Jalan Panjang Andrew Robertson

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Jalan Panjang Andrew Robertson

Bermimpi menjadi pesepakbola profesional adalah banal. Bagi anak laki-laki berusia belasan tahun sepertiku, punya mimpi menjadi pesepakbola bukanlah sesuatu yang spesial. Itu mimpi banyak anak laki-laki. Aku insaf akan hal itu.

Tapi aku tak pernah main-main dengan mimpiku. Aku ingin suatu saat nanti bisa bermain untuk Celtic—kesebelasan yang aku banggakan sejak kecil. Sebagai anak yang lahir di Glasgow, cintaku kepada Celtic tumbuh alami. Aku sama sekali tak terpengaruh oleh Ayahku yang sudah sejak lama mendukung Liverpool.

Namaku Andrew Robertson. Aku bersekolah di St. Ninian’s High School. Itu sekolah menengah Katolik yang terletak di Giffnock. Jaraknya 14 kilometer dari kediamanku di Glasgow. Aku sudah bersekolah di sana sejak usia 12. Enam tahun adalah waktu yang diperlukan untuk lulus dari St. Ninian.

Selama di sekolah, aktivitas sepakbolaku tak mengendur sama sekali. Aku bergabung dengan tim sepakbola sekolahku. Tak lama kemudian aku dipercaya menjadi kapten tim.

Ketika berumur 15 tahun, aku berkesempatan bergabung dengan tim muda Celtic. Tommy Burns, yang menjabat sebagai Kepala Pengembangan Pemain Muda Celtic, tertarik dengan bakatku.

Aku senang dilatih oleh Burns. Selain karena ia legenda Celtic, sebagai pelatih Burns selalu mengapresiasi setiap usaha yang kulakukan. Kemampuannya melatih sangat mengagumkan. Terkadang aku merasa Burns seperti seorang peramal—ia bisa mengetahui bakat tersembunyi yang kumiliki. Aku semakin bersemangat untuk menggapai mimpiku.

Suatu hari sebuah peristiwa pahit membuatku terpukul. Burns meninggal dunia akibat kanker yang menggerogoti tubuhnya. Aku sempat tak percaya. Aku kehilangan seorang pelatih yang selama ini berperan penting dalam membantuku berkembang. Aku tak yakin pelatih yang menggantikannya nanti bisa sama baiknya dengan Burns.

Apa boleh buat. Segalanya telah terjadi. Hidup terus berjalan; layar harus tetap dikembangkan; mimpi mesti tetap diraih.

Baca juga: Tentang Kiev yang Indah Itu...

Pelatih baru pun datang. Ia seorang pria dari, Motherwell, sebuah kota di utara Skotlandia. Apa yang aku risaukan benar terjadi. Aku tak merasa cocok dengan caranya melatih. Tak seperti Burns, ia lebih mengedepankan kekuatan fisik dalam permainan. Itu bukan gaya main yang kusukai.

Ditambah lagi, ia lebih suka pemain-pemain bertubuh besar dalam skuatnya. Tubuhku pendek dan tidak kekar. Tapi aku masih punya sedikit keyakinan bahwa aku bisa membuktikan diri kepadanya. Aku tertantang dan aku akan berusaha semampuku.

Segala upaya yang kuperbuat terjawab dengan sebuah pernyataan menyakitkan. Aku didepak dari tim muda Celtic. Aku dianggap tak akan mampu bersaing dengan para pemain lain karena aku pendek.

Peristiwa itu membuatku putus asa. Terlintas di benakku untuk berhenti saja mengejar mimpi menjadi pesepakbola. Lebih baik aku fokus meneruskan studiku. Lagi pula aku masih bisa bersentuhan dengan sepakbola walau tak jadi pemain. Mungkin dengan menjadi guru olahraga.

Aku putuskan untuk menyampaikan pertimbangan ini kepada kedua orang tuaku. Mereka malah menentangnya. Orang tuaku menyarankan agar aku tetap berjuang meraih mimpi menjadi pesepakbola profesional. Mereka memberiku satu tahun.

“Kami beri waktu satu tahun lagi kepadamu untuk meraih mimpi menjadi pesepakbola. Jika tidak berhasil, kau harus pikirkan opsi lain.” Begitu kata orang tuaku. Aku menyetujuinya.

Aku bergabung dengan kesebelasan Divisi Tiga Skotlandia, Queen’s Park. Jangan bayangkan aku mendapat bayaran yang layak. Queen’s Park hanya kesebelasan amatir. Aku sama sekali tak menerima bayaran selama bermain di sana.

Awalnya itu bukan masalah bagiku. Aku masih sekolah saat pertama kali bergabung dengan Queen’s Park. Biaya hidupku masih ditanggung orang tuaku. Semua mulai menjadi masalah ketika aku lulus di usia 18 tahun. Aku harus mulai mencari cara untuk menafkahi diri sendiri.

