Semoga Tottenham Duduki Peringkat Kedua

Editorial

by Taufik Nur Shidiq

Taufik Nur Shidiq

Pandit Football Indonesia mengkhususkan pada analisis pertandingan sepakbola, statistik dan liga, juga sejarah perkembangan sepakbola dan evolusi taktiknya

Semoga Tottenham Duduki Peringkat Kedua

Persoalan yang membuat Arsenal belum lagi bisa menjadi juara setelah The Invincibles bukan buruknya kualitas teknik mereka, melainkan mental. Arsenal bisa tampil baik – sangat baik, malah – di bawah tekanan dari kesulitan. Namun seringkali tidak demikian ketika adanya tekanan dari kemudahan. Karena memperbaiki masalah ini bukan perkara mudah, semoga Tottenham Hotspur mengakhiri musim ini di peringkat kedua.

Salah satu bukti terbaru mengenai kemampuan Arsenal tampil baik di bawah tekanan dari kesulitan adalah pertandingan tandang melawan Olympiakos di matchday enam Champions League musim ini. Pertandingan tandang sendiri saja tidak mudah; pertandingan tandang di Georgios Karaiskakis ada di tingkatan berbeda. Pertaruhan Arsenal sangat besar pula: kalah berarti gagal lolos ke 16 besar Champions League untuk kali pertama dalam 16 tahun terakhir. Hasil akhir: Arsenal menang tiga gol tanpa balas berkat hattrick Olivier Giroud.

Contoh lain adalah pertandingan pada gameweek 17 Premier League 2015/16. Arsenal, yang menduduki peringkat kedua, bertindak sebagai tuan rumah untuk Manchester City yang berada di peringkat ketiga. Keduanya berselisih satu poin saja. Itu artinya, jika kalah, Arsenal akan turun peringkat dan tertinggal semakin jauh dari Leicester City. Menyadari tekanan itu, Arsenal pun menang 2-1 dan berhasil menjaga jarak dengan Leicester.

Dengan kedua contoh ini saja terjawab alasan di balik keberhasilan Arsenal menjuarai dua gelaran terakhir FA Cup. Pertandingan FA Cup di putaran mana pun menyimpan ancaman. Kalah berarti tersingkir. Bahkan pertandingan final pun adalah pertaruhan besar. Sejarah mencatat nama kesebelasan juara, bukan runner-up.

Kedua contoh di atas berbeda dengan contoh dari gameweek 18. Arsenal melawan Southampton di St. Mary’s Stadium, dalam pertandingan yang jadwal kick-off­-nya paling akhir di gameweek tersebut. Manchester City menang namun tidak berhasil menggeser Arsenal dari peringkat kedua. Leicester, sementara itu, kalah dari Liverpool. Arsenal sangat aman. Kalah, mereka tak akan turun peringkat. Menang, mereka akan langsung naik ke peringkat pertama. Tapi berkat tekanan dari kemudahan itu, hasil akhir pertandingan melawan Southampton adalah: Arsenal kalah empat gol tanpa balas.

Gagal meraih kemenangan berarti Arsenal gagal memanfaatkan peluang besar untuk naik ke peringkat pertama. Namun di baliknya tersimpan sebuah hikmah. Kalah dari Southampton sebenarnya baik untuk Arsenal.

Arsenal, karena kalah dari Southampton, tetap bisa menjadi diri mereka sendiri. Arsenal tampil baik ketika harus mengejar; tidak demikian ketika berada beberapa langkah di depan. Benar, memang, mempertahankan lebih sulit dari merebut sehingga tekanan ketika dikejar bisa lebih besar ketimbang tekanan ketika mengejar. Namun yang seperti ini tidak berlaku untuk Arsenal. Terlebih jika Arsenal memimpin perburuan dengan keunggulan angka yang cukup jauh.

Lagipula tidak masalah jika Arsenal gagal menduduki peringkat pertama di gameweek ke-18. Juara liga adalah kesebelasan yang menduduki peringkat pertama di akhir musim, bukan gameweek ke-18. Arsenal, walau kalah, tetap berada dalam jarak yang cukup aman dengan pimpinan klasemen. Arsenal masih memiliki 20 pertandingan tersisa untuk terus menekan Leicester. Skenario terbaik untuk Arsenal bukan memimpin perburuan gelar juara, melainkan berada di jarak yang cukup dekat dengan pimpinan klasemen untuk menyalip di saat yang tepat.

Itu skenario terbaik. Skenario sempurnanya adalah: Arsenal tetap berada tepat di belakang Leicester dengan selisih angka tidak lebih dari dua hingga sama-sama menyelesaikan pertandingan di pekan ke-37, lalu meraih kemenangan di pekan ke-38 ketika Leicester menelan kekalahan di saat yang bersamaan. Dua belas tahun menanti, para pendukung Arsenal pantas menyaksikan kesebelasannya menjadi juara secara dramatis.

Skenario sempurnanya seperti itu. Namun yang sempurna kan tidak ada (lagipula jika Leicester juga menang di pekan ke-38, buyar sudah harapan Arsenal). Baru dua hari berlalu sejak kekalahan dari Southampton yang menyimpan hikmah, Arsenal menang dua gol tanpa balas atas AFC Bournemouth dan naik ke puncak klasemen sementara karena Leicester belum menjalani pertandingan gameweek 19-nya. Pada akhirnya Arsenal bertahan di peringkat pertama – berkat keunggulan selisih gol – karena Leicester hanya bermain imbang tanpa gol melawan Manchester City.

baca juga: Mengapa Leicester Gagal Cetak Gol ke Gawang Liverpool dan Manchester City?

Di luar skenario sempurna yang melibatkan Leicester, ada skenario lain. Yang ini lebih menyenangkan karena melibatkan kesebelasan rival, Tottenham Hotspur. Kesebelasan berjuluk The Lilywhites tersebut saat ini berada di peringkat keempat dengan raihan poin 35; tepat di belakang dan berselisih satu poin dengan Manchester City. Dari Leicester City dan Arsenal hanya tertinggal empat poin saja. Dua teratas bukan misi mustahil. Dan demi kebaikan Arsenal, semoga Tottenham menduduki peringkat kedua.

Peringkat kedua: tidak kurang, tidak lebih. Runner-up. Karena jika Tottenham menduduki peringkat kedua, Arsenal diuntungkan. Bukan kebetulan jika sejak ditangani Arsène Wenger, Arsenal selalu mengakhiri musim di atas Tottenham. Karenanya jika Tottenham menduduki peringkat kedua, secara teori, hanya ada satu tempat yang mungkin Arsenal duduki di akhir musim nanti: peringkat pertama!

Komentar