12 Tahun Menulis Sepakbola

Editorial

by Zen RS Pilihan

Zen RS

Board of director | Panditfootball.com

12 Tahun Menulis Sepakbola

Jika tidak ada rubrik "Bola Kultural", boleh jadi Pandit Football Indonesia tak akan pernah ada.

Rubrik itu ada di harian Jawa Pos, hanya muncul kala berlangsung turnamen Piala Eropa atau Piala Dunia. Muncul pertama kali pada Piala Eropa 2004. Pengasuhnya adalah Arief Santoso. Saya mengenalnya lebih dulu sebagai redaktur halaman budaya edisi Minggu Jawa Pos. Jauh sebelumnya, dialah juga yang memuat resensi dan esai (bahkan cerita pendek) saya.

Sebagai redaktur budaya yang berkawan dengan banyak penulis, tak heran rubrik "Bola Kultural" diisi para penulis yang sudah punya nama. Saya ingat beberapa nama yang menulis di rubrik tersebut: Putu Wijaya, Arswendo Atmowiloto, Zawawi Imran hingga generasi lebih muda seperti Agus Noor, Muhidin M Dahlan sampai Moammar Emka. Nama saya menyelinap, seingat saya, dua kali di rubrik itu pada Piala Eropa 2004.

Sejak itu saya rutin menulis untuk "Bola Kultural" tiap Piala Eropa dan Piala Dunia berlangsung. Beberapa kali diminta secara khusus membuka dan menutup rangkaian "Bola Kultural": esai pembuka Piala Eropa 2008, pembuka dan penutup Piala Dunia 2010, penutup Piala Eropa 2012, esai penutup Piala Dunia 2014 dan esai Piala Eropa 2016.

Ruang yang disediakan Mas Arief Santoso lewat "Bola Kultural", bagi saya, sangat besar artinya. Dari sanalah dimulai kebiasaan menulis sepakbola. Sebelumnya saya tak pernah menulis tentang sepakbola di media massa, walau sangat sering menonton sepakbola, masih relatif aktif main bola, dan memang pernah menjadi pemain bola dan menginjakkan kaki di perguruan tinggi di Jogja tanpa tes juga karena sepakbola.

Kendati demikian, saya juga ingat, tulisan pertama yang saya hasilkan juga berisi catatan tentang sepakbola. Kelas 2 SD. Tentang keberhasilan memenangkan pertandingan di depan balai desa yang berhadiah setandan pisang. Wa Yasir, marbot mesjid jami sekaligus pembantu umum (semacam office boy) di balai desa, yang menghadiahkannya. Saya menuliskan pengalaman itu di buku tulis sekolah. Tidak panjang, hanya sekitar sehalaman saja.

Sekitar 2006, saya kenal dengan Arya Perdhana yang saat itu bekerja sebagai pembuat konten untuk layanan SMS yang dikelola detik.com. Arya mengenal saya, mula-mula, atas saran Teguh Budi Santoso, bosnya kala itu, Wapempred III Detik, yang rupanya rajin mengikuti esai-esai saya di blog. Teguh seorang pembelajar sejarah otodidak, saya banyak menulis fragmen-fragmen sejarah di blog saya, dan rupanya ia mengikutinya, dan merekomendasikannya sebagai bacaan kepada anak buahnya, termasuk Arya. Teguh kini salah seorang yang menjadi "otak" www.tirto.id, portal yang sebentar lagi akan nge-hits itu.

Tak lama kemudian Arya meninggalkan desk layanan konten SMS, dan bergabung dengan desk olahraga detik.com yaitu detikSport. Melalui Arya akhirnya saya memberanikan diri mengirimkan tulisan pertama saya ke detiksport, memanfaatkan momen ulang tahun PSSI pada 2007. Esai itu menjadi naskah sepakbola pertama yang tayang di media online. Dari sanalah saya kenal Andi Sururi, redaktur pelaksana detiksport.

Esai demi esai kemudian meluncur ke arah Warung Buncit. Tidak banyak esais yang menulis di detiksport saat itu. Salah satu yang saya ingat tentu saja Liza Arifin. Saya belum kenal sama sekali, saya menduganya perempuan. Secara bergantian, tentu tanpa perencanaan, kami bergantian menulis. Belakangan saya baru tahu bahwa penulis yang sebenarnya adalah Yusuf Arifin, alias Dalipin. Ia menggunakan nama Liza, nama istrinya, karena kala itu ia sedang bekerja untuk BBC di London. Kami menjadi kenal jauh setelah itu.

Pada Piala Dunia 2010, masih oleh Andi Sururi, saya diminta secara khusus menulis esai-esai sepakbola. Hampir dua hari atau tiga hari sekali saya mengirimkan esai selama Piala Dunia 2010 itu. Selain mengirim esai kepada Jawa Pos. Piala Dunia 2010 menjadi begitu sibuk oleh pekerjaan menulis. Dan itu menyenangkan, terutama karena saya masih bujangan, belum terkena urusan domestik sehari-hari.

