Anak-anak Kanal

Cerita

by Evans Edgar Simon

Evans Edgar Simon

Kontributor PanditFootball.com

Anak-anak Kanal

Selalu ada yang pertama untuk segala hal. Setelah menunggu selama kurang lebih 40 tahun (terhitung sejak pertama kali mengikuti kualifikasi Piala Dunia, bukan sejak terakhir kali lolos ke putaran final karena Panama belum pernah lolos dari kualifikasi), akhirnya Panama meraih tiket emas.

Hari bersejarah itu jatuh pada 10 Oktober 2017. Sekitar 26 ribu penonton yang hadir di Estadio Alfonso Lastras, Panama City, bersorak merayakan kemenangan 2-1 atas Kosta Rika.

Panama el Mundial! Panama el Mundial! (Panama lolos ke Piala Dunia! Panama lolos ke Piala Dunia!)” seru komentator televisi dengan suara paraunya.

Warga Panama turun ke jalan. Meski sejatinya sepakbola kalah populer ketimbang bisbol, basket, dan tinju, mayoritas tetap tenggelam dalam euforia. Mereka berteriak dan melompat-lompat. Bernyanyi dan berjoget. Tertawa dan menangis haru. Mereka ingin melihat langsung para pahlawannya, yang diarak menggunakan mobil pemadam kebakaran.

“Suara masyarakat telah didengar. Besok (11 Oktober 2017) adalah hari libur nasional,” tulis Presiden Panama, Juan Carlos Valera, melalui akun Twitter resminya. Sulit dibayangkan, sebuah momen sepakbola bisa membuat tanggalan berwarna merah.

Tidak ada satu pun di antara mereka yang peduli jika gol pertama Panama, yang dicetak Blas Perez, sebenarnya tidak sah. Berdasarkan tayangan ulang, bola memang tidak melewati garis gawang. Orang lain menyebutnya “gol hantu”; masyarakat Panama lebih senang menyebutnya sebagai takdir.

“Itu hari keberuntungan kami. Tuhan memberi kami hadiah,” kata gelandang Anibal Godoy kepada laman resmi Major League Soccer (MLS).

Rasanya tidak berlebihan jika keberhasilan skuat asuhan Dario Gomez lolos ke Piala Dunia dianggap sebagai sebuah keajaiban. Empat hari sebelum melawan Kosta Rika, mereka dibantai 0-4 oleh Amerika Serikat (AS).

Kekalahan di Orlando membuat Panama berada di ujung tanduk. Nasib mereka bergantung pada hasil pertandingan lain, antara Trinidad & Tobago dan AS. Satu-satunya cara untuk lolos ke Piala Dunia adalah dengan mengalahkan Kosta Rika dan AS kalah dari Trinidad & Tobago, yang hanya meraih satu kemenangan dan menelan delapan kekalahan dalam sembilan pertandingan.

“Tetaplah yakin dan percaya pada tim nasional. Kami akan meraih target yang diinginkan oleh semua orang di Panama, yaitu terbang ke Rusia,” kata kapten Roman Torres dalam sesi latihan terakhir menjelang laga penentuan.

Torres paham ada kekhawatiran di kalangan para suporter—bahkan sangat mungkin juga di antara para pemain. Kecemasan terasa semakin nyata setelah Kosta Rika mencetak gol pembuka melalui kaki Johan Alberto Venegas.

Bek Luis Ovalle mengakui bahwa beberapa pemain meneteskan air mata setelah bola bersarang di jala gawang Panama. Seperti kata Walikota Panama City, Jose Blandon, “momen kegembiraan (biasanya) dilanjutkan dengan momen kesedihan” bagi para penggemar sepakbola Panama.

Kata-kata Blandon merujuk pada kenangan buruk di Kualifikasi Piala Dunia 2014, tepatnya pada 15 Oktober 2013. Kala itu, Panama menghadapi AS dalam laga terakhir kualifikasi. Jika menang, mereka akan lolos ke babak play-off.

Harapan membubung tinggi. Panama unggul 2-1 ketika asisten wasit mengangkat papan di pengujung waktu normal babak kedua, menunjukkan injury time selama tiga menit. Nahas, dalam tiga menit berikutnya, skor berbalik menjadi 3-2 untuk kemenangan AS.

