Belgia, Indonesia, dan Kemiripan Cetak Biru

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Belgia, Indonesia, dan Kemiripan Cetak Biru

Radja Nainggolan tidak dibawa Tim Nasional Belgia ke Piala Dunia 2018. Mengejutkan. Walau begitu, Nainggolan ditinggal adalah wajar. Belgia sedang dibanjiri pemain bertalenta berlabel generasi emas. Nainggolan bukan satu-satunya pemain besar yang tak dibawa. Kevin Mirallas, Christian Benteke, Steven Defour, dan Divock Origi juga tidak ikut ke Rusia.

Belgia saat ini dihuni banyak pemain top. Selain itu, mereka juga sedang berada di peringkat ke-3 FIFA (Juni 2018). Menjadikan mereka kandidat juara turnamen macam Piala Eropa atau Piala Dunia pun tidak berlebihan. Kualitas individu pemain di setiap lini boleh diadu dengan negara-negara macam Portugal, Spanyol, Inggris, Perancis, dan Jerman.

Tidak dipilihnya Nainggolan, seperti dalam pengakuan Roberto Martinez, lebih untuk keseimbangan tim. Seorang pelatih memang punya kriteria-kriteria tertentu dalam memilih pemain. Kecocokan dengan strategi yang dipakai amat sangat menentukan. Nainggolan tampaknya tidak pas dengan skema Martinez.

Lupakan dulu sejenak soal Nainggolan. Yang menarik dari Belgia dengan generasi emasnya saat ini mengingatkan saya, setidaknya, pada apa yang tengah dilakukan federasi sepakbola Indonesia (PSSI) yang sedang berusaha menciptakan timnas yang kuat di masa yang akan datang. Cetak biru yang sedang dijalankan ada beberapa kemiripan. Akan tetapi ada beberapa penyebab yang membuat Indonesia masih jauh untuk seperti Belgia.

Cetak Biru Generasi Emas Belgia

Sebelum generasi emas saat ini, Belgia punya generasi emas pada 1980-an. Kelompok ini bertahan hingga awal 90-an. Era Jean-Marie Pfaff, Eric Gerets, Rene Vandereycken, Jan Caulemans, dan pemuda terbaik Belgia saat itu, Enzo Scifo, berhasil melangkahkan Belgia ke final Piala Eropa 1980 (dikalahkan Jerman Barat) dan peringkat empat Piala Dunia 1986 (dikalahkan Argentina, yang kemudian jadi juara, di semifinal).

Setelah itu talenta berbakat Belgia masih bermunculan. Salah satunya Luc Nilis yang mencetak 110 gol dari 164 penampilan di Eredivisie bersama PSV Eindhoven. Namun ketajaman Nilis seorang tak cukup membuat Belgia disegani. Kegagalan demi kegagalan diraih. Jika tidak menjadi tuan rumah pada Piala Eropa 2000, boleh jadi Belgia tercatat absen tujuh edisi sebelum akhirnya bermain di Piala Eropa 2012.

Piala Eropa 2000 sendiri kemudian menjadi titik balik revolusi sepakbola Belgia. Nilis yang saat itu berusia 33 tahun tak berdaya. Belgia langsung tersingkir di fase grup padahal berstatus tuan rumah bersama Belanda. Italia dan Turki menempati dua teratas. Satu-satunya kemenangan Belgia hanya diraih melawan juru kunci, Swedia.

“Orang-orang Belgia mulai mempertanyakan kualitas tim setelah Piala Eropa 2000,” ujar Michael Sablon pada BBC. “Setelah turnamen itu memang ada perasaan malu. Hubungan federasi dan masyarakat pun mulai tak bagus.”

Masih ingat wonderkid Belgia bernama Anthony Vanden Borre? Ia terdampar di Kongo

Penunjukan Michael Sablon sebagai direktur teknik adalah awal dimulainya revolusi Belgia. Sablon yang pada Piala Dunia 1990 menjadi bagian staf pelatih Belgia, merumuskan cetak biru pengembangan pemain muda. Targetnya, Belgia punya lagi generasi emas pada 10 tahun mendatang agar tak lagi hanya bergantung pada beberapa pemain saja.

