Akal Sehat dalam Tiga Kejadian Bersama Boaz

Editorial

by Zen RS 26001 Pilihan

Zen RS

Board of director | Panditfootball.com

Akal Sehat dalam Tiga Kejadian Bersama Boaz

Kita bisa berdebat dalam banyak hal, tapi agaknya kita bisa dengan mudah membuat kesepakatan: Boaz adalah pemain terbaik Indonesia dalam satu dekade terakhir.

Pencapaiannya tak ada yang menyamai: empat gelar juara Liga Indonesia, satu gelar juara Pekan Olahraga Nasional (2004), tiga kali menjadi top skor Liga Indonesia, menjadi pemain terbaik Liga Indonesia (2013),�sekali menjadi top skor Pekan Olahraga Nasional (PON), belum terhitung capaian-capaian minor seperti tiga kali menjadi runner-up Piala Indonesia, sekali meraih juara Community Shield yang mempertemukan juara Liga dan juara Piala Indonesia (2009).

Tulisan ini dibuat sebagai kado ulang tahun untuk Boaz Solossa yang hari ini, 16 Maret 2015, tepat berusia 29 tahun.



Boaz adalah sedikit pemain Indonesia yang mencuat sejak usia muda tapi tetap berada di puncak prestasi begitu memasuki fase senior. Top skor PON saat ia berusia 18 tahun dilanjutkan dengan prestasi demi prestasi di level senior. Gelar demi gelar terus ia raih seiring merambatnya usia.

Hebatnya lagi, semua capaian itu ia raih setelah mendapatkan cedera patah kaki. Dua kali ia mendapatkan cedera parah. Pertama pada 2005 saat ditekel oleh Baihakki Kaizan di final Piala Tiger 2005 dan pada 2007 dalam laga persiapan menjelang Piala Asia karena tekel pemain Hongkong di laga ujicoba.

Dua cedera itulah, semuanya mendera saat bermain demi dan atas nama Indonesia, seharusnya bisa menjadi gardu pengingat yang sanggup menahan siapa pun untuk berhati-hati memvonis Boaz sebagai "pemain yang tak becus membela merah putih".

Sepakbola Indonesia akrab dengan cerita tentang bakat besar pemain muda ini dan itu atau kesebelasan ini dan itu tapi kemudian merosot dengan cepat. Dari kesebelasan Primavera hingga Beretti yang berlatih di Italia dan terakhir beberapa generasi SAD yang berkompetisi di Uruguay, dari Kurniawan Dwi Julianto hingga Syamsir Alam -- semua tentang kabar pemain muda yang berbakat namun kemudian meredup cepat tanpa sempat menggapai yang tertinggi dalam hal prestasi.

Boaz memang sama seperti yang lain, dari Bepe hingga Bustomi atau Bejo Sugiantoro hingga M. Roby, yang gagal atau belum memberikan prestasi untuk kesebelasan nasional. Boaz masih punya kesempatan memberikan trofi untuk Indonesia. Tapi sebelum trofi benar-benar datang ke Indonesia, ia masihlah bagian dari sebuah -- meminjam istilahnya Bepe-- "generasi yang gagal".

Tapi ia tak gagal bersama kesebelasan yang diperkuatnya, juga dalam hal pencapaian pribadinya. Seperti yang sudah saya sebutkan di awal tulisan, capaian pribadi Boaz bersama Persipura merupakan capaian terhebat yang pernah ditorehkan oleh seorang pemain sepakbola di jagat sepakbola Indonesia abad-20.

Jika Kurniawan adalah pemain yang mencuat saat saya masih remaja, Boaz adalah pemain yang namanya moncer saat saya sudah beranjak dewasa. Jika Adjat Sudradjat dan Ribut Waidi adalah ingatan masa kecil saya tentang pemain hebat Indonesia, sementara Kurniawan adalah ingatan masa remaja saya tentang seperti apa profil idaman pemain Indonesia yang layak diidolakan, maka Boaz adalah kesadaran fase dewasa saya tentang bagaimana seorang pemain bola berbakat yang moncer tapi sekaligus terkunci dalam iklim sepakbola yang begitu-begitu saja.

