Pak Menpora, Ada yang Lebih Penting daripada Sepakbola

Editorial

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Pak Menpora, Ada yang Lebih Penting daripada Sepakbola

Kenapa sepakbola bisa sangat populer di Indonesia? Apakah karena prestasi Indonesia pada olahraga sepakbola yang membuat sepakbola menjadi populer? Atau ini hanya efek dari media saja? Apa pentingnya sepakbola untuk Indonesia? Kemudian juga, apa pentingnya olahraga untuk Indonesia?

Pertanyaan demi pertanyaan di atas sebenarnya bukan untuk dijawab, tapi lebih sebagai sebentuk ajakan merenung. Hal ini senada dengan pertanyaan mengenai sulitnya mencari sebelas pemain sepakbola terbaik dari sekitar 250 juta penduduk di Indonesia.

Hal-hal di atas sudah kita anggap "basi", sehingga terlupakan dengan sendirinya. Padahal, pertanyaan-pertanyaan di atas sangat penting untuk kita ketahui jawabannya. Namun, kami akan mencoba menjawab pertanyaan di atas sembari memberikan sebuah pemikiran baru.

Menjawab popularitas sepakbola

Sejujurnya memang ada dua hal yang bisa membuat sebuah olahraga menjadi populer di sebuah negara, yaitu prestasi dan penyiaran (media).

Untuk yang pertama mengenai prestasi, prestasi bisa dinilai dengan banyak cara, salah satunya dengan perolehan medali di Olimpiade, atau juga juara acara besar olahraga (Piala Dunia sepakbola, Piala Thomas, Piala Uber, Piala Dunia rugbi, dll), menjadi tuan rumah acara olahraga besar, serta level "prestasi" yang paling rendah yaitu angka partisipasi yang aktif.

Kemudian prestasi ini akan mengerucut kepada pengakuan dunia (world recognition). Maka, olahraga (bukan hanya sepakbola) tentu sangat penting. Dengan olahraga, sebuah negara bisa mendapatkan pengakuan internasional.

Sebagai contoh, China sudah identik dengan bulu tangkis, tenis meja, dan senam. Tidak heran karena ketiga olahraga tersebut adalah yang paling membuat China sukses meraih prestasi di kancah internasional. Begitu juga dengan Selandia Baru dengan rugbi, Amerika Serikat dengan bola basket, Jamaika dengan atletik, dan banyak contoh lainnya yang bisa kita ambil.

Apakah sepakbola bisa populer di Indonesia karena prestasinya? Tentu saja jawabannya tidak, kalau sampai ada yang menjawab "iya", orang tersebut pasti sudah dianggap gila.

Pada kenyataannya, sepakbola bisa menjadi populer di Indonesia lebih karena efek penyiaran dan media. Banyak yang terlibat di sini, mulai dari media elektronik, media cetak, sampai media online yang sedang Anda baca saat ini.

Kita bisa menikmati Liga Primer Inggris, Bundesliga Jerman, Serie A Italia, Liga Champions, dan lain-lain, yang sudah menjadi keseharian kita. Dari media elektronik bahkan tidak jarang dari kita yang terserang penyakit konsumerisme karena rela-relanya berlangganan televisi kabel atau satelit yang harganya tentunya tidak murah.

Selain itu juga, sifat sepakbola yang mudah dinikmati menjadikan olahraga ini semakin populer. Maka, tidak usah heran juga jika sepakbola sangat populer bukan hanya di Indonesia, tapi juga di hampir seluruh negara di dunia.

Satu hal positif yang bisa kami simpulkan adalah bahwa olahraga, terutama sepakbola, memang sudah menjadi bahasa universal di dunia.

Kepentingan sepakbola dan efeknya kepada negara

Tidak bisa dipungkiri lagi, sepakbola adalah olahraga yang paling populer bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia. Wajar jika kita selalu membicarakan sepakbola, bahkan ketika sepakbola di negara kita juga sedang tidak jelas seperti sekarang ini.

Apapun yang sedang terjadi, sepakbola tetap menjadi objek yang menyedot paling banyak perhatian masyarakat dan juga tentunya pemerintah.

Ada beberapa topik yang bisa kita angkat jika kita menginginkan sepakbola bukan hanya menjadi olahraga yang populer untuk Indonesia, tetapi juga menjadi olahraga yang bisa membawa kesuksesan. Beberapa di antaranya adalah pembinaan, kebiasaan, jumlah fasilitas, faktor genetik (alami), sampai kepada yang akan kita bahas kali ini, yaitu kebijakan pemerintah (sport policy).

Jika kita mengaitkan olahraga dengan kebijakan sebuah negara, ada tiga hal utama yang tak terpisahkan dan saling berkaitan, yaitu bisnis, masyarakat, dan negara itu sendiri.

Semuanya berawal dari gairah (passion) yang bisa lebih condong kepada bisnis untuk menghasilkan keuntungan (profit), maupun lebih condong kepada masyarakat dengan mengedepankan kepentingan umum (public). Sehingga, kita bisa menyimpulkannya pada bagan seperti di bawah ini:

Bagan orientasi olahraga jika dikaitkan dengan kebijakan negara Bagan orientasi olahraga jika dikaitkan dengan kebijakan negara


Dari bagan di atas, gairah yang diikuti oleh niat untuk mendapatkan keuntungan akan melahirkan komersialisasi, sementara gairah yang diikuti oleh kemauan untuk mementingkan kepentingan umum sebaliknya bisa menciptakan rasa nasionalisme. Keduanya dilakukan melalui kebijakan oleh negara, hanya dengan pendekatan dan hasil yang berbeda.