Tangis para suporter Panama empat tahun lalu itu belum mengering di tribun Estadio Alfonso Lastras, tetapi mereka sudah dihadapkan dengan kenyataan pahit lainnya akibat gol Venegas. Los Canaleros hampir mengucap selamat tinggal pada Piala Dunia 2018.

***

Los Canaleros artinya “orang-orang kanal”. Julukan tersebut berasal dari keberadaan Kanal Panama yang terkenal dan bersejarah. Kanal ini menghubungkan Samudera Atlantik dan Samudera Pasifik, menjadikannya sebagai salah satu jalur laut paling ramai dan penting di dunia.

Pada 2001, The American Society of Civil Engineers menyebut Kanal Panama sebagai “salah satu keajaiban dunia modern”. Hal ini tidak terlepas dari fakta bahwa pembangunannya total membutuhkan waktu lebih dari empat abad.

Yang pertama kali berinisiatif membangunnya adalah Kaisar Romawi Charles ke-5 (juga dikenal sebagai Raja Spanyol pertama) pada 1534. Kala itu, hampir seluruh Benua Amerika merupakan jajahan Kerajaan Spanyol. Jalur ini dikenal dengan nama Isthmus of Darien.

Ide tersebut dikubur dalam-dalam dengan segera. Keterbatasan alat dan sulitnya medan membuat pembangunan mustahil dilakukan.

Kemajuan teknologi membuat segalanya terasa mungkin. Setelah membangun Terusan Suez (menyambungkan Laut Mediterania dan Laut Merah) pada 1896, Perancis menjadikan Isthmus of Darien sebagai target berikutnya.

Perancis mendapat izin dari pemerintah Kolombia—ketika itu Panama adalah bagian dari negara Kolombia—pada 1879. Pembangunan konstruksi kanal dimulai dua tahun kemudian.

Pembangunan itu kandas pada 1889. Penyebabnya adalah kondisi alam yang kejam. Berdasarkan buku The Path Between the Seas: The Creation of the Panama Canal, 1870–1914 karya David McCullough, sekitar 22 ribu pekerja meninggal dunia akibat terkena malaria dan penyakit kuning. Belum lagi, sering terjadi banjir dan longsor yang membuat para insinyur kewalahan.

Perusahaan yang ditunjuk sebagai kontraktor, La Société Civile Internationale du Canal Interocéanique, bangkrut akibat korupsi. Diperkirakan hampir setengah juta Francs hilang entah kemana. Peristiwa ini dikenal dengan nama Skandal Panama. Bahkan, banyak yang mengklaimnya sebagai skandal korupsi terbesar pada abad ke-19.

Perancis sempat berupaya untuk melanjutkan proyek pada 1894, sebelum diambil alih oleh AS pada 1903 melalui Perjanjian Hay-Bunau-Varilla. Nama perjanjian diambil dari dua negosiator, perwakilan Panama asal Perancis Philippe-Jean Bunau-Varilla dan Sekretaris pemerintah AS John Hay.

Di balik perjanjian tersebut, terselip sebuah agenda khusus: “AS menjamin kemerdekaan Republik Panama”, yang tertulis jelas di poin pertama kesepakatan.

Situasi ketika itu memang cukup rumit. Panama tengah berjuang untuk memisahkan diri dari Kolombia, buntut dari perang sipil antara kubu liberal dan konservatif yang dikenal dengan sebutan Thousand Days’ War (1899-1902).

Kebetulan, dalam periode perang, AS memiliki kepentingan untuk mengambil alih proyek Kanal Panama demi menegaskan kembali kekuasaan AS di Amerika Tengah. Mereka baru kehilangan kapal angkatan laut, USS Maine, yang karam di Pelabuhan Havana dalam Revolusi Kuba melawan Spanyol pada 1898.

Dikarenakan pemerintah Kolombia sulit untuk diajak bekerja sama, AS akhirnya berpihak pada kubu separatis (liberal).

Keputusan AS tidak terlepas dari peran Bunau-Varilla. Meski seorang Perancis, ia diketahui memberikan bantuan dana kepada gerakan separatis yang diprakarsai Jose Agustin Arango Remon.