Adjat (pemain penting dari kesebelasan yang saya dukung) dan Ribut Waidi (pemain pertama yang membuat saya ingin mempunyai baju timnas Indonesia dan kemudian terealisasi berkat kebaikan bapak) lebih menyerupai sebuah kultus dalam ingatan saya. Tak banyak yang bisa diotak-atik dari sebuah kultus. Sedangkan Kurniawan mewakili kelabilan seorang remaja yang mudah jatuh hati, kendati hingga kini saya masih mengakui Kurniawan sebagai striker Indonesia paling mematikan yang pernah saya lihat.

Boaz adalah satu dari sekian pemain yang pernah mengalami tragedi patah kaki di lapangan. Simak cerita kami tentang pemain-pemain yang mengalami patah kaki saat sedang bermain, baik pemain internasional (dari Eduardo hingga Mattielo) maupun pemain lokal (dari Boaz hingga Bima Sakti):

Tentang Kaki-kaki yang Patah Itu.



Tapi Boaz berbeda. Ia muncul saat saya sudah lebih "tenang" menyikapi sepakbola (termasuk sepakbola Indonesia). Saya sudah lebih matang -- tentu karena ada pengaruh faktor usia, saat itu saya sudah di pertengahan usia 20an. Boaz muncul ketika saya sudah tidak terlalu banyak menaruh harapan setinggi bintang kepada sepakbola Indonesia. Dan karena itulah, bagi saya, Boaz mewakili sebuah fase dalam hidup saya ketika akal sehat�sudah mulai menggantikan emosi jiwa yang dulunya berkobar-kobar terhadap Indonesia dan sepakbolanya.

Tentu saja saya sedih tak terkira saat Firman Utina gagal mengeksekusi tendangan penalti di laga kedua final Piala AFF 2010, kegagalan yang membuat saya sudah membuang jauh-jauh harapan melihat Indonesia meraih trofi Piala AFF bahkan sebelum babak pertama selesai. Tentu saja saya agak mbrebes mili ketika sepakan Ferdinan Sinaga gagal menembus gawang Malaysia yang dijaga Khairul Fahmi di fase adu penalti dalam final Sea Games 2011.

Tapi kesedihan dan mbrebes mili itu bukan karena saya menaruh harapan yang sangat tinggi, melainkan sebentuk harapan yang wajar dibayangkan saat kesebelasan yang kita dukung sudah berada di laga puncak. Di ujung sebuah perjalanan, ketika tanah yang dijanjikan sudah terlihat di pelupuk mata, amat bisa dimengerti jika emosi mendadak agak bergetar dan harapan begitu saja berkibar.

Akal sehat itu pula yang membuat saya tak pernah menaruh harapan yang tinggi dan beban yang berat di pundak Boaz. Akal sehat itu pula yang membuat saya dengan sangat gampang memahami kenapa dan mengapa Boaz beberapa kali bermasalah dengan kesebelasan nasional. Akal sehat pula, tentu diperkaya dengan perspektif politik yang saya pelajari tentang apa yang terjadi di Papua, yang membuat saya bisa dengan mudah mengerti kenapa dan mengapa Boaz seperti bermain lebih penuh hasrat saat memperkuat Persipura -- walau saya juga tahu Boaz selalu all out tiap kali ia memutuskan memenuhi panggilan timnas.

Dan sebagai bagian tak terpisahkan dari akal sehat saya dalam memandang dan menyikapi sepakbola Indonesia, saya dan Boaz terikat oleh sebuah ingatan dan kenangan yang bisa jadi tak mungkin akan saya lupakan. Ingatan dan kenangan itu tertanam dalam tiga peristiwa yang berbeda. Apa saja tiga peristiwa itu?

Halaman selanjutnya: Akal Sehat pada peristiwa 12 Oktober 2004

Komentar