“Pada 2001, kami menciptakan visi baru untuk mengembangkan pemain muda di Belgia,” kata Sablon, sebagaimana dikutip Esquire, pada 2014. “Di masa lalu, kami punya empat atau lima pemain bagus yang bisa membuat kami kompetitif melawan negara-negara top. Sekarang jumlahnya sudah lebih dari dua kali lipat.”

Sablon tidak langsung begitu saja menjalankan rencananya. Ia lantas melakukan penelitian ke negara-negara top sepakbola seperti Belanda, Perancis, dan Jerman. Dalam perjalanannya ia menjajaki akademi-akademi klub top tiga negara tersebut untuk mencari tahu sistem atau model seperti apa yang mereka gunakan.

Sablon butuh waktu cukup lama hingga akhirnya memutuskan rumusan masalah sepakbola Belgia. Jumlah penduduk Belgia yang mencapai 11 juta, menurut Sablon, membuatnya harus berpikir keras untuk memaksimalkan talenta pemain yang benar-benar serius berkarier di sepakbola. Saat itu pesepakbola Belgia memang tak banyak.

Total hanya 34 klub profesional yang berkompetisi. Baru pada 2016 Belgia menjalankan kompetisi untuk tim sepakbola amatir. Tak tanggung-tanggung, untuk memelihara atmosfer sepakbola di level amatir, Belgia menciptakan tujuh divisi amatir sebelum bisa promosi ke divisi dua yang sudah berstatus profesional.

Kepastian cetak biru Sablon pun baru selesai pada 2006. Ini artinya, Belgia melepaskan Piala Eropa 2004 serta Piala Dunia 2002 dan 2006 walaupun pada 2002 masih mampu melangkah hingga babak 16 besar.

Pertama, Sablon mewajibkan semua akademi klub profesional bermain dengan skema yang sama: 4-3-3 yang fleksibel, cepat, dan cair yang membesarkan Barcelona dan Ajax Amsterdam. Skema ini dibuat untuk melepaskan mindset medioker pada diri Belgia yang sebelumnya lebih banyak bermain dengan serangan balik. Hal ini diungkapkan Bob Browaeys, salah satu dari 30 pelatih yang tergabung untuk menjalankan cetak biru buatan Sablon.

“Anda harus tahu bahwa pada akhir 90-an bahwa di Belgia semua kesebelasan bermain penjagaan individu, terkadang dengan seorang sweeper,” tukas Browaeys pada tulisan Jonathan Wilson di Guardian. “Berbentuk 4-4-2 tapi bisa juga seperti 3-5-2. Kami mendapatkan banyak hasil bagus bersama tim inti karena permainan kami sangat terorganisasi. Tapi itu sangat defensif, mengandalkan kultur serangan balik.”

“Kami kemudian yakin bahwa 4-3-3 akan menjadi lingkungan terbaik untuk dipelajari para pemain kami. Kami pun beranggapan bahwa kami perlu mengembangkan lagi dribbling skills, karena jantung dari visi kami adalah unggul dalam situasi satu lawan satu. Anak lelaki atau perempuan yang ingin bermain bola, mereka harus diberikan dulu kebebasan dalam menggiring bola.”

Kedua, Sablon mewanti-wanti pada semua tim akademi muda, termasuk Timnas Belgia kelompok umur, saat mereka bermain tidak perlu berorientasi pada kemenangan. Dalam analisisnya, yang telah meneliti 1.500 pertandingan usia muda, berorientasi pada kemenangan akan berakibat buruk pada pengembangan pemain muda itu sendiri.

Baca juga: Kemenangan Harusnya Bukan Prioritas Pemain Muda

Tidak ada trofi yang bisa dimenangkan di kompetisi usia muda. Bahkan untuk kompetisi usia 7-8 tahun yang menjadi awal kelompok umur, Sablon tidak membolehkan turnamen atau kompetisi yang menggunakan klasemen.

“Hasil akhir tidak lagi jadi tujuan,” kata Sablon. “Tujuan tim muda tidak lagi berorientasi pada memenangi pertandingan, tapi untuk mengembangkan pemain. Tidak mudah menyosialisasikannya. Saya sendiri diserang media dan federasi Belgia secara personal.”