Pada akhir 2011, atau awal 2012, Andi secara khusus meminta saya untuk membantu detiksport. Pertemuan itu tidak berlanjut secara serius, terutama karena bentuk kerja samanya masih agak belum jelas. Lalu kami berdua sibuk dengan urusan masing-masing, tentu saya masih sesekali menulis esai untuk detiksport.

Pada Piala Eropa 2012, saya sudah berkeluarga dan tinggal di Bandung. Saya diminta kembali oleh Andi Sururi untuk menulis secara rutin. Karena saat itu saya bersama Andreas Marbun (dan Yuda Asmara) sedang mengerjakan statistik Indonesian Premier League, tawaran itu saya ubah sedikit: Jangan cuma saya yang menulis untuk detiksport. Juga bukan tulisan-tulisan esai. Saya memberanikan diri menjanjikan tulisan-tulisan analisis pertandingan, dilengkapi dengan statistik dan grafis yang menjelaskan analisis.

Saat itu saya berpikir: Mosok saya jadi "pengepul" tulisan melulu? Saya berpikir untuk membuat tim, membangun sebuah institusi yang bergerak di bidang penulisan sepakbola.

Dari sanalah hikayat Pandit Football Indonesia dimulai. Nama PanditFootball.com atau Pandit Football Indonesia (PFI) pertama kali muncul pada Piala Eropa 2012. Bukan esai-esai yang dikerjakan, melainkan analisis taktik pertandingan. Sesekali saja esai muncul. Tulisan pertama yang tayang dengan nama Pandit Football adalah analisis pertandingan antara Spanyol vs Italia di babak grup Piala Eropa 2012. Itu laga yang dahsyat secara taktik, saat Prandelli dan del Bosque benar-benar peras otak untuk memilih taktik, dan satu sama lain saling merespons taktik. Kedua tim kala itu tidak menggunakan pemain no. 9 klasik, keduanya menurunkan false-9.

Tulisan analitik yang bersejarah itu berjudul "3 vs 3 dan Cara del Bosque Membongkar Italia". Saya sendiri yang menuliskannya. Tulisan itu disambut dengan meriah. Orang-orang kaget karena ada media di Indonesia yang menayangkan tulisan semacam itu. Beberapa pembaca, baik di kolom komentar maupun di media sosial, bahkan ada yang menduga analisis itu hasil kopi-paste tulisan media asing.

Mohon diralat jika keliru, namun seingat saya di sanalah untuk kali pertama media di Indonesia memuat analisis taktik sepakbola yang dilengkapi grafis dan statistik secara rutin, berkala, terus menerus setiap hari.

Nama-nama seperti Vetriciawizach (kini redaktur pelaksana desk olahraga CNN Indonesia), Riphan Pradipta, Randy Prasetya dan Hevi Fauzan secara bergantian menulis analisis pertandingan selama Piala Eropa 2012 itu. Semuanya dengan nol pengalaman menulis analisis pertandingan, beberapa bahkan baru belajar menulis saat itu juga. Saya agak galak kala itu, dan menerapkan tenggat: tulisan harus kelar sebelum Michael Cox, pengampu blog www.zonalmarking.net, mengunggah tulisannya. Beberapa berhasil memenuhi tenggat, beberapa tidak. Yang jelas: satu per satu tumbang karena kelelahan. Hanya Vetricia Wizach yang tetap fit sampai Piala Eropa 2012 berakhir.

Saya menulis dan menyunting naskah-naskah sembari menunggui kelahiran anak saya. Istri saya akhirnya melahirkan sehari jelang semifinal Piala Eropa 2012. Dan praktis saya tak melanjutkan kerja-kerja penyuntingan naskah laga semifinal dan final. Vetri mengambil alih pekerjaan saya.

Setahun kemudian, setelah melalui pertukaran pikiran yang intens dengan Andi Sururi, detik.com merilis sub-kanal About the Game, khusus menampung tulisan-tulisan sepakbola yang non-berita. Di sanalah esai-esai sepakbola, analisis taktik pertandingan, diakomodasi. Saya dan kolega dalam membuat dan merawat PFI, Andreas Marbun, ikut dilibatkan dalam mempersiapkan About the Game, sebab sub-kanal itu memang dirancang sejak awal untuk (mayoritas) diisi oleh PFI. Beberapa nama rubrik di sub-kanal merupakan usulan saya.

Piala Eropa 2012 memang menjadi titik balik kemunculan para penulis baru sepakbola. Sebelumnya bukannya tidak ada, tapi relatif bisa dihitung dengan jari. Blog sepakbola pun masih sangat sedikit, jauh lebih sedikit lagi yang konsisten merawat blognya.

