Editorial

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Petualangan Nuno Espírito Santo di Valencia CF harus berakhir. Mundurnya pelatih asal Portugal ini berbuntut banyak kejutan, dari mulai Philip Neville yang ditunjuk sebagai caretaker sampai abangnya, Gary Neville, yang ditunjuk sebagai manajer sampai akhir musim.

Pertandingan pertama Phil juga berakhir cukup mengejutkan, yaitu berhasil menahan imbang FC Barcelona dengan skor 1-1. Sementara Gary baru mulai menukangi Valencia secara resmi nanti malam saat pertandingan Liga Champions UEFA melawan tamunya dari Prancis, Olympique Lyonnais.

Penunjukkan Neville ini bukan hanya mengejutkan karena keduanya adalah nama yang baru di dunia manajemen sepakbola, tetapi juga ditambah karena paradigma kita semua selama ini yang menganggap bahwa manajer asal Britania (Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara) tidak kompeten jika menjadi manajer di luar Britania.

Anda tidak percaya? Mari kita simak catatan berikut ini. Sedari dua dekade yang lalu, atau musim 1995/96, seluruh manajer Liga Primer Inggris adalah mereka yang berasal dari Britania. Namun setelah itu, perlahan tapi pasti, angka tersebut mulai berkurang, sejalan juga dengan popularitas Liga Primer di mata sepakbola internasional.

Manajer Britania yang mulai terusir dari rumah mereka

Pada musim 2000/01, masih ada 17 manajer dari Britania di 20 kesebelasan Liga Primer. Angka ini berkurang satu, yaitu menjadi 16 saja pada musim 2005/06, dan semakin berkurang lagi: 15 pada 2011/12, 12 pada 2014/15, dan sekarang hanya 8 saja.

Delapan manajer asal Britania yang sekarang menjadi manajer Liga Primer adalah lima dari Inggris: Eddie Howe (AFC Bournemouth), Alan Pardew (Crystal Palace), Steve McClaren (Newcastle United), Sam Allardyce (Sunderland), dan Garry Monk (Swansea City) yang posisinya sedang berada di ujung tanduk.

Sementara itu sisa tiga di antaranya adalah dua dari Wales, Mark Hughes (Stoke City) dan Tony Pulis (West Bromwich Albion); dan satu dari Skotlandia, yaitu Alex Neill (Norwich City). Padahal menjelang awal musim, masih ada nama Nigel Pearson (Inggris) di Leicester City, Brendan Rodgers (Irlandia Utara) di Liverpool, dan Tim Sherwood (Inggris) di Aston Villa.

Keberadaan manajer asal Britania, terutama Inggris, sudah sangat memprihatinkan di Liga Primer. Hal positifnya adalah jumlah mereka memang masih menjadi mayoritas jika dibandingkan dengan manajer asing. Sebagai pembanding terdekat, ada dua manajer dari masing-masing negara Spanyol, Belanda, dan Prancis.

Ini mungkin bisa dipahami karena Liga Primer semakin menarik untuk pendatang. Nyatanya bukan hanya manajer yang posisinya terpinggirkan, staf pelatih dan pemain juga terpinggirkan, bahkan penonton juga terpinggirkan karena tiket yang mahal yang kebanyakan diperuntukkan bagi turis, seperti di Emirates Stadium milik Arsenal.

Jika hal ini terjadi terus-menerus, bukan tidak mungkin posisi manajer asal Britania akan semakin terpinggirkan. Maka dari itu, para manajer Britania tersebut memang harus memikirkan untuk bekerja di luar negeri.

Ini lah kenapa seharusnya media Inggris mengapresiasi dengan positif mengenai penunjukkan Neville di Valencia. Hal yang sama juga berlaku untuk David Moyes di Real Sociedad musim lalu (sayang ia sudah dipecat) dan juga calon-calon manajer lainnya di masa depan.

Mereka yang sukses memang kebanyakan bukan dari Britania

Ini memang merupakan sesuatu yang tidak ditakutkan oleh kebanyakan negara Eropa. Jika kita melihat lima liga top Eropa (bukan diurutkan sesuai kualitas: Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, Bundesliga Jerman, Serie A Italia, dan Ligue 1 Prancis), masih lebih banyak manajer Spanyol di La Liga, Jerman di Bundesliga, Italia di Serie A, Prancis di Ligue 1, dan bahkan juga Britania di Liga Primer.

Tapi jika kita melihat secara seksama dari segi prestasi, sejak 1994/95 sudah ada manajer asal Italia yang memenangkan 24 gelar juara di lima liga top Eropa, manajer asal Prancis 23 kali, Jerman 18 kali, Spanyol 12 kali, Portugal enam kali, dan Belanda lima kali.

Jika bukan karena Sir Alex Ferguson (dari Skotlandia, yang berarti juga Britania) yang memenangkan 11 gelar bersama Manchester United di Liga Primer dalam 21 tahun terakhir (13 totalnya), maka tidak ada manajer asal Britania sama sekali yang pernah memenangkan gelar juara di lima liga top Eropa dalam 21 tahun terakhir.

Lebih parahnya, Ferguson mungkin bisa berbangga kalau dia berasal dari Skotlandia, karena pada kenyataannya tidak ada satupun manajer asal Inggris yang pernah memenangkan Liga Primer, La Liga, Bundesliga, Serie A, ataupun Ligue 1 dalam 21 tahun terakhir.

Satu-satunya manajer asal Inggris yang mendekati topik pembicaraan kita kali ini hanya Steve McClaren yang pernah menjuarai Eredivisie Belanda (maaf ya, Belanda, kamu tidak masuk lima liga top Eropa) 2010 bersama FC Twente.

Ia kemudian pindah ke Bundesliga bersama VfL Wolfsburg. Sayang di sana ia tidak berhasil, ia kemudian pulang kampung ke Inggris untuk membesut Derby County (Championship, bukan Liga Primer) dan sekarang Newcastle.

Halaman berikutnya, Siapa yang akan menyusul Neville?

Komentar