Nostalgia Burnley di Kompetisi Eropa

Cerita

by Rio Rizky Pangestu

Rio Rizky Pangestu

Pembaca yang menulis.

Nostalgia Burnley di Kompetisi Eropa

Burnley akan tampil di ajang Europa League musim 2018/19. Kepastian itu didapat setelah Everton, yang berada satu tingkat di bawah Burnley dalam tabel klasemen sementara, gagal meraih kemenangan saat menjamu Southampton pada pekan ke-37 Liga Primer Inggris, Sabtu (5/5). Dengan sisa satu pertandingan di Liga Primer Inggris, Everton—yang saat ini berselisih lima poin dari Burnley—sudah tidak mungkin lagi mampu menyalip posisi Burnley di perikat ketujuh klasemen.

Sebenarnya, jatah untuk Europa League sendiri seharusnya didapat oleh tim-tim yang memenangi Piala FA, Piala Liga, dan mereka yang finis di posisi kelima klasemen akhir. Namun, mengingat posisi-posisi tersebut telah ditempati oleh kesebelasan yang sudah dijamin akan mendapat tiket ke ajang Eropa musim depan, maka jatah mereka diberikan kepada klub lain.

Jatah pemenang Piala FA misalnya, akan diberikan untuk kesebelasan yang menempati posisi keenam klasemen akhir Liga Inggris. Mengingat finalis Piala FA (Manchester United dan Chelsea), sudah dijamin lolos ke ajang Eropa musim depan berkat posisi mereka masing-masing di klasemen saat ini. Sementara jatah pemenang Piala Liga, akan diberikan untuk kesebelasan yang duduk di peringkat ketujuh klasemen. Hal ini dikarenakan Manchester City, yang menjuarai Piala Liga musim ini, sebelumnya sudah dijamin akan tampil di Liga Champions musim depan berkat pencapaian mereka memuncaki klasemen akhir Liga Primer Inggris. Maka akhirnya jatah City dari Piala Liga diberikan untuk Burnley yang menempati posisi ketujuh klasemen.

Lolosnya Burnley ke ajang Eropa, mengulang apa yang pernah mereka lakukan pada musim 1960/61, ketika kesebelasan berjuluk The Clarets itu tampil di ajang Liga Champions. Burnley berhasil tampil di Liga Champions karena sebelumnya mereka berhasil menjuarai Liga Divisi Utama Inggris (nama kompetisi sebelum Liga Primer) pada musim 1959/60.

Kiprah Burnley di ajang Liga Champions musim itu cukup menjanjikan. Mereka mampu lolos dari fase penyisihan grup sebelum akhirnya di babak perempatfinal dikalahkan oleh wakil Jerman, Hamburger SV.

Terlepas dari kekalahan itu, pencapaian Burnley sebagai tim yang tidak begitu diperhitungkan namun mampu tampil di Liga Champions bahkan sampai menembus babak perempatfinal, tetaplah merupakan sebuah pencapaian yang tidak bisa dianggap sepele. Usai menjuarai Liga Inggris pun, Burnley konsisten menduduki posisi empat besar klasemen selama tiga musim berutur-turut.

Tahun-tahun kejayaan yang sukses diraih oleh Burnley tersebut, tidak terlepas dari peran besar manajer mereka saat itu, Harry Potts. Pria yang lahir pada 22 Oktober 1920 ini, merupakan salah satu manajer tersukses dalam sejarah Burnley.

***

Setelah sempat berprofesi sebagai tim perekrutan pemain di Wolverhampton Wanderes, dan menjadi manajer selama setengah musim di kesebelasan bernama Shrewsbury Town, Harry Potts yang juga merupakan bekas pemain Burnley, kembali ke Burnley setelah The Clarets meminangnya untuk menjadi manajer tim pada 1958. Tidak butuh waktu lama, hanya selang semusim sejak kedatangannya, Potts mampu membawa Burnley menjuarai Liga Inggris dan lolos untuk pertama kalinya ke ajang Eropa. Salah satu kunci kesuksesan Potts dalam membawa Burnley berprestasi saat itu, adalah berkat inovasi luar biasa yang dibawanya ke dalam tim; baik dalam hal taktikal maupun non-taktikal.

