Mental Juara Juventus Bukan Mitos

Cerita

by Ardy Nurhadi Shufi

Ardy Nurhadi Shufi

Pemimpin Redaksi | Pesepakbola Tarkam | Juru Taktik
ardynshufi@gmail.com

Mental Juara Juventus Bukan Mitos

MY7H. Juventus merayakan gelar juara Serie A ketujuh beruntun mereka dengan slogan yang dibaca "MYTH". Mitos.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata "mitos" punya arti: cerita suatu bangsa tentang dewa dan pahlawan zaman dahulu, mengandung penafsiran tentang asal-usul semesta alam, manusia, dan bangsa tersebut, mengandung arti mendalam yang diungkapkan dengan cara gaib.

Juventus membanggakan keberhasilan mereka sebagai hal yang hanya bisa diraih entitas tertentu. Mereka mengibaratkan diri sebagai sekelompok dewa atau pahlawan.

Mengibaratkan diri sebagai dewa sebenarnya agak berlebihan. Namun "MY7H" tidak menyoroti itu saja. Ada "mitos" lain yang bisa dibanggakan Juventus. Ada sesuatu dalam diri Juventus yang tidak dimiliki kesebelasan lain, yang menjadi dasar segala keberhasilan Si Nyonya Tua di masa lalu hingga masa kini; mental juara.

Mental juara tidak kasatmata. Mental juara juga tidak bisa didefinisikan begitu saja. Namun mental juara itu terasa bagi siapa saja yang (pernah) menjadi bagian dari Juventus. Mental juara itu pula yang sebenarnya ditularkan keluarga Agnelli, pemilik Juventus, secara turun-temurun—diwariskan kepada setiap pemain, pelatih, staf pelatih, bahkan suporter, di setiap musimnya. Mental juara yang seperti mitos itu nyata bagi Juventus.

***

Sebelum memulai musim baru, para pemain Juventus akan memainkan pertandingan melawan tim muda mereka di Villar Perosa. Di real estat yang dimiliki keluarga Agnelli sejak 1811 itu pertandingan persahabatan ini digelar sebagai tradisi.

Acara ini digelar untuk dua alasan. Pertama: ajang menjalin kedekatan antara pemain dan suporter. Kedua: sebagai pengingat kepada para pemain Juventus, terutama yang baru bergabung, bahwa para leganda Juventus pun mengawali kariernya di klub melalui laga ini.

"Legenda Juventus seperti Sivori, Platini, Del Piero, Baggio... mereka melewati taman ini dan melalui lapangan itu sebelum memulai musim," kata Presiden Juventus, Andrea Agnelli. "Musim ini akan sangat luar biasa ketat dan sulit. Musim ini membuat kita harus bekerja keras setiap pekannya. Kita akan bisa menang jika kita berkorban satu sama lain."

Agnelli saat menyambut para pemain dan staf pelatih Juventus 2017/2018 (via: "First Team Juventus: Season 1")

Agnelli menggunakan kesuksesan Juventus di masa lalu untuk mengikat para pemainnya agar berjuang semaksimal mungkin sepanjang musim. "Itu cara terbaik keluarga Agnelli mendemonstrasikan arti dari mencintai Juventus," kata CEO Juventus, Giuseppe Marotta.

Tradisi inilah yang membuat Juventus dikenal sebagai kesebelasan yang erat kekeluargaannya. "Ini adalah pertemuan keluarga besar Juventus. Kami berdoa bersama, pemain dan fans, untuk lebih siap menghadapi musim baru," kata Claudio Marchisio, gelandang yang sudah membela Juventus sejak 1993.

Massimilliano Allegri, pelatih Juventus, tahu betul besarnya tuntutan melatih kesebelasan yang berdiri sejak 1897 ini. Ia pun mewanti-wanti setiap pemainnya, bahkan dirinya sendiri, untuk jauh lebih siap menghadapi musim 2017/18.

"Ini tidak mudah. Setiap musim kami harus meningkatkan standar, jadi kami juga harus menuntut lebih pada diri kami sendiri. Oleh karena itu secara fisik dan teknik kami harus siap. Tapi di atas segalanya, secara mental harus siap," katanya sebelum musim ini dimulai.

Musim 2017/18 berjalan sesuai perkiraan Allegri. Bukan Juventus yang memimpin perburuan gelar juara, melainkan Napoli dan Internazionale Milan. Pada pekan ke-14, Juve berada di posisi tiga. Mereka terpaut empat poin dari Napoli yang memuncaki klasemen; dua poin dari Inter di posisi dua.

Ujian besar bagi mentalitas Juventus sudah hadir pada pekan ke-15 dan ke-16. Secara berurutan mereka menghadapi Napoli lalu Inter. Di titik itu, hanya Napoli dan Inter yang belum sekali pun menelan kekalahan. Juventus sudah dua kali gagal mendulang poin.