Ketiga, yang menurut Sablon tidak kalah penting, setiap pemain muda yang berhasil naik level, tidak boleh turun level. Tujuannya agar memotivasi pemain untuk terus berusaha meningkatkan kualitas dirinya agar bisa tetap berada di tim.

“Saya beri contoh,” kata Sablon pada BBC, “Vincent Kompany kalau tidak salah dia bermain dua kali untuk timnas U19, tiga kali untuk timnas U21, setelah itu ia bermain untuk timnas senior. Kami tidak memanggilnya untuk timnas U19 atau U21 saat menghadapi tim besar ketika ia sudah di timnas senior atau satu level di atasnya meski usianya masih memungkinkan. Sekali mereka naik level, mereka harus meningkatkan diri untuk menyesuaikan dengan level tersebut, bukannya diturunkan.”

Dampak dari aturan di atas pun membuat pemain akan punya rekan setim yang kemungkinan tumbuh bersama. Menurut Marouane Fellaini yang merupakan salah satu generasi emas Belgia saat ini, itu memudahkannya untuk beradaptasi dan mengompakkan tim.

“Satu hal yang pasti dari pengembangan pemain Belgia adalah kami bermain bersama untuk waktu yang lama,” kata Fellaini pada Esquire. “Banyak dari kami sudah bermain bersama sejak Olimpiade Beijing (2008, Belgia menempati posisi empat setelah dikalahkan Argentina yang diperkuat Lionel Messi dan Sergio Aguero). Kami tinggal bersama di sebuah desa ketika kami berusia 18, 19, 20, 21, sehingga kami mengenal satu sama lain dengan sangat baik.”

Melihat lini masa revolusi Belgia, bisa dikatakan semuanya bermula pada 2006 yang hasilnya mulai dirasakan pada 2008. Cetak biru yang digagas Sablon pun lantas sesuai rencana karena para pemain muda Belgia baru matang pada 2016. Piala Eropa 2016 adalah Piala Eropa Belgia setelah absen pada edisi 2004, 2008, dan 2012. Di Piala Dunia sudah menuai hasil pada 2014 malah, setidaknya dengan ikut ambil bagian setelah absen pada 2006 dan 2010.

Tapi buah dari revolusi sepakbola Belgia lewat generasi emasnya adalah kesempatan menduduki peringkat 1 FIFA pada periode November 2015 hingga Maret 2016. Di Piala Dunia 2018, Belgia pun berada di pot 1 karena menempati posisi ketiga dunia. Revolusi sepakbola Belgia telah menjadikan mereka sebagai negara unggulan di Piala Dunia.

Tinggal trofi yang belum bisa diraih Belgia. Tapi Jerman yang memulai revolusi pada 2000 baru merasakan trofi Piala Dunia pada 2014. Artinya, trofi bisa diraih dalam 14 tahun. Hasil revolusi Belgia, jika menggunakan hitungan tersebut, baru akan diraih pada Piala Eropa 2020 dan/atau Piala Dunia 2022. Bisa saja lebih cepat, di Piala Dunia 2018.

Untuk Piala Dunia 2018 sendiri, selain menyisihkan nama-nama besar, dari 23 nama yang dipilih Martinez, hanya satu yang berasal dari liga domestik, yakni Leander Dendoncker. Hampir setengahnya bermain di Liga Primer Inggris. Sudah jelas terlihat betapa berkualitasnya generasi emas Belgia saat ini. Mereka pun layak dijadikan sebagai kandidat juara.

Indonesia Belum Akan Seperti Belgia

Yang dilakukan Belgia untuk sampai di tempat mereka saat ini, sebenarnya, sedang dilakukan oleh Indonesia lewat PSSI. Namun kesamaannya hanya sebatas penyamaan visi dan filosofi bermain saja, yakni menggunakan 4-3-3 yang fleksibel, cepat, dan cair sebagai dasar permainan di level SSB. Sayangnya, ada alasan kuat pencapaian Indonesia tidak akan secepat Belgia.

Baca juga: Memahami "Indonesian Way" Lewat Permainan Skuat Asuhan Luis Milla

Pertama soal infrastruktur. Pada cetak biru yang dibuat Sablon, ia sama sekali tak sedikit pun menyinggung pembangunan infrastruktur atau fasilitas latihan untuk menunjang pemain. Hal ini dikarenakan peningkatkan kualitas infrastruktur sudah menjadi kesadaran dari masing-masing klub Belgia.

