Ramai-ramai Meninggalkan Sporting Lisbon

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Ramai-ramai Meninggalkan Sporting Lisbon

Awalnya tak ada yang aneh di tempat latihan Sporting Lisbon yang terletak di Kota Alcochete, Selasa (15/5). Semuanya berjalan normal. Para pemain menjalani rutinitas mereka dengan berlatih.

Liga sudah berakhir sejak dua hari sebelumnya, namun dalam lima hari Sporting akan menjalani pertandingan penting: final Piala Portugal. Mereka akan menghadapi Desportivo Aves di laga puncak tersebut. Latihan yang digelar hari itu bertujuan untuk semakin mematangkan persiapan jelang final.

Di tengah sesi latihan skuat Sporting Lisbon dikejutkan oleh kedatangan segerombolan orang yang menenteng senjata tajam di tangan mereka masing-masing. Tak jelas seperti apa rupa orang-orang tersebut; wajah mereka ditutupi kain. Jumlah mereka sangat banyak, sekitar 50 orang.

Tanpa tedeng aling-aling gerombolan yang baru datang itu langsung menyerang para pemain, staf, dan pelatih Sporting Lisbon. Mereka juga merusak ruang ganti markas latihan.

Para pemain Sporting menderita luka-luka akibat serangan mendadak itu. Penyerang andalan Sporting, Bas Dost, terluka cukup parah di kepalanya. Sejumlah pemain senior seperti Rui Patricio dan William Carvalho turut menjadi sasaran amuk para pelaku penyerangan.

“Ini bukan Sporting, Sporting tidak bisa seperti ini,” sebut pernyataan resmi kesebelasan beberapa saat usai kejadian. “Kami akan mengambil langkah untuk apa yang baru saja terjadi dan kami minta hukuman diberikan kepada para pelaku yang terlibat dalam aksi itu.”

Peristiwa tragis tersebut seakan menjadi puncak dari musim penuh gejolak yang dijalani Sporting Lisbon. Berbagai masalah internal mendera silih berganti sepanjang musim 2017/18. Semua itu disebabkan ulah kontroversial sang presiden, Bruno de Carvalho.

***

Kedatangan Bruno di Sporting awalnya sempat disyukuri—sebelum akhirnya disesali. Sejak kedatangannya pada 2013, Sporting mengalami berbagai kemajuan. Kondisi finansial kesebelasan membaik seiring meningkatnya penjualan tiket pertandingan. Kebijakan penjualan pemainnya juga dianggap tepat—4 dari 5 nilai penjualan termahal Sporting terjadi saat Bruno menjabat.

Kesehatan finansial kesebelasan berdampak langsung terhadap performa tim di lapangan. Sporting finis di peringkat kedua klasemen akhir Primeira Liga musim 2013/14. Musim sebelumnya Sporting hanya mampu finis di papan tengah. Pencapaian baik ini pun terjaga hingga sekarang. Sporting tak pernah terlempar dari tiga besar.

Sayangnya De Carvalho bukan malaikat. Dia gemar berkonfrontasi dengan siapa pun yang dianggapnya menghambat kemajuan Sporting Lisbon.

Pada September 2017 misalnya: De Carvalho mengejek David Sullivan dan David Gold (pemilik West Ham United) dengan sebutan "The Dildo Brothers". Ini bermula hanya karena West Ham dianggap tak jelas dalam negosiasi gelandang bertahan Sporting Lisbon, William Carvalho. Padahal menurut pengakuan pihak West Ham, penawaran sudah diajukan kepada Sporting. Namun tak ada kabar lanjutan yang mereka terima setelahnya.

De Carvalho juga sering terlibat perdebatan panas di media sosial dengan pihak kesebelasan Benfica, rival domestik Sporting. Selain itu dia pun acap melayangkan kritik pedas kepada Federasi Sepakbola Portugal yang dianggapnya telah gagal menyediakan fasilitas lapangan sepakbola yang memadai.

Sikap buruk De Carvalho ini kemudian dirasakan oleh kesebelasannya sendiri. Pada pertandingan leg pertama perempat final Liga Europa 2017/18, Sporting takluk dari tuan rumah Atletico Madrid dengan skor 2-0. Tak terima dengan hasil itu, De Carvalho menumpahkan rasa kesalnya di akun Facebook pribadinya.

Ia mengkritik habis-habisan para pemain Sporting yang tampil payah di Madrid. Bahkan ada beberapa pemain yang disebutnya secara langsung dalam kritik tersebut. De Carvalho menyebut para pemain Sporting yang bertanding di Madrid sebagai “kumpulan anak-anak manja”.

Beberapa pemain Sporting membaca unggahan De Carvalho. Jelas saja mereka tak terima. Pernyataan De Carvalho kemudian mendapat balasan dari mereka. Debat panas di media sosial antara presiden kesebelasan dan para pemainnya pun tak terhindarkan.

Kesal dengan tindak-tanduk para pemainnya yang melawan, De Carvalho kemudian mengeluarkan ancaman bahwa ia akan memecat sebanyak 19 pemain yang terlibat cekcok dengannya. “Semua pemain yang menulis pesan ini akan dipecat dengan segera serta mendapat pendisiplinan,” tulisnya di akun Facebook miliknya.

Selang sebulan setelah ancaman itu dilayangkan, terjadilah penyerangan terhadap skuat Sporting oleh gerombolan orang tak dikenal di Alcochete. Situasi internal kesebelasan pun semakin tak kondusif.

Seiring dengan krisis yang semakin parah dalam tubuh tim, sejumlah pemain Sporting memutuskan untuk angkat kaki dari Kota Lisbon. Pada Senin (11/6), Bas Dost, Gelson Martins, Bruno Fernandes, dan William Carvalho mengumumkan bahwa mereka akan mengakhiri kontrak dengan Sporting. Para pemain lain seperti Daniel Podence dan Rui Patricio bahkan sudah lebih dulu pergi, sejak awal Juni.

Kepala Pelatih Sporting, Jorge Jesus, juga memilih meninggalkan Sporting kendati kontraknya masih tersisa satu tahun. Jesus kemudian menangani kesebelasan Arab Saudi, Al-Hilal, per awal Juni 2018.

Kepada ESPN, pelatih berusia 63 tahun tersebut pernah mengungkap kondisi Sporting Lisbon. Ungkapannya Jesus agaknya mampu menggambarkan seburuk apa kondisi internal Sporting Lisbon saat ini: “Aku sudah menekuni sepakbola sejak usia 14 tahun. Usiaku sekarang 63, dan aku sama sekali tak pernah menemukan situasi seperti ini sebelumnya.”

Komentar