Membayangkan Wembley sebagai Rumah American Football

Cerita

by Rio Pangestu

Rio Pangestu

Pembaca yang menulis.

Membayangkan Wembley sebagai Rumah American Football

Sore itu, setiap sudut tribun Stadion Wembley disesaki oleh banyak penonton. Tempik sorak membahana dari sana-sini sementara sekelompok perkusi baris-berbaris sedang tampil di tengah lapangan.

Namun tujuan para penonton berbondong-bondong memenuhi Wembley bukan untuk menikmati pertunjukan perkusi. Penampilan perkusi itu hanya sebagai pembuka untuk acara utama yang begitu ditunggu-tunggu oleh semua yang ada di sana. Mereka hendak menyaksikan laga final Piala Dunia 1966 yang mempertemukan Inggris dengan Jerman Barat.

Skor 2-2 menutup pertandingan selama 90 menit. Laga dilanjutkan dengan perpanjangan waktu. Di sinilah terjadi momen puncak yang niscaya akan selalu terawat dalam ingatan publik Inggris: Geoff Hurst yang di babak pertama sudah mencetak satu gol untuk Inggris, mencatatkan namanya sebagai pencetak hattrick usai di babak perpanjangan waktu mencetak dua gol tambahan.

Dua gol itulah yang memenangkan Inggris di pertandingan tersebut. Inggris keluar sebagai juara Piala Dunia untuk pertama kalinya di hadapan publik sendiri.

Sorak sorai terdengar semakin membahana ketika wasit Gottfried Dienst meniup peluit panjang tanda tuntasnya laga. Bendera Union Jack melambai-lambai di setiap sudut tribun penonton. Para pemain Inggris saling berpelukan sebelum kapten mereka, Bobby Moore, memimpin tim untuk menerima trofi di podium kehormatan.

***

Momen juaranya Inggris untuk pertama kali di Piala Dunia pada 1966 itu, agaknya menjadi momen paling bersejarah yang pernah terjadi di Stadion Wembley. Ketika itu, dua menara kembar yang menjadi ciri khas Wembley masih berdiri tegap, sebelum akhirnya dihancurkan saat Wembley direnovasi pada 2003.

Renovasi tersebut menghabiskan biaya yang totalnya mencapai 161 juta paun, yang berasal dari pajak publik—mengingat saat itu, selain dimiliki oleh anak perusahaan FA bernama Wembley Stadium Ltd, stadion yang sekarang berkapasitas maksimal 90 ribu penonton tersebut juga berada di bawah kepemilikan instansi pemerintah, yakni Departemen Digital, Budaya, Media, dan Olahraga. Kepemilikan itu masih bertahan sampai sekarang.

Namun, baru-baru ini beredar kabar bahwa Stadion Wembley akan dibeli oleh seorang pengusaha suku cadang mobil asal Amerika Serikat yang juga pemilik klub Fulham FC, Shahid Khan. Pria berkumis tebal itu, menurut Telegraph, menawar Wembley kepada FA dengan harga 500 juta paun.

Gayung tampak bersambut. FA antusias dengan tawaran dari Khan tersebut. FA beralasan, uang hasil penjualan Wembley dapat digunakan untuk investasi pengembangan sepakbola di akar rumput. Selain itu, uang tersebut juga dapat digunakan untuk membangun ribuan lapangan sepakbola baru yang bisa digunakan di musim dingin. Dengan melepaskan kepemilikan Wembley juga, FA dapat menghemat pengeluaran keuangan di masa depan untuk pemeliharaan dan renovasi stadion yang membutuhkan biaya tak sedikit.

Jika kepemilikan Wembley nantinya beralih ke tangan Shahid Khan, maka stadion tersebut akan banyak digunakan sebagai markas tim American Football yang berlaga di ajang NFL, Jacksonville Jaguars—yang juga dimiliki Khan. Wembley nantinya masih akan tetap menjadi markas tim nasional Inggris, namun sebagian besar porsi jadwal pertandingan tahunan The Three Lions, terutama selama musim gugur, harus dipindah ke tempat lain.

Kendati demikian, Khan menjamin bahwa Wembley akan tetap menjadi rumah bagi tim nasional Inggris. “Komitmen kami kepada FA adalah, kami akan memiliki dan mengoperasikan Wembley dengan perhatian dan penghargaan yang pantas. Selalu menyadari bahwa itu adalah, dan akan terus menjadi, rumah tim nasional Inggris serta tujuan untuk acara hiburan terbaik dunia. Dan acara olahraga, termasuk pertandingan Jaguars di NFL,” bebernya kepada Independent.

Jacksonville Jaguar sendiri sudah rutin melaksanakan pertandingan mereka di London sejak 2013. Tentunya dengan adanya kabar bahwa pemilik mereka akan membeli Stadion Wembley, Jaguars sangat senang mendengarnya.

“Kami sangat senang dengan langkah yang dilakukan Shahid Khan untuk Jacksonville Jaguars. Pembelian Stadion Wembley menandakan komitmen kuatnya untuk visi membantu dan mengembangkan olahraga di Inggris,” sebuat Wakil Presiden klub mereka, Mark Waller.

Andaikan Khan nanti sudah menjadi pemilik Wembley, FA masih akan meraup keuntungan reguler mereka dari hasil penjualan tiket acara-acara besar seperti final Piala FA atau laga Tim Nasional Inggris. Ya, kesepakatan nantinya akan menjamin bahwa laga final Piala FA masih tetap dihelat di Wembley, namun untuk laga Tim Nasional Inggris, harus menyesuaikan dengan jadwal pertandingan Jacksonville Jaguars.

Yang pasti, jika nanti kepemilikan Wembley beralih tangan ke Shahid Khan, momen-momen ikonik sepakbola di stadion legendaris tersebut—seperti yang terjadi saat final Piala Dunia 1966, nantinya akan sering diisi oleh momen-momen ikonik dari laga American Football.

Legenda sepakbola Brasil dan dunia, Pele, pernah berkata seperti ini: “Wembley is the cathedral of football. It is the capital of football and it is the heart of football.” Kini kita boleh bertanya lagi kepada Pele, yang dimaksud oleh Pele itu football dalam pemahaman orang Inggris, atau football dalam pemahaman orang Amerika?

Komentar