Standard Liege menghabiskan 18 juta euro untuk fasilitas akademi dan latihan. Jumlah itu, menurut These Football Times, merupakan terbesar di antara klub-klub elite. Pengorbanan besar yang hasilnya langsung terasa. Standard Liege balik modal karena salah satu lulusannya, Fellaini, dibeli Everton dengan harga 19 juta euro.

Sementara itu RC Genk yang menghasilkan alumni macam Kevin De Bruyne, Yannick Carrasco, dan Thibaut Courtois berinvestasi sebesar 3 juta euro dan sudah dikenal sebagai salah satu akademi terbaik sejak 2003. Germinal Beerschot, yang memproduksi Nainggolan, Jan Vertonghen, Toby Alderweireld, Thomas Vermaelen, dan Mousa Dembele, bekerja sama dengan Ajax Amsterdam pada 1999 hingga 2003 sebelum akhirnya bisa berdiri sendiri.

Di Indonesia akademi terabaikan. Bahkan klub-klub divisi teratas pun tidak punya tempat latihan sendiri. Mayoritas berlatih di lapangan-lapangan militer atau stadion untuk pertandingan. Hanya beberapa kesebelasan yang punya akademi. Klub-klub lebih memilih untuk mengeluarkan biaya besar untuk pemain asing.

Kedua, soal pemain muda dengan tuntutan prestasi. Sablon mengatakan pemain muda berorientasi pada kemenangan akan menghambat perkembangan pemain muda. Kita patut mengamininya karena Belgia terbukti berhasil walaupun itu tak terjadi di Indonesia.

Timnas usia muda di Indonesia dituntut berprestasi. Tak perlu jauh-jauh, pada 2017 lalu PSSI menargetkan timnas U16 menjuarai Piala AFF U15. Timnas U23 pun dibebani meraih medali emas untuk SEA Games 2017. Indonesia gagal pada kedua kompetisi tersebut.

Dengan tuntutan tinggi pada usia muda, selain pada akhirnya terus-menerus mengalami kegagalan, para pemain Indonesia pun terbukti lebih cepat meredup. Nama-nama seperti Yongki Aribowo, Syamsir Alam, Egi Melgiansyah, Irvin Museng, Christian Warobay, Yericho Christiantoko, dan masih banyak lagi, layu sebelum berkembang.

Ketiga soal formasi. Susunan pemain 4-3-3 Indonesia terlalu kaku. Di Belgia, meski pola dan gaya bermain sudah dibentuk agar satu visi, ada beberapa kesebelasan yang memodifikasinya sehingga meski berbeda tapi tujuannya sama.

Akademi Anderlecht misalnya, tim muda mereka bermain dengan pola dasar 3-4-3. Tapi mereka mewajibkan di setiap pertandingan menguasai pertandingan hingga 70%. Bahkan sebenarnya bermain dengan 3-4-3 dianggap lebih sulit karena harus memulai serangan dengan 1 kiper plus 3 pemain belakang, bukan 1 kiper plus 4 pemain belakang.

Akademi Anderlecht juga menerapkan aturan tidak boleh melancarkan tekel keras sampai masuk tim U21. Itu membuat para pemainnya harus bermain pintar mencari momen untuk mengintersep atau memblok bola. Aturan ini melahirkan lebih banyak pemain berteknik dan menghindari cedera parah pada pemain muda.

Hal seperti itu tidak diterapkan di Indonesia. Bahkan di SSB yang saya latih, pemain usia 10 tahun sudah punya mental untuk mencederai rekan setimnya di sesi game training hanya karena insiden kecil saat sesi latihan. Mental pemain muda pun pada akhirnya perlu dibina juga dan rasanya membutuhkan edukasi khusus soal ini.

Permasalahan pengembangan pemain muda di Indonesia, pada akhirnya, jauh lebih kompleks dari sekadar penentuan filosofi bermain. Untuk seperti Belgia, rasanya Indonesia butuh lebih dari 50 tahun. Semoga saya salah…

Komentar