Dari segi taktikal, Harry Potts memperkenalkan formasi 4-4-2 kepada Burnley yang, pada saat itu, belum banyak digunakan oleh kesebelasan-kesebalasan Inggris lain sehingga merupakan sebuah formasi yang terbilang baru. Namun terbukti berkat formasi yang digunakannya itulah, ia berhasil membawa Burnley meraih kesuksesan.

Potts juga menerapkan sistem latihan yang lain dari kesebelasan-kesebelasan umumnya di Inggris. Ketika itu, sistem latihan yang umum digunakan oleh kesebelasan-kesebelasan Inggris adalah dengan berlatih fisik selama satu minggu tanpa sekalipun melibatkan bola. Sistem ini saat itu dipercaya akan manjur dalam membuat pemain lebih bergairah untuk mengejar bola di hari pertandingan akhir pekan.

Namun Potts enggan menggunakan sistem seperti itu. Di Burnley, ia justru setiap hari memberikan menu latihan yang nyaris selalu melibatkan bola. Ia melatih anak asuhnya tentang bermain dengan operan-operan pendek, menguasai bola selama mungkin, dan mencari ruang secerdik mungkin.

Billy Wright, mantan pesepakbola Inggris dan legenda Wolverhampton, ketika itu sempat mengungkapkan impersinya tentang metode yang diterapkan Potts di Burnley. “Setiap orang begitu aktif mencari ruang,” ujarnya.

Walau metode taktik yang diterapkannya saat itu merupakan hal yang baru di persepakbolan Inggris, namun Potts mampu menjelaskan taktik itu kepada anak asuhnya dengan cara yang sederhana, sehinga para pemainnya dengan cepat mampu memahami apa yang diinginkan Potts.

“Harry tak pernah menjelaskan taktik dengan teori yang rumit, walau sebenarnya ia merupakan pelatih yang hebat. Apa yang sering diinstruksikannya kepada pemain adalah, ‘Bermainlah seperti orang-orang Brasil; Bermainlah dan hibur penonton; Bermainlah dengan tawa di sepatumu,’” catat suporter Burnley dalam situs komunitas mereka.

Di luar hal taktikal, Potts juga memupuk semangat kekeluargaan di kalangan pemain. Dengan semangat kekeluargaan itu, ia sering meminta para pemain untuk turut aktif dalam memberi masukan strategi. Potts ingin menciptakan suasana egaliter di dalam tim.

Sebelum menutup hidupnya di usia 75 tahun pada 1996, Potts sering hadir di tribun Stadion Turf Moore untuk menyaksikan Burnley berlaga. Setelah berperan sebagai pemain lalu manajer, ia mengakhiri pengabdiannya untuk Burnley sebagai seorang suporter. Tak ayal, sebagai bentuk penghormatan atas pengabdiannya selama ini, pada 2001 sebuah jalan di sekitar Stadion Turf Moore diberi nama “Harry Potts Way”.

***

Tentunya, keberhasilan Burnley musim ini untuk bisa kembali tampil di ajang Europa League musim 2018/19 nanti, akan membuat sebagian suporter The Clarets kembali bernostalgia dengan momen 58 tahun silam, ketika Burnley untuk pertama kalinya tampil di ajang Eropa saat berada di bawah kepemimpinan Harry Potts.

Sekecil apa pun kemungkinannya, tidak ada yang tidak mungkin dalam sepakbola. Andai Burnley mampu berprestasi di ajang Eruopa League musim depan, agaknya perayaan yang paling indah dilakukan bukanlah dengan cara melakukan pawai sambil mengarak-arak piala mengitari jalan-jalan Kota Burnley. Melainkan dengan merayakannya di tempat paling bersejarah bagi Burnley, yaitu di sepanjang jalan Hary Potts Way.

Komentar