Penggabungan atau kombinasi antara keuntungan dan kepentingan umum bisa dicapai dengan profesionalisme. Namun, di sini timbul pertanyaan, apakah ekspektasi dan pengaruh dari negara dan bisnis justru menjauhkan konsep dan prinsip olahraga? Kemudian juga bagaimana cara menyeimbangkan gairah dengan profesionalisme untuk mencapai ekspektasi tersebut?

Hal pertama yang perlu kita tahu dalam setiap kebijakan olahraga adalah bahwasanya sumber daya (resource) merupakan sesuatu yang sangat penting. Sumber daya yang dimaksud adalah finansial (uang), kekayaan alam (SDA), dan juga kualitas manusia itu sendiri (SDM).

Setiap negara yang menetapkan kebijakan olahraga akan memiliki standar masing-masing untuk memprioritaskan banyak kepentingan yang terlibat di sini, yaitu kepentingan bisnis, masyarakat, dan negara. Maka dari itu, popularitas (sepakbola) juga sangat berpengaruh kepada kebijakan olahraga.

Lupakan saja sepakbola

Setelah kita memahami hal di atas, kita akan mengetahui jika olahraga yang paling populer adalah olahraga yang paling banyak menyedot minat masyarakat, maka bisa dibilang popularitas olahraga tersebut sudah dikategorikan sebagai olahraga yang menguntungkan (profitable sports).

Misalnya saja bagi negara yang tidak memilik banyak sumber daya yang banyak, mereka cenderung akan memprioritaskan fokus olahraga mereka kepada olahraga yang menguntungkan secara bisnis. Itulah yang sejujurnya terjadi di Indonesia dengan sepakbola.

Hal ini bisa dimaklumi karena popularitas memiliki dampak yang efisien dan efektif, terutama kepada kondisi finansial.

Misalnya saja Indonesia saat ini diberi uang yang sangat banyak untuk mengembangkan olahraga, apa yang akan dilakukan oleh pemerintah?

Mereka bisa fokus kepada sepakbola yang sudah populer, apalagi pada kondisi seperti sekarang ini, misalnya dengan membuat banyak turnamen, liga terpisah, atau bahkan membuat PSSI tandingan.Keputusan ini bisa kita pahami, karena ini akan sangat menarik untuk masyarakat dan juga pastinya menguntungkan secara finansial.

Namun, keputusan ini mungkin akan menjadi kesia-siaan karena dilihat dari sejarah prestasi, kebiasaan, sampai faktor genetik (alami), Indonesia tidak pernah mendapatkan pengakuan dunia dari sepakbola, bahkan dengan kontroversi sekalipun (negara yang disanksi FIFA, negara yang terkenal mafia sepakbolanya, sepakbola gajah, dll).

Mental beberapa orang yang ingin cepat sukses dengan instan, secara alamiah memang tidak bisa dihindari. Keuntungan materi memang akan didapatkan, tapi hal ini juga bisa menambah kesempatan bagi berbagai hal negatif seperti korupsi, nepotisme dalam kepengurusan, mafia sepakbola, pengaturan skor, perjudian, dll untuk tumbuh, karena yang dikedepankan adalah kepentingan bisnis demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya.

Akan berbeda jika pemerintah memfokuskan kepada cabang olahraga yang lebih memiliki kans untuk menghasilkan prestasi seperti bulu tangkis (18 medali sepanjang sejarah Olimpiade), angkat besi (8 medali), atau memanah (1 medali). Prestasi demi prestasi dari cabang-cabang ini pun nantinya akan semakin bertambah yang sudah barangtentu akan membuat Indonesia semakin populer.

Jika hal di atas yang pemerintah lakukan, kebijakan mereka memang tidak akan populer, bahkan mungkin akan sedikit sulit untuk sampai kepada seluruh masyarakat. Namun secara strategis, langkah tersebut mungkin menjadi langkah yang paling jitu.

Selanjutnya: Bagaimana Seharusnya Negara dalam Mengurusi Olahraga?

Tulisan ini adalah buah dari hasil seminar yang penulis ikuti pada ‘NIFS International Sport Academy (NIFISA)’ di Kanoya dan Osaka, Jepang, yang berlangsung dari 30 Agustus sampai 16 September 2015.

Beberapa sumber data dan contoh kasus yang penulis ambil berasal dari para pemberi materi seminar yaitu Dr. Inge Claringbould, Ph.D., John Ross Cooper, B.PE., B.Ed., Katahiro Kitamura, M.PE., Hiroko Maeda, M.Ed., Kozo Tomiyama, M.PE., dan Yasuo Yamaguchi, Ph.D.

Selain tulisan ini, ada tiga tulisan lainnya dari kami di #AboutTheGame Detik Sport yang membahas mengenai kebijakan olahraga secara lebih lengkap:

Peran Penting Kebijakan Pemerintah dalam Memajukan Olahraga Sebuah Negara

Strategi Kebijakan Olahraga yang Membawa Kesuksesan

Pengembangan Olahraga Melalui Promosi dan Manajemen pada Acara Olahraga

Komentar