Aku dibuat frustrasi karena pekerjaan yang kubutuhkan tak kunjung datang, sementara aku sangat membutuhkan uang untuk menopang hidup. Sebagai pelampiasan, pada suatu malam aku menumpahkan rasa frustrasi itu di akun media sosialku.

“Hidup di zaman ini hanyalah sampah tanpa uang. #ButuhPekerjaan,” tulisku.

Aku cukup beruntung. Pada suatu hari aku bertemu dengan Andy McGlennan. Ia sudha bertahun-tahun bekerja di Queen’s Park dan merupakan orang penting di kompleks olahraga Hampden Park. Ia menawariku pekerjaan di Hampden Park. Aku menerimanya.

Di sana aku bekerja sebagai pelayan tiket pertandingan. Telepon adalah benda yang paling sering kugenggam selama bekerja. Aku menerima banyak panggilan dari mereka yang memesan tiket pertandingan.

Aku bekerja dari pukul 9 pagi hingga 5 petang. Sama sekali tidak menganggu jadwal latihanku. Queen’s Park berlatih pada malam hari.

Walau perhatianku terbagi dengan pekerjaan, aku bisa tetap tampil baik bersama Queen’s Park. Aku juga selalu dimainkan dalam setiap pertandingan. Di akhir musim, timku finis di peringkat ketiga Divisi Tiga Skotlandia. Ini artinya, sesuai kesepakatan dengan orang tuaku setahun lalu, aku akan melanjutkan karier di sepakbola.

Aku kemudian bergabung dengan Dundee United. Kesebelasan Divisi Utama Skotlandia. Walau hanya semusim di sana, penampilanku tak mengecewakan. Aku memainkan 36 pertandingan dan mencetak 3 gol. Lebih baik dibanding saat aku masih di Queen’s Park, di mana aku hanya mencetak 2 gol sepanjang musim.

Penampilan baik yang kutunjukkan membuat salah satu kesebelasan Liga Primer Inggris tertarik memboyongku. Dengan mahar 2,85 juta paun aku menjadi pemain Hull City. Mereka menyodorkan kontrak tiga tahun. Aku menyetujuinya.

Steve Bruce, manajer Hull, langsung mempercayaiku. Aku langsung dimainkan di pertandingan pembuka Liga Primer Inggris 2014/15, melawan Queens Park Rangers. Penampilanku terus menanjak. Aku bahkan menerima penghargaan Player of the Month. Aku nyaman di tim ini.

Baca juga: Puasa 18 Jam atau Puasa Gelar

Setelah tiga tahun di Hull aku mendapat kabar baik. Liverpool tertarik merekrutku. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Apalagi kabarnya manajer Liverpool, Jurgen Klopp, mengetahui dan mengagumi perjalanan personalku selama ini. Tidak sulit untuk menerima tawaran yang diajukan Liverpool.

Namun kesulitan kembali menghampiriku. Aku kesulitan menembus skuat utama. Ini membuatku kembali sedikit frustrasi.

Aku merasa sangat malu setiap keluargaku datang ke Anfield untuk menyaksikan aku tampil, tapi aku tidak turun bermain. Mereka sering bertanya “Apa kamu cedera?” Aku katakan tidak sama sekali.

Rekan satu tim dan teman-temanku selalu menasihatiku untuk bersabar menghadapi semuanya. Nasihat yang baik, tapi mereka begitu sering mengulangnya. Lama-lama aku jadi jengkel mendengarnya. Rasa-rasanya ingin sekali aku merobek kepala mereka.

Aku akhirnya harus berkata kepada orang tuaku, kekasihku, dan semua temanku untuk berhenti mengatakannya. Itu, bagiku, hanya akan memperburuk keadaan.

Pada suatu malam di Anfield, saat melawan Spartak Moskwa, rekan satu timku, Alberto Moreno, meringis kesakitan jelang babak pertama berakhir. Ia cedera dan digantikan oleh James Milner.

Harusnya aku yang menggantikannya, tapi saat itu aku tidak masuk skuat. Setidaknya, kesempatan mulai terbuka bagiku.

Aku harus berlatih keras untuk mendapat kepercayaan dari Klopp. Bermain di sektor kiri pertahanan Liverpool, aku setidaknya harus menciptakan 12 umpan silang di setiap pertandingan. Itu pun harus efektif. Jika dari 12 itu yang berbuah menjadi peluang hanya 3, orang-orang akan mencemoohku.

Kerja kerasku membuahkan hasil. Klopp mempercayakan pos bek kiri di pertandingan melawan Manchester City di perempatfinal Liga Champions kepadaku. Penampilanku di pertandingan itu ternyata tak mengecewakan Klopp. Aku mulai mendapat tempat di tim utama.

Liverpool akan melawan Real Madrid di final Liga Champions. Aku tak sabar. Aku percaya Liverpool bisa mencetak gol dan memenangi pertandingan. Bagiku, itu akan menjadi puncak karier sepakbola yang selama ini aku perjuangkan dengan susah payah.

Komentar