Langkah AS bukannya tidak mendapatkan tentangan. The New York Times melabeli kebijakan Presiden Theodore Roosevelt sebagai “langkah pendindasan yang keji”. Banyak yang meyakini bahwa ini merupakan aksi nyata dari istilah politik Diplomasi Kapal Perang (versi Roosevelt dikenal dengan istilah Ideologi Tongkat Besar).

Roosevelt sendiri tidak membantah tuduhan tersebut secara menyeluruh. “Kepentingan kami sangat besar, karena tembakau dan gula Kuba, dan terlebih karena hubungan Kuba dengan proyek di Isthmus. Tetapi, kepentingan tersebesar kami adalah tentang kemanusiaan,” tulis Roosevelet dalam autobiografinya ketika menceritakan asal muasal Perang AS-Spanyol.

Sejak AS mengakui Panama sebagai sebuah negara pada 6 November 1903, puluhan negara lain langsung menyusul. Per Juli 1904, sudah ada 37 negara (termasuk negara-negara besar seperti Perancis, Jerman, Uni Soviet, dan Tiongkok) yang mengakui kemerdekaan Panama.

“Utang budi” Panama terhadap AS dibayarkan melalui Perjanjian Hay-Bunau-Varilla. AS mendapatkan hak otonom atas Isthmus of Darien, yang telah berubah sebutan menjadi Isthmus of Panama. Bukan hanya dalam pembangunannya, melainkan juga dalam pengoperasian dan pemasukan. Adapun AS menyetor 10 juta Dollar US di muka dan 250 ribu Dollar US per tahun selama sembilan tahun sejak peresmian kanal.

Pembangunan kanal rampung pada 1914, menghabiskan dana hampir 500 juta Dollar AS (sekitar 9 miliar Dollar AS pada 2017). Nominal tersebut menjadikan Kanal Panama sebagai proyek pembangunan terbesar yang pernah dijalankan AS hingga hari ini.

Daerah otonom yang dimiliki oleh AS diberi nama Zona Kanal Panama. Sesuai dengan Hay-Bunau-Varilla, mereka boleh memiliki polisi sendiri, mendirikan sekolah, hingga kantor pos. Mereka juga membangun pangkalan militer. Menggunakan istilah Indonesia, ada “Kampung Amerika” di Panama.

Hal tersebut menjadi awal polemik dalam hubungan antar kedua negara memasuki era 1960an, ketika kekuatan militer (Guardia Nacional) mencoba mematahkan hegemoni politik para oligarki Panama. Pemicu utamanya dikenal sebagai Martyr Days (Hari Martir).

Semua berawal ketika Presiden AS, John F. Kennedy, mengizinkan bendera Panama berkibar di sebelah bendera AS di seluruh tempat non-militer di Zona Kanal Panama. Sayangnya, sebelum perintah ini diresmikan, Kennedy mati terbunuh.

Satu bulan selepas kematian Kennedy, gubernur Zona Kanal Panama Robert J. Fleming, Jr. mengumumkan bahwa bendera AS tidak boleh berkibar kecuali di tempat militer. Zonian (sebutan bagi warga AS yang hidup di Zona Kanal Panama) menginterpretasikan kebijakan ini sebagai langkah mundur. “AS tidak ingin berkuasa di Zona Kanal Panama lagi”, pikir mereka.

Untuk melampiaskan kekesalan, Para Zonian mengibarkan bendera AS di pelbagai tempat, salah satunya adalah SMA Balboa (sebuah SMA negeri di Zona Kanal Panama). Staf-staf sekolah sempat menurunkannya, tetapi para pelajar itu justru mogok belajar dan kembali menaikkan bendera.

Cerita ketengilan Zonian di SMA Balboa sampai ke kuping para pelajar di SMA Instituto Nacional, salah satu sekolah negeri top yang di luar zona. Dipimpin oleh Guillermo Guevara Paz, selaku ketua OSIS, sekitar 200 pelajar Instituto Nacional berjalan menuju SMA Balboa pada 9 Januari 1964.

Tujuan para pelajar Instituto Nacional hanya satu: mengisi ujung satu tiang bendera yang kosong di halaman SMA Balboa dengan bendera Panama. Bisa ditebak, kedatangan mereka tidak diterima dengan baik.