Allegri pun tahu bahwa situasi timnya jelang lawan Napoli tak terlalu baik. Di sisi lain, sang lawan tengah dalam performa terbaik. Dari 14 laga, 12 kemenangan 2 hasil imbang diraih. Skuat asuhan Maurizio Sarri itu pun sudah mencetak 35 gol dan hanya kebobolan 9 kali; kedua tersubur dan paling sedikit kebobolan saat itu (Juve kebobolan 14 kali).

"Besok kami akan menghadapi kesebelasan yang melaju lebih kencang daripada kami. Mereka layak berada di posisi mereka saat ini dan layak juga menjadi kandidat juara liga. Kesebelasan dengan pertahanan terbaik biasanya menjuarai liga. Musim ini mungkin kami bukan kesebelasan dengan pertahanan terbaik, tapi kami berharap tetap bisa memenangi liga," tutur Allegri pada konferensi pers.

Otak Allegri langsung diperas habis-habisan. Sebelum itu ia bersama empat stafnya sudah rutin mengevaluasi permainan Juventus di laga sebelumnya dengan menyaksikan ulang sambil mendiskusikan masalah-masalah taktis yang ada. Ia pun menemukan sebuah formula yang tampaknya bisa meredam agresivitas lini depan Napoli.

"Mentalitas! Ini bukan tentang masalah teknik, ini tentang masalah isi kepala kalian! Ini [menunjuk kepala] yang akan menunjukkan perbedaan hasil, keinginan untuk meningkat setiap harinya!," teriak Allegri di tempat latihan. "Napoli menyerang dengan segitiga antara Mertens, Hamsik dan Insigne. Insigne ke tengah, Hamsik ke depan, Mertens ke luar untuk menciptakan segitiga. Kalian harus bisa menghentikan segitiga itu!"

Allegri saat menjalani sesi latihan jelang lawan Napoli. (via: "First Team Juventus: Season 1")

Di tengah instruksi taktisnya Allegri masih sempat menyelipkan "ceramah" tentang mentalitas. Laga melawan Napoli menjadi ujian pertama para kandidat juara, baik Juventus maupun Napoli, bahkan Inter, untuk menunjukkan kualitas mental mereka di situasi genting. Kekalahan berarti perubahan posisi. Apalagi AS Roma yang ketika itu menempati posisi empat hanya berselisih dua poin dari Juve.

Juventus lantas mengalahkan Napoli lewat gol tunggal Gonzalo Higuain. Di tempat lain Inter mengalahkan Cagliari 3-1 dan merebut posisi puncak dari Napoli. Bagi Juve, tantangan tak berhenti di situ. Pekan berikutnya mereka kembali menghadapi pemuncak klasemen.

"Hal langka ketika dalam dua pekan beruntun Anda menghadapi dua pemimpin klasemen. Pekan lalu Napoli, sekarang Inter. Ketatnya persaingan juara sudah jelas mulai terlihat saat ini," ujar Allegri pada prematch Derby d`Italia pertama musim ini.

Inter yang musim ini dilatih Luciano Spalleti tampil impresif. Saat itu mereka berhasil mengamankan posisi puncak dengan menahan imbang Juventus di Alianz Stadium tanpa gol. Napoli juga bermain imbang melawan Fiorentina. Juventus tetap di posisi tiga.

Sejak saat itu harapan Serie A bisa melahirkan juara baru—tidak seperti enam musim ke belakang—semakin mencuat. Harapan yang tidak berlebihan karena selain di Serie A, Juventus pun tak terlalu brilian di babak grup Liga Champions. Mereka baru memastikan diri lolos ke 16 besar di pekan terakhir. Namun faktor utamanya tetap penampilan Inter dan Napoli. Toh, Juve pun akhirnya gagal menjadi capolista di tengah musim.

Meski begitu superioritas Inter tertahan hanya hingga paruh musim. Puncak klasemen kembali diambil alih Napoli pada pekan ke-17 (Inter kalah dari Udinese). Saat itu juga Juventus terus menempel Napoli di posisi dua. Sejak saat itu persaingan mengerucut kepada Napoli dan Juventus.

Napoli yang musim ini menampilkan permainan sepakbola indah semakin difavoritkan juara. Difavoritkan di sini punya arti Napoli diharapkan bisa mengakhiri dominasi Juventus. Jika Napoli bisa juara, sepakbola secara keseluruhan pun dianggap bisa mendapatkan "manfaatnya" sebagai bagian dari salah satu kebutuhan psikologis penikmat sepakbola.

Kekecewaan "para pendukung" Napoli datang lebih cepat. Juventus merebut puncak klasemen pada pekan ke-27.

Namun pintu juara belum tertutup rapat bagi Napoli. Juventus bermain imbang melawan Crotone pada pekan ke-33. Di pekan ke-34, Juve dan Napoli akan bersua. Jika Napoli menang, peluang juara semakin terbuka karena selain bisa memangkas jarak menjadi satu poin, di empat laga sisa Napoli punya lawan-lawan lebih ringan dibanding Juve yang masih harus melawan Inter dan Roma.

