Menyelami Perjalanan Karier Bayu Pradana

Cerita

by Septian Nugraha

Septian Nugraha

Football Writer, Journalist, Photographer @Panditfootball

Menyelami Perjalanan Karier Bayu Pradana

Sepakbola bagi Bayu Pradana tak bisa dipisahkan dari kehidupannya. Sejak kecil, ia sudah tergila-gila pada sepakbola. Hampir setiap hari, sepulang sekolah, ia menyempatkan bermain sepakbola bersama teman-temannya di lapangan dekat tempat tinggalnya kala itu, Desa Patemon, Salatiga.

Meski hanya bermain di lapangan kampung, tapi sedari kecil Bayu sudah menunjukkan potensi sebagai pesepakbola. Bakat Bayu saat itu tercium oleh mantan pemain Barito Putera, Ronny Arifin. Sampai suatu ketika, Ronny menyarankan Bayu ikut seleksi di Diklat Salatiga. Bayu tak mengabaikan nasehat tersebut. Setelah lulus Sekolah Menengah Pertama, ia ikut seleksi di Diklat Salatiga.

Tak disangka, ia lolos seleksi dan diterima masuk di Diklat yang konon disebut sebagai kawah candradimuka-nya calon pemain Tim Nasional Indonesia. Padahal Bayu saat itu bakat Bayu tidak terasah di SSB (Sekolah Sepakbola) mana pun. Talenta sepakbola dalam dirinya memang hanya terasah melalui kesehariannya bermain sepakbola bersama teman-temannya.

Kemampuan Bayu ditempa melalui pelatihan keras khas Diklat Salatiga. Sejak pagi buta, Bayu dan rekan-rekannya sudah harus berlatih, melahap menu latihan fisik. Selesai latihan, tidak ada waktu bagi Bayu berleha-leha, ia harus bergegas berangkat sekolah.

Kata Bayu, murid di Diklat Salatiga tidak hanya fokus pada pendidikan sepakbola saja, tapi pendidikan formal juga sama pentingnya. Sore harinya sepulang sekolah, Bayu kembali berlatih, dan beristirahat di malam hari. Kegiatan itu terus berulang setiap harinya selama tiga tahun mondok di Diklat Salatiga.

Setelah menyelesaikan pendidikan sepakbolanya di Diklat Salatiga, Bayu tersentak. Keinginannya menjajal karier sebagai pesepakbola profesional tak direstui kedua orangtuanya.

Saat itu, kedua orang tua Bayu menginginkan agar putranya itu berhenti bermain sepakbola dan meneruskan karier sebagai polisi atau tentara yang jauh lebih jelas juntrungannya ketimbang sepakbola. Bayu keras kepala. Ia menolak usulan tersebut dan teguh dengan pendiriannya.

“Saya ingin terus main bola, apapun risikonya saya siap tanggung. Dulu memang saya keras kepala dengan tujuan saya sendiri. Itu karena sejak masuk Diklat, saya punya pikiran, di Diklat, saya sudah banyak berkorban waktu, jauh dari keluarga karena dulu tinggal di mes. Kalau pada akhirnya saya tidak jadi pemain bola, semua usaha saya selama tiga tahun di Diklat itu jadi sia-sia. Itu yang menjadi motivasi saya saat itu,” cerita Bayu pada kami.

Jerih payah yang membuahkan hasil

Bermodalkan status sebagai alumnus Diklat Salatiga, Bayu melangkah menghadapi ganasnya persaingan sepakbola nasional. Bisa dibilang, awal kariernya tak begitu mulus. Bayu tak memiliki kesempatan bermain bersama tim Liga Super Indonesia (LSI).

Karier profesional Bayu dimulai bersama Persis Solo yang kala itu bermain di Divisi Utama 2010/11. Setelah membela Persis, Bayu kemudian merumput di Persepar Palangkaraya (sekarang, Kalteng Putra FC) hingga Persipasi Bekasi yang bermain di strata bawah kompetisi sepakbola Indonesia.