Setelah bernegosiasi, pihak kepolisian mengizinkan enam perwakilan Instituto Nacional untuk mengibarkan bendera. Salah satu dari mereka membawa spanduk bertuliskan “Panama berdaulat atas Zona Kanal”.

Sebelum sempat mengibarkan bendera, mereka dikelilingi oleh ratusan Zonian. “Satu orang mulai berteriak, lalu diikuti oleh yang lain. Mereka mulai mendorong dan mencoba mengambil bendera secara kasar sambil menghina kami,” tutur salah satu perwakilan Instituto Nacional bernama Eligio Carranza kepada Time.

Di tengah keributan, bendera Panama yang dibawa anak-anak Instituto Nacional robek. Mereka mengklaim bahwa bendera dirobek oleh polisi, sedangkan pihak kepolisian melalui Kapten Gaddis Wall mengatakan bahwa “empat pelajar Panama yang memegang bendera itu yang merobeknya”.

Setelah mendapatkan pukulan stik bertubi-tubi, para pelajar Instituto Nacional memilih mundur. Sebagai bentuk perlawanan, mereka melempar batu ke pelbagai properti dalam perjalanan pulang. Tiba-tiba, terdengar suara letupan senjata api. Militer AS yang diterjunkan menghujani mereka dengan timah panas.

Ascanio Arosmena, yang kala itu baru berusia 19 tahun, menjadi “martir” pertama. Nyawanya terenggut akibat peluru kaliber .22 yang menembus dada.

Informasi mengenai kerusuhan meluas. Warga Panama berbondong-bondong menuju Zona Kanal yang dikelilingi oleh pagar pembatas. Situasi mencekam selama tiga hari. Gedung dibakar. Properti dirusak. Penembakan dilakukan.

“Terdapat sebuah Tembok Berlin di Panama hari ini,” ujar perwakilan Kolombia untuk Organization of America mendeskripsikan kerusuhan di sekitar Zona Kanal.

Berdasarkan laporan LIFE, total sebanyak 22 warga Panama dan empat tentara AS meninggal dunia. Sementara, lebih dari 300 orang terluka dan 500 warga Panama ditangkap. Pemerintah AS mendapat kecaman keras dari dunia internasional, juga warganya sendiri.

Martyr Days membuat eskalasi kebencian warga Panama terhadap AS tak terelakkan. Hal ini yang kemudian menggerakkan Guardia Nacional untuk mengambil alih kekuasaan.

Usaha kudeta Guardia Nacional baru berhasil pada 1968. Ini kudeta pertama dalam sejarah Panama. Arias Madrid, presiden yang menjabat ketika itu, dicap sebagai komunis.

Guardia Nacional melabeli diri sebagai El Gobierno Revolucionario (Pemerintahan Revolusi), menunjuk Omar Torijjos sebagai pemimpin. Memang ada presiden yang ditunjuk secara de jure, tetapi mereka hanyalah boneka Guardia Nacional untuk “menghormati” konstitusi.

Satu fakta yang menarik dan tidak boleh terlewatkan adalah Guardia Nacional didanai oleh AS sejak 1952. Hal ini diyakini melapangkan jalan Torrijos untuk menyepakati perjanjian dengan presiden AS Jimmy Carter yang diberi nama Torrijos–Carter Treaties pada 1977. Perjanjian itu berisi kesepakatan bahwa AS akan angkat kaki dari Kanal Panama ketika memasuki milenium baru.

Ada banyak kontroversi yang meliputi Torrijos–Carter Treaties. Salah satu isunya adalah soal taktik Carter dalam membuktikan kapasitas. Presiden AS ke-39 itu tengah berada dalam tekanan setelah 13 bulan memerintah. Kepercayaan publik terhadapnya menurun jauh.

Majalah Penthouse edisi November 1979 menulis bahwa Panama sebenarnya di ambang kebangkrutan pada 1977. Mereka memiliki utang sebesar 2 miliar Dollar AS kepada Amerika Serikat. Dengan melepas kanal kepada AS, maka utang tersebut bisa dibayar secara bertahap.

Terlebih lagi, Carter berharap kredibilitasnya kembali meningkat melalui Torrijos–Carter Treaties. Strategi jangka panjangnya: AS mendapatkan kredibilitas terkait diplomasi internasional sehingga mendorong investasi asing.

