banyak dipegang oleh pelatih.

“Setiap ada undangan meeting dari PSSI, Robert [René Alberts] (pelatih kepala PSM) sering nanya, ‘Pelatih diundang nggak?’. Dan beliau sangat kecewa karena pelatih tidak ikut dilibatkan,” ujar perempuan yang biasa disapa Wina tersebut.

Tidak bermaksud menggeneralisasi pernyataan tersebut, tapi jawaban-jawaban yang sejauh ini tim Pandit Football dapatkan dari pihak kesebelasan memang cenderung sama dengan yang Alberts rasakan sebagai pelatih kepala PSM. Bahkan ada salah seorang pelatih klub Liga 1 yang mengakui tidak tahu soal subsidi 7,5 M dan aturan marquee player, lho! "Saya baru tahunya dari Anda, malah," ujarnya.

Jadi artinya, PSSI dan pihak liga tidak melibatkan para pelaku teknis sepakbola, sehingga bisa dimaklumi peraturan yang keluar pun cenderung tidak masuk akal dan bahkan ada yang jelas-jelas tidak sesuai dengan Laws of the Game dari FIFA maupun IFAB.

Efek domino yang semakin buruk

Masih dari tema yang sama, kita berlanjut ke peraturan lima pergantian pemain. Saya bisa paham dan maklum jika itu adalah hasil kompensasi dari tiga pemain U23 yang diwajibkan menjadi starter dan bermain selama 45 menit (entah apa yang terjadi misalnya mereka cedera atau dikartu merah sebelum 45 menit).

Hal ini menimbulkan pertanyaannya lainnya. Kenapa sebuah kesebelasan difasilitasi dengan lima pergantian pemain ketika ingin memberdayakan pemain muda? Kan, kalau tetap tiga, setiap kesebelasan akan tidak terburu-buru menarik pemain U23 mereka.

Bersambung ke halaman selanjutnya

Komentar