Tapi dari serangkaian awal kariernya itu Bayu lebih banyak merasa kepahitan di sepakbola nasioal. Salah satu kenangan terpahit yang selalu terkenang dalam benaknya adalah kala gajinya selama berbulan-bulan tak dibayarkan klub.

“Saya benar-benar memulai karier dari bawah. Saya main di strata berapapun pernah merasakannya. Masuk tim yang bagus dan buruk finansialnya juga saya pernah rasakan. Dulu, saya di Persipasi itu sampai sembilan bulan nggak gajian. Asam garamnya sepakbola Indonesia itu pernah saya alami dulu,” katanya.

Meski begitu, Bayu tak menyerah dengan keadaan. Ia terus berusaha keras hingga kesempatan merumput di kompetisi utama sepakbola Indonesia pun didapatkannya. Pada 2015, Bayu diboyong Persiba Balikpapan dari Persepar.

Akan tetapi kiprah Bayu bersama Persiba tak lama. Setelah satu pertandingan dilakoninya, kompetisi dihentikan. Kisruh sepakbola Indonesia membuat FIFA membekukan status keanggotaan PSSI, yang membuat seluruh kompetisi di sepakbola Indonesia terhenti. Itu menjadi pukulan telak bagi Bayu yang baru saja akan memulai kariernya di strata teratas kompetisi sepakbola nasional.

Namun usaha tidak pernah membohongi hasil. Meski kompetisi mengalami mati suri, geliat pertandingan sepakbola di Indonesia terus dihidupkan, meski hanya lewat turnamen. Saat itulah Bayu dipinang Mitra Kutai Kartanegara (Kukar). Bersama Mitra Kukar inilah kariernya terus menanjak hingga saat ini.

Momentum terbaik Bayu bersama Mitra Kukar adalah saat ia berhasil membawa klub berjuluk Naga Mekes itu juara di turnamen Piala Jenderal Sudirman 2015. Setelah itu, nama Bayu mulai dikenal luas publik sepakbola nasional—seiring dengan performanya yang terus menanjak bersama Mitra Kukar. Pada Indonesia Soccer Championship 2016, pengganti kompetisi resmi, sosok Bayu di lini tengah Mitra Kukar tak tergantikan. Perannya vital dalam menjaga kedalaman sektor tengah Naga Mekes.

Di pengujung tahun 2016, sanksi pembekuan PSSI dicabut FIFA. Sepakbola Indonesia kembali bergeliat, begitu pula dengan timnas Indonesia. Kebetulan, saat itu Indonesia tengah bersiap menghadapi Piala AFF 2016. Saat Alfred Riedl mengumumkan nama-nama pemain yang masuk dalam skuatnya di Piala AFF, nama Bayu pun tercantum di dalamnya.

Bagi Bayu, itu adalah berkah. Sebab, tidak seperti kebanyakan pemain timnas lainnya yang sudah terbiasa berkostum merah putih dari berbagai jenjang usia, Bayu langsung meroket ke timnas senior. Meski begitu, kepercayaan Riedl dibayar tuntas Bayu dengan penampilan impresif. Indonesia memang gagal juara setelah takluk dari Thailand di final Piala AFF, tapi penampilan Bayu layak mendapat apresiasi.

Tak salah juga bila pada akhirnya Bayu mulai menjadi langganan timnas. Bahkan, ketika tampuk kepelatihan timnas Indonesia beralih ke tangan Luis Milla, sosok Bayu masih kerap diandalkan. Dari 19 pertandingan yang dilakoni Indonesia sejak 2016 hingga 2018, Bayu tercatat tampil dalam 16 pertandingan.

Selalu dipanggil Timnas Indonesia, nyatanya, tak selalu berimbas positif bagi karier Bayu. Beberapa waktu lalu, ia sempat mendapat cibiran publik sepakbola Indonesia. Banyak yang berkomentar miring, meragukan kapasitasnya. Bahkan, cap sebagai pemain titipan sempat dialamatkan kepadanya.