Saya dan Hedi Novianto pernah membantu sebuah web, www.bolaria.com, pada awal 2010 untuk menyambut Piala Dunia 2010. Saya dan Hedi merasa sangat sulit mencari tulisan-tulisan sepakbola non-berita. Sangat sedikit yang mau menyumbangkan tulisan. Salah satu yang menyumbang adalah Pangeran Siahaan, yang baru mulai meniti karier menulis sepakbola.

Sejak 2012 itulah, silakan dikoreksi jika keliru, genre football writing mulai berkembang. Indikasinya: penulis-penulis baru bermunculan. Juga blog-blog sepakbola, bukan hanya blog Hedi Neovianto. Muncul www.bolatotal.com, footballfandom (cikal bakal www.fandom.id).

Sub-kanal About the Game, tidak bisa tidak, mesti disebut sebagai salah satu katalisatornya. Inilah untuk kali pertama media massa arus utama menyediakan ruang yang demikian besar untuk naskah-naskah sepakbola yang non-berita, beberapa di antaranya dapat sangat eksperimentatif bentuk dan langgamnya. Selain itu, sub-kanal About the Game juga mengakomodasi tulisan-tulisan long-form -- sesuatu yang sangat sedikit disediakan media massa di Indonesia, bukan hanya media olahraga.

Seorang kawan pernah berkelakar, mungkin juga serius: "Jika ada anggapan bahwa tulisan online itu tidak perlu panjang-panjang, harus ringkas dan pendek, ada andil detik.com di sana. Sub-kanal About the Game seakan menjadi penebusan hal itu."

Sepanjang 2013, PFI sendiri masih sibuk menyuplai tulisan untuk About the Game. Kami berempat saja saat itu: saya, Andreas Marbun, Vetriciawizach, dan Aqwam Fiazmi Hanifan. Akhir 2013 kami memutuskan membuat web sendiri. Mulanya web tersebut diniatkan sebagai web portfolio, lalu diisi tulisan-tulisan yang sudah tayang lebih dulu di About the Game (setelah 3 bulan, tulisan boleh ditayangkan di web sendiri).

Awal 2014 mulailah kami memproduksi tulisan yang diproduksi khusus untuk web panditfootball.com. Beberapa orang baru direkrut untuk memperkuat barisan agar tenggat tulisan untuk About the Game tetap terpenuhi dan materi untuk web sendiri pun tersedia secara rutin, berkala, dan terus meningkat. Sampai hari ini.

Karena berbagai urusan yang rasanya, kok, makin banyak, saya makin jarang mengirim naskah sepakbola untuk Jawa Pos. Menulis untuk Pandit dan About the Game pun sudah sangat keteteran. Bahkan urusan sehari-hari di Pandit kini sudah diampu oleh generasi ketiga Pandit, Ardy N. Shufi. Dialah redaktur pelaksana yang sehari-hari menjadi otak dan kunci keberlangsungan Pandit saat ini.

Seingat saya, intensitas menulis sepakbola memang menurun sejak Piala Dunia 2014. Kala itu saya hanya mengirim satu esai saja untuk Jawa Pos dan detiksport. Jika di detiksport saya menulis esai pembuka, di Jawa Pos saya menulis untuk menutup rangkaian esai sepakbola di Jawa Pos selama Piala Dunia 2014.

Untuk Piala Eropa 2016 ini, saya sudah diminta oleh redaktur feature Jawa Pos, Tatang Mahardika, untuk menulis kembali jauh sebelum Piala Eropa dimulai. Namun saya urung melakukannya. Kawan lama saya, Mifta Fim, kembali mengingatkan setelah Piala Eropa berlangsung. Dan saya masih juga sulit memenuhi permintaan itu. Hingga babak perdelapanfinal tuntas, saya tak juga menulis.

Barulah menjelang perempatfinal saya akhirnya menulis Jawa Pos. Tatang menghubungi saya kembali dan bilang membutuhkan naskah menyambut laga Spanyol vs Italia, sementara sampai dua hari jelang laga tidak ada naskah untuk laga penting itu. Saya tidak bisa lagi mengelak, sudah beberapa kali diingatkan. Saya ingat, tak mungkin lupa, peran yang diberikan Jawa Pos dalam pergulatan saya dengan penulisan sepakbola yang dampaknya sudah saya uraikan urutannya di bagian awal. Sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, beberapa jam sebelum arus mudik dimulai, saya menulis esai tentang Antonio Conte di atas travel Baraya yang membawa saya pulang ke rumah.

Kendati sangat seret menulis, tak berarti tidak membaca. Terutama melalui facebook, selalu saja muncul tautan menuju esai-esai sepakbola di Jawa Pos. Saya membaca esai-esai sepakbola yang melintas di halaman Facebook. Nama-nama penulis yang beberapa di antaranya saya kenal baik, namun sebagian seingat saya baru kali ini menulis untuk halaman Piala Eropa/Piala Dunia di Jawa Pos.