Meski AS dan Panama telah menandatangani kesepakatan, tidak berarti permasalahan berakhir. Setelah Torrijos meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat pada 1981, tampuk kepemimpinan jatuh ke tangan Manuel Noriega.

Noriega bukan sosok asing bagi Panama maupun AS. Jaiver A. Galvan, dalam bukunya Latin American Dictators of the 20th Century: The Lives and Regimes of 15 Rulers, menjelaskan bahwa Noriega adalah salah satu tangan kanan andalan Torrijos yang kerap melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor.

Ketika Noriega menjadi Kepala Intelejen Panama, tercatat ada 1.300 orang yang ditangkap. Mereka diasingkan karena dianggap sebagai ancaman bagi negara.

Keahlian intelejen Noriega tentu diketahui dengan baik oleh AS. Ia pernah menjadi salah satu agen asing yang dikontrak CIA untuk memata-matai pemerintah Kuba dan Nikaragua. Diperkirakan bayarannya mencapai 200 ribu dolar AS per tahun.

Ketika proses negosiasi Torrijos–Carter Treaties tengah berlangsung, CIA pernah mengirimkan salah satu agennya untuk mengumpulkan informasi dari dalam pemerintah Panama. Alih-alih, Noriega justru membalikkan situasi dengan menyogok sang agen dan membuat Panama berada di posisi yang diuntungkan. Meski kesal, AS pun menaruh respek pada Noriega.

Hubungan antara Noriega dengan AS mulai merenggang pada 1986. Presiden Ronald Reagan meminta Noriega mundur sebagai pemimpin Panama setelah The New York Times mengungkap keterlibatannya dalam skandal Irangate (penjualan senjata secara ilegal kepada kelompok separatis Nikaragua, Contras). Permintaan tersebut ditolak mentah-mentah.

Tak kehabisan akal, Reagan mengancam akan menangkap Noriega atas kasus penyelundupan narkoba.

Di luar karier militer, Noriega memang diketahui berbisnis obat-obatan terlarang. Ia bahkan menjadi salah satu pemain kunci dari bisnis narkoba Kartel Medellin milik Pablo Escobar.

Reagan jelas tahu keterlibatan Noriega di Kartel Medellin. Selama ia memimpin sebagai Presiden AS, perang terhadap narkoba adalah kampanye yang didengungkan.

AS mencoba bersabar. Reagan menimbang bahwa penangkapan paksa Noriega akan berdampak negatif pada kampanye pemilihan presiden George H. W. Bush, yang tak lain adalah wakil presidennya sendiri.

Setelah resmi terpilih menjadi Presiden ke-41 Negeri Paman Sam pada 1989, barulah Bush secara terbuka menyatakan tidak ada toleransi bagi para penjual narkoba. Ia jelas mengarahkan kata-kata tersebut kepada Noriega.

Pernyataan Bush dianggap sebagai sebuah pertanda perang oleh Noriega. Pada 15 Desember, Noriega mendeklarasikan perang terhadap AS. Empat hari kemudian, Panamanian Defense Forces (PDF, dulu bernama Guardia Nacional) menembaki empat tentara AS di Panama City. Satu di antaranya, Letnan Robert Paz, meregang nyawa.

Bagai lalat hinggap di mulut tanaman Venus, Bush menggunakan penyerangan itu sebagai momentum. Pada 20 Desember, militer AS melakukan invasi ke Panama dengan nama Operation Just Cause.

Bush beralasan bahwa invasi ini dilakukan untuk melindungi sekitar 35 ribu warga AS yang berada di Panama, menegakkan demokrasi dan hak asasi manusia di Panama, melawan perdagangan narkoba (Panama diklaim menjadi pusat transit perdagangan narkoba antara AS dan Eropa), serta melindungi Torrijos–Carter Treaties. Bagaimanapun, intinya hanya satu: tangkap Noriega.

Noriega tentu memberi perlawanan, tetapi para pendukungnya mulai mundur teratur menjelang tahun baru. Tempat perlindungan terakhirnya adalah Apostolic Nunciature, istilah bagi kedutaan besar milik Holy See (wilayah di Vatikan).

