Menelaah Faktor Utama Kegagalan Timnas U-19

Editorial

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Menelaah Faktor Utama Kegagalan Timnas U-19

Kemarin (21/08), tim nasional U-19 besutan Indra Sjafri dievaluasi oleh PSSI. Tim yang memberi masukan itu terdiri dari Demis Djamoeddin dari tim HPU (High Performance Unit), Fakhry Husaini sebagai pelatih timnas U-17, Alfred Riedl dari pihak pelatih timnas senior, serta Rahmad Darmawan yang mewakili praktisi di dunia kepelatihan sepakbola Indonesia.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama enam jam itu menyimpulkan bahwa timnas perlu dibenahi secara total. Para panelis berpendapat bahwa permainan timnas U-19 pada turnamen HBT di Brunei beberapa waktu lalu sudah bisa diantisipasi lawan, sehingga tim lawan memiliki cara mengalahkan timnas U-19. Hal tersebut diamini sang pelatih, Indra Sjafri. Ia mengaku sangat menerima dan akan mempertimbangkan semua hasil dari evaluasi yang bertempat di Hotel Aston Kuningan Jakarta itu.

Selain soal permainan yang kini mudah dibaca lawan, masalah mental menjadi hal yang perlu dievaluasi para tim pelatih timnas U-19, “Masalah psikologis juga dibahas dalam pertemuan tadi. Tentunya ada sebab yang harus kami cari tahu kenapa ada rasa jenuh. Ini akan jadi pekerjaan rumah kami untuk membangkitkan semangat mereka seperti dulu,” tulis detik mengutip apa yang dikatakan coach Indra.

Rasanya semua orang awam pun akan menjawab hal yang sama jika diajukan pertanyaan seperti itu. Alasan  kejenuhan ini merupakan dampak dari terlalu seringnya para pemain menjalani pertandingan dengan jadwal yang super ketat. Tur nusantara yang dilakoni timnas beberapa waktu lalu itulah yang menjadi biang keroknya kegagalan timnas U-19 bisa berprestasi pada turnamen HBT lalu. Kita bisa melihat sendiri permainanan para pemain inti seperti Evan Dimas, Ilham Udin, Maldin Pali, dan Ravi Murdianto tampil tak secemerlang seperti biasanya.

Maka tak aneh ketika pemain yang justru cukup menonjol adalah Paulo Sitanggang. Saya pun berani menyebutkan permainan Paulo Sitanggang pada turnamen ini lebih baik ketimbang Evan Dimas. Paulo bukanlah pemain utama dalam skuat timnas U-19 karena ia hanyalah cadangan dari Evan Dimas-Hargianto-Zulfiandi yang biasanya menempati tiga pos inti di lini tengah.

Paulo sadar betul dirinya sedang mendapatkan kesempatan emas untuk menunjukkan performa terbaiknya agar bisa merangsek ke tim utama, dan ia melakukannya dengan baik. Berbeda dengan para pemain lain yang sepertinya hanya sedang menjalani rutinitasnya, yang pada akhirnya kurang bersemangat untuk meraih kemenangan.

Saat Ilham Udin mencetak gol kedua timnas saat melawan Singapura di laga terakhir, Ilham Udin tampak tak terlalu merayakan golnya. Ia hanya berbalik, menyalami rekan-rekan yang mendatanginya, lalu kemudian melakukan sujud syukur yang juga telah menjadi rutinitas.

Berbeda halnya ketika Dimas Drajat mencetak gol. Dari gol pertama hingga gol keempat yang ia ciptakan, sangat terlihat kepuasan tersendiri dari sang pemain. Ia merayakan setiap golnya dengan penuh sukacita.

Ketika itu Indra Sjafri menurunkan lima pemain cadangannya (enam bersama Paulo). Dan para pemain cadangan tersebut bermain cukup apik, khususnya Dimas Drajat yang mencetak empat gol dan Ichsan Kurniawan yang mengisi lini tengah bersama Evan Dimas dan Paulo Sitanggang.

Terlepas dari tim lawan yang memang menjadi bulan-bulanan tim yang berlaga di grup B, pertandingan itu menunjukkan effort yang berbeda antara para pemain yang terbiasa menjadi pemain utama dan pemain yang biasanya menjadi penghuni bangku cadangan.

Menurunkan para pemain cadangan sejatinya memang harus dilakukan sejak awal. Karena pada awalnya, Indra Sjafri sendiri yang mengatakan bahwa turnamen HBT ini hanyalah turnamen uji coba sebelum Piala Asia U-19. Namun anehnya, selama turnamen berlangsung, Indra Sjafri justru selalu menurunkan skuat terbaiknya.

Alasan konyol lainnya yakni menyoal permainan timnas yang jadi mudah terbaca karena terlalu sering ditayangkan di televisi, rasanya alasan tersebut kurang bisa diterima. Karena jika memang begitu adanya, bukankah seharusnya Indra Sjafri merespon hal tersebut dengan strategi berbeda? Jika ia lebih membiarkan strategi yang ada sehingga timnas menelan kekalahan, bukankah itu berarti kapabilitas Indra Sjafri sebagai juru taktik perlu dipertanyakan?

Lagipula, mempelajari kelemahan tim lawan lewat rekaman video adalah hal yang biasa dilakukan untuk menggali kelemahan lawan. Indra Sjafri pun seharusnya melakukan hal yang sama untuk bisa memetakan kekuatan lawan.

Namun kesalahan tak boleh sepenuhnya dilimpahkan pada Indra Sjafri. PSSI pun berandil besar atas kegagalan program mereka. Para pemain timnas U-19 yang seharusnya mendapat pelajaran dari tim seperti Argentina Junior dan Barcelona Junior, justru mendapatkan tamparan telak dari tim yang levelnya tak jauh dengan lawan-lawan mereka di Piala Asia nanti.

Maka sekali lagi, hal yang menjadi sumber kegagalan tim nasional kita ini adalah PSSI, dan itu bukan lagi rahasia umum. Oleh karena itu, pihak yang seharusnya lebih dulu dievaluasi ya PSSI-nya itu sendiri. Dan selama belum terjadi perubahan secara sistematis dalam kepengelolaan sepakbola negeri ini, jangan pernah bosan membaca berita atau tulisan kritikan kepada federasi yang penuh dengan rasa benci.

foto: ligaindonesia.co.id

Komentar