Oblak: Dari Tak Diinginkan Jadi Tak Tergantikan

Cerita

by Rio Rizky Pangestu

Rio Rizky Pangestu

Pembaca yang menulis.

Oblak: Dari Tak Diinginkan Jadi Tak Tergantikan

Hari itu 22 Juli 2014. Jan Oblak diperkenalkan di hadapan awak media yang memenuhi ruang konferensi pers. Oblak berpose di hadapan para pewarta, membentangkan seragam penjaga gawang Atletico Madrid. Warnanya kuning. Nomor punggungnya 13. Di atas nomor punggung terpampang namanya, yang dalam bahasa Slovenia berarti “awan”.

Atletico memboyong Oblak sebagai pengganti Thibaut Courtois yang kembali ke Chelsea. Dengan rasa percaya diri tinggi Oblak menolak disebut pengganti.

“Aku tidak datang untuk menggantikan siapa pun,” ujarnya. “Aku datang sebagai pemain baru. Aku di sini bersama para pemain dan penjaga gawang lain. Aku akan mengerahkan semua kekuatan untuk mempertahankan kaus tim dan meraih prestasi musim ini. Aku akan melakukannya dengan kedua tanganku.”

Sewajarnya Oblak percaya diri. Pertama, Oblak didatangkan dari Benfica dengan harga yang tidak murah—16 juta euro. Nilai transfer tersebut menjadikan Oblak penjaga gawang termahal La Liga.

Kedua, penampilan Oblak di musim terakhirnya bersama Benfica gemilang. Oblak hanya kebobolan 8 gol dalam 28 pertandingan.

Catatan mengkilap itu ternyata tidak cukup membuat Diego Simeone terkesan. Gelagat itu tampak pada pertandingan pembuka musim 2014/15. Atletico berhadapan dengan Real Madrid di ajang Piala Super Spanyol. Pelatih kepala Atletico Madrid lebih memilih memainkan Miguel Angel Moya alih-alih penjaga gawang termahalnya.

Di La Liga sama saja. Oblak lebih banyak menghangatkan bangku cadangan. Ia harus menunggu nyaris sebulan untuk mendapat kesempatan pertamanya. Laga Atletico melawan Olympiakos di Liga Champions menjadi debut kompetitif Oblak bersama Atletico.

Pertandingan itu menjadi kesempatan Oblak membuktikan diri kepada Simeone. Untuk membuktikan bahwa pria Argentina itu keliru selama berminggu-minggu. Untuk membuktikan bahwa ia pantas menjadi penjaga gawang termahal La Liga.

Di pertandingan itu seluruh tekad yang bergumul dalam dada Oblak menguap begitu saja. Penampilannya jauh dari kata gemilang.

Baru 13 menit laga berjalan, gawang Oblak sudah kebobolan. Pelakunya bek sayap Olympiakos, Arthur Musaku. Dari jarak 22 meter Musaku melepas tembakan. Jangan bayangkan tendangan itu sekencang roket; sepakan Musaku pelan mendatar. Oblak kebobolan gol mudah.

Selanjutnya Ibrahim Afellay dan Konstantinos Mitroglou bergantian membobol gawang Oblak. Atletico hanya membalas dua kali, lewat Mario Mandzukic dan Antonine Griezmann.

Simeone seakan jera menurunkan Oblak lagi. Pupus sudah harapan Oblak untuk merebut posisi penjaga gawang utama dari tangan Moya. Atletico bahkan sempat menawarkan Oblak kembali ke Benfica seiring penampilan yang tidak sesuai ekspektasi.

“Mengejutkan ketika mengetahui Oblak memutuskan pergi dari kami,” ujar Presiden Benfica, Luis Felipe Viera. “Tapi dasar, hidup memang penuh kejutan; mereka menawarkan kembali Oblak kepada kami. Kami sudah tidak menginginkannya.”

Tiga bulan setelah Olympiakos Oblak kembali medapat kesempatan. Bukan di ajang Liga Champions atau La Liga, melainkan Piala Raja. Lawannya kesebelasan Divisi Tiga, L’Hospitalet. Tak sebiji gol pun bersarang di gawang Oblak kali ini, namun tetap saja itu tak bisa jadi patokan.

Kesempatan Oblak membuktikan diri di pertandingan besar baru datang kembali saat Moya dibekap cedera di tengah pertandingan leg kedua 16 besar Liga Champions. Lawannya saat itu Bayer Leverkusen.

Oblak masuk menggantikan Moya dan menunaikan tugasnya dengan baik. Sepanjang sisa pertandingan gawang Atletico terhindar dari kebobolan. Pertandingan berlanjut ke adu penalti dan Oblak melakukan yang terbaik: menggagalkan tiga sepakan Leverkusen. Atletico melenggang ke perempatfinal.

Lawan Atletico di putaran berikutnya adalah Real Madrid. Leg pertama berlangsung di Vicente Calderon. Di hadapan puluhan ribu pendukung Atletico, Oblak menunjukkan kelasnya lagi. Pertandingan berkahir 0-0.

Sejak saat itu Oblak mendapat tempat di hati Simeone dan para pendukung Atletico. Memasuki musim baru, status penjaga gawang utama menjadi miliknya. Penampilan gemilang Oblak musim 2015/16 itu membawa Atletico ke final Liga Champions.

Penampilan Oblak terus menanjak. Di La Liga musim ini, Oblak mencatatkan 22 nirbobol dari 36 pertandingan. Oblak juga membawa Atletico ke final Liga Europa. Dalam 6 pertandingan di kejuaraan itu, Oblak hanya kebobolan satu gol.

“Oblak adalah [kiper] yang terbaik di Eropa saat ini. Malam ini ia tampil begitu baik, dan jujur saja kami frustrasi dibuatnya. Ketika kami sudah unggul satu gol, kami pikir gol selanjutnya akan mudah, tapi ternyata perkiraan kami salah,” ujar Arsene Wenger selepas leg pertama semifinal Liga Europa.

Dengan penampilan yang begitu gemilang, Oblak menjadi incaran banyak kesebelasan besar. Namun Atletico tentu tidak akan melepas sang penjaga gawang begitu saja. Dari tidak diinginkan, Oblak telah menjadi pemain yang tak tergantikan.

Komentar