Kemenangan itu pun diraih Napoli. Gol Kalidou Koulibaly jelang akhir pertandingan membuat Napoli semakin yakin bisa juara. Mereka berpesta di ruang ganti. Suporternya pun menyambut tim yang pulang dari Turin seperti menyambut tentara yang baru kembali dari medan perang sebagai pemenang.

Sambutan pendukung Napoli terhadap para pemainnya sepulang dari Turin (via: sportseries.net)

Napoli tak sadar saat itu mereka terbuai kemenangan. Mereka lupa bahwa setelah kemenangan atas Juventus masih ada 360 menit berikutnya, yang lebih penting dari hasil di Allianz Stadium.

Itulah yang dipahami Allegri usai kekalahan timnya saat itu. Alih-alih terbawa suasana kecewa, Allegri langsung fokus ke laga berikutnya.

"Kita tidak perlu membuat kalkulasi, tak berguna," kata Allegri seperti dikutip dari Telegraph. "Kami hanya perlu melupakan kekalahan ini dan bersiap untuk laga di Milan (melawan Inter). Betul sekarang Napoli lebih favorit jika melihat jadwal. Tapi saya sudah melihat banyak hal di sepakbola.... segalanya bisa terjadi."

Itulah perbedaan Juventus dengan kesebelasan lain, tak terkecuali Napoli. Juventus mengalahkan Inter 2-3; Juve bahkan saat itu sempat tertinggal 2-1. Namun mental juara Juventus kembali berbicara. Bianconeri mencetak dua gol empat menit jelang bubaran.

Kemenangan itu tampak berpengaruh besar terhadap Napoli yang bertanding sehari berselang. Mereka takluk dari Fiorentina, 3-0 pula.

Juventus mengalahkan Bologna enam hari berselang; Napoli diimbangi Torino (2-2). Kekalahan mental Napoli semakin nyata. Puncaknya hasil imbang yang diraih Juve di Olimpico (13/5). Laga tanpa gol itu mengakhiri perjuangan Napoli untuk menghentikan dominasi Juventus.

***

"Filosofi tim ini, keluarga ini, bermain untuk menang," kata legenda Juventus, Roberto Bettega. "Kita adalah potongan kecil dalam kehidupan. Oleh karena itu rahasia kesuksesan Juventus bukan kami para pemain, melainkan kontinuitas kepemilikan Juve sendiri."

Juventus punya kriteria khusus dalam memilih pemain. Begitu juga dalam memilih pelatih. Keluarga Agnelli akan memilih juru taktik yang bisa menanamkan mentalitas juara itu kepada para pemainnya.

"Semua orang berharap Juventus kalah dan tim lain yang mendapatkan scudetto," kata Allegri pada Desember 2017. "Sebenarnya itu justru meningkatkan keinginan kami untuk mendapatkan scudetto ketujuh secara beruntun. Semakin banyak tekanan yang Anda hadapi, semakin banyak kesenangan yang bisa Anda dapatkan. Itu karena Anda ingin membuktikan bahwa Anda lah yang terbaik. Kemampuan menghadapi situasi itulah yang akhirnya akan menentukan perbedaan."

Allegri yang menjadi penerus Antonio Conte saat ini terbukti orang yang tepat. Ia mengantarkan Juve meraih gelar ganda domestik empat musim beruntun dan satu Super Coppa Italia, serta dua kali runner-up Liga Champions.

Di Serie A musim ini, Allegri berhasil menjungkalkan Napoli dari perburuan juara yang ketat dan mampu unggul dalam situasi tertekan. Ia menjaga amanat para pemilik dan petinggi Juventus untuk terus berjuang sampai akhir, seperti terkandung dalam slogan Fino Alla Fine.

"Saya menangani skuat luar biasa yang diisi oleh banyak pemain hebat, didukung oleh klub yang selalu mendukung kami bahkan di saat sulit. Menjaga level adalah perbedaan kami dengan yang lain, dan Anda bisa lihat di beberapa pertandingan kunci; seperti pertandingan pertama melawan Napoli atau di San Siro beberapa pekan lalu."

"Kredit khusus patut diberikan kepada para pemain yang tetap tenang, mengambil setiap langkah dengan hati-hati menuju tujuan kami. Jika Anda terlalu bersemangat, Anda berisiko terjatuh. Fokus pada level psikologis adalah kunci kemenangan. Jika Anda terlalu bahagia atau sedih sepanjang waktu, Anda tidak bisa meraih apa pun," tandas Allegri yang merupakan tokoh utama "MY7H", melengkapi "HI5TORY" dan "LE6END".


Sejumlah kutipan dalam tulisan ini diambil dari film dokumenter Juventus yang ditayangkan Netflix, "First Team Juventus: Season 1".

Komentar