Elegi Tendangan Penalti

Editorial

by Dex Glenniza

Dex Glenniza

Managing editor of Pandit Football, master of sport science, bachelor of science (architecture actually), licensed football coach. Born with the full name of Defary Glenniza Tiffandiputra, growing up with a nickname Dex Glenniza. Who cares anyway! @dexglenniza

Elegi Tendangan Penalti

Kota Sofia kemarin malam seolah menjadi sarang bagi mereka para pendukung Steaua Bucure?ti untuk melepas dahaga kesedihan mereka sambil menenggak botol demi botol bir.

Sebuah pertandingan panjang yang hampir sia-sia yang hanya menawarkan kesunyian pada akhirnya, meninggalkan setiap pendukung Steaua lainnya yang tidak minum, yang masih sadar, untuk lebih hanyut ke dalam dalam arus penuh rasa grogi, sambil berharap cemas mudah-mudahan mereka cepat lupa dengan kekalahan menyakitkan Steaua atas Ludogorets Razgrad di pertandingan kualifikasi Liga Champions di Sofia, Bulgaria.

Sebuah malam yang dingin, sebuah malam yang mereka semua tidak akan pernah lupa, terutama untuk bek bernomor punggung 27 yang tiba-tiba harus menjaga gawangnya dalam drama yang mengubah takdir sepakbola timnya.

Kenyataan pahit bahwa Steaua harus kalah dari Razgrad di pertandingan kualifikasi, yang padahal hanya sedang menghadapi tim yang tak berkiper, hanya dapat dimaafkan sebagai salah satu syarat dari olahraga. Kekalahan yang sebenarnya dapat dijelaskan secara sederhana.

Lebih dari dua jam permainan sepakbola yang melelahkan buyar seketika bak kisah kapal yang karam secara tragis. Cosmin Mo?i, pemain yang malam itu menjadi kiper dadakan sejak perpanjangan waktu hampir berakhir, memupuskan harapan tim asal Bucharest tersebut untuk berlaga di Liga Champions.

Puing-puing yang berserakan di papan skor menjelaskan kematian Steaua yang agak kasar: lima dari tujuh penalti masukdan dua lagi tidak berhasil masuk.

Pada malam yang dingin dimana Razgrad (Vladislav Stoyanov terutama, kiper Razgradyang menerima kartu merah pada menit ke-119 akibat sebuah professional foul) terbebaskan dari neraka mereka, karena kemenangan tidak meminjamkan dirinya terlalu sering untuk mengunjungi koridor introspeksi.

Tapi bagi pihak lain, pertanyaan terus diajukan setelah menyaksikan laga tak terduga tersebut, sebuah pertanyaan paling sederhana, "Bagaimana tendangan penalti sebegitunya bisa menjadi sebuah sumber tragedi?".

Tendangan Penalti Bukanlah Bagian dari Sepakbola

Dalam sebuah posmortem pertandingan, David Winner dalam Brilliant Orange menawarkan dua penjelasan yang berbeda mengapa upaya tendangan penalti bisa gagal untuk mempertemukan bola dengan gawangnya.

Satu penjelasan diwakili oleh nabi sepakbola terbesar Belanda, Johan Cruyff, pelaku etos Total Football Ajax dan penghuni terhormat dari ka'bah sepakbola dunia, sementara penjelasan yang lain berasal dari Gyuri Vergouw, seorang penggemar berat timnas Belanda dan juga pencetus teori-teori penalti.

Posisi lebih mapan yang dipegang oleh Cruyff, yang pada dasarnya menyatakan bahwa tendangan penalti yang sebagian besar diatur oleh aturan agak acuh tak acuh dari kesempatan.

Keyakinan ini, sering bersama dengan banyak pemain, adalah salah satu yang menenangkan para pendukung dan penonton, dengan sebagian besar membebaskan tanggung jawab dari para pemain karena tendangan penalti sejatinya berarti meletakkan nasib sepenuhnya pada kesempatan, dan keberuntungan memainkan peran besar dalam menentukan hasilnya. Maka bisa dibilang bahwa nasib sedang sial saja, setidaknya malam itu untuk Steaua.

Di sisi lain, Vergouw menghubungkan posisi tendangan penalti sebagai permainan kesempatan yang sedikit tidak masuk akal dan juga sebagai batang dari akar masalah yang lebih besar. Vergouw menyalahkan kegagalan tepat di pundak para pemain dan staf pelatih, menunjukkan bahwa mereka tidak siap untuk berhasil pada fase penalti.

Vergouw dasarnya percaya bahwa tendangan penalti dapat didekati dengan ukuran ilmu pengetahuan, melihat tendangan penalti sebagai disiplin yang dipelajari yang dapat meminimalkan kegagalan.

Pada satu titik Vergouw mengangguk setuju dengan Cruyff: Tendangan penalti bukanlah benar-benar bagian dari sepakbola.

Bagaimana Bisa Tidak Diakuinya Sebuah Tendangan Penalti?

Alasan mengapa konsep penalti tampaknya keluar dari logika adalah bahwa penalti itu sendiri adalah semacam ironi, ketika sebuah kerjasama apik sebuah tim yang menulis takdirnya di atas lapangan kemudian harus dibugili untuk membuat jalan bagi dua orang dengan narasi statis: seorang penendang penalti yang termenung melawan kiper yang gugup menunggu.

Komentar