AS tidak bisa mengivansi Nunciature. Oleh sebab itu, mereka menggunakan taktik psikologis. Musik rock mengalun deras melalui pengeras suara, sementara lapangan di dekat Nunciature dijadikan sebagai lokasi pendaratan helikoper. Akhirnya, pada 3 Januari 1999, Noriega menyerahkan diri.

Seperti biasa, tidak ada angka pasti terkait korban perang. Rilis resmi Pentagon dan Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut sekitar 500 warga Panama meninggal, tetapi memo internal tentara AS yang dikutip oleh John Lindsay-Polan dalam bukunya berjudul Emperors in the Jungle: The Hidden History of The US menyebut sekitar 1.000 orang menjadi korban.

Sejak 2000, Panama telah berkuasa sepenuhnya atas kanal. Kehidupan masyarakat berangsur membaik. Mereka bahkan pernah menjadi Negara Paling Bahagia di Dunia dalam survey yang dirilis oleh Gallup and Healthways Global pada 2014.

Hubungan Panama dengan AS pun terbilang harmonis. Mereka bersama-sama terus memerangi penyelundupan narkoba.

Banyak warga Panama yang bekerja di AS. Beberapa pemain inti Los Canaleros merumput di MLS, seperti Roman Torres (Seattle Sounders), Harold Cummings dan Anibal Godoy (San Jose Earthquakes), serta Adolfo Machado (Houston Dynamo).

Sementara, investasi Panama sebesar 5 juta dolar AS untuk mengembangkan kanal berdampak positif bagi sektor ekspor AS. Pada Oktober 2017, Wall Street Journal melaporkan bahwa Kanal Panama “membantu para eskportir gas AS mengirimkan lebih banyak barang ke pasar Asia.”

***

Pada akhirnya, tangis masyarakat Panama terasa manis. AS secara mengejutkan kalah 1-2 dari Trindad & Tobago. Adapun gol Roman Torres, tiga menit menjelang waktu normal berakhir, memastikan Panama menjadi salah satu wakil zona CONCACAF di Rusia, bersama Meksiko dan Kosta Rika.

Suara ledakan tidak lagi terasa menakutkan bagi rakyat Panama. Warna-warni kembang api bertaburan di langit Panama City, menghiasi kelolosan Los Canaleros ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Panama finis di peringkat ketiga klasemen CONCACAF. Mereka unggul selisih gol dari Honduras yang menempati peringkat keempat.

Sebenarnya, situasi bisa saja terbalik kalau bukan karena Torres. Ia mencetak gol penyama kedudukan di masa injury time babak kedua kala menghadapi Honduras pada 13 Juni 2017.

Gol Torres ke gawang Honduras itu terasa semakin krusial jika melihat fakta bahwa Honduras gagal melaju ke Rusia setelah kalah dari Australia di babak play-off.

“Anak-anak tidak ingin lagi menjadi Pele atau (Lionel) Messi. Mereka ingin menjadi Roman,” kata Jorge Santos, seorang pelatih tim anak-anak di Panama.

Di tengah hingar-bingar euforia yang tak kunjung surut, Torres paham tantangan sesungguhnya baru akan dijalani di Rusia. Mereka berada satu grup dengan Inggris, Belgia, dan Tunisia.

Hanya saja, sekalipun gagal total di Piala Dunia 2018 nanti, rasanya para pemain Panama tetap boleh berbangga atas segala pencapaian sejauh ini.

Seperti kata Roosevelt, yang diklaim banyak pihak sebagai pembangun sejati Kanal Panama, “kredit (baca: pujian) sepenuhnya menjadi milik mereka yang benar-benar berada di arena; yang wajahnya kotor oleh debu dan keringat dan darah; yang berusaha keras dengan gagah berani, yang melakukan kesalahan dan gagal lagi dan lagi; yang memiliki antusiasme besar, dedikasi tinggi, dan mengorbankan dirinya untuk hal bermakna; yang, dalam situasi terbaik, memahami arti kejayaan dari pencapaian tertinggi; yang, dalam situasi terburuk, jika ia gagal, setidaknya gagal ketika berjuang dengan gagah, jadi ia tidak akan pernah sejajar dengan jiwa-jiwa dingin dan penakut yang tidak pernah tahu tentang kemenangan dan kekalahan.”

Komentar