Tidak semua saya baca, tentu saja, karena bergantung kemunculan tautan di dinding laman Facebook. Namun tentu saya membaca esainya, misal, Eddward S Kennedy dan Ahmad Khadafi dari Paguron Wetan Kali Karang Malang. Saya ingat benar dua penulis itu, di awal-awal kuliah, "menceramahi" saya soal AC Milan di buku tulis besar yang memang dikhususkan untuk dicoret-coret sekehendak hati. Kami sama-sama belajar menulis di sebuah pers mahasiswa, namun generasi kamu terentang cukup jauh. Saya sudah tak lagi berstatus mahasiswa kala itu.

Saya juga membaca esai, tentu saja, duet Padepokan Kulon Kali Bulaksumur: Mahfud Ikhwan dan Darmanto Simaepa. Yang pertama penulis novel Kambing dan Hujan, yang reportasenya tentang sepakbola lokal (termuat di antologi jurnalisme narasi terbitan Pindai) sangat asyik diikuti. Sedangkan Darmanto Simaepa masyhur sekaligus cihuy betul esai-esainya di blog www.belakanggawang.blogspot.com. Anda mesti memiliki buku "Tamasya Bola" untuk membuktikan kalau saya tak sedang membual.

Saya bilang kepada Mifta, teman di Fakultas Olahraga baheula, bahwa esai-esai sepakbola di Jawa Pos kali ini jauh lebih bagus dari pada tahun-tahun sebelumnya. Dulu, begitu saya bilang pada kawan yang sangat mengerti sepakbola dan penulis buku Mencintai Sepakbola Indonesia, banyak penulis yang esainya dimuat di "Bola Kultural" (sepenilaian saya) sebenarnya tidak terlalu mengerti sepakbola, setidaknya tidak benar-benar mengikuti denyut perkembangan sepakbola, dan menulis lebih karena status sebagai penulisnya sudah mapan.

Sekarang, saya masih kepada Mifta, para penulis yang dimuat di Jawa Pos banyak yang paham sepakbola, mengikuti perkembangan sepakbola dan secara berkala juga rutin menulis sepakbola (tidak mak mbedundu menulis sepakbola saat Piala Dunia/Eropa saja). Maaf jika ada yang terlewat, setidaknya empat penulis yang saya sebut mewakili apa yang saya sebut tadi: mengikuti benar perkembangan sepakbola dan tak semata bisa menulis atau sekadar menyukai sepakbola belaka. Tak heran jika mutunya lebih baik.

Sudah 12 tahun saya menulis sepakbola, dimulai sejak Piala Eropa 2004. Macam-macam tulisan, macam-macam gaya, sudah saya coba. Kadang (mencoba) puitis, kadang (mencoba) prosais. Kadang menulis ringkas, kadang panjang. Kadang menulis taktik, kadang menulis sketsa personal. Kadang bagus, kadang jelek. Kadang disukai pembaca, kadang tidak. Kadang rajin, kadang jarang sekali menulis. Pernah beberapa tahun hanya menghasilkan satu dua tulisan. Macam-macam dalih, macam-macam alasan, macam-macam situasi. Toh akhirnya, ya... tetap menulis juga.

Saya ingin mengenang sedikit langkah-langkah kecil di masa lalu, sembari menyadari satu hal menyenangkan: saya punya banyak sekali teman (pernah berjumpa maupun tak, dan yang terbanyak tak termaktub dalam catatan kecil ini) dalam urusan menuliskan sepakbola. Beberapa yang baru sedang mengintip untuk mendapatkan kesempatan, di antaranya pastilah akan lebih baik dari saya, lebih bagus dari generasi kami.

Post-script:

Kalau dibaca lagi, catatan ini bisa juga menjadi arkeologi jejaring perkawanan saya. Dan yang paling menarik, Pandit Football Indonesia lahir karena pertemuan saya dengan Andreas Marbun, satu-satunya orang dari belasan nama di atas yang tidak saya kenal karena dunia media atau tulis menulis. Ia tidak saya kenal mula-mula sebagai penulis, tidak juga sebagai wartawan.

Kami bertemu di sebuah tempat yang, kini menjadi jelas, menyelamatkan hasrat saya pada (dunia menulis) sepakbola: stadion, sepakbola lokal. Kami berjumpa di stadion pada 2010. Dan kami berduel sebagai lanjutannya: Andreas berduel dengan polisi Malaysia di Stadion Bukit Jalil, saya berduel dengan preman-preman di Gelora Bung Karno.

Perjumpaan yang tidak "intelektual", namun dari sanalah Pandit Football lahir.

Komentar