“Kemarin, saya memang dengar juga saya pemain titipan siapa, siapa. Tapi, saya tidak pernah ladenin. Kalau ada orang yang bilang gitu, itu urusan dia. Kalau saya, selama dikasih kepercayaan, kita tunjukkan. Kita kasih apa yang kita bisa untuk orang yang percaya sama kita. Namanya kita hidup, normal, pasti ada yang suka dan tidak. Saya sih jadikan sebagai motivasi saja,” tegasnya.

Baca Juga: Apa Sih Bagusnya Bayu Pradana?

Mengembangkan Bakat Pesepakbola Muda

Baja juga: Kurniawan Hingga Egy: Kisah Diklat Sepakbola dan Pendidikan Pemain Muda

Bisa dibilang, saat ini Bayu tengah menikmati hasil dari jerih payahnya menekuni bidang sepakbola. Selain sering dipanggil timnas, di Mitra Kukar juga Bayu dipercaya sebagai kapten kesebelasan. Bahkan, di awal musim 2018 ia sempat mendapat tawaran bermain di Liga Malaysia bersama Melaka United.

Kesuksesan tak membutakan mata Bayu. Ia tetap menjejak bumi. Bahkan, ia tak segan membagi ilmu sepakbolanya kepada anak-anak yang gila sepakbola di kampung halamannya. Biar bagaimana, Salatiga merupakan salah satu daerah penghasil pesepakbola terbaik di Indonesia. Selain tentunya Bayu, beberapa nama Bambang Pamungkas hingga Gendut Doni menjadi bukti produktifnya Salatiga mengorbitkan pemain di pentas nasional.

Bayu menyadari bahwa talenta-talenta emas asal Salatiga banyak bermunculan. Menurutnya, banyak pemain bagus di sana, hanya memang kurang difasilitasi saja. Oleh karena itu, sejak tahun 2012, Bayu mendirikan akademi sepakbola bernama Diklat Salatiga Training Camp. Selain mengembangkan potensi pesepakbola muda Salatiga, tujuan dari dibentuknya akademi tersebut pun sebagai lapangan kerja bagi alumnus Diklat Salatiga yang punya tujuan melatih.

“Itu sebenarnya bukan saya saja, ada tiga pemiliknya, semua alumnus Diklat Salatiga. Jadi, kita bikin Diklat atau Akademi, dari awal bukan karena bisnis, tidak ada niat cari untung. Niatnya dari awal memang untuk menyalurkan hobi kita. Kita mau menyalurkan ilmu kita buat adik-adik di sana biar ilmu kita bisa berguna untuk orang lain. Kalau soal untung itu mah rezeki, kami tidak mikirin itu,” tutur Bayu.

Saat ini, sudah ada sekitar 40 siswa yang menimba ilmu di Akademi bentukan Bayu dan rekan-rekannya. Dominan murid yang datang kebanyakan dari Salatiga namun ada juga yang berasal dari Kalimantan dan Sumatera. Bayu mengatakan bahwa sama halnya dengan Diklat Salatiga dulu, Akademi milikinya juga memiliki mes sebagai tempat tinggal murid-muridnya.

“Ya, saya menyalurkan hobi saja. Saya memang ingin jadi pelatih. Meski usia saya masih produktif, saya sudah ada rencana buat ambil lisensi kepelatihan juga."

Di tengah warganet Indonesia yang kerap mengkritik, mengecam bahkan mencibir permainannya, nyatanya Bayu tetap fokus menjalani kariernya bahkan terus merajut masa depannya. Bahkan masa depan yang ia rajut tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga bagi talenta-talenta muda Indonesia, setidaknya di kota kelahirannya, lewat akademi yang ia bangun yakni Diklat Salatiga